Broken Angel

Broken Angel
Episode 243 [SEASON 2]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...~~~...


...•...


#BROKEN ANGEL S2 EPS. 143


...•...


Aldi telah berhasil mengungkapkan isi hatinya pada Kia, walau ia harus melihat gadis itu menangis sesenggukan dan mungkin akan sangat membenci dirinya setelah ini. Namun, baginya hal itu lebih baik dibanding ia harus pura-pura menyukai Kia dan nantinya malah akan membuat hati gadis itu semakin sakit bila mengetahui kebenarannya.


Aldi pun turun dari rooftop sendirian karena Kia sudah lebih dulu pergi meninggalkan Aldi disana sambil menangis, Aldi tak tahu harus berbuat apa untuk menghibur gadis itu makanya sekarang ia membiarkan saja Kia menenangkan diri sendirian agar bisa kembali ceria seperti sebelumnya.


Saat sampai di lorong sekolah, Aldi malah bertemu dengan Kania yakni seorang wanita yang juga mulai mencuri perhatiannya dan mendapat tempat tersendiri di hatinya. Aldi tersenyum memandang wajah gadis yang sepertinya baru sampai di sekolah itu, Kania tak menyadari kalau dirinya tengah diperhatikan karena asyik memegang ponselnya.


Brukkk...


Akhirnya Kania malah menabrak tubuh Aldi secara tak sengaja karena tidak fokus melihat jalanan, tentu Aldi dengan sigap menangkap tubuh Kania agar gadis itu tak terjatuh ke lantai.


"Ma-maaf..." ucap Kania gugup, apalagi begitu ia sadar kalau yang ditabraknya adalah Aldi.


"Gapapa, justru ini yang gue mau!" ucap Aldi tersenyum menatap wajah Kania yang kini ada di pelukannya.


Mereka sempat terdiam selama beberapa menit, sebelum akhirnya Kania sadar dan memberontak dari dekapan Aldi. Ia seperti salah tingkah karena ditatap secara dekat oleh Aldi tadi, sedangkan Aldi malah senyum-senyum senang melihat wajah Kania yang malu-malu kucing itu.


"Gue duluan!" ucap Kania masih canggung, ia melewati Aldi begitu saja tanpa menunggu pria itu menjawab kata-katanya.


Aldi pun terus memandangi tubuh Kania yang berjalan menjauhinya, barulah ia bergerak mengejar Kania setelah gadis itu berbelok.


"Kania, tunggu!" teriak Aldi sembari berlari.


Kania tak mendengar panggilan dari Aldi barusan karena ia memakai earphone di kedua telinganya, ia malah asyik menikmati alunan musik yang merdu sembari terus melangkahkan kakinya ke depan.


Pukkk...


Barulah ketika seseorang menarik tangannya dari belakang serta mencabut earphone yang dikenakannya, Kania sadar kalau Aldi mengejarnya dan kini malah kembali mendekap tubuhnya.


"Lu mau apa? Balikin earphone gue!" ucap Kania berusaha mengambil miliknya dari Aldi.


"Gak, nanti kalo lu pake ini lagi telinga lu mendadak budeg kayak tadi! Orang gue panggil-panggil juga malah jalan aja, dasar belagu!" ujar Aldi.


"Ish, ya maaf kan gue gak denger suara lu!" ucap Kania.


"Makanya kalo di sekolah jangan pake beginian, lagian juga gak baik tau buat telinga lu! Nanti tuh tai kuping pada nongol nutupin gendang telinga lu, terus pendengaran lu bakal rusak!" ujar Aldi.


"Dih gausah sok jadi dokter deh, suka-suka gue dong mau ngapain kek kan bukan urusan lu!" ujar Kania kesal, ia berontak dari genggaman Aldi kemudian berdiri tegak menghadap wajah pria itu.


"Yah elah dikasih tau malah begitu, yaudah iya suka-suka lu aja deh! Tapi, sekarang boleh gak kita bicara sebentar berdua??" ucap Aldi.


Belum sempat Kania menjawab, tiba-tiba...


KRIIIINNGGGG... KRIIIINNGGGG...


