
...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...
..."BROKEN ANGEL"...
...~~~...
...•...
#BROKEN ANGEL S2 EPS. 140
...•...
Seluruh bidadari khayangan berkumpul di nirwana berbaris menyamping menatap ke singgasana yang mana terdapat sang ratu Keira disana, mereka memang diminta datang kesana oleh ratu Keira karena akan membahas satu rencana untuk bisa menghadapi Dimas dan para keronconya lalu menyelamatkan Sahira dari tangan orang-orang itu.
Nur jadi yang paling emosi serta histeris begitu mengetahui kalau sahabatnya ternyata diculik dan diambil kekuatannya oleh Dimas yang merupakan kekasih Sahira sendiri, tentu tak ada satupun yang menyangka hal ini akan terjadi karena selama ini mereka tahu Dimas adalah orang baik sehingga akan sangat mustahil jika Dimas sampai melakukan itu.
"Hari ini aku akan membuka portal menuju alam semesta langit ketiga, kita minta bantuan para sekutu kita disana untuk melawan Dimas! Aku juga sudah meminta seseorang menyelidiki disana untuk mencari tahu apakah ada yang bisa membantu kita, semoga saja dengan ini kita bisa menyelamatkan Sahira dengan segera!" ucap ratu Keira.
Nur dan yang lainnya mengangguk diam mendengarkan perkataan sang ratu, walau mereka semua merasa emosi dan ingin sekali segera menghabisi Dimas saat ini juga.
"Kita pergi bersama setelah ini, siapkan diri kalian untuk melintasi alam semesta yang lain! Kita belum tahu ada apa saja disana, maka dari itu kalian harus terus waspada dan jangan sampai ada yang lengah ketika kita berada disana!" ucap ratu mengingatkan.
"Tentu saja ratu, kita pasti akan selalu siaga dan waspada ketika memasuki portal itu!" ucap Nur mewakili para bidadari lainnya.
Ratu Keira tersenyum senang, kemudian ia membubarkan seluruh bidadari disana untuk kembali ke tempat jaga mereka masing-masing selagi ratu menyiapkan rencana untuk mendatangi lokasi di alam semesta yang lain.
Tentu Nur bersama teman bidadari nya keluar dari nirwana, mereka semua kini berada di taman indah yang ada disana.
"Nur, kita harus ngelakuin apa sekarang? Aku khawatir kalau makhluk di alam semesta yang lain itu tidak mau membantu kita, justru yang aku takutkan mereka nantinya malah bersekutu dengan Dimas untuk menghabisi kita!" ucap Nawal cemas.
"Hus! Kamu tidak boleh bicara seperti itu, Nawal! Kita harus selalu berpikiran positif, ingatlah perkataan itu adalah doa dan bisa saja Tuhan mengabulkan perkataan mu itu!" semprot Nara kesal.
"Benar yang dikatakan Nara, kamu jangan memikirkan hal itu Nawal! Mari kita sama-sama berjuang demi keselamatan Sahira, hanya dengan cara mengunjungi seluruh alam di dunia ini kita baru bisa menyelamatkan Sahira! Karena kekuatan Dimas dengan mustika merah itu sangat kuat dan sulit ditaklukkan, maka dari itu kita harus satukan kekuatan dan yakinlah kalau kebenaran pasti akan menjadi pemenangnya!" ucap Nur menyemangati para sahabatnya disana.
Nawal yang sempat pesimis pun kembali bersemangat setelah mendengar kata-kata dari Nur, mereka pun membentuk lingkaran dan membahas rencana mereka selanjutnya.
...•••...
Tengah malam tiba-tiba saja Lucas terbangun dari tidurnya, ia menengok ke samping terlihat dua temannya masih tertidur pulas dengan mulut terbuka dan tangan menutupi wajah mereka. Ya saat ini Lucas tidur di villa Edrea dan satu kamar dengan Alan & Jack disana, ia yang terbangun memilih keluar kamar mencari udara segar.
