
...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...
..."BROKEN ANGEL"...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
...~Dengarkanlah, di sepanjang malam aku berdoa, bersujud dan lalu aku meminta, semoga kita bersama~...
...×××...
...~Cintaku padamu abadi, hanya maut yang dapat memisahkan kita, aku janji kan selalu setia dan bersamamu sampai akhir hayat ku~...
...×××...
#BROKEN ANGEL S3 EPS. 62
...•...
...HAPPY READING....🎉🎉🎉...
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Sepulang sekolah, kini Lucas dan juga Aldi berkumpul sesuai rencana mereka tadi pagi yang akan melayani pergerakan menuju markas the darks untuk menyerang mereka. Lucas sudah menggunakan kekuatan pelacak nya untuk bisa menemukan dimana lokasi markas baru the darks, hingga kini ia dan Aldi bisa datang kesana.
Lucas juga sengaja menemui Aldi setelah mengantar Sahira alias kekasihnya itu pulang, ya tentu agar Sahira tidak curiga dan tidak kepo jika ia menemui Aldi saat masih ada Sahira. Lucas tidak mau jika Sahira menahannya dan membuat ia ragu untuk menyerang the darks, gimanapun juga Lucas sudah sangat marah kepada Willy dan anggota the darks.
"Al, lu udah siap kan buat nyerang markas the darks sekarang?" tanya Lucas.
"Lebih dari siap bro! Tapi, emang lu tahu dimana lokasi markas the darks yang baru? Setahu gue, mereka udah enggak ada lagi di tempat yang sebelumnya." ucap Aldi.
"Lu tenang aja! Gue banyak punya mata-mata, gue tahu dimana lokasi mereka sekarang. Kita tinggal datengin aja kesana dan serang mereka, setuju?" ucap Lucas emosi.
"Setuju banget! Gue udah gak sabar pengen ratain mereka! Tapi, lu gak minta bantuan gitu sama anak geng motor yang lain? Bukannya gue ragu men, tapi mereka kan jumlahnya banyak banget. Mustahil buat kita berdua menang lawan mereka!" ucap Aldi.
"Lu jangan pesimis gitu bro! Gue sama lu aja udah cukup buat habisin mereka semua, atau kalo lu ragu juga lu boleh kok tunggu disini dan gausah ikut gue! Biar gue sendiri aja yang kesana, gimana?" ucap Lucas dengan penuh percaya diri.
"Hah? Waduh, kalo gitu sih mendingan gue ikut aja sama lu bro! Gue gak pesimis lagi deh," ucap Aldi.
Lucas tersenyum kemudian menepuk pundak sohibnya itu dari samping dan naik ke motornya, ia memakai helm di kepala dan bersiap untuk segera bergegas menuju markas the darks. Lucas sudah tidak sabar untuk bisa menghabisi Willy dan juga anggota the darks yang lainnya, ia benar-benar sangat emosi pada kelakuan mereka semua.
Aldi pun juga mulai memakai helm di kepalanya dan ikut pergi bersama Lucas, walau sebelumnya ada keraguan di dalam pikirannya untuk melakukan itu hanya dengan Lucas. Namun, kini Aldi sudah yakin seratus persen untuk bisa mengalahkan Willy dan seluruh anggota the darks di markasnya serta tentunya membalas dendam para geng wild blood.
Setelahnya, mereka pun mulai melaju pergi dengan beriringan menuju lokasi markas the darks yang sebelumnya sudah dilacak oleh Lucas dengan kekuatannya. Lucas sesekali melirik ke arah Aldi yang ada di sampingnya, ia coba mentransfer kekuatan ke dalam tubuh Aldi agar pria tersebut juga memiliki kekuatan yang lebih untuk melawan semua anggota the darks di markasnya nanti.
"Lu gak perlu takut, Aldi! Sekarang gue alias ketua geng lu ini, udah bukan manusia biasa lagi. Gue bisa habisin mereka semua, hanya dengan satu jentikan jari kalau gue mau!" batin Lucas.
