
...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...
..."BROKEN ANGEL"...
...~~~...
...•...
#BROKEN ANGEL S2 EPS. 144
...•...
Sahira merasa bosan terus berada di kamar tanpa seorangpun menemaninya disana, ia bangun dari tidurnya lalu duduk di pinggir ranjang sambil menatap ke sekeliling ruangan yang penuh dengan barang-barang terbuat dari emas. Ia cukup takjub karena kondisi kamar tamu saja sudah seperti ini, ia tak bisa membayangkan bagaimana kondisi kamar utamanya ketika ia nanti menikah dengan Dimas.
Sahira pun tersenyum sambil masih celingak-celinguk mencoba melihat seluruh dekorasi yang ada di kamarnya, ia teringat pada ratunya yang tidak diajak kesini karena Dimas takut akan memancing keributan antara sang raja dengan ratu bidadari itu. Padahal hal itu hanyalah alasan Dimas karena tak mau orang-orang di kerajaan langit mengetahui jika yang bersamanya bukanlah ratu Keira melainkan Wilona, namun Sahira tidak mengetahui itu lantaran ia hilang ingatan.
Slaasshhh...
Criiinngggg...
Tiba-tiba terdengar suara seperti pertarungan dari arah luar kamarnya dan muncul juga sinar-sinar aneh yang tidak ia ketahui, tentu Sahira sangat penasaran mendengarnya karena tak biasanya ada pertarungan seperti itu di dalam kerajaan apalagi ini adalah kerajaan langit yang disegani.
"Siapa ya yang lagi tarung di luar? Apa mungkin itu Dimas? Tapi, masa iya Dimas berantem sama keluarganya sendiri di istananya sendiri?" gumam Sahira kebingungan.
Akhirnya Sahira coba bangkit dan berjalan ke dekat pintu kamarnya, ia sungguh penasaran karena suara pertarungan makin terdengar jelas di telinganya dan tak bisa membuatnya tenang untuk tidur. Selain itu, Sahira juga sebenarnya bosan terus-terusan berada di kamarnya tanpa ada seorangpun yang menemaninya dan ia butuh hiburan tentu.
Kreekkk...
Perlahan Sahira membuka pintu lalu melihat keluar, dua pelayan wanita yang berjaga disana sontak menoleh ke arahnya dan kemudian bertanya mengapa Sahira membuka pintu seperti itu.
"Nona mau kemana?" tanya salah seorang pelayan wanita itu, ia menatap Sahira penasaran.
"Umm, aku bosan terus ada di kamar dan ingin keluar mencari udara segar atau sekedar melihat-lihat isi istana ini! Oh ya aku juga mau bertemu dengan kekasihku, Dimas! Apa boleh?" ucap Sahira menjelaskan maksudnya.
"Maaf nona, tapi tadi pangeran meminta kami untuk menjaga nona agar tetap di kamar dan tidak boleh keluar walau hanya sebentar! Sebaiknya nona kembali saja ke dalam kamar dan tunggu pangeran kembali, karena kami tidak mungkin melawan perintah pangeran!" ucap pelayan wanita itu.
Sahira pun terdiam menurut, ia juga tak mungkin bisa keluar tanpa izin dari dua pelayan yang ditugaskan Dimas itu.
"Silahkan masuk kembali, nona!" ucap pelayan itu.
Booommm....
Saat Sahira hendak masuk lagi ke dalam kamarnya, tiba-tiba saja terdengar suara ledakan yang amat kencang dari dekat sana. Tentu Sahira makin penasaran apa yang sebenarnya terjadi disana, begitupun dengan kedua pelayan itu yang saling pandang karena tak mengerti pula.
"Pelayan, apa yang sedang terjadi disini? Mengapa daritadi aku mendengar suara pertarungan dan sekarang malah ledakan keras?" tanya Sahira heran.
"Umm, kami pun tidak tahu nona! Tapi, sebaiknya nona tetap di dalam kamar supaya tidak terjadi apa-apa pada nona dan kami juga tidak akan dimarahi oleh pangeran nantinya!" jawab pelayan itu.