Ya bel masuk malah berbunyi, sehingga hilanglah kesempatan Aldi untuk berbicara dengan Kania saat ini padahal ia ingin sekali mengatakan isi hatinya.


"Nah udah bel tuh, jadi maaf gak bisa! Sini balikin earphone gue, dasar maling!" ujar Kania mengambil paksa earphone miliknya lalu pergi.


Aldi hanya tersenyum berdiam diri disana memandangi punggung Kania yang mulai menjauh.

__ADS_1


...•••...


Saat istirahat, Lucas bersama Alan & Jack sengaja mengisi waktu dengan bermain basket di lapangan basket agar Lucas tidak terus-terusan kepikiran tentang Sahira yang masih hilang. Mereka bermain suka-suka disana hanya sekedar menghibur diri dikala banyaknya masalah yang mengguncang, banyak sekali para wanita disana menyaksikan ketiga pria tersebut main basket.


Ya mungkin hampir seluruh siswi di sekolah itu berada di lapangan basket untuk menonton Lucas serta dua temannya bermain basket disana, mereka bersorak-sorai sambil bertepuk tangan memberikan semangat bagi Lucas yang memang memiliki tubuh atletis idaman para wanita. Namun, banyaknya wanita disana tak membuat Lucas berhasil melupakan Sahira karena hanya gadis itulah pengisi di hatinya hingga saat ini.


Mendengar banyaknya suara teriakan wanita dari arah lapangan basket, Edrea beserta dua temannya yakni Imeh & Sonya pun penasaran apa yang membuat semua siswi sampai berteriak seperti itu. Tentu mereka bertiga langsung menuju lapangan basket yang kebetulan memang tak jauh dari tempat mereka berada sekarang, Edrea memimpin paling depan karena ia sudah sangat penasaran.


Dan begitu sampai disana, mata ketiganya langsung terbelalak lebar karena melihat ada tiga pria tengah bermain basket yang tak lain tentu Lucas bersama Alan & Jack. Edrea tersenyum karena sang pujaan hatinya begitu memukau, ia pun maju ke dekat lapangan untuk lebih jelas lagi memandang ketampanan wajah Lucas serta mengagumi tubuh sixpack milik pria tersebut yang terpampang.


"Meh, Lucas menggoda banget sih! Duh gue jadi ngiler deh pengen rasanya meluk Lucas sambil nyender di dada bidangnya, uhhh pasti enak banget!" ujar Edrea membayangkan ia bersandar pada tubuh sixpack Lucas.


"Iya bener lu, kalo gitu gue juga mau kali! Kita bagi dua ya dada bidangnya Lucas?" ujar Imeh spontan.


"Heh, enak aja! Lucas itu cuma milik gue dan selamanya dia cuma boleh sama gue, lu atau siapapun mana boleh!" ujar Edrea kesal.


"Hehehe, peace Edrea! Gue cuma bercanda kok, iya iya gue tahu Lucas itu cuma milik lu seorang!" ucap Imeh nyengir sambil mengangkat dua jarinya.


Edrea tak lagi memperdulikan perkataan Imeh, ia kembali fokus menatap Lucas dan menyaksikan permainan keren lelaki tersebut ya walau gak keren-keren amat sih tapi di mata Edrea itu lebih dari keren karena Lucas spesial baginya.


Dukkk...


Tiba-tiba saja bola basket melayang lalu mendarat tepat di kening Edrea yang sedang tidak fokus karena terus memandangi tubuh kekar Lucas, ya Edrea pun terjengkang ke belakang dan hampir saja jatuh ke bawah kalau Imeh serta Sonya tidak cekatan menangkap tubuhnya itu.


"Edrea, bangun Edrea!" ujar Imeh panik karena Edrea pingsan, ia menepuk-nepuk pipi gadis itu berharap Edrea bisa sadar dengan segera.


Sementara Lucas yang tadi melempar bola itu pun merasa bersalah karena bolanya malah mengenai Edrea sampai gadis itu pingsan, Lucas pun mendekati Edrea untuk menolong gadis tersebut sebagai bentuk tanggung jawabnya.


"Duh, pingsan lagi!" ujar Lucas cemas melihat kondisi Edrea yang tidak sadarkan diri.