Tak lama kemudian, mereka berdua sampai di depan lokasi terbaru markas the darks yang baru itu. Lucas langsung melepas helmnya dan hendak turun dari motor begitu sampai disana, ia memang cukup kagum dengan markas baru the darks yang terlihat sangat mewah dan berkelas itu, tapi tentu saja niatnya kesana bukan untuk mengagumi itu melainkan menghabisi seluruh anggota the darks.
"Al, ayo kita kesana!" ucap Lucas sembari menepuk punggung Aldi.
Aldi mengangguk pelan dan kemudian ikut turun bersama Lucas, ia serta ketua gengnya itu berjalan bersama-sama menuju ke depan tempat alias markas anggota the darks. Mereka berdua sudah sangat tidak sabar untuk segera menghajar seluruh anggota the darks disana, bahkan mereka juga tak akan segan-segan untuk mengirim anggota the darks ke dalam kuburan seperti Saka.
"Woi Willy! Keluar lu b*ngsat...!!" teriak Lucas dengan suara yang lantang dan keras disertai amarah yang sudah memuncak.
"Willy anj*ing keluar lu t*i...!!" sambungnya lagi.
"Kas, sabar!" ucap Aldi coba menenangkan Lucas dengan cara memegang pundak pria tersebut.
"Gua gak bisa sabar lagi! Ini udah kelewatan, mereka harus dikasih pelajaran!" bentak Lucas.
"Woi keluar lu semua...!!!" teriaknya lagi.
Tak lama kemudian, anggota the darks yang dipimpin oleh Putra keluar dari dalam tempat tersebut dan mereka berjalan menemui Lucas serta Aldi di depan sana. Tampak tidak ada Willy maupun Dans selaku ketua mereka disana, namun tentunya jumlah mereka masih sangat banyak dan tidak sebanding dengan jumlah Lucas dan Aldi sekarang.
__ADS_1
"Hahaha, lihat guys siapa yang datang!" ujar Putra.
"Ahaha, mereka kayaknya pada mau cari mati datang ke markas kita. Tapi kebetulan, karena kemarin mereka emang belum sempat kita hajar juga kayak yang lainnya." ucap Alves.
"Ini sih kalo ada Willy sama bang Dans, pasti mereka bakal seneng banget!" ucap Rio.
"Heh anj*ing! Dimana ketua kalian yang bangs*t itu ha? Suruh dia keluar dan temuin gue sekarang!" bentak Lucas dengan emosi yang meluap.
"Hahaha..."
Lucas semakin kesal karena ia justru diketawain oleh Putra dan yang lainnya, tangannya sudah terkepal hebat menahan amarah yang semakin memuncak dan ingin sekali rasanya ia menghajar mereka. Lucas saat ini memang sudah di luar kendali dan tak dapat lagi mengendalikan emosinya itu, akibatnya ia pun tetap serius untuk menghabisi mereka semua.
"Mati lu baj*ngan...!!" teriak Lucas.
"Wah nantangin, seraaanggg...!!" teriak Putra.
Akhirnya Lucas dan Aldi maju menghadapi seluruh pasukan the darks disana, mereka melawan setidaknya tujuh sampai sembilan orang sekaligus disana karena jumlahnya yang tak sebanding. Namun, justru terlihat banyak pasukan the darks yang kewalahan menghadapi Lucas serta Aldi dan kemudian satu persatu jatuh terkapar.
Sampai pada akhirnya tak butuh waktu lama bagi Lucas untuk menumbangkan Putra, ia memutar tangan pria tersebut dan mencekiknya dari belakang untuk bersiap mematahkan lehernya. Lucas sudah benar-benar emosi, bahkan seluruh uratnya sampai keluar dan matanya melotot seperti hendak lepas dari tempatnya saat ini.
"Heh! Sekarang lu kasih tau gue! Dimana Willy? Atau gue bakal patahin tangan dan leher lu sekaligus, jangan main-main sama gue!" bentak Lucas.
"Gu-gue gak tau..." jawab Putra.
"Kurang ajar! Cepat jawab!!" bentak Lucas.
