Broken Angel

Broken Angel
Episode 233 [SEASON 2]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...~~~...


...•...


#BROKEN ANGEL S2 EPS. 133


...•...


Jegeerrr.....


Tiba-tiba terdengar suara dentuman keras dari samping rumah itu, Dimas pun kaget lalu reflek menghentikan gerakannya karena penasaran ada apa kiranya di samping sana.


Dimas mencabut miliknya begitu saja tanpa memikirkan Wilona yang meringis menahan sakit, pria itu coba melihat melalui jendela kamar itu untuk memastikan suara apa barusan.


"Apaan itu ya? Duh gak kelihatan lagi dari sini, apa mungkin itu ratu Keira dan yang lainnya?" gumam Dimas bertanya-tanya kebingungan.


"Mungkin aja, kamu sih kelamaan nyerang mereka! Sekarang mereka udah duluan tau keberadaan Sahira dan datangi kita disini, hayo pasti kamu panik kan?" seloroh Wilona dari kasur.


Dimas hanya menoleh tanpa menjawab perkataan Wilona, ia memakai kembali pakaiannya dengan terburu-buru karena penasaran apa yang terjadi di samping rumahnya barusan.


Sedangkan Wilona masih terbaring disana menopang kepalanya dengan satu tangan seraya melirik Dimas yang tengah memakai pakaiannya, ia nampak kecewa karena pria itu belum menuntaskan permainannya tadi.


"Hey, kamu mau kemana? Kita belum selesai loh, jangan seenaknya gitu dong!" ujar Wilona memasang raut wajah kesal.


"Emang kamu gak denger tadi ada suara dentuman dari arah samping? Tadi kamu sendiri yang bilang kemungkinan itu ratu dan para bidadari yang datang, jadi aku mau cek secara langsung! Lagian permainan kita bisa dilanjut lagi nanti, udah sekarang kamu puasin aja diri kamu sendiri!" ucap Dimas.


Dimas pun langsung keluar dari kamar itu meninggalkan Wilona yang masih menunjukkan raut wajah kesal sembari memukul-mukul kasur.

__ADS_1




Sementara itu, Sahira tampak gembira karena telah berhasil menguasai ilmu tahap 3 dari buku pemberian Dimas. Gadis itu memang lebih fokus saat latihan seorang diri dibanding ketika latihan bersama Dimas kekasihnya, ya ia sulit fokus karena terus digoda oleh lelaki itu sehingga latihannya pun berjalan tidak lancar dan terus gagal.


Setelah berhasil menghancurkan tembok kokoh yang ada disana, Sahira langsung sumringah kegirangan. Tinggal 4 tahap lagi yang harus ia kuasai untuk biasa benar-benar menguasai ilmu kuku hitam dari buku tersebut, Sahira pun membuka lembaran selanjutnya di buku itu lalu membacanya.


"Oke, 4 tahap lagi aku bakal resmi menguasai ilmu ini! Aku yakin setelahnya aku pasti bisa merebut kembali nirwana dari tangan orang jahat dan membebaskan semua teman-teman ku, tapi kenapa tahap ke 4 ini sulit aku mengerti?" ucapnya kebingungan saat membaca lembaran yang berisi jurus tahap 4 dari ilmu tersebut.


Sahira coba fokus membaca tiap kata serta gerakan yang ada di buku tersebut, tapi selalu saja ia tak bisa mengerti nya dan kesulitan untuk mempelajari kekuatan tahap keempatnya.


"Sahira!"


Tiba-tiba sebuah teriakan kencang dari arah belakang membuatnya terkejut, Sahira reflek menoleh dan buku di tangannya terjatuh ke tanah. Ia syok karena melihat Dimas berdiri disana dengan tatapan mata menyala, pria itu tampak marah lalu berjalan ke dekatnya.


Sahira pun ketakutan, ia khawatir Dimas akan memarahinya karena sudah latihan seorang diri tanpa meminta bantuan pria itu.


"Eee..." Sahira dibuat tak berkutik, ia bingung harus menjelaskan bagaimana ke Dimas.


