Broken Angel

Broken Angel
Episode 297 [SEASON 3] Kematian Saka


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...



...~Jangan menerimaku karena kasihan, lebih baik kau tolak dan kesedihanku hanya akan terasa sebentar, dibanding kau terima lalu berkhianat padaku, itu akan lebih menyedihkan dan menyakitkan~...


...×××...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 41


...•...


...HAPPY READING....🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Sahira bersama April kini sudah memasuki kelas mereka, sedangkan Lucas juga telah pergi ke kelasnya karena tugasnya mengantar sang kekasih telah usai. Sahira pun coba melindungi temannya dari orang-orang yang ingin menggunjingnya, terlihat memang banyak sekali teman kelasnya yang tidak suka dengan tindakan Sahira itu.


April tampak tidak tega melihat Sahira kini juga ikut diserang oleh teman kelasnya karena membela dirinya, April ingin sekali agar Sahira berhenti mendekatinya agar tak ada lagi yang benci padanya seperti sekarang. Namun, tentunya Sahira tidak mau karena ia sudah berjanji akan membantu April sampai semua orang sadar kalau April tidak salah.


Mereka pun duduk di tempat duduk mereka, bersebelahan dan menaruh tangan mereka di atas meja serta bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa disana.


"Sah, kayaknya kamu mending gausah deket-deket sama aku lagi deh!" ucap April berbisik pada Sahira.


"Loh kenapa? Kamu udah gak mau temenan sama aku? Kamu pasti ngerasa ya kalau aku ini bukan teman yang baik, makanya kamu minta aku buat menjauh dari kamu dan gak deketin kamu lagi?" tanya Sahira salah sangka.


"Enggak, bukan begitu! Aku cuma gak mau kalau kamu jadi ikut dibenci sama orang-orang, tuh kamu lihat aja sendiri mereka sekarang gunjingin kamu juga gara-gara kamu deket sama aku! Sebaiknya kamu jauh-jauh deh dari aku, biar cuma aku aja yang digituin sama mereka." ucap April.


Sahira tersenyum menatap wajah temannya itu.


"Pril, kamu gak perlu bilang begitu! Aku sebagai teman sejati kamu, gapapa kok walau aku harus ikut dibenci sama mereka atau digunjingin kayak sekarang. Kita lewati ini semua bersama, aku janji akan tetap ada di sisi kamu dan bantu kamu supaya mereka gak lagi benci sama kamu!" ucap Sahira.


"Sahira, tapi aku gak tega kalau kamu juga sampe digunjing sama mereka! Kamu kan gak salah apa-apa, udah ya jangan deketin aku lagi! Mungkin sebaiknya juga aku pindah tempat duduk deh, supaya mereka gak kayak gini lagi sama kamu." ucap April langsung bersiap memindahkan tasnya.


"Eh eh eh, jangan dong! Kamu mau pindah kemana emangnya, Pril? Semua kursi disini udah penuh, belum tentu juga ada yang mau tukeran tempat duduk sama kita! Udah, kamu disini aja jangan kemana-mana! Aku gapapa kok digunjingin kayak gini sama mereka." ucap Sahira tersenyum.


April pun tersenyum tak mengira kalau Sahira sangat luar biasa baik padanya, jujur ia menyesali semua perbuatannya selama ini yang ingin berbuat jahat kepada Sahira.


"Aku gak nyangka, kamu baik banget sama aku! Tau begini, aku nyesel banget udah pernah kerjasama sama Kirana buat balas dendam ke kamu. Maafin aku Sahira, aku janji gak akan berbuat jahat lagi sama kamu!" batin April.


Sahira yang mendengarnya hanya bisa tersenyum sembari menggenggam tangan April.


Tak lama kemudian, Saka muncul lalu melihat Sahira tengah memegang tangan April sembari mengelus punggungnya. Saka pun menghampiri kedua gadis tersebut di mejanya dengan senyum terukir di bibir.


"Wah wah... adiknya si pembuat onar ternyata emang gak ada bedanya ya sama si kakak, makin kesini makin berani aja. Kalau gue jadi lu sih, harusnya gue bakal sadar ya dan gak mau lagi deket sama orang di sekitar gue apalagi orangnya itu yang pernah gue jahatin." ujar Saka menyindir April.


