
Kebingungan marga semakin di buat menjadi-jadi kala Allena semakin berjalan menyusuri jalanan tanpa arah dan tujuan yang pasti.Dia seperti orang linglung,tanpa rumah untuk di tuju.
"Mau kemana lagi dia pergi,di malam hari, seorang diri, perempuan pula?".Gumam marga,menelisik arah jalan Allena.
Yah,Allena memang berjalan tanpa tujuan.Bagaimana lah dia punya tujuan,sedang dia sedari kecil tak punya tempat untuk dia berlindung.
Rumah yang sejatinya tempat untuk dia pulang,berubah bak neraka yang menyiksanya secara perlahan.Pulang juga hanya menyisakan trauma untuk Allena,dimana setiap sudut rumah dan semua yang ada di dalamnya terdapat kenangan pahit.
Kembali ke keluarga mamah Sri pun rasanya tak mungkin bagi Allena.Dia sudah cukup merepotkan ibu dari dua anak kecil itu yang penuh dengan perjuangan,tak kalah jauh dari hidupnya.
Apalagi dia seperti biasa selalu kabur dari pihak rumah sakit.Kali ini bukan bosan yang menjadi alasannya,tapi demi menghindari sosok marga Prayudha yang baru di kenalnya karena sikap lemah lembut nya.
Tapi,saat dia menceritakan masa lalu kelam nya,pria yang dia kira adalah malaikat tanpa sayap.Malaikat berwujud manusia, memberikan cinta dan kasih sayang kepada nya tanpa syarat,kini berubah menjadi iblis, serigala berbulu domba,musuh dalam selimut nya yang siap menikam dirinya ketika dia lengah.
Bukan.Bukan hanya itu saja,tak di pungkiri oleh Allena paras tampan dan kharisma yang terpancar dari diri marga, membuat nya bertekuk lutut.Yah,dia mencintai marga.Cintanya terus tumbuh di hatinya ketika dia mendapatkan sebuah pelukan hangat dari seorang marga Prayudha.
Pelukan yang sebelumnya tak pernah Allena dapatkan dari siapapun semenjak orang tuanya bercerai.Hatinya menjadi beku, pribadinya menjadi dingin dan sikap nya menjadi seenaknya.
__ADS_1
"Marga".Gumam Allena."Andai,kau ada disini rasanya hati ku senang".Gumam Allena,tersenyum kala mengingat perlakuan manis marga terhadap nya.
"Lah,itu bocah ngapain nyebut nama gue?".Tanya marga pada diri sendiri."Dih,sudah gila kali,gak ada yang lucu pake senyum-senyum sendiri".Marga sampai bergidik ngeri, melihat tingkah laku Allena.
Tentu Allena bukan tanpa alasan dia senyum-senyum sendiri.Toh,yang ada di dalam bayangan nya adalah seorang marga Prayudha yang berprilaku manis.
Tanpa,Allena sadari sosok marga ada di belakangnya terus mengamati dirinya.Seandainya dia tau ada marga di belakangnya pasti tanpa pikir panjang dia akan memeluk sosok hangat dan humble,marga Prayudha.
"Marga,I LOVE YOU".Teriak Allena,memecah kesunyian malam.
Langkah marga tiba-tiba terhenti,kala dia dengan jelas mendengar teriakan Allena yang meneriakkan namanya dengan diakhiri mengungkapkan perasaannya.
"Itu tidak mungkin, allena".Gumam marga,sembari menggeleng-gelengkan kepala."Itu tidak akan mungkin terjadi".ucap marga lagi.
Meski bibirnya berkata tidak mungkin,tapi di hati kecilnya dia menyayangi Allena sebagai adik perempuannya.Yah,hanya sebagai adik perempuannya tak kurang,tak lebih.
Rasa sayang itu ada kala dia melihat langsung penderitaan Allena dan juga sepenggal cerita yang di ceritakan langsung oleh Allena.
__ADS_1
Di tatapnya kembali sosok Allena,yang terhenti di sebuah danau buatan.Allena kembali menatap bintang-bintang di langit seperti merindukan seseorang.
Yah,menurut yang dia percaya bintang dapat menyampaikan rindukannya pada seseorang yang dia rindukan.
Perlahan tapi pasti,dia menutup matanya sambil menengadah ke atas langit.Dalam pikiran nya kini dia memikirkan tentang sosok marga.Laki-laki yang tanpa permisi telah menumbuhkan cinta di hatinya.
Cinta nya tumbuh begitu kerasnya tanpa dia duga dan tanpa meminta izin.Dia terus tumbuh di hatinya yang selama ini terdapat rongga kekosongan.
"Bintang,tolong sampaikan rinduku padanya".Gumam Allena.
Perlahan dia membuka matanya,dia memperhatikan cahaya bintang yang seperti berkedip padanya.Menandakan sang bintang telah menyampaikan rasa rindunya.
"Terimakasih bintang karena kamu sudah menyampaikan rasa rindu ku pada seorang pria bernama marga Prayudha".Ucap Allena,tersenyum manis sebelum akhirnya dia beranjak pergi.
Sedang marga,di tempat nya dia terus bergeleng-geleng kepala,bukan merasa konyol atas tingkah laku Allena, melainkan dia tidak membenarkan ucapan Allena.
"Itu tidak mungkin,Allena".
__ADS_1