Broken Angel

Broken Angel
Episode 318 [SEASON 3]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


...~Bila engkau takut akan balasan yang kau dapatkan dikemudian hari akibat perbuatan jahat mu di hari sebelumnya, maka sebaiknya engkau meminta ampun dan berjanji tidak akan melakukan perbuatan itu lagi di hari-hari selanjutnya~...


...×××...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 63


...•...


...HAPPY READING...🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Lucas dan Aldi sampai di depan halaman rumah Willy yang letaknya memang agak jauh di tengah hutan, mereka cukup heran lantaran Willy ternyata bisa tinggal di tempat yang seperti itu. Namun, mereka cukup terkejut juga karena ternyata kondisi rumah Willy lumayan bagus dan tidak kalah jika dibanding dengan rumah-rumah yang ada di perkotaan.


Mereka sengaja mematikan mesin motor dari depan jalan, lalu menenteng motor mereka sampai ke depan rumah Willy agar tidak terdengar di telinga Willy kalau mereka sudah datang disana. Mereka pun tampak beristirahat sejenak mengambil nafas karena merasa letih setelah mendorong motor cukup jauh, ya mereka terpaksa berhenti sejenak disana.


"Kas, beneran ini rumah Willy? Yakin lu?" tanya Aldi dengan nafas tersengal-sengal.


"Yakin banget! Tuh buktinya ada motor si Willy yang terparkir di depan rumah ini, itu nunjukin kalau emang ini rumahnya si Willy!" jawab Lucas.


"Oh iya, bener juga lu!" ujar Aldi.


Lucas tersenyum tipis kemudian lanjut berjalan menuju ke depan pintu rumah Willy, ia juga mengajak Alan untuk segera menemui Willy disana karena mereka tak ingin berlama-lama disana. Lucas sudah tidak sabar sekali ingin menghajar habis-habisan Willy dan mengirimnya ke rumah sakit, sama seperti apa yang sudah dilakukan Willy pada temannya.


"Al, ayo kita ketik pintunya! Gue yakin banget si Willy pasti lagi sembunyi di dalam, dia ketakutan dan gak berani buat keluar rumah setelah tau kalau kita lagi incer dia!" ucap Lucas.


"Iya Kas," ucap Aldi menurut.


Lucas pun mulai mendekati pintu bersama dengan Aldi yang ada di sampingnya, dengan perlahan ia mengetuk pintu itu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun untuk membuat Willy penasaran. Tentu Lucas tidak mau jika Willy nantinya akan kabur dan bisa menghindar darinya kalau tau bahwa yang mengetuk pintu adalah mereka berdua.


TOK TOK TOK...


Willy terkejut bukan main saat ada yang mengetuk pintunya dari luar, ia sangat yakin sekali kalau tak ada siapapun yang tahu tempat ia tinggal saat ini kecuali Kirana dan juga Zaenal. Namun, kedua orang itu sekarang sudah tak terdengar lagi kabarnya sejak melakukan penyerangan ke sekolah Sahira waktu itu.


"Siapa yang dateng...??" ujar Willy cemas.


"Buka aja dulu bang! Supaya lu gak penasaran dan lu juga bisa tau siapa yang dateng ke rumah kita," ucap April memberi saran.


Willy dengan tampang cemasnya perlahan mendekat ke arah pintu dan bersiap membuka pintu tersebut sesuai dengan masukan dari April, ia memang penasaran dan ingin tahu siapa yang kesana disaat keadaan genting seperti ini. Namun, ia juga khawatir kalau-kalau yang datang ternyata adalah Lucas dan juga Aldi yang memang sedang mengincarnya.


"Gak, gak mungkin mereka! Mana mungkin juga mereka tahu tempat tinggal gue?" batin Willy.


Ceklek...


Willy perlahan membuka pintu dan mulai melihat ke luar untuk memastikan siapakah yang datang, matanya langsung terbelalak disertai mulut menganga lebar yang langsung ia tutup. Willy tak menyangka jika memang benar yang datang ke depan rumahnya itu adalah Lucas dan Aldi, ia pun tampak ketakutan setengah mati begitu melihat kedua pria tersebut tengah berdiri menatapnya sambil menyunggingkan senyum di wajahnya.

__ADS_1


"Ka-kalian...??" ujar Willy terkejut bukan main.


Braakkk...


Willy langsung membanting pintu sekuat tenaga dan menguncinya rapat-rapat dari dalam.


...•••...


Sementara itu, Sahira tampak masih memikirkan Lucas dan cemas kepada kekasihnya tersebut bahkan sampai tidak bisa makan siang dengan tenang seperti biasa. Entah mengapa Sahira masih terus saja kepikiran dengan Lucas, padahal ia sudah berusaha untuk melupakannya dan tetap fokus menjalani kehidupan seperti biasa.


Melihat sahabatnya hanya diam saja sambil mengaduk-aduk nasi di dalam piringnya, Nur yang tengah makan di dekat Sahira pun tampak bingung dan tak mengerti apa yang terjadi dengan Sahira. Nur mengira kalau Sahira itu sedang sakit atau kenapa-napa karena tidak mau makan, namun nyatanya Sahira hanya cemas memikirkan pacarnya.