Sontak April langsung menarik tangannya dari genggaman Sahira dan membuang muka setelah mendengarkan perkataan Saka, sedangkan Sahira tampak emosi lalu menatap tajam ke arah Saka.


"Saka! Lu bicara apa sih? Maksudnya apa lu ngomong kayak gitu di depan April, ha?" bentak Sahira yang emosi.


"Kenapa? Apa salahnya sih? Kan emang bener si April itu adiknya Willy yang kemarin buat onar disini, lu gak bisa bela penjahat kayak dia! Lagian asal lu tau, April juga bukan orang baik dan dia pengen jahatin lu!" ucap Saka.


"Kalau gak tau apa-apa, gausah sok tau! April itu orang baik, gue ini teman sebangkunya dan gue lebih tau tentang dia dibanding lu atau semua yang ada di kelas ini! Gue tau kalian semua cuma ikut-ikutan aja kan bully April? Sebenarnya kalian itu gak tau apa-apa tentang April, apalagi kehidupannya dia!" ucap Sahira.


"Sahira, hati lu terbuat dari apa sih? Bisa-bisanya orang kayak dia masih lu belain kayak gini, lu buka dong mata lu! April itu orang jahat, udah jelas-jelas dia pengen kita semua di sekolah ini mati! Dia itu kerjasama sama abangnya, si Willy itu!" ucap Saka.


"Cukup Saka! Gue gak mau lagi ya denger lu bicara begitu ke April, jangan karena April itu adiknya Willy terus lu bisa seenaknya bilang kalau dia itu orang jahat sama kayak Willy! Lagian emang lu gak ngaca sama diri lu sendiri? Lu itu lebih jahat dari April, lu udah tinggalin wild blood dan malah sempat gabung sama Willy buat mukulin Aldi...!! Sebelum lu ngatain orang, sebaiknya lu introspeksi diri lu sendiri dulu!" ucap Sahira sembari menusuk dada Saka dengan telunjuknya.


Saka hanya bisa terdiam mendengar ucapan Sahira, ia cukup heran darimana Sahira bisa tau kalau ia sudah pernah bergabung dengan Willy.


"Kenapa ini? Gimana bisa Sahira tau tentang itu? Apa mungkin kalau Aldi udah cerita ke anak-anak wild blood dan Sahira tau dari Lucas? Haish, malu banget gue sekarang! Mana orang-orang kelas langsung pada ngeliatin gue begini..." batin Saka.


Sahira yang mendengar suara hati Saka langsung memalingkan wajahnya, ia juga kaget karena keceplosan di depan pria tersebut.


"Duh, pake keceplosan segala lagi! Ah tapi gapapa deh supaya si Saka itu bisa sadar, abisnya aku kesel banget sama sikap dia yang terus aja nyalahin April atas perbuatan abangnya! Padahal kan April emang gak salah dan dia udah berusaha buat cegah Willy supaya enggak serang sekolah ini!" batin Sahira.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Bu Meli yang mengajar disana, masuk lalu terkejut melihat anak-anak muridnya sedang berkerumun di tempat duduk April seperti orang yang tengah ribut.


"Hey! Ada apa ini?" tegur Bu Meli sembari maju menghampiri murid-muridnya.


Sontak Sahira serta Saka dan yang lainnya pun terkejut dengan kehadiran Bu Meli disana.


"Eh ibu, enggak kok. Gak ada apa-apa, Bu." jawab Sahira sambil tersenyum.


"Yasudah, kembali ke tempat duduk kalian masing-masing! Kita mulai pembelajaran hari ini, jangan ada yang ngobrol lagi!" ucap Bu Meli.


"Baik, Bu!" ucap mereka serentak.


Sahira pun duduk di kursinya, dan Saka tentunya berjalan menuju tempat duduknya di belakang.


...•••...


KRIIIINNGGGG... KRIIIINNGGGG...