"Benar nona, tolong mengertilah pekerjaan kami dan bagaimana nasib kami nanti jika nona memaksa untuk keluar dari kamar!" sahut pelayang satunya.
"Baiklah, aku akan tetap di kamar menunggu Dimas kembali!" ucap Sahira menurut.
Kedua pelayan itu tersenyum menatap Sahira, bidadari itu pun masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintu dari dalam walau sebenarnya ia masih cemas dan khawatir.
•
•
Dimas dengan kekuatan mustika merah yang ia miliki berhasil menghabisi Nuril sang raja langit itu, tentu ia sangat puas dan merasa senang karena berhasil mengalahkan rajanya dengan satu serangan saja. Ya sedari tadi ia hanya diam menghindari serangan Nuril dan barulah ketika Nuril lengah, ia langsung menyerang balas dengan mustika merah miliknya.
Nuril kini tergeletak di atas lantai dengan kondisi buruk, ia memuntahkan darah ke karpet emas yang ia tiduri dan seketika itu juga mahkota yang dikenakannya lepas alias tercopot dari kepalanya. Dimas mengambil kesempatan itu untuk memakai mahkota tersebut di kepalanya, Nuril tak bisa lagi berbuat apa-apa karena kekuatannya sudah habis akibat serangan dari Dimas.
"Hahaha, lihatlah dasar bodoh! Sekarang akulah sang penguasa langit yang sesungguhnya, seluruh makhluk di bawah langit akan tunduk padaku bukan kepadamu makhluk bodoh! Hahaha, aku akan memberimu ampunan jika kau mau bekerjasama denganku untuk menghabisi sang ratu Keira serta para keronconya itu!" ucap Dimas tertawa puas.
"Jangan mengada-ada kamu, Dimas! Bisa-bisanya kamu mau membunuh orang yang sudah berbaik hati padamu, ingatlah Dimas... ratu Keira itu yang telah mengangkat mu menjadi pangeran langit!" ucap Nuril dengan sisa-sisa tenaganya.
__ADS_1
"Apa peduliku? Bagiku ratu lemah ini hanyalah orang jahat yang suka memerintah saja, dia tidak pernah menganggap para anak buahnya dan hanya mementingkan diri sendiri! Orang seperti itu sangat pantas untuk dihabisi, sekarang kau pilihlah ingin berpihak pada siapa?" ucap Dimas.
"Aku tidak sudi bekerjasama dengan manusia licik sepertimu, Dimas! Lebih baik aku mati daripada harus berpihak pada kau, ayo bunuh saja aku!" ujar Nuril dengan suara tegas dan lantang.
"Ohh, baiklah kalau memang itu yang kau pilih! Bersiaplah raja bodoh, aku akan menghabisi mu dengan trisula milikku yang sangat amat menyakitkan! Terimalah kematian mu dengan senang hati supaya pintu neraka juga akan langsung terbuka untukmu, raja bodoh!" ujar Dimas.
Dimas mengeluarkan senjata andalannya yakni trisula maut yang ia miliki hasil dari menyerap kekuatan Wilona, petir dan kilat menyambar membuat seisi istana dipenuhi kegelapan serta ketakutan yang melanda hebat.
Nuril panik memandang trisula yang dipegang Dimas, ia merasakan ketakutan karena senjatanya benar-benar mengerikan dan bisa saja nyawanya akan langsung hilang bila Dimas menusukkan trisula tersebut ke dadanya.
"Rasakan ini, raja bodoh!!!" teriak Dimas sembari mengangkat trisulanya ke atas dan bersiap untuk menikam Nuril menggunakan senjata itu.
"Berhenti...!!!"
Suara teriakan dari arah berlawanan membuat Dimas berhenti dan reflek menoleh, sosok wanita cantik dengan pakaian serba putih dan mahkota melekat di kening serta tongkat di tangannya membuat Dimas tercengang lalu tersenyum licik.
"Hey, ratu!" ucap Dimas menyapa ratu Keira yang datang kesana, ia juga menurunkan trisula miliknya.
Ratu Keira datang kesana seorang diri, ia menghampiri Dimas dan melihat kondisi Nuril yang sudah sekarat karena berkelahi dengan pria tersebut.