Lucas berjalan menuruni tangga, memang kamarnya berada di lantai 3 sehingga ia harus turun lumayan lama sebelum mencapai lantai dasar villa besar itu. Matanya menelisik melihat masih ada seseorang tengah berbicara di ruang tamu, ia pun mempercepat langkahnya untuk mencari tahu siapa kira-kira yang berbicara disana tengah malam begini.
"Mereka itu siapa, Edrea? Kenapa kamu membawa banyak laki-laki asing ke villa ini? Apa kamu tidak tahu bahayanya jika terlalu banyak orang yang menginap disini?"
__ADS_1
"Udah, mbok tenang aja! Aku kenal kok sama mereka semua, jadi aku yakin gak akan terjadi apa-apa! Lagian itu semua cuma mitos mbok, aku gak percaya sama yang begituan!"
Ya rupanya itu adalah Edrea yang tengah mengobrol dengan pekerja di villa itu, sebut saja namanya mbok Jamilah alias orang kepercayaan keluarga Edrea untuk menjaga villa tersebut.
Lucas kebingungan mendengar ucapan dua orang itu, ia tak mengerti apa yang dimaksud Edrea dengan mitos dan bahaya jika banyak orang asing tinggal di villa ini.
"Ada apa ya? Kok kayaknya wajah mereka kelihatan serius banget, apa ada yang mereka sembunyikan?" gumam Lucas pelan keheranan.
Degg...
Tiba-tiba ada tangan kekar menepuk pundak pria itu dari belakang, tentu Lucas terkejut namun tetap berusaha tenang walau jantungnya berdegup kencang seperti ketakutan. Ia memberanikan diri untuk menoleh ke belakang memastikan siapa yang menepuknya, ia sedikit merasa tenang karena ternyata itu adalah Alan.
"Aduh, lu ngapain sih ngagetin gue?" ujar Lucas kesal.
"Hehe, abisnya lu bengong di tangga kayak gini ngalangin orang mau lewat aja! Lagi ngapain sih emang?" ujar Alan kepo.
"Sssttt, jangan kencang-kencang suara lu! Itu disana masih ada Edrea sama mbok Jamilah lagi ngobrol, gue penasaran mereka lagi ngomongin apaan makanya gue nguping disini!" ucap Lucas.
"Ohh, yaelah bre gak baik nguping nguping kayak gitu! Mending lu ikut gua yuk, kita nyantai di belakang sambil minum kopi!" ujar Alan.
"Eh btw kok lu bisa ada disini sih? Perasaan tadi gue lihat lu masih ngorok bareng sama si Jack, eh tiba-tiba udah disini aja!" ujar Lucas heran.
"Hehe, iya dong gue gitu loh!" ucap Alan nyengir.
...•••...
Tak hanya Lucas, Sahira juga tiba-tiba terbangun dari tidurnya yang nyenyak karena merasa seperti ada yang mengganjal di dalam hatinya. Ia terus bermimpi aneh tentang seorang lelaki yang tak ia kenali, tentu Sahira heran mengapa wajah tersebut selalu muncul di dalam mimpinya dan ia juga bertanya-tanya siapa sebenarnya lelaki tersebut.
Sahira pun menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan menurunkan kakinya memijak lantai di bawahnya, ia melamun sejenak disana membayangkan kembali wajah yang selalu muncul di mimpinya selama ini. Ia terus berusaha mengenali siapa sosok lelaki tersebut, namun otaknya seperti berkata kalau ia memang tak mengenalnya.
"Ada apa ini sebenarnya, mengapa wajah itu selalu saja menghantui mimpiku? Orang itu seolah-olah seperti hendak menolongku, dia selalu menjulurkan tangannya dengan wajah panik ke arahku! Siapa dia sebenarnya dan apa maksud dari semua ini?" batin Sahira tak mengerti, ini terlalu sulit bagi seorang manusia biasa seperti Sahira.