"Kas, tanggung jawab nih! Gara-gara lu tau si Edrea jadi pingsan kayak gini, cepet tanggung jawab bikin dia sadar lagi!" ujar Imeh kesal.


"Iya iya," ucap Lucas singkat.




Lucas dengan cepat membawa tubuh Edrea ke UKS karena ia sangat khawatir melihat kondisi Edrea yang masih belum sadarkan diri, sepanjang perjalanan banyak sekali siswa-siswi yang menyaksikan momen itu dan mereka semua terbelalak lalu bergosip ria membicarakan kejadian tersebut yang diluar dugaan.


Namun, Lucas tak memperdulikan omongan mereka semua karena menurutnya itu tidak penting dan hanya salah paham semata. Baginya, keselamatan Edrea yang lebih penting sekarang apalagi ia yang menyebabkan Edrea sampai seperti itu.


Tak diduga, Lucas berpapasan dengan Kania serta teman-temannya saat berada di lorong. Namun, Lucas tak menyadarinya karena ia sedang terburu-buru membawa tubuh Edrea menuju UKS.


"Kania, itu kok si Lucas pake acara gendong gendong Edrea segala? Mentang-mentang Sahira sekarang lagi hilang dan gak tahu ada dimana, eh dia malah enak-enakan gendong cewek lain!" ujar Diandra.


"Tau tuh, ish kok ada ya cowok kayak Lucas? Gue sih jijik banget ngeliatnya, harusnya kan dia sekarang bantuin pencarian Sahira bukannya malah asik berduaan sama cewek lain!" sahut Tasya.


"Hey, guys! Ayolah jangan pada ghibah! Lagian belum tentu apa yang kalian pikirin itu bener adanya, bisa aja Lucas cuma niat bantu Edrea! Emang kalian gak lihat tadi si Edrea pingsan begitu? Udahlah gausah terlalu ikut campur urusan orang, mending kita sekarang makan ke kantin!" ucap Kania.


"Bener tuh yang dibilang Kania, kalian jangan suudzon mulu jadi orang! Itu tuh gak baik tau, nanti kalo misal gak bener jatuhnya fitnah loh!" sahut Tiara menyetujui ucapan Kania.


"Iya iya, yaudah cus lah ke kantin!" ucap Diandra.


"Eh awas awas, ah ngalangin jalan aja!!"


Tiba-tiba Imeh serta Sonya muncul menabrak tubuh Kania dan Tasya disana, mereka tampak buru-buru mungkin hendak mengejar Edrea yang dibawa Lucas ke UKS tadi.


Kania sampai hampir tersungkur ke lantai karena dorongan dari Imeh, beruntung Aldi sigap di belakangnya menangkap dan menahan tubuh gadis itu supaya tidak terjatuh.


Hap...

__ADS_1


"Kamu, gapapa?" tanya Aldi.


Kania terdiam sesaat begitu menyadari Aldi lah yang menolongnya, lagi dan lagi ia harus berada pada posisi seperti ini bersama seorang Aldi.


"Gapapa kok, thanks ya!" ucap Kania tersenyum.


Aldi pun melepaskan pegangannya membiarkan Kania berdiri tegap kembali, terlihat Tasya sangat kesal karena ulah Imeh & Sonya tadi yang benar-benar menjengkelkan.


"Ish, kurang ajar banget tuh cewek dua! Awas aja ya kalo ketemu lagi, bakal gue pites tuh mereka!" umpat Tasya kesal.


"Emang mereka harus dikasih pelajaran, seenaknya aja main tabrak tubuh orang!" saut Diandra.


"Udahlah guys, kalem!" ucap Kania.


"Duh Kania, lu kok masih aja sih bilang gitu? Ayolah, come on balik jadi Kania dulu yang tegas! Emang lu mau terus-terusan ditindas sama si Imeh dan temen-temennya itu?" ujar Diandra emosi.


"Yang dibilang Kania bener loh, orang sabar disayang mantan!" ucap Aldi membela Kania, ia melirik gadis itu lalu tersenyum manis.


Kania yang ditatap begitu malah membuang muka karena tersipu, sedangkan teman-temannya disana tahu kalau sahabatnya itu sedang kasmaran.


