
...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...
..."BROKEN ANGEL"...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
...~Satu atau dua, pilih aku atau dia yang engkau suka, dua atau satu, pilih dia atau kamu aku tak tahu!~...
...×××...
#BROKEN ANGEL S3 EPS. 19
...•...
...HAPPY READING....🎉🎉🎉...
...❤️...
Willy datang ke markas the darks yang baru dan duduk disana dengan perasaan jengkel karena ia habis dihadapkan pada situasi tak mengenakkan, ia tampak emosi dan terus mengepalkan tangannya sembari membayangkan kejadian tadi.
Teman-temannya yang ada disana pun tampak heran dan saling pandang, mereka tak mengerti apa yang terjadi pada Willy sampai terlihat emosi begitu tidak seperti biasanya, tentu mereka langsung coba bertanya pada Willy untuk mengetahuinya.
"Wil, lu kenapa? Kayak yang lagi emosi, apa ada masalah atau ada yang berani cari masalah sama lu?" tanya Alves penasaran.
"Iya Wil, cerita aja sama kita! Biarpun lu udah bukan ketua the darks lagi, tapi tetep sebagai sahabat kita bakal bantu lu kok!" sahut Rio.
"Thanks guys, gue cuma kesel aja sama si Aldi anak wild blood itu! Berani-beraninya dia deketin Kania, cewek incaran gue sejak SMA!" ucap Willy.
"Oh masalah cewek, hajar aja sih bro!" ucap Putra yang tiba-tiba muncul dan menyela obrolan mereka.
Sontak Willy terkejut lalu menoleh ke arah pria yang baru datang dari belakang dengan membawa segelas wine di tangannya, Putra duduk di tempat biasa Dans duduk kemudian mulai meminum minuman tersebut dengan santai.
"Tadi gue udah kasih pukulan buat dia, tapi Kania malah belain si cowok sialan itu! Gue gak bisa berbuat apa-apa lagi, karena gak mungkin gue nyakitin cewek yang gue cinta!" ucap Willy.
"Hahaha, masalah kecil itu mah! Si Kania sama Aldi ada di SMA panca sakti juga kan? Biar nanti gue bantu urus supaya hubungan mereka menjauh, lu sekarang mending minum dulu!" ucap Putra.
"Bener kata Putra, biar gue pesenin ya buat lu!" ucap Alves menepuk pundak Willy.
Willy mengangguk kemudian bersandar di sofa sembari mengusap wajahnya kasar, ia berusaha menenangkan diri agar tak lagi terpikirkan dengan kejadian sebelumnya, sedangkan Alves mulai memanggil Rara pelayan disana.
"Ra, Rara sini dong!" teriak Alves.
"Iyaa..."
Wanita itu bergegas menghampiri Alves yang memanggil namanya, ia membawa serta buku catatan kalau-kalau Alves ingin memesan dalam jumlah banyak, ia pun berdiri tepat di samping Alves yang tengah duduk lalu bertanya.
"Ada apa?" tanya Rara.
"Saya pesan lychee tea untuk teman saya ini, terus sama lemon tea satu lagi untuk saya sendiri!" jawab Alves mengatakan pesanannya pada Rara.
"Oke, aku bikinin dulu ya? Permisi..." ucap Rara.
Setelah Rara pergi, Alves pun mendekati Willy sambil senyum-senyum lalu membisikkan sesuatu pada Willy sembari menggunakan telapak tangannya untuk menutupi pergerakan mulutnya agar tak ada yang bisa mendengarnya.
"Kenapa lu gak coba deketin si Rara aja?" bisik Alves.
"Hah? Udah gila apa gimana lu? Kan lu denger sendiri kata bang Dans, kita gak boleh godain apa lagi nyentuh si Rara!" ucap Willy.
"Iya gue tau, tapi kan si Rara mantep banget loh! Kania mah kalah jauh sama dia, mending lu pacarin aja Rara daripada ngarepin yang gak pasti!" bisik Alves.
"Ah udah gausah bahas soal gituan! Gue tuh lagi mencoba untuk tenang, lu jangan bikin gue tambah panas dong!" ucap Willy kesal.