"Sahira!" tegur Nur dengan suara keras.


Sontak Sahira yang tengah melamun itu terkejut dengan suara dari sohibnya tersebut, ia bahkan sampai hampir memakan sendok kosong karena dibuat kaget oleh Nur barusan. Sahira pun malu sendiri karena lamunan ia diketahui oleh Nur saat ini, ia tak bisa lagi menyembunyikan rasa malu yang bergelora di dalam tubuhnya saat melihat wajah Nur.


"Ada apa sih, Nur? Kenapa kamu ngagetin aku kayak gitu?" tanya Sahira emosi.


"Santai Sahira! Aku cuma gak mau aja ngeliat kamu ngelamun kayak gitu pas makan, kita ini kan mau makan siang bukan mau ngelamun siang!" jawab Nur menjelaskan maksudnya.


"Haish, iya aku tau! Ya tapi kamu gak harus ngagetin aku kayak gitu dong! Masih banyak cara lainnya yang bisa kamu lakuin buat sadarin aku, misalnya kamu panggil aku pelan-pelan gitu! Lah ini enggak, tau-tau udah langsung teriak ngagetin aja!" ujar Sahira.


"Yaudah maaf! Sekarang kamu fokus makan, ya? Jangan malah lanjut ngelamun lagi!" ucap Nur.


"Iya iya..." ucap Sahira menurut.


Akhirnya Sahira lanjut memakan makanan yang ada di piringnya itu bersama dengan Nur, tampak ia masih kesal kepada sahabatnya tersebut karena sudah membuatnya terkejut tadi. Namun, Sahira juga sadar kalau kekesalannya itu tidak perlu dilakukan karena hanya akan merusak hubungan persahabatan antara ia dengan Nur yang sudah terjalin cukup lama.


"Sahira, kamu sebenarnya ngelamunin apa sih? Apa kamu masih kepikiran sama Lucas?" tanya Nur.


"Hah? Eee iya kamu benar, aku belum bisa tenang saat ini karena aku belum tahu Lucas kemana. Aku udah coba kirim pesan ke nomornya, tapi sekarang malah jadi gak aktif!" jawab Sahira kesal.


"Yaudah, yang sabar aja! Toh kamu kan udah lihat sendiri tadi kalau Lucas baik-baik aja, aku juga masih cemas sama Alan tapi sampe segitunya. Kamu harus tetap makan dengan benar dan gak boleh ngelamun terus, nanti kamu sakit loh!" ucap Nur.


"Ish! Iya ini aku kan juga lagi makan, emang kamu gak lihat apa ha?" ujar Sahira jutek.


"Ya santai aja dong! Aku kan cuma gak mau kamu sakit atau kenapa-kenapa, ngerti gak sih?" ujar Nur yang juga mulai jengkel pada Sahira.


Tak ada lagi jawaban yang keluar dari mulut Sahira, ia terlihat fokus saja memakan makanannya.


...•••...


Grey, Kia dan Zefora kini telah sampai di depan rumah besar yang tak lain ialah rumah dari Grey sendiri karena saat ini kedua temannya itu hanya hendak mengantarkan Grey pulang sekolah. Tampak Grey masih sering teringat pada sosok Saka dan kenangan saat bersamanya, terlebih gadis itu juga masih ingat betul saat Saka rela menunggu di depan rumahnya sampai ia mau menemuinya.


Tak disangka tak diduga, ternyata disana sudah ada sosok Alex yang tengah berdiri membawa bunga yang cantik dan bersiap menyambut kedatangan Grey bersama teman-temannya di depan gerbang. Alex tampak tersenyum begitu melihat Grey sudah muncul dan sampai disana, ia juga langsung berbalik badan dengan buket bunga indah di tangannya yang siap ia berikan kepada Grey sang wanita pujaan.


"Hai Grey!" ucap Alex menyapa gadis itu sambil tersenyum dan merapatkan rambutnya.


Tampak baik Kia maupun Zefora sama-sama tidak mengenali siapa lelaki yang ada di depan Grey itu, mereka baru kali ini melihat sosok lelaki seperti itu dengan dua mata mereka. Apalagi Kia dan Zefora juga sudah jarang mampir ke rumah Grey, sehingga mereka tidak tahu menahu apa masalah yang terjadi di rumah gadis tersebut saat ini.


"Grey, itu siapa?" bisik Kia bertanya pada Grey.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa. Dia cuma orang gila yang terus berharap cintanya akan terbalas, udah yuk masuk!" jawab Grey singkat dan malas.


Kia dan Zefora hanya manggut-manggut saja mengikuti perkataan Grey barusan, mereka bersiap melangkah bersama Grey untuk masuk ke dalam rumah tersebut sama seperti dahulu. Namun, Alex tampaknya tidak rela membiarkan Grey melewatinya begitu saja tanpa menerima bunga pemberiannya lebih dulu dan membalas sapaannya tadi.