"Uhuk uhuk... iya iya, gue bakal kasih tau ke lu! Tapi, longgarin dulu cekikan lu!" ucap Putra.
Lucas menurut dan melonggarkan cekikan nya.
"Udah, sekarang jawab! Atau gue bakal patahin tangan lu yang kurus ini!" ujar Lucas.
"Iya, Willy ada di rumahnya..." jawab Putra.
Lucas pun terdiam dan bersiap melacak rumah Willy karena Putra memang benar-benar tidak tahu.
...•••...
Terlebih lagi memang Sahira tahu sekali sikap kekasihnya itu seperti apa, ia benar-benar khawatir saat ini dan berharap kalau Lucas tidak nekat melakukan itu semua. Bagaimanapun juga, Sahira tetap saja tidak ingin melihat Lucas babak belur dan masuk rumah sakit sama seperti Alan serta anggota wild blood yang lainnya sekarang.
Nur yang baru datang dari dapur sembari membawa es jeruk bikinannya, merasa heran lantaran ia melihat Sahira terus saja mondar-mandir di depan sofa dengan menggigit jarinya. Ia tak mengerti apa yang dilakukan Sahira sebenarnya disana, apalagi tak biasanya memang Sahira melakukan itu sampai harus menggigit jarinya sendiri disana.
"Sahira..." ucap Nur memanggil sohibnya sembari meminum es jeruknya itu dan berhenti tepat saat di depan Sahira.
Sahira pun menoleh ke arah Nur.
"Eh Nur, kenapa?" tanya Sahira.
"Haish, kamu ini! Harusnya aku yang tanya sama kamu, kenapa kamu daritadi mondar-mandir gitu sambil gigitin jari? Emangnya kesemutan tuh jari, apa gimana?" ucap Nur terheran-heran.
"Ohh, enggak kok. Gue cuma takut aja kalo sampe Lucas kenapa-napa." ucap Sahira.
"Hah? Emangnya si Lucas kenapa sih?" tanya Nur.
"Ya gak tahu. Kan tadi gue bilang, gue takut kalau dia sampe kenapa-napa! Jadi, ya gue belum tahu dia kenapa sekarang. Itu kan cuma firasat gue, Nur!" jawab Sahira menjelaskan.
"Ohh, iya sih sama." ucap Nur.
"Hah? Sama gimana?" tanya Sahira heran.
"Ya sama, gue juga daritadi kepikiran terus sama Alan dan gue khawatir dia kenapa-napa. Soalnya sampe sekarang gue masih belum dapat kabar dari dia, telpon gue juga gak diangkat." jawab Nur.
"Ohh, yang sabar ya! Mungkin Alan lagi sibuk atau ada urusan lain gitu, jadi dia gak bisa kabarin lu sekarang ini. Tapi, pasti lain waktu nanti dia bakal kabarin lu kalo urusan dia udah selesai!" ucap Sahira menenangkan sohibnya itu.
__ADS_1
"Thanks ya! Harusnya kan gue yang tenangin lu, eh malah lu yang tenangin gue." ucap Nur.
"Gapapa, kita sama-sama saling menenangkan aja! Yuk duduk sini, supaya hati kita bisa lebih tenang dan gak kepikiran mereka terus!" ucap Sahira.
"Iya..." ucap Nur manggut-manggut.
Mereka berdua pun duduk di sofa berdampingan, Sahira terus saja merangkul dan menenangkan Nur sembari menaruh wajahnya pada bahu sohibnya itu, ya karena Sahira juga butuh ketenangan saat ini setelah daritadi firasatnya mengatakan kalau Lucas sedang melakukan suatu tindakan yang tidak benar.
"Eh Nur, itu kok es jeruknya cuma satu sih? Buat gue mana? Lu gak bikinin juga gitu?" tanya Sahira.
"Hehehe, iya nih. Sorry, soalnya tadi gue kira lu gak mau bikin juga gitu." ucap Nur nyengir.
"Yeh parah lu! Yaudah gapapa, gue juga gak haus sih." ucap Sahira.