"Hehe, yaudah maaf!" ujar Alves nyengir.
Alves pun menjauh dari Willy dan menenggak sisa minuman di gelasnya yang tinggal sedikit, lalu mengeluarkan ponsel miliknya dan mulai pura-pura sibuk seperti yang lain, sedangkan Willy masih terdiam melamun memikirkan Kania.
...•••...
Kirana menemui abangnya diluar untuk memberitahu perihal raja angin yang menemuinya tadi di kamar lalu mengajak kerjasama, ia mengetuk pintu kamar Zaenal dengan keras sembari memanggil-manggil nama abangnya itu agar bisa segera keluar.
Ceklek...
__ADS_1
Zaenal membuka pintu dan keluar dari kamarnya dengan raut wajah kesal, ia menatap adiknya emosi walau tetap ia tahan karena bagaimanapun Kirana adalah adiknya, ia pun bertanya pada Kirana mengapa mengganggunya siang-siang begini.
"Ada apa sih?" tanya Zaenal ketus.
"Gue mau kasih tau sesuatu ke lu, ini penting!" jawab Kirana panik sendiri.
"Soal apa?" tanya Zaenal lagi.
"Gue ceritain di dalam aja, ya? Pegel kalo harus berdiri terus disini, lu mikir dong!" ucap Kirana.
"Ah lebay lu! Yaudah yuk masuk!" ucap Zaenal.
Zaenal melebarkan pintu kamarnya mengizinkan Kirana masuk ke dalam, mereka pun melangkah bersamaan dan Zaenal menutup kembali pintunya dengan kaki lalu duduk di sofa bersebelahan dengan adiknya yang cerewet itu.
"Dah sekarang cerita!" ucap Zaenal.
"Iya, jadi gini...."
Kirana pun menceritakan semuanya yang terjadi padanya di kamar sebelum ini, ia mengatakan semua dengan benar tanpa ada rekayasa sedikitpun atau menambahkan kata, Zaenal yang mendengarnya sulit untuk mempercayai perkataan adiknya.
Zaenal mengira kalau Kirana sedang halu atau mungkin dia menceritakan mimpinya, namun Kirana tetap berkata kalau semua yang diceritakannya adalah benar bukan halu, hingga akhirnya Zaenal pun percaya pada perkataan sang adik.
"Terus lu dikasih apa sama raja angin itu?" tanya Zaenal penasaran.
Kirana mengangkat kedua telapak tangannya lalu menatapnya serius, ia melirik ke arah tembok berisi macam-macam poster serta dekor yang ada di kamar Zaenal, lalu ia mendorong tangannya ke depan dan seketika benda-benda itu terjatuh.
Glomprang... (suara barang jatuh)
"Hah? Kok bisa??" Zaenal terkejut bukan main dan reflek berdiri sambil menatap Kirana.
"Ini kekuatan yang diberikan raja angin ke gue, dengan ini gue pasti bisa balas dendam ke Sahira!" jawab Kirana tersenyum.
"Waw amazing! Tapi, gak mungkin lu bisa dengan mudah kalahin Sahira cuma pake kekuatan angin yang lu punya!" ucap Zaenal.
"Kenapa bang?" tanya Kirana heran.
"Iya, kan lu tau sendiri Sahira itu bukan manusia biasa seperti kita! Dia pasti juga punya kekuatan super yang belum kita ketahui, mungkin aja kekuatannya lebih hebat dari lu! Makanya si raja angin minta lu yang kawan Sahira, bukan dia sendiri yang beraksi!" jawab Zaenal.
"Bener juga sih, raja angin aja kelihatannya gak yakin kalau dia bisa kalahin Sahira sendiri! Tapi, gue pasti bisa kalahin dia bang!" ucap Kirana.
"Bener lu bang, tapi siapa ya yang bisa ngajarin gue?" tanya Kirana bingung.
"Lu belajar sendiri aja, ayo ikut gue ke tanah kosong di dekat sini! Disana lu bisa ngelatih kemampuan angin lu, kalau lu udah bener-bener bisa baru deh kita berangkat cari Sahira!" ucap Zaenal.