"Apa itu?" ujar Dimas saat melihat sebuah buku yang terjatuh di bawah kaki Sahira, ia langsung mengambil buku tersebut tanpa aba-aba.


"Ohh, jadi kamu pelajarin ini sendiri tanpa sepengetahuan aku? Kenapa kamu gak izin dulu sama aku sebelum kamu belajar ilmu di buku ini? Apa kamu udah gak anggap aku, kamu ngerasa gak perlu lagi bantuan aku?" sambung Dimas tampak kesal menatap tajam ke arah Sahira.


"Enggak, bukan gitu! A-aku-"


"Udah deh, gausah banyak alasan!" bentak Dimas memotong ucapan Sahira.


"Jangan marah, Dimas! Aku gak begitu! Mana mungkin aku udah gak perlu bantuan kamu lagi? Sekarang aku udah gak punya kekuatan apa-apa lagi, malahan aku ini sekarang udah jadi manusia biasa! Buat apa juga aku kayak gitu, Dimas?" ucap Sahira coba meyakinkan kekasihnya.


Dimas pun terdiam menatap Sahira dengan tatapan menyala, ia mendekati gadis itu lalu menggenggam kedua tangannya. Sahira tampak ketakutan dan tak berani menatap mata kekasihnya, ia terus menunduk karena takut Dimas akan memarahinya.

__ADS_1


...•••...


Disisi lain, ratu Keira masih berada di kamar Nuril untuk melacak keberadaan Sahira melalui guci ajaib yang dimiliki penguasa langit itu. Guci tersebut memang sudah berumur, tetapi kekuatannya tak berkurang sedikitpun bahkan mungkin bertambah.


"Inilah guci kesayanganku, fungsinya sama seperti kolam ajaib milikmu itu! Hanya saja kekuatan guci ini 10 kali lipat lebih kuat dibanding kolam kamu, untuk itu aku yakin betul kalau guci ini bisa menembus tembok apapun yang menghalangi keberadaan Sahira!" ucap Nuril.


"Umm, yasudah kita langsung mulai saja pencariannya! Aku rasa semakin cepat kita lakukan ini, maka semakin cepat juga Sahira bisa selamat!" ucap ratu Keira.


"Tenang saja, ratu cantik! Semua orang tahu tindakan yang dilakukan dengan terburu-buru itu tidak baik dan hasilnya bakal tidak baik juga! Jadi bersabarlah aku akan mengambil serbuk emas milikku untuk memperkuat guci ini, kamu tunggu disini!" ucap Nuril berbalik badan lalu pergi.


Ratu Keira mengangguk pelan, ia tetap menunggu disana dan diam sesuai perintah Nuril.


"Semoga kamu baik-baik saja, Sahira!" gumam sang ratu merasa cemas pada Sahira.


"Tentu dia akan baik-baik saja, ratu cantik!" ucap Nuril yang rupanya sudah kembali dari mengambil serbuk emas miliknya.


Sontak ratu Keira terkejut karena suara itu muncul tiba-tiba dan membuat tubuhnya bergetar, ia menoleh lalu merasa lega karena itu merupakan suara yang berasal dari mulut Nuril.


"Kamu, aku pikir orang lain..." ucap ratu gugup.


"Tidak mungkin ada orang yang berani masuk kesini tanpa seizin ku, bisa mati dia!" ujar Nuril tersenyum.


Ratu Keira hanya tersenyum tipis, kemudian Nuril mulai memasukkan sedikit serbuk emas di tangannya ke dalam guci tersebut. Sampai saat ini sang ratu masih tak mengerti bagaimana cara kerja guci itu untuk bisa melacak keberadaan orang.


Tak lama kemudian, cahaya kuning yang menyilaukan terpancar dari dalam guci tersebut. Ratu Keira pun reflek menutup matanya karena sinar tersebut cukup menyengat matanya, dengan cepat Nuril menggunakan tangannya untuk membantu ratu Keira agar tidak terkena sinar itu.


Sang ratu mendadak tersipu dengan perlakuan dari Nuril padanya, keduanya sempat saling menatap sebelum akhirnya membuang muka ketika sinar itu mulai menghilang.


"Itu dia keberadaan Sahira...." ucap Nuril.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2