Akhirnya Sahira memutuskan untuk berjalan keluar dari kamarnya, langkahnya kini terasa lebih ringan dan enakan setelah mendapat pijatan dari sang kekasih sampai ia tertidur tadi. Hanya saja kepalanya masih terasa pusing akibat terus memikirkan mimpi yang menurutnya sangat aneh, apalagi mimpi tersebut selalu muncul setiap kali ia memejamkan mata.
Sahira langsung menuju ke arah sofa dan duduk bersantai disana, terlihat suasana di rumah itu sudah sangat sunyi dan tak ada suara apapun terdengar di telinganya karena hari memang sudah malam. Sahira menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa sembari mendongakkan wajahnya ke atas menatap langit-langit rumah, ia mengusap wajahnya kasar seraya berteriak kesal meluapkan kekesalannya.
"Aaarrgghh! Ada apa ini sebenarnya?" ujar Sahira dengan suara keras dan lantang, ia tak perduli jika nantinya ada yang terbangun karena suaranya itu.
Sahira benar-benar dibuat pusing oleh kejadian yang dialaminya saat ini, mimpi itu terus saja menghantui dirinya membuat ia jadi kesulitan untuk tidur pulas dan mempelajari jurus yang diberikan Dimas. Walau Sahira sudah berusaha melupakan semuanya, tetapi mimpi itu terus saja muncul dan seperti mengejarnya kemanapun ia pergi.
"Aku harus tanya soal ini ke Dimas, mungkin aja dia bisa bantu dan kasih solusi buat menyelesaikan permasalahan aku ini!" ucap Sahira.
Ya gadis cantik itu celingak-celinguk ke sekeliling mencari yang mana kamar kekasihnya, itu karena Dimas memang belum menunjukkan padanya dimana kamar lelaki itu.
__ADS_1
Sahira pun bangkit dari duduknya, ia berjalan mengitari satu rumah demi menemukan kamar Dimas dan bertanya tentang mimpinya yang aneh.
...•••...
Lucas & Alan menikmati secangkir kopi sembari duduk di bangku panjang belakang villa, mereka memandang indahnya bintang di langit malam yang terlihat cerah dan begitu mengagumkan. Kedua pria itu memang memiliki masalah yang berbeda, akan tetapi keduanya mencoba untuk saling menguatkan satu sama lain dengan berbincang disana.
Sampai saat ini Lucas masih belum bisa menemukan kekasihnya yang hilang entah kemana, padahal ia sudah mencarinya kemana-mana sampai seluruh anak buahnya telah ia kerahkan untuk mencari Sahira tapi selalu gagal. Sedangkan Alan juga tidak tahu kemana perginya Nur sekarang, sudah hampir 3 hari Nur tak mengabarinya lagi sejak terakhir kali mereka bertemu di sekolah dan Nur memang bersikap dingin padanya.
Alan melirik sekilas ke arah Lucas yang tengah bengong dengan tatapan kosong, sepertinya pria itu sedang memikirkan Sahira begitulah pikir Alan di dalam batinnya sembari menatap wajah Lucas. Pria itu mengambil secangkir kopi dari atas meja lalu menyeruputnya dan tak lupa mengucapkan kata ah supaya lebih afdhol, sementara Lucas masih terdiam belum sama sekali menyentuh kopinya.
"Kas, kopi lu keburu dingin tuh! Kalau udah dingin nanti namanya bukan kopi lagi, tapi Nur!" ujar Alan sambil nyengir berusaha menghibur sohibnya.
"Hah? Kok jadi Nur?" tanya Lucas tak mengerti.
"Ya iya kan sekarang si Nur jadi dingin sama gue, sampe saat ini dia juga belum balas pesan gue apalagi kasih kabar ke gue! Kan wajar aja kalau gue sebagai pacarnya khawatir, ya walau gue tahu dia harus keliling dunia buat nyari Sahira temennya!" jelas akan sembari tersenyum.