"Oke,"
Kirana setuju dengan saran abangnya itu, mereka pun segera pergi menuju tanah kosong yang ada di dekat rumah untuk melatih kemampuan Kirana dalam mengendalikan kekuatan angin miliknya agar bisa seperti Boboiboy.
...•••...
Disisi lain, Alan sedang bersama Nur dan mereka tampak bahagia berdiri di atas bukit yang indah dengan pemandangan cantik disertai udara segar menambah kesejukan disana. Sudah lama mereka tidak menghirup udara seperti ini.
Alan menoleh ke arah Nur lalu tersenyum melihat gadisnya tengah menikmati momen disana bahkan sampai memejamkan mata, ia mendekati Nur kemudian menggandeng tangan gadis itu sambil pura-pura menatap ke langit yang cerah.
Nur sadar saat tangannya digenggam oleh sang kekasih, ia menoleh lalu tersenyum sembari melihat posisi tangannya yang tengah digenggam erat oleh Alan saat ini, ia pun menatap wajah lelakinya dari samping sembari mengusap rambutnya.
"Lan, kok pake pegang-pegang segala sih?" ucap Nur.
"Hah? Emang gak boleh ya seorang pacar pegang tangan pacarnya sendiri?" ucap Alan memandang Nur dan balik bertanya pada gadis itu.
"Bukan gitu, aku cuma bercanda kok!" ucap Nur.
"Ohh, duduk yuk! Kita rasain sensasinya duduk di rumput hijau dan latar yang miring ini, pasti bakalan enak banget beda kayak kita duduk di lapangan biasa yang suka ada eek kucing!" ujar Alan.
"Hahaha, bisa aja kamu!" ucap Nur tertawa kecil.
Mereka pun duduk gelosoran di bawah sana dengan kaki selonjor lurus ke depan dan tangan yang masih saling menggenggam, Alan menatap wajah Nur lalu kemudian gadis itu juga menoleh sehingga mereka kini saling bertatapan sambil tersenyum.
"Kamu makin cantik aja kalau aku bawa ke tempat yang indah begini, mungkin kamu emang cocoknya ada di tempat seperti ini ya!" ucap Alan.
"Mungkin, aku juga suka sih dateng kesini! Kalau bisa pasti setiap hari aku bakal kesini terus, soalnya pemandangan disini indah banget!" ucap Nur.
"Iya kamu bener, tapi wajah kamu juga gak kalah indah kok dari semua ini...." ucap Alan tersenyum.
__ADS_1
"Yeh malah gombal! Aku tuh lagi serius tau, bisa gak sih kamu sekali aja gitu serius jangan gombal mulu kerjaannya!" ujar Nur cemberut.
"Hehe, aku juga serius loh!" ucap Alan nyengir.
"Udah ah, lupain aja! Andai tadi kita ajak Sahira sama Lucas juga buat kesini, pasti mereka bakalan suka banget deh ngeliat pemandangan ini!" ucap Nur.
"Eh jangan!" ujar Alan.
"Kenapa jangan?" tanya Nur terheran-heran.
"Biarin tempat ini khusus untuk kita pacaran, mereka mah cari aja tempat yang lain buat mereka! Lagian kalau ada mereka disini, kita jadi gak khusyuk pacarannya...." ucap Alan nyengir.
"Ish, ada-ada aja kamu! Tapi iya juga sih, aku lebih nyaman kalau cuma berdua sama kamu!" ucap Nur mulai manja sambil menempelkan wajahnya pada pundak sang kekasih.
"Nah kan!"
Alan yang terlalu peka langsung spontan mengelus puncak kepala gadisnya bahkan memberi kecupan lembut disana, Nur pun tampak tersipu karena Alan sangat romantis padanya dan terlihat sangat mencintai dirinya.
"Alan bener-bener romantis, dia kelihatan tulus sayang sama aku.... padahal dia kan belum tau kalau aku ini bidadari, gimana ya nantinya kalau dia tau tentang itu?" batin Nur.
