
Rey dan marga duduk di kursi tunggu setelah perdebatan mereka harus terhenti oleh sebuah peringatan dari pengunjung pasien yang merasa terganggu akibat keributan yang tercipta dari mereka berdua.
Rey dan marga duduk saling bersebelahan,meski enggan mau tak mau Rey harus duduk di kursi besi yang tak nyaman dan tak biasa bagi seorang Reynaldi Kenzo Pratama.
"So,apa yang sebenarnya terjadi?".Tanya marga, tanpa basa-basi.
"Gue,gak tau.Dia di temukan sudah dalam keadaan pingsan,itu pun gue menemukannya secara tidak sengaja".Jelas Rey,apa adanya.
"Di temukan dimana?".
"Di pinggir laut".
Marga, menepuk jidatnya."Sedang apa kau disana?,mau jadi mermaid loe?".Tanya marga.
Lagi, sebuah pelototan tajam dia berikan untuk sahabat sengkleknya."Sembarang loe ngomong,gue kesana kebetulan ada rapat".Gertak rey.
Baik marga maupun Rey, keduanya terdiam cukup lama tak ada lagi obrolan diantara keduanya,bagi marga cukup Allena sudah di temukan itu sudah lebih dari cukup dari sekedar bertanya.Toh,dia bukan anak cewek yang suka banyak bertanya tentang banyak hal,cukup dengan tau saja itu sudah lebih tak perlu di campuri dengan pertanyaan lain.
Beda hal dengan Rey,dia memang diam tapi pikiran nya tertuju pada Allena.Gadiw kecilnya,yang dia temukan dalam keadaan memilukan.
Pikirannya melanglang buana pada kejadian yang baru saja di lihatnya,dimana Allena sudah jatuh terkapar dengan di kelilingi oleh orang-orang tanpa mau membantunya.
Yang menjadi pertanyaan nya adalah mengenai penampilan Allena yang jauh berbeda bila di bandingkan dengan sebelum berpisah.Allena yang sekarang berpenampilan tomboi, dengan rambut pendek, memakai topi,celana pendek,kaos oblong dan satu benda yang selama ini menarik perhatian rey.
__ADS_1
Gitar?,itu yang menjadi daya pusat pemikiran Rey."Apa mungkin selama ini dia mengamen?".Benak Rey,terus bertanya-tanya mengenai profesi Allena untuk saat ini.
Lagi,dia juga bertanya tentang mamah Axel.Ibu dari Allena,tentang keberadaannya dan tentang bagaimana dia bersikap.
"Rey".Ucap marga,menepuk pundak rey.
Bagai di kejutkan oleh mesin kejut jantung,bagai di sambar petir di siang bolong.Ucapan marga,sukses membuat Rey terkejut bukan main.
"Y-Yah".Sahut Rey, gelagapan.
"Are you ok?".Tanya marga,menelisik raut muka Rey.
"I'm ok".Jawab Rey."Hanya satu yang mengganjal pikiran ku".Ucap Rey lagi.
"Apa Allena selama ini,mengamen?". Tanya Rey,menoleh kearah marga.
Marga bukannya langsung menjawab,dia malah mengangkat bahunya."Mungkin,iya mungkin juga tidak".Ucap marga, dengan santainya.
Rey,semakin mendekat kearah marga.Tak mengerti dengan ucapan marga."Mungin iya,mungkin tidak?,maksud?".
Marga menatap lurus ke depan,bukan dia kebingungan harus menjelaskannya darimana,lebih tepatnya membiarkan Rey menjawab pertanyaannya sendiri tanpa tau jawaban dari orang lain.
"Kalau orang nanya tuh jawab bukan diam aja".Gertak Rey.
__ADS_1
Tapi,lagi marga tak menanggapi ucapan Rey.Dia bergeser dua langkah menjauh dari Rey.Menjauh dari pertanyaan Rey yang sebenarnya itu bisa di jawab sendiri oleh Rey.
"Kamu boleh menjadi CEO handal,bisa menebak, menganalisis dan memberikan keputusan.Tapi,kenapa kamu tidak mampu menjawab pertanyaan kamu sendiri".Tanya marga,dingin.
Deg
Ucapan marga seakan menghunus jantung nya.Sindiran itu, seperti membenarkan pemikirannya bahwa memang benar Allena selama ini mengamen.
"Jangan-jangan kamu sudah tau tentang keberadaan allena dan kegiatan nya selama ini?".Rey,memberondong marga dengan banyak pertanyaan,entah kenapa nuraninya berkata bahwa marga memang sudah mengetahui tentang Allena,jauh sebelum dia menemukan nya.
Marga,menoleh kearah Rey."Menurut mu?".
Rey,bangkit berdiri,dia mencengkram kerah kemeja marga."Bangun loe, bego". Gertaknya."Selama ini loe tau tentang keberadaan allena,tapi tidak memberitahu ku".Gertak Rey lagi.
Marga dengan santainya melepas cengkraman tangan Rey di kerah kemeja nya."Yah,memang aku sudah tau dan sengaja tak memberitahu mu".Ucap marga.
"Sialan loe".Gertak Rey, menghadiahi marga dengan bogem mentah.
Bugh
"Itu balasan untuk loe yang sudah membodohi sahabat loe sendiri ".Ucap Rey, sebelum akhirnya melenggang pergi.
Marga yang mendapatkan sebuah bogem mentah hingga bibir nya mengeluarkan cairan merah,bangkit berdiri sembari menyusut darah yang menetes di bibirnya sambil menatap kepergian Rey.
__ADS_1