Waktu pulang sekolah telah tiba, Saka yang sudah ada di tempat parkir bersama motornya masih memikirkan perkataan Sahira di kelas tadi. Saka memang bersalah karena telah memukuli Aldi dan bahkan bergabung dengan Willy, ia juga sangat menyesali perbuatan bodohnya itu. Apalagi Saka juga kehilangan Grey karena hasutan Willy yang memintanya bergabung dengan the darks.


Saka pun memakai helmnya dan mulai menyalakan mesin motornya, lalu melaju pergi dari tempat parkir itu keluar meninggalkan sekolah. Saka kini sangat suntuk dan tidak mau berbicara untuk sementara dengan siapapun itu.


Sepanjang perjalanan, Saka terus saja melamun memikirkan perkataan Sahira. Menurutnya, Sahira memang benar tentang dirinya yang selalu saja melihat kesalahan orang lain namun tidak pernah introspeksi dan menyadari kalau dirinya sendiri juga tidak atau belum benar.


"Aaarrgghh! Lu kenapa bodoh banget sih, Saka? Ngapain coba lu gabung sama Willy waktu itu dan pukulin sohib lu sendiri?" gumamnya di dalam hati.


Ciitttt...


Tiba-tiba saja seseorang muncul dari samping dan langsung mencegatnya dengan berdiri di tengah jalan membuat Saka harus mengerem secara mendadak serta hampir tergelincir.


Saka pun membuka kaca helmnya.


"Woi! Apa-apaan sih lu? Mau cari mati, apa gimana ha?" teriak Saka penuh emosi.


Pria itu tak menjawab dan hanya diam.


"Heh! Kenapa diem aja lu? Cepet jawab, mau lu apa!" bentak Saka semakin emosi.


Saat Saka sudah melepas helm serta turun dari motornya, tiba-tiba saja terdengar suara gergaji mesin di dekatnya membuat Saka merasa cemas dan ketakutan. Apalagi jalan itu sangat sepi dan berada di tengah-tengah pepohonan rindang.


Pria yang ada di depannya itu, menunjukkan sebuah gergaji mesin yang sudah menyala dan menatap wajah Saka dengan mata tajam.


"Heh! Lu mau tebang pohon? Yaudah, sana tebang aja jangan halangin jalan gua!" ujar Saka.


Lagi dan lagi masih tidak ada jawaban dari pria tersebut, Saka memang tak bisa mengetahui siapa sebenarnya pria itu karena wajahnya tertutupi masker dan ia hanya bisa melihat matanya saja.


"Dasar orang gila! Ngapain juga gue ngeladenin dia, ya kan?" ujar Saka.


Saka memilih berbalik badan untuk kembali ke motornya, namun tiba-tiba saja orang itu berteriak dan maju mendekati Saka dengan mengangkat gergaji mesin di tangannya. Sontak Saka terkejut lalu berupaya menghindar dari orang yang ingin menyerangnya itu.


"Aaaaaa..." suara teriakan orang itu.


Hap..


Untungnya Saka masih bisa menghindar dengan cepat dan tak terkena serangan gergaji mesin orang itu, akan tetapi semua belum berakhir.


"Hey! Siapa lu sebenarnya? Kenapa lu mau serang gue pake begituan? Emang lu kata gue pohon apa?" tanya Saka yang masih terheran-heran.


"Banyak omong lu! Terima aja kematian lu sekarang, rasakan ini...!!" teriak orang itu.


Orang itu kembali berlari mengejar Saka dengan membawa gergaji mesin di tangannya yang sudah siap untuk melukai Saka, orang itu terus saja menyerang Saka walau Saka masih tetap bisa menghindarinya.


Saka yang panik tak tau lagi harus apa, ia hanya bisa menghindar dari serangan itu karena takut jika melawan justru akan berakibat fatal padanya.


Jlebb...


"Aaakkhhhh..."


Saka berteriak kesakitan saat tangan kirinya terkena sabetan gergaji mesin milik orang itu, tampak darah langsung mengalir dengan derasnya membuat Saka semakin cemas dan panik.

__ADS_1


"Hahaha, rasakan itu!" ujar orang itu.


"Apa masalah lu sebenarnya? Kenapa lu mau bunuh gue?" tanya Saka.


Bukannya menjawab, justru orang itu kembali menyerang ke arah kaki Saka dan berhasil mengenainya membuat Saka langsung terjatuh tak berdaya ke jalanan.