"Hey, kenapa lirik aku kayak gitu?" tanya Alan.
"Ah enggak kok, aku nyaman aja!" jawab Nur.
"Ohh, yaudah sini aku elus lagi...."
•
•
Tak mau kalah dengan Alan serta Nur yang pergi jalan-jalan ke bukit indah di kota mereka, Lucas dan Sahira pun juga punya tempat tersendiri untuk mereka datangi saat ini, ya mereka berdua kini berada di dekat bukit batu yang cukup tinggi.
Disana terdapat sebuah batu besar yang tergeletak begitu saja di atas bukit dekat jurang, ramai orang yang datang ingin mencoba naik ke atas batu itu demi bisa melihat pemandangan di bawah mereka yang cukup indah.
Sahira pun mengajak Lucas untuk ikut naik ke atas batu itu seperti yang lain, pria itu awalnya tidak mau karena ia takut ketinggian dan khawatir juga kalau batunya terjatuh, namun karena paksaan dari gadisnya akhirnya mereka pun naik kesana.
"Nah sayang, indah kan?" ucap Sahira.
"Indah apaan? Ngeri kayak gini, kalo aku jatuh kamu langsung buru-buru tangkep aku ya!" ucap Lucas gemetar ketakutan.
"Kamu mikirnya kejauhan ih! Gak akan ada yang jatuh sayang, ini tuh aman!" ucap Sahira.
"Aman sih aman, tapi yang namanya ajal kan gak ada yang tau sayang! Kalau misal takdirku mati disini gimana dong?" ucap Lucas makin ketakutan.
"Gak kok, pangeran langit cuma bisa mati kalau dia lalai dalam menjalankan tugasnya!" ucap Sahira.
"Iya kah? Tapi, sekarang kan aku lagi jadi manusia biasa sayang! Aku cuma Lucas si ketua geng motor yang takut ketinggian, aku gak mau jatuh ke bawah itu tbl tbl tinggi banget loh!!" ujar Lucas.
"Alay ih kamu! Udah ah gausah takut, kan aku pegangin nih..." ucap Sahira.
Sahira pun melingkarkan tangannya di sela-sela lengan Lucas lalu membenamkan wajahnya pada pundak sang kekasih, ia coba menenangkan Lucas agar tidak takut lagi pada ketinggian dan mau bersukacita di atas batu itu.
"Kita duduk yuk!" ucap Sahira.
"Hah? Enggak ah, kalo jatuh repot sayang! Bisa-bisa kepala aku hancur berkeping-keping, nanti repot tim SAR nyarinya!" ucap Lucas.
"Gapapa sayang, yuk ah!" paksa Sahira.
"Iya iya, pelan-pelan dong!" ujar Lucas gemetar.
Lucas akhirnya terpaksa mau duduk disana dengan bantuan Sahira yang menggenggam erat tangan pria tersebut, tampak Lucas sangat gemetar ketika mulai merendahkan tubuhnya untuk duduk di atas batu besar itu bersama kekasihnya.
"Enak kan? Disini udaranya sejuk, ya? Angin yang berhembus juga bikin seger dan dingin, beda banget kayak di tempat tinggal kita!" ucap Sahira.
"Iya sih, tapi kalo goyang dikit bisa ngep!" ucap Lucas.
"Kamu ini masih takut aja sih! Inget Lucas, kamu kan sekarang udah jadi pacar aku dan dilantik secara resmi oleh raja Nuril buat jadi pangeran langit! Kamu gak bisa dong takut ketinggian, harus dibiasin!" ucap Sahira mengingatkan Lucas.
"Iya, kamu ngomong mah enak karena dari lahir udah jadi bidadari! Lah aku gimana?" ucap Lucas.
"Aku bakal bantu kamu kok, seperti dulu aku bantu Dimas pas waktu awal-awal dia diangkat jadi pangeran langit sama seperti kamu!" ucap Sahira tersenyum menatap Lucas sambil mengusap punggung pria itu.
"Oke, aku harap aku gak mati aja deh!"
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...