Alex pun menahan ketiga gadis yang ingin masuk ke dalam rumah itu, ia mencekal lengan Grey dari samping dan meminta kepada gadis tersebut untuk tetap disana bersamanya sebentar saja. Alex memang masih belum rela jika Grey pergi meninggalkan dirinya disana sendirian, ia ingin sekali membuat Grey jatuh cinta kepadanya.


"Grey, tunggu! Aku mohon kamu mau bicara sama aku sebentar aja!" ucap Alex memohon.


"Lu mau bicara apa lagi sih, ha? Bukannya udah jelas semuanya? Gue ini gak pernah bener-bener cinta sama lu, malah gue juga nyesel karena pernah pura-pura jadian sama lu cuma buat bikin Saka cemburu dan gak deketin gue lagi!" ujar Grey.


"Aku tau kamu pasti bisa cinta sama aku, sayang! Lihatlah, bunga ini sangat cantik bukan? Ayo, terimalah bunga pemberianku ini dan kamu balas cintaku yang besar ini!" paksa Alex.


"Dasar orang gila!" umpat Grey kesal.


Grey akhirnya menghentakkan tangannya ke bawah hingga berhasil lepas dari genggaman Alex, ia pun mengajak kedua temannya untuk masuk ke dalam dengan cepat dan meninggalkan Alex disana. Memang Alex masih tampak kesakitan memegangi pergelangan tangannya disana, sehingga ia tidak bisa mengejar Grey yang sudah berlari masuk ke dalam rumahnya bersama Kia dan Zefora.


"Aaarrgghh!! Apa sih istimewanya Saka di hati si Grey? Padahal gue udah bunuh dia, tapi masih aja tetep Grey gak mau deket sama gue!" ujarnya geram.


"Apa...??"


Deg...


Sontak Alex terkejut bukan main saat melihat Grey dan kedua temannya yang ternyata masih ada di dekat sana, mereka mendengar dengan jelas perkembangan Alex barusan tentang Saka.


...•••...


Disisi lain, Lucas dan Aldi sampai di rumah sakit tempat Alan serta anak-anak wild blood lainnya dirawat dan tengah ditangani oleh dokter setelah kemarin mereka semua kritis. Kedua pria itu kini tampak puas setelah berhasil menyelesaikan misi mereka untuk balas dendam, ya walau mereka belum bisa menemukan keberadaan Dans sang ketua dari geng the darks yang baru itu.


Lucas dan Aldi turun dari motornya secara bersamaan, lalu berjalan ke dalam rumah sakit berbarengan dari arah parkiran itu untuk menjenguk teman-teman mereka di dalam sana. Masih ada raut ketidakpuasan di wajah Aldi karena mereka belum berhasil mendapatkan Dans, namun ia juga sudah sedikit puas lantaran berhasil menghabisi seluruh anggota the darks termasuk juga Willy.


"Kas, itu si Willy tadi kenapa gak sekalian aja kita habisin? Gue gedeg banget sama dia, dia itu gak bisa dikasih ampunan kayak tadi!" ujar Aldi.


"Santai aja! Gue kan udah patahin kedua tangannya dan salah satu kakinya, jadi dia akan sulit buat balik seperti semula. Tapi, kalau emang dia masih aja berbuat jahat ya mungkin gue bakal lakuin apa yang lu bilang barusan." ucap Lucas.


"Oh ya, terus gimana sama si Dans Dans itu? Dia pasti lagi sembunyi di suatu tempat dan ketakutan, kita harus bisa bantai dia juga Kas! Kita gak bisa biarin satu pun anggota the darks baik-baik aja, apalagi dia itu ketuanya! Kenapa lu malah ajak gue buat kesini?" ucap Aldi masih emosi.


"Sabar dulu aja, Al! Gue yakin tanpa dicari, dia juga pasti datang sendiri nantinya!" ucap Lucas.


"Haish, tapi sampe kapan? Gue tuh udah gatal banget pengen abisin semua anggota the darks sampai ke akar-akarnya! Kita harus bisa segera ratain dan bubarin mereka semua!" ujar Aldi.


"Santai bro, woles!" ucap Lucas.


Akhirnya perasaan Aldi dapat ditenangkan oleh Lucas dengan cara menepuk pundaknya, Aldi pun tidak lagi memikirkan tentang Dans atau pada anggota the darks lainnya, justru kini Aldi khawatir dengan kondisi teman-temannya yang masih dirawat di rumah sakit itu dan ingin segera menemuinya dengan cara mempercepat langkahnya.


"Oh ya, soal kasus pembunuhan Saka itu gimana ya? Apa polisi udah kasih kabar ke lu mengenai itu?" tanya Aldi di sela-sela perjalanan mereka.


"Belum. Gue juga belum sempat lakuin penyelidikan lagi hari ini, karena sibuk balas dendam ke anggota the darks yang udah bantai temen-temen kita. Tapi, lu tenang aja! Karena gue bakal terus berusaha menemukan keadilan untuk Saka!" ucap Lucas.


"Iya, itu dia yang emang harus kita lakuin sebagai seorang sahabat Saka!" ucap Aldi tegas.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2