...•••...


Disisi lain, Dimas membawa gadisnya yakni Sahira ke tahta langit kekuasaannya untuk diperkenalkan pada sang raja penguasa disana yang biasa disebut dengan Nuril. Selain itu, Dimas juga berniat untuk mengusir Nuril dari sana karena ia merasa sudah mampu dan ingin menguasai tahta langit seutuhnya tanpa harus berbagi dengan Nuril.


"Sayang, ini kita dimana sih? Kenapa semuanya putih-putih begini, terus anginnya juga kenceng banget?" tanya Sahira penasaran, ia merasa belum pernah datang ke tempat ini sebelumnya.


Dimas tersenyum menghentikan langkahnya sejenak, ia memegang wajah gadisnya dengan dua telapak tangannya lalu tersenyum.


"Ini tempat tinggal kita yang baru selagi kita belum bisa rebut kembali nirwana dari tangan orang jahat, aku akan bantu kamu memulihkan kekuatan kamu di tempat ini!" ucap Dimas.


"Oh ya? Waw keren banget tempatnya, tapi apa boleh kita tinggal disini?" tanya Sahira lagi.


"Ya boleh dong, ini area kekuasaan aku! Yuk, aku akan tunjukin kamar kamu disini!" ucap Dimas tersenyum lalu menggandeng tangan Sahira.


Sahira hanya mengangguk pelan kemudian mereka pun pergi menuju sebuah kamar yang tak jauh dari sana, terlihat dua pelayan wanita membuka pintu untuk mereka berdua sambil tersenyum.


"Nah ini kamar kamu, maaf ya aku belum bisa bawa kamu ke kamar utama! Soalnya kan kita belum resmi jadi pasangan suami-istri, aku gak mau mencoreng nama baik kerajaan langit!" ucap Dimas.


"Iya sayang, aku paham kok! Kamar ini juga udah lebih dari cukup buat aku, makasih ya!" ucap Sahira.


"Sama-sama, yaudah kamu istirahat dulu disini! Aku ada urusan yang harus dikerjakan, jangan kemana-mana tanpa aku ya!" ucap Dimas kemudian diangguki oleh kekasihnya itu.


Dimas pun keluar dari kamar tersebut dan meninggalkan Sahira disana, ia langsung menuju tempat utama dimana Nuril berada.


Sesampainya disana, Dimas disambut dengan sebuah anak panah yang melesat dan hampir saja mengenai matanya. Untungnya ia cekatan hingga berhasil menangkap anak panah tersebut dengan sela-sela jarinya, matanya pun mencari-cari darimana asal anak panah itu.


"Hahaha, berani sekali kamu datang kesini Dimas!"


Suara tersebut membuat Dimas reflek menoleh ke arah samping kanan, ya ia menemukan Nuril disana tengah berjalan keluar dari kamar utama sembari memakai baju raja serta mahkota di kepalanya. Matanya menelisik begitu melihat Nuril juga membawa busur panah di tangannya.


"Ternyata anda yang sudah memanah saya, sungguh licik sekali anda ini yang mulia!" ucap Dimas.


"Ya, aku akui aku memang licik! Tapi, aku tidak sekejam kau yang sudah berani mencuri mustika milik kekasih mu sendiri lalu sampai menghisap semua kekuatannya ke dalam tubuhmu! Harusnya kau malu Dimas, tindakan mu itu tidak mencerminkan seorang pangeran langit yang baik!" ucap Nuril yang kini telah sampai di depan Dimas.


"Cih, tau apa kau tentang yang benar dan tidak benar? Sebaiknya sekarang kau serahkan mahkota itu kepadaku, karena sekarang aku lah yang berhak menjadi pemimpin disini!" ujar Dimas.


"Hahaha, dasar tidak tau malu! Ambil saja mahkota ini jika kau mampu...!!" ucap Nuril menantang Dimas.


Dimas menyunggingkan senyum di wajahnya seakan tak takut dengan tantangan yang diberikan Nuril, ia malah mengepalkan tangan dan tatapannya menyala memandang mahkota di atas kepala Nuril.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2