
Allena,di giring menuju ruang guru bersama-sama dengan Rey,ibu Mia,kepala sekolah dan guru-guru yang tadi berkerumun, menyaksikan Allena yang mendapatkan sebuah bentakan.
Allena berjalan dengan gontai, firasatnya mengatakan hari ini dan seterusnya dia tidak akan lagi bisa memakai seragam sekolah seperti apa yang di kenakan nya pada hari ini.
"Semua,akan baik-baik saja".Ucap Rey,lembut.
Bukannya menenangkan Allena,dia justru merasa perkataan itu adalah sebuah penghinaan bagi nya.Menari-nari diatas penderitaan nya.
Allena,tidak merespon ucapan Rey, pandangannya terus menunduk ke bawah.Siswa-siswi yang tak sengaja lewat,tertawa meremehkan dan bahkan dengan lantang nya dia mengharapkan Allena keluar.
"Semoga aja,Allena benar-benar di keluarkan"?Harap siswi yang selama ini menjadi korban bullying Allena.
Allena menjadi naik pitam di buatnya.Seenaknya saja siswi itu berdoa,mengharapkan sebuah kesialan bagi Allena dan bahkan lebih parahnya itu semua dapat di dengar oleh Allena sendiri.
Allena hendak,berjalan kearah siswi tadi, dengan membawa sebuah kemarahan.Tapi,belum juga dia sempat melangkah,Rey yang berjalan di tepat di sisinya,memegang lengannya amat erat.
__ADS_1
"Biarkan saja,jangan di ladeni".Bisik Rey.
"Jangan di ladeni?,iya itu menurut loe, tapi tidak menurut gue".Sentak Allena.
Tapi,lagi dia tidak bisa melawan Rey,dia hanya bisa menatap tajam pada siswi yang telah berdoa atas kesialan bagianya.Karena sekarang Allena berada di bawah kendali Rey yang menyeret paksa tangan allena agar berjalan mengikutinya.
Sedangkan,siswi yang tadi.Tertawa cekikikan seakan keadaan sekarang telah berbalik.Dimana dulu,dia sering mendapatkan sebuah kekerasan fisik dan hinaan, sekarang Allena lah yang mendapatkan semua balasannya.
"Karma itu instan bos".Seru siswi tadi,semakin sengaja membuat Allena emosi.
Allena mengepalkan tangannya,geram bukan main karena sekarang semua sudah berbalik keadaan.
"Kasihan kamu,Allena".Gumam rey.
Semua guru sudah duduk di kursinya masing-masing, dengan saling berhadap-hadapan dari meja kepala sekolah.Begitu pun deng pak Hadi,yang sudah duduk manis,saat Rey menyeret tangan allena.
__ADS_1
Allena di dudukan di kursi sebelah kiri,pak Hadi,di sebelah kanan ada ibu Mia dan di sampingnya ada rey.
Keheningan menyelimuti ruang guru itu,tak ada satu yang memulai pembicaraan.Begitu pun dengan pak Hadi.Dia masih sibuk dengan layar laptop, seperti tengah menghadapi meeting penting.
"Hoam".Allena,menguap,tak kuasa menahan rasa kantuknya akibat suasana di dalam ruangan guru yang amat hening.
Rey, menatap tajam pada Allena,yang bertingkah tidak sopan sedangkan dia tengah berada di hadapan para guru dan di sampingnya ada kepala sekolah untuk menentukan nasib ke depannya.
Di tatap tajam oleh Rey,Allena malah membuang mukanya ke sembarang arah.Cuek saja,dia seakan itu bukan hal yang aneh.
'Andai,gue ada keberanian.Udah gue cungkil tuh mata si rey '.Gumam Allena,membatin.
"Ehem".Pak Hadi berdehem, membersihkan kerongkongan nya yang terasa gatal."Bisa di mulai rapat ini?". Tanya pak Hadi,menatap guru yang tepat berada di depannya.
"Bisa".Ucap beberapa guru.
__ADS_1
"Caelah kayak meeting kantoran aja".Gumam Allena, setengah berbisik.
Pak Hadi, mengawali rapat nya dengan mengucapkan kata'bismillah untuk menentukan nasib Allena, dengan di hadirkan langsung terdakwanya.Bak tengah melakukan sidang, terhadap terdakwa kejahatan.