"Aaakkhhhh..." Saka merasakan sakit yang amat sangat pada bagian kaki serta tangannya.


Orang itu masih maju mendekati Saka disertai suara tawa yang keluar dari mulutnya, sepertinya ia sangat senang melihat Saka terluka seperti itu.


"Siapa lu sebenarnya, ha?" tanya Saka sembari menahan sakitnya.


"Baiklah, gue bakal tunjukin siapa gue. Supaya lu gak mati penasaran nantinya," ucap Orang itu.


Orang itu pun mulai membuka maskernya dan menunjukkan wajahnya kepada Saka, sontak Saka terkejut saat melihat rupa wajah dari orang di hadapannya itu dan matanya melotot lebar.


"Al..." ucap Saka di sisa tenaganya sangat terkejut.


"Sekarang lu udah tau kan siapa gue? Kalo gitu, lu terima kematian lu dan istirahat yang tenang di neraka sana!" ucap orang itu tersenyum bengis.


Orang itu kembali mengarahkan gergaji mesinnya kepada Saka, lalu mulai menyerang tubuh Saka yang sudah tak berdaya itu secara membabi buta, tak ada perlawanan dari Saka karena ia sudah tidak bisa melakukan apa-apa saat ini.


Darah mengalir dimana-mana membasahi jalan raya itu, hujan rintik-rintik muncul membuat aliran darah Saka terbawa menuju selokan terdekat disana.


Orang itu sudah puas dengan aksinya, ia melempar masker wajah serta sarung tangan yang ia kenakan itu ke sembarang tempat setelah meletakkan gergaji mesinnya di samping tubuh Saka.


Orang itu berteriak sembari melompat kegirangan karena telah berhasil menghabisi Saka.


...•••...


Disisi lain, Rara dengan pakaian perawatnya datang ke rumah sakit mutiara yang dikatakan oleh sang ratu. Ia memang diberi perintah untuk menyamar sebagai seorang suster disana.


"Ternyata tempatnya bagus juga, aku bisa betah nih nyamar disini." gumam Rara di dalam hatinya.


Tak lama kemudian, ia berpapasan dengan seorang dokter pria yang tampan dan berkharisma serta seorang suster lainnya di samping dokter tersebut.


Rara pun menghampiri dokter itu.


"Permisi, dok..." ucap Rara sambil sedikit merunduk.


"Ah iya, kamu pasti perawat baru yang akan membantu tugas saya itu kan?" tanya dokter itu.


"Iya benar, dok. Nama saya Rara!" jawab Rara mengenalkan diri.


"Bagus, saya dokter Septian." ucap dokter itu menyodorkan tangan ke arah Rara.


Mereka pun bersalaman disana.


"Yasudah, kamu bisa tolong cek pasien di kamar dua belas! Saya ingin istirahat sejenak di ruangan saya, bisa kan Rara?" ucap dokter Septian.


"Bisa, dok!" jawab Rara.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi..." ucap dokter itu.


Setelah dokter Septian pergi, Rara tampak curiga kalau memang benar dokter itu yang dimaksud sang ratu sebagai ancaman bagi Sahira dan juga bumi.


"Dokter Septian tampan, ya?" tegur seorang suster di samping Rara saat melihat bidadari itu terbengong sembari memandangi punggung dokter Septian.


"Eh, maaf maaf!" ucap Rara terkejut.


"Gapapa, emang dokter Septian itu tampan kok. Wajar aja kalau kamu sampe terpesona gitu! Oh ya, kenalin aku Sita dan kita akan kerja bareng selama di rumah sakit ini!" ucapnya mengenalkan diri.


"Iya, aku Rara." ucap Rara.


Mereka pun bersalaman disana sambil tersenyum, Rara merasakan hawa aneh saat ia menyentuh tangan suster Sita itu.


"Apa yang aku rasakan ini? Tadi ketika aku bersalaman dengan dokter Septian, rasanya biasa saja dan tidak seperti ini. Tapi, kenapa justru saat aku bersalaman sama suster Sita aku merasakan ada yang aneh?" gumam Rara di dalam hatinya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2