Setelahnya, mereka pun lanjut berbincang ria membahas sesuatu yang dianggap menyenangkan supaya Nur tidak lagi kepikiran pada kekasihnya yakni Alan yang saat ini sedang dirawat.
...•••...
Willy yang hendak pergi keluar dari rumahnya untuk menuju markas the darks, tiba-tiba saja harus terhenti sejenak karena ponselku berdering yang membuatnya harus mengangkat itu lebih dulu. Willy pun menunda kepergiannya dan mengangkat sejenak telpon yang ternyata dari Putra itu, ia penasaran karena barangkali ada info darinya.
Tentunya Willy juga khawatir kalau mengabaikan telpon dari Putra itu, karena ia memiliki firasat tidak baik yang akan ia dengar melalui telpon tersebut yang membuatnya merasa yakin untuk mengangkatnya lebih dulu sekarang ini. Walau sebenarnya ia jarang sekali ingin mengangkat telpon dari Putra atau siapapun ketika hendak bepergian.
📞"Halo, ada apa Putra?" tanya Willy.
📞"Halo Wil, lu lagi dimana sekarang?" ucap Putra dengan nafas tersengal dan masih batuk-batuk akibat cekikan Lucas tadi.
📞"Eee ini gue di rumah, kenapa emang? Eh eh bentar, suara lu kok kayak yang lagi sesak nafas gitu, lu gapapa kan?" ucap Willy mulai curiga.
📞"Gue gapapa. Tapi, tadi Lucas sama si Aldi datang ke markas kita dan langsung serang kita gitu aja secara membabi buta. Dia bisa kalahin kita semua bahkan termasuk gue, terus sekarang dia lagi berusaha buat cari tempat lu!" jelas Putra.
📞"Hah? Kok bisa si Lucas tau lokasi markas kita yang sekarang?" tanya Willy heran.
📞"Itu yang juga gue heranin. Tapi, sekarang mending lu jangan bepergian dulu! Karena si Lucas sama Aldi pasti masih cari keberadaan lu, mereka kelihatan marah banget!" ucap Putra.
📞"Oke, thanks infonya! Lu sama yang lain jaga diri, telpon aja pihak rumah sakit!" ucap Willy.
📞"Iya, ini rencananya gue juga mau telpon rumah sakit buat berobat. Soalnya banyak banget anak the darks yang terluka parah, bahkan ada yang sampe pingsan juga gara-gara serangan si Lucas sama Aldi yang bener-bener kuat itu!" ucap Putra.
📞"Yaudah, cepet sembuh!" ucap Willy.
📞"Iya, thank you!" ucap Putra.
Tuuutttt...
Willy pun memutus telpon tersebut dan terlihat sangat panik karena ia sedang dalam pencarian oleh Lucas serta Aldi, Willy bahkan sampai memukul tembok rumahnya dan berteriak keras lantaran ia tak mengerti bagaimana mungkin seluruh anggota the darks bisa terkapar hanya karena menghadapi Lucas serta Aldi yang tentunya kalah jumlah.
"Bang, lu kenapa?" tanya April yang muncul dari belakang setelah mendengar teriakan abangnya.
"Eh eee gue gapapa. Udah lu masuk aja ke kamar, jangan pernah keluar!" ucap Willy.
"Loh kenapa?" tanya April heran.
"Ya gapapa. Udah lu nurut aja sama gue! Sana masuk kamar supaya lu selamat!" ucap Willy.
"Hah? Emang ada apa sih, bang?" tanya April.
"Haish, gausah banyak tanya!" bentak Willy.
TOK TOK TOK...
Willy terkejut bukan main saat ada yang mengetuk pintunya dari luar, ia sangat yakin sekali kalau tak ada siapapun yang tahu tempat ia tinggal saat ini kecuali Kirana dan juga Zaenal. Namun, kedua orang itu sekarang sudah tak terdengar lagi kabarnya sejak melakukan penyerangan ke sekolah Sahira waktu itu.
"Siapa yang dateng...??" ujar Willy cemas.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...