"Sorry ya bre, gara-gara Sahira hilang jadinya lu sama Nur gak bisa deket lagi kayak dulu! Harusnya waktu itu gue bisa cegah orang itu bawa Sahira pergi, tapi gue terlalu lemah dan gak bisa lakuin itu! Gue emang bukan laki-laki yang pantas untuk Sahira!" ucap Lucas menyesal.
"Lu jangan salahin diri lu sendiri bre, ini semua itu bukan karena kesalahan lu kok! Udahlah, kita percayain aja semuanya ke Nur semoga dia sama temen-temennya bisa temuin Sahira!" ucap Alan.
"Iya bre, tapi tetep aja gue gak bisa tenang selagi Sahira belum ketemu! Harusnya gue bantu Nur buat cari Sahira sekarang, bukannya malah jalan-jalan gak jelas kayak gini! Kekasih macam apa gue kan, masa pacarnya ilang malah enak-enakan begini?" ujar Lucas.
"Hadeh santai aja bro! Lu kan juga udah lakuin yang terbaik buat cari Sahira, tapi untuk sekarang emang lebih baik kalo lu tetep stay aja disini tenangin diri! Biarin Nur sama temennya yang nyari Sahira, kita mah cukup berdoa aja dari sini!" ucap Alan.
Lucas mengangguk pelan dan akhirnya bisa lebih tenang, ia bahkan mau menyeruput kopi miliknya.
...•••...
Disisi lain, Aldi juga tengah termenung di balkon kamarnya sambil menatap langit penuh bintang serta menikmati segelas susu hangat dan cemilan ringan yang ia bawa dari dapur. Pria itu gelisah dipenuhi kebimbangan karena saat ini harus berhadapan dengan 3 orang wanita sekaligus, ia bingung harus memilih siapa diantara ketiga wanita yang saat ini bisa dibilang dekat dengannya.
Aldi memang lebih mencintai Cat dibanding Kia ataupun Kania, tapi itu dulu sebelum Cat memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka dan pergi ke Italia bersama papanya. Untuk sekarang ini Cat memang sudah kembali ke Indonesia, tapi entah kenapa rasanya Aldi tidak sebahagia ketika mereka masih berpacaran dahulu.
"Gua harus gimana ya sekarang? Emang sih gue ini terlalu ganteng sampai jadi rebutan tiga cewek sekaligus, tapi gimanapun juga gue harus pilih salah satu dari mereka dan gak boleh rakus! Ya tapi kalau bisa tiga sekaligus juga gapapa sih, asalkan mereka mau dimadu pasti gue bakal bahagia banget!" ujar Aldi senyum-senyum sendiri, ia membayangkan bagaimana jadinya jika ia memiliki tiga istri.
Tentu hal tersebut adalah keinginan setiap lelaki di dunia ini yakni memiliki banyak istri, namun Aldi langsung menepis bayangan itu karena tak mungkin juga ketiga wanita itu mau menikah dengannya. Baginya salah satu saja sudah lebih dari cukup karena baik Cat, Kania atau Kia merupakan gadis yang cantik dan juga bersikap baik.
"Kayaknya gue belum bisa putusin sekarang deh, mungkin untuk saat-saat ini gue bakal kasih mereka peluang yang sama supaya gue juga bisa cari tahu siapa yang paling tulus dan setia sama gue! Ya walau Cat udah sempet nyakitin gue dan bikin gue gamon bertahun-tahun, tapi gue bakal kasih dia kesempatan sekali lagi buat nebus kesalahannya! Untuk Kania, jujur sih gue bisa ngerasain kalo ada rasa yang berbeda tiap kali gue deket sama dia! Tapi, apa mungkin dia juga bakal suka sama gue?" ucapnya.
Aldi menenggak sejenak susu di gelasnya, berbicara sendiri juga membuat tenggorokannya kering.
"Dan buat Kia, gue bisa jamin sih kalo cewek ini ada rasa suka sama gue! Tapi, justru malah gue yang ngerasa biasa-biasa aja tiap kali ketemu atau bahkan berduaan sama dia!" sambungnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!!...