
Terdorong oleh rasa kesal.Rey,menjiplak kepala marga dengan cukup keras.Kebiasan lamanya kembali kambuh, melupakan Allena yang trauma akan kekerasan fisik.Dia kembali ke stelan pabrik nya.Suka memerintah dan suka kasar terhadap marga.
Meski usia marga lebih tua dari dia.Tapi, kedudukan dia lebih tinggi dari marga.Membuat dia seenaknya memperlakukan marga.
"Sakit, bego".Sentak marga.Hendak membalas toyoran rey di kepala nya.
"Salah sendiri,tak bisa menghargai orang lain ".Kilah rey, memberikan pembelaan pada diri sendiri.
Aida, dengan sigap menenangkan kekasihnya.Dia bukannya takut terjadi baku hantam diantara kedua sahabat ini, tapi lebih ke menghargai Allena.
Sedang Allena,menatap penuh harapan.Inilah yang dia inginkan dalam hidupnya,bisa bercanda dengan anggota keluarga, menciptakan suasana ceria dan kebahagiaan dalam keluarga.Bukan,sibuk dengan urusan masing-masing.Yang satu memegang handphone,yang satu memegang laptop,yang satu sibuk kerja,yang satu di sibukkan dengan keluarga barunya.
Bahkan Allena kecil,pernah berandai-andai punya seorang kakak atau adik yang bisa di ajak nya bermain.Menanyakan pendapat nya atau melakukan hal-hal kecil layaknya keluarga Cemara.
Nyatanya, keluarga Allena bukan keluarga Cemara,bukan pula keluarga Cendana.Keluarganya hancur lebur seperti bukan keluarga melainkan kumpulan orang-orang dengan kesibukan masing-masing.
"Andai,hidup ku di penuhi cinta dan kasih sayang.Ah, alangkah senangnya aku" .Gumam allena.
Tak dapat di pungkiri oleh dirinya,bergaul dengan marga dan Rey memiliki kesan yang menyenangkan,bisa mengembalikan mood nya dan mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
"Allena".Sentak aida,menyentuh lengan allena.
Aida, bersikap seperti itu karena sejak tadi dia melihat Allena dengan tatapan kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu tapi tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
"Yah".Sahut Allena.
"Mau kakak beri nasehat untuk kamu?".Tawar aida.
Allena menggelengkan kepala."Aku tidak butuh nasehat,aku tidak butuh kata-kata yang aku butuhkan adalah bukti nyata".Ucap Allena, tersenyum manis pada aida.Memperlihatkan lesung pipi nya.
Aida,menatap tanpa berkedip.Lesung pipi itu amat mirip dengan rey.Sama persis seperti milik Rey dengan lesung pipi di sebelah kanan, begitu manis saat dia tersenyum.
"Yah".Sahut aida,membuang pandangannya ke sembarang arah."Lesung pipi mu, sangat mirip dengan Rey".Ucap aida,kembali menoleh pada allena.
Allena, terkekeh."Aku pun baru menyadari,kami mempunyai ciri fisik yang sama".
"Termasuk nasib yang sama, Allena."Sahut aida.Hidup Allena dan Rey memang sama.Sama-sama hidup dalam sebuah pengabaian.
"Tidak.Tidak sama".Kilah Allena.
__ADS_1
Allena, bangkit dari duduknya.Berjalan secara perlahan-lahan di bawah tatapan penasaran dari tiga orang dewasa dengan latar belakang yang berbeda.
"Hidup ku berbeda dengan Rey.Tak sama,meski kami sama-sama korban dari keegoisan orang tua".ucap Allena,memandang ke luar jendela.
Dapat Allena lihat,tanaman indah penuh dengan tanaman bunga dengan rumput yang sengaja di tanam.Tanaman ini seakan mengingatkan dia pada halaman rumah nya, tempat dia bermain dan bercanda dengan kedua orang tuanya.
Taman yang menjadi saksi bisu Allena berjalan merangkak Hingga bisa berlari,melampaui batas jalan orang tuanya sekaligus menjadi saksi pertengkaran demi pertengkaran itu terjadi.
Seperti yang pernah dia katakan.Todak semua rumah bisa di jadikan tempat untuk pulang.Yah,itu bukan tanpa alasan karena setiap sudut rumah nya memberikan kenangan pahit dan menimbulkan trauma baginya.
"Kembalikan kebahagiaan ku,aida.Kembalikan".Mohon Allena, tanpa menoleh kearah aida.
"Pasti ".Ucap aida,sembari berjalan menghampiri Allena yang diam memandang kearah taman."Pasti akan aku usahakan".Ucap aida,lirih".
Marga,juga mendekat.Menghampiri aida yang berdiri di belakang allena."Anggap saja kami adalah bagian dari keluarga mu".Ucap marga,mengelus puncak kepala Allena.
Allena,berbalik.Menghadap dua sejoli yang akan melangsungkan lamaran."Terimakasih ".Allena, mengenggam tangan aida untuk di satukan dengan tangan marga."Maaf untuk sebuah kesalahpahaman yang di timbulkan oleh diri ku.Maaf".Ucap nya lirih,sembari mengenggam erat tangan aida yang m nyatu dengan tangan marga.
Aida dan marga melepaskan genggaman Allena.Mereka memeluk Allena dengan penuh kasih, seperti seorang kakak yang memeluk rindu adik perempuannya.
__ADS_1