
Rey, meletakkan tubuh Allena di kamar tamu sesuai dengan instruksi marga dengan di dampingi oleh aida.Yah,aida yang sudah tau tentang permasalahan allena.Dia tak segan,berada di samping Allena selama proses tak sadarkan diri nya.
Bahkan dia, menatap prihatin pada wanita rapuh nan terluka ini dengan segala polemik orang tua di usianya yang masih terbilang muda.
"Allena Aidira.Wanita kuat dan tangguh".Gumam aida.Tatapan nya tak lepas dari wajah Allena yang mengeluarkan keringat dingin.
Menurut hemat nya,Allena bisa seperti itu karena ada tekanan batin dan juga ingatan di masa lalunya yang kembali teringat hanya dengan satu kata atau bahkan melihat peristiwa yang sama persis seperti kejadian di masa lalu nya.
"Allena".Panggil aida,berusaha membangunkan Allena dengan membawa pikiran dan tekanan batin.
Usaha aida tak membuahkan hasil.Allena,masih betah di alam bawah sadarnya,tak berniat kembali walau hanya sekejap mata saja.
Khawatir dan frustasi.Aida,memilih keluar kamar, bermaksud menanyakan tentang apa saja yang sudah terjadi sebelum Allena pingsan.
Klek
Begitu aida keluar,sudah ada dua pasang mata yang mengintai perherei.Rey,tak kalah panik dan cemas begitu aida keluar dengan pandangan tertunduk.
__ADS_1
"Bagaimana?".Rey, menghampiri aida."Apa dia sudah sadar?".
Di tanya seperti itu,aida semakin menundukkan pandangannya.Rasanya tak kuat melihat wajah penuh rasa kecemasan daei diri Rey.
"Rey".Peringat marga."Kita,bisa bicarakan ini secara baik-baik.Jangan membuat aida tertekan dengan pertanyaan mu".
"Lalu,aku harus bagaimana ga?,duduk diam sedang gadis kecil ku masih tidak sadarkan diri?".Sentak Rey,terbawa emosi hingga tak sadar suaranya meninggi.
Marga,menuntun Rey untuk duduk di ruang tamu.Membicarakan pokok permasalahan dengan pikiran jernih dan terbuka.
Rey,duduk kembali dengan perasaan khawatir dan kesal.Aida,yang sedari tadi menunduk,kini dia bisa menatap rey dengan seksama.Memperhatikan raut kesedihan dan rasa cemas begitu kentara terlihat.
"Rey". Panggil aida,menatap lurus pada Rey."Apa yang sebenarnya terjadi, sebelum dia temukan tak sadarkan diri?".
"Allena".Rey,menjeda ucapannya sebentar.Membuang napasnya secara kasar."Waktu itu _". Dengan sekuat tenaga Rey, menceritakan kejadian dimana sebelum Allena tak sadarkan diri.Mereka sempat bercanda dan melontarkan ledekan satu sama lain.
Mengalir lah cerita demi cerita yang rey rangkai dengan sekuat tenaga.Susah payah dia menceritakannya, rasanya tak tega melihat Allena yang terus berteriak sembari menutup kedua telinganya dengan kedua tangan nya.Ada rasa tak tega dan kasihan, karena dia juga pernah berada di posisi allena.
__ADS_1
Aida dan marga, mendengarkan cerita rey dengan seksama.Sesekali aida manggut-manggut,sembari menopang dagunya dengan tangan nya.
"Kata ku,luka fisik tak sebanding dengan luka hati dari situlah Allena berteriak sambil menutup telinganya".Jelas Rey, menutup cerita nya sambil berlinang air mata.
Aida, nampak menutup matanya sekilas sebelum membuka nya kembali untuk menceritakan analisis kemungkinan yang terjadi pada Allena.
"Begini Rey".Ucap aida,membuka percakapan setelah keheningan menyergap ruang tamu dengan tiga orang yang tengah membicarakan Allena.
"Untuk kasus Allena.Memang,ada kejadian atau peristiwa yang menyakiti hatinya.Kejadian itu terus terngiang-ngiang dalam pikiran Allena."Jelas aida.
"Maksud?".Tanya Rey, memajukan posisi duduknya.
"Ada peristiwa kelam dalam masa lalu allena, hingga menyebabkan dia menjadi trauma.Trauma itulah yang menggangu psikis allena, mentalnya terganggu akibat dia pernah melihat bahkan menyaksikan sendiri kekerasan fisik terjadi di depan matanya sendiri".Jelas aida lagi.
"Jadi_"Rey,menjeda ucapannya.Mencerna penjelasan aida."Axel mengalami kekerasan fisik?".Tanya rey,menduga.
"Memang betul,dugaan mu.Selamat anda memenangkan kuis".Bukan aida,bukan pula marga yang menjawab dugaan Rey.Melainkan suara seorang wanita dari arah belakang mereka.
__ADS_1