"Dimas, aku tak menyangka kau akan melakukan ini pada rajamu sendiri! Seharusnya kau malu Dimas, kau ini bukan siapa-siapa jika Nuril tidak menerima mu menjadi anggota kerajaan langit!" ucap Keira.
"Hahaha, persetan dengan itu semua! Aku akan menghabisi kalian berdua disini, saat ini juga dengan trisula milikku...!!" teriak Dimas tertawa keras.
Ratu Keira menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dimas yang diluar kendali, ia tak menyangka manusia seperti Dimas bisa berbuat sampai seperti ini hanya karena haus kekuasaan.
...•••...
Disisi lain, Edrea sudah diobati di UKS dan kini telah sadar dari pingsannya dengan kondisi kepala lumayan pusing akibat terkena hantaman bola basket yang berat itu. Perlahan Edrea membuka matanya walau masih sedikit buram, ia terkejut melihat Lucas ada di sampingnya.
"Lucas?" ucap gadis itu pelan dengan mata terbuka setengah dan senyum tipis tersimpul di bibirnya.
"Iya, kamu udah mendingan?" tanya Lucas langsung mengalihkan pandangannya ke arah Edrea.
Edrea manggut-manggut pelan dan senyumnya semakin lebar serta tatapan matanya tak beralih dari wajah tampak Lucas yang berkeringat, "Makasih ya!" ucapnya pelan.
"Gapapa kok, aku malah seneng kena lemparan bola dari kamu! Soalnya rasanya itu bukan cuma di kening, tapi nyampe ke hati juga!" ucap Edrea.
"Lah kok bisa??" tanya Lucas heran.
"Iya dong, kalo kamu gak ngerti coba aja tanya sama google atau pakar cinta!" jawab Edrea senyum-senyum manis.
"Ohh, iya iya... yasudah aku pergi dulu ya, udah bel juga daritadi jadi aku harus balik ke kelas sekarang! Kamu istirahat aja dulu disini, kalo perlu apa-apa tinggal panggil si Aiko di depan!" ucap Lucas.
"Eee kenapa kamu gak disini aja sih? Aku lebih seneng kalo ditemenin sama kamu, soalnya aku jadi gampang sembuhnya nanti!" ucap Edrea.
"Duh gak bisa, Edrea! Aku harus balik ke kelas, nanti bisa-bisa dimarahin sama Bu Meli!" ucap Lucas.
"Loh, Bu Meli kan sepupu kamu? Gak mungkin dong kalo dia bakal marah-marah sama kamu, pasti dia maklumin kok!" ucap Edrea tersenyum.
"Ya gak gitu juga, bukan berarti kalau Bu Meli sepupu aku dia bakal kayak gitu sama aku! Kan dia disini jadi guru bukan sepupu aku, pastinya dia harus profesional dong!" ucap Lucas.
"Yah yaudah deh kalo emang kamu mau pergi mah, tapi nanti jangan lupa kesini lagi ya pas istirahat!" ucap Edrea.
"Umm, lihat aja nanti ya! Aku gak bisa janji soalnya takut kelupaan, yaudah aku keluar dulu! Istirahat yang benar supaya cepat sembuh!" ucap Lucas.
Edrea manggut-manggut sembari menyunggingkan senyum di wajahnya, Lucas pun membalas senyuman Edrea kemudian pergi keluar dari kamar meninggalkan Edrea disana.
"Aiko, jagain Edrea yang bener! Kalo misal dia perlu apa-apa, lu harus cepet bantu!" ucap Lucas.
"Iya iya santai, lagian gue juga udah pengalaman kali jagain orang sakit di UKS! Kan lu tau gue ini anak PMR, santai aja Edrea pasti aman kok!" ucap Aiko.
"Ya ya ya, awas loh kalo sampe dia malah tambah sakit gara-gara lu jagain nya gak bener!" ujar Lucas.
"Buset dah, iya iya Lucas!!" ujar Aiko.
__ADS_1
"Oke gue cabut, titip Edrea!" ucap Lucas.
"Iya bawel ah!"
Nampaknya Lucas benar-benar khawatir dengan kondisi Edrea, ia sampai segitunya menitipkan Edrea pada Aiko dan tidak mau Edrea kenapa-napa.
•
•
Lucas tak sengaja berpapasan dengan Kania saat hendak menaiki tangga menuju kelasnya, gadis itu tampaknya baru keluar dari toilet dan berhenti sejenak karena Lucas memanggilnya.
"Eh, Kania!" sapa Lucas sambil tersenyum.
"Ah iya, kenapa?" tanya Kania dingin.
Lucas tak menghapus senyumnya lalu jalan melangkah ke dekat Kania, sedangkan Kania mundur selangkah agar jarak mereka tidak terlalu dekat.
"Lu kok makin cantik aja sih, Kania?" ucap Lucas diluar dugaan malah mengatakan itu pada mantannya, bahkan ia mengukir senyum menggoda gadis di hadapannya.
Namun, Kania berusaha tetap tenang dan tak ambil pusing omongan Lucas barusan. Baginya, Lucas mungkin hanya sekedar memujinya atau malah meledeknya karena ia tak melihat ada tatapan keseriusan saat Lucas mengatakan itu.
"Maksudnya apa lu ngomong begitu ke gue?" tanya Kania penasaran dan terheran-heran.
"Gak ada kok, gue kan cuma muji ciptaan Tuhan yang indah ini! Gak ada salahnya, kan?" ucap Lucas tersenyum dan semakin mendekati Kania.
"Udah deh, lu jangan mulai lagi kayak dulu! Ingat Kas, sekarang status lu masih jadi pacarnya Sahira! Jangan sampe lu tega duain dia apalagi khianati dia, Sahira itu temen gue dan kalo lu sampe begitu ke dia lu juga bakal berhadapan sama gue!" ucap Kania.
Gadis itu langsung pergi meninggalkan Lucas yang masih terpaku disana, nampaknya Kania terlihat kecewa pada lelaki tersebut karena ia melihat sendiri tadi saat Lucas menggendong Edrea ke UKS.
Lucas pun masih mematung disana menatap punggung Kania yang perlahan menghilang, ia terus kepikiran perkataan gadis itu dan akhirnya menyesali perbuatannya karena telah menggoda gadis lain sedangkan ia masih memiliki kekasih yakni Sahira.
"Hadeh, gue ini kenapa sih? Harusnya gue gak godain cewek lain, kasihan Sahira!" ucapnya menyesal sembari mengusap wajahnya kasar.
"Iya bener tuh!"
Tiba-tiba ada suara seseorang menyauti ucapannya, Lucas pun terkejut dan reflek menoleh ke belakang. Matanya terbelalak begitu melihat sosok pria kemayu tengah berdiri disana menatapnya sambil tersenyum, tentu Lucas ingat betul siapa pria itu.
"Dorta? Lu Dorta si banci tanah Abang, kan?" ujar Lucas sembari menunjuk pria tersebut dengan jari telunjuknya.
"Heh sembarangan aja lu kalo ngomong!" ujar sosok yang rupanya adalah Dorta.
"Hahaha, mau ngapain lu kesini lagi? Kan atasan lu si nyai selendang hijau itu udah ketemu, terus lu mau apa lagi datang kesini?" ujar Lucas heran.
"Yah elah galak amat sih! Gue disuruh kesini sama nyai, katanya gue diminta buat bantuin lu temuin pacar lu yang hilang itu!" ucap Dorta.
"Hah? Serius lu bisa bantu gue??" tanya Lucas.
"Ya bisa dong, waktu itu kan lu udah bantu gue nah sekarang giliran gue yang bakal bantu lu! Pertama-tama gue bakal lihatin ke lu dulu dimana lokasi keberadaan pacar lu itu sekarang, siap gak?" ucap Dorta.
"Siap siap, cepet lihatin ke gue!" ucap Lucas sangat bersemangat.
"Oke, yuk ikut gue!" ujar Dorta.
Tanpa menunggu jawaban dari Lucas, Dorta langsung membawa Lucas pergi ke suatu tempat dan menghilang begitu saja.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...RATU KEIRAAAA...
__ADS_1
...❤️❤️❤️...