
...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...
..."BROKEN ANGEL"...
...~~~...
...•...
#BROKEN ANGEL S2 EPS. 127
...•...
Hari demi hari berlalu, Lucas kini harus terbiasa hidup tanpa Sahira karena ia tidak tahu bagaimana kondisi kekasihnya itu sekarang. Pria itu tanpa sengaja mampir ke depan rumah Sahira, ia memandang tempat yang sebelumnya membuat ia tersenyum bahagia namun kali ini senyuman itu tak pernah terukir lagi di wajahnya sejak kehilangan sang kekasih yang sangat ia sayangi.
Terlihat Alan muncul di sampingnya, seperti biasa pria itu hendak menjemput gadisnya yakni Nur. Alan ikut merasakan kesedihan yang dirasakan sahabatnya, walau ia tak bisa berbuat banyak untuk membantu menemukan Sahira.
"Bro, kok lu disini?" ucap Alan menyapa Lucas sembari menepuk pundaknya dari samping.
Lucas menoleh terkejut, ia hanya menatap sekilas wajah sahabatnya lalu kembali menghadap ke depan dan menaikkan standar motornya. Ia menyalakan motornya tanpa berkata apapun pada Alan, membuat Alan terdiam saja membiarkan sohibnya itu pergi untuk menenangkan pikirannya.
Tak lama kemudian, wanita yang ditunggu oleh Alan muncul dari dalam rumahnya dengan kondisi muka cemberut dan tampak bersedih. Tentu saja Nur tak kalah sedih dengan Lucas, karena ia adalah sahabat sejati Sahira sang bidadari yang hilang dari peredaran tanpa bisa dilacak siapapun.
"Hey, morning!" sapa Alan sembari tersenyum coba menghibur gadisnya.
"Too..." ucap Nur tersenyum sekilas, rupanya ia tak terpengaruh dengan tawa kekasihnya karena masih kepikiran pada sahabatnya yang hilang.
"Kamu jangan sedih gitu terus dong! Aku kan jadi ikut kebawa sedih, udah ya aku kangen loh lihat senyuman kamu yang manis itu!" ucap Alan mencolek pipi gadisnya.
"Kita jalan sekarang!" ucap Nur mengalihkan pembicaraan sembari mengambil helm dari tangan Alan lalu memakainya, ia belum mau berbicara terlalu panjang dengan kekasihnya.
"Oke," ucap Alan menurut lalu bersiap melajukan motornya, walau sebenarnya ia masih ingin berbicara pada kekasihnya sampai sang kekasih terhibur.
Nur naik ke atas motor Alan, ia berpegangan pada bagian belakang motor tersebut tak seperti biasanya saat ia memeluk tubuh kekasihnya itu.
"Gak pegangan?" tanya Alan menoleh ke belakang.
"Udah kok," jawab Nur singkat tanpa ekspresi.
Alan menyalakan motornya lalu menancap gas menuju sekolah, tidak ada perbincangan apapun selama perjalanan mereka karena keduanya terus diam tanpa ekspresi membuat suasana hening.
Tak butuh waktu lama bagi mereka sampai di sekolah karena jalan lancar serta Alan menancap gas cukup kencang, Nur langsung turun dari motor dan melepas helmnya tanpa banyak basa-basi.
"Nih!" ucap Nur singkat menyerahkan helm bekas ia pakai kepada Alan.
"Tunggu dong, kita jalan bareng!" ucap Alan menampani helm itu lalu turun dari motornya.
__ADS_1
Pria itu menggandeng tangan gadisnya kemudian berjalan ke dalam sekolah melalui jalan belakang, berkali-kali Alan berusaha mengajak bicara wanita di sampingnya tetapi Nur selalu diam bahkan tak mau menoleh ke arahnya sehingga Alan akhirnya menyerah dan memilih diam.
Mereka berpisah di tangga, karena kelas mereka memang beda arah.
"Aku mau ke toilet, kamu duluan aja!" ucap Nur melepas genggamannya dari tangan Alan.
"Oke,"
Alan tak mau banyak bicara saat ini karena takut salah kata nantinya, ia memilih membiarkan gadisnya sendiri untuk menenangkan diri daripada terus ia ikuti dan nantinya malah terjadi masalah diantara mereka yang tentu tak diinginkan olehnya.
•
•
Saat di dalam kamar mandi, Nur hanya mencuci mukanya sembari memikirkan kondisi sahabatnya saat ini yang tak kunjung ia ketahui. Berkali-kali Nur coba mencarinya dengan menggunakan kekuatan pelacak miliknya, tapi selalu gagal dan yang muncul malah bayangan hitam pekat gelap sehingga Nur tak bisa melihat apapun dari sana.
Cliingg...
"Hai, Nur!"
Tiba-tiba Nawal muncul di belakangnya sembari menyapa gadis itu, tentu saja Nur cukup terkejut dan reflek mengelus dadanya sambil menoleh ke belakang. Nawal malah tertawa sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan, baginya reaksi Nur cukup lucu karena terlihat seperti anak kecil.
"Ish, kamu kebiasaan deh! Udah berapa kali aku bilang kalau muncul jangan ngagetin! Lagian kamu ngapain sih dateng kesini, kalau ada yang lihat gimana?" ucap Nur emosi.
"Ya gak gimana-gimana, paling aku langsung ketahuan sama mereka..." ucap Nawal dengan santainya sambil nyengir.
"Ya gak mau lah, kamu tenang aja Nur aku gak bakal dihukum kok sama ratu! Karena sekarang aku hentikan waktu disini jadi gak mungkin ada yang bisa tahu kalau aku ada disini, nah kamu gak perlu khawatir lagi deh!" ucap Nawal nyengir.
"Hah? A-apaan tuh...??"
Tiba-tiba ada suara lain yang muncul dan terdengar melalui telinga mereka, tentu saja dua bidadari itu reflek menoleh ke asal suara lalu terkejut karena melihat seorang wanita yang hendak masuk ke toilet tampak berdiri disana dan terkejut.
"Si-siapa kamu...?? Apa kamu bidadari?"
"Nur, kamu berteman sama bidadari?" ujarnya dengan mulut menganga.
Ya rupanya yang memergoki mereka adalah Imeh alias mantan musuh Nur juga Sahira ketika mereka masih bersaing dahulu.
"Wah gue gak nyangka kalo bidadari itu nyata! Gue pikir cuma ada di negeri dongeng.." ucap Imeh.
Nur serta Nawal saling pandang, bidadari itu tampak kebingungan sambil menelan saliva kasar.
"Ish, kamu gimana sih? Katanya udah hentiin waktu, kok dia masih bisa kesini?" ujar Nur kesal.
"Hehehe, kayaknya aku lupa deh tadi.." ucap Nawal nyengir sembari menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"Wah bisa ngomong juga ternyata, ih keren! Ini sih semua orang harus pada tau, bentar ya gue panggilin semuanya dulu!" ujar Imeh berbalik badan lalu hendak pergi dari toilet itu.
"Tunggu!" teriak Nur.
Dengan cepat Nawal menghentikan langkah Imeh agar tidak keluar dari sana, dengan sekejap tubuh wanita itu mematung.
"Huh aman!" ucap Nawal menghembuskan nafas.
"Aman aman matamu! Dia udah terlanjur lihat kamu disini, pasti saat sadar nanti dia bakal kasih tahu temen-temennya terus identitas aku bisa gawat!" ucap Nur kesal.
"Tenang aja, kan aku bisa hapus memori ingatan dia saat ngeliat aku tadi..." ucap Nawal.
Nawal pun maju mendekati Imeh, ia menempelkan telapak tangannya di kening wanita itu lalu membaca mantra untuk menghilangkan ingatan Imeh tentang dirinya.
...•••...
Disisi lain, Sahira sedang berlatih bersama Dimas di sebuah tanah lapang luas yang berada di belakang rumah besar itu. Ya Dimas memang sengaja menyiapkan tanah kosong yang cukup luas baginya untuk menguji kekuatannya, ia berpura-pura tak memiliki kekuatan besar saat mengajari Sahira.
"Kamu harus fokus, sayang! Jangan mikirin aku terus! Fokus ke mantra yang aku kasih, supaya kekuatan kamu berangsur kembali!" ucap Dimas.
"Ih lagian siapa juga yang mikirin kamu? Aku tuh emang gak tahu kenapa, rasanya susah buat fokus!" ucap Sahira.
Dimas mendekati kekasihnya lalu mengusap pucuk