
Allena menyantap makanannya dengan perasaan sedih kala membayangkan suasana makan keluarga nya dulu.Dulu,jauh sebelum orang ruang bercerai,ada keceriaan dan kehangatan keluarga di dalamnya.Saling berkomunikasi, tentang bagaimana hari ini mereka lalui, tentang sekolah Allena sampai hal-hal kecil pun mereka bicarakan.
Sangat menyenangkan kalau itu,penuh dengan kehangatan keluarga.Tapi,sayang mahligai cinta Axel harus terkhianati,rumah tangga penuh keceriaan itu harus berakhir.Di hancurkan oleh kepala rumah tangga mereka sendiri,hanya menyisakan trauma dan luka psikis di hati Allena.
Akibatnya Allena,tidak bisa terkendali dan rokok adalah hal yang tabu untuk dia konsumsi kala rasa sakit dan kenangan pahit itu terngiang-ngiang di dalam pikiran Allena.
"Allena".Suara lembut khas ibu,itu berhasil membuyarkan lamunan Allena.
Yah,mamah Sri menyadari perubahan mimik wajah pada Allena.Insting seorang ibu mendorong nya untuk menegur sang anak meski bukan anak kandung.
Instingnya ternyata benar,Allena tengah melamun sambil meneteskan air mata.Entah sedang memikirkan apa,tapi yang jelas Allena tengah merasakan kesakitan.
"Allena".Suara lembut itu kembali menyadarkan Allena.
__ADS_1
Allena menoleh pada mamah Sri,lagi seulas senyum dia berikan untuk ibu setangguh dan sehebat,mamah Sri.
"Kamu gak papa?".Tanya mamah Sri.
"I'm ok".Jawab Allena, tersenyum manis.
Mendapatkan jawaban seperti itu, bukannya membuat mamah Sri tenang.Dia jelas bukan anak kecil yang mudah di bohongi,di balik kata'baik-baik saja' terselip makna lain.Dan dapat dia rasakan kala,Allena menangis sambil melamun.
Tapi,mamah Sri bukan orang sembarangan.Bertanya hal sensitif secara langsung padahal orang itu tengah merasakan kesedihan.
Akhirnya keempat orang berbeda generasi dan berbeda cerita hidup itu menyantap makan malam mereka dengan suasana ceria dan hangat.Komunikasi terjalin erat diantara mereka begitu hangat nya,tapi tidak dengan Allena.Dia sedari tadi menunduk,tak berani mengangkat kepalanya.
Dua bocah itu mana tau,apa yang di alami oleh Allena,tidak pula bertanya mengenai perubahan mimik wajah Allena.Mereka masih polos,masih lah terlalu kecil untuk memahami masalah orang dewasa.
__ADS_1
Biarlah mereka menikmati masa kecil mereka tanpa tau masalah orang dewasa,toh mereka juga mengisi masa kecilnya dengan penderitaan dan kerja keras.Jauh dari kata kemewahan dan kebahagiaan yang hakiki.
Pukul sembilan malam, kedua bocah itu sudah terlelap tidur di buai mimpi indah tentang masa depan mereka.
Allena belum juga merasakan kantuknya,dia duduk selonjoran bersandarkan dinding.Amat pedih jalan hidupnya, lika-liku kehidupan nya teramat sakit.Banyak yang menginginkan berada di posisi nya, tanpa tau bagaimana dan apa yang di lalui nya.
Seperti lagu pesawat kertas, hidupnya terbang tinggi dengan berbagai rintangan dan cobaan silih berganti.Semakin tinggi,semakin besar pula rintangan nya hanya dengan mengandalkan hembusan angin,hanya dengan bermodalkan tekad dan niat.
"Allena".Suara lembut itu kembali menyapa Allena.
Yah,mamah Sri juga belum terlelap tidur demi bertanya atau sekedar bertegur sapa pada gadis yang tak sengaja di temuinya.
Mamah Sri kemudian duduk di samping Allena, menatap gadis manis yang berubah menjadi tomboi itu dengan tatapan sendu dan kasihan.
__ADS_1
"Apa yang sudah terjadi di dalam keluarga mu?,maaf".Tanya mamah Sri, langsung pada topik nya.
Allena masih terdiam,dia masih hanyut dalam kesedihannya.Mamah Sri menghela napasnya secara kasar."Sabar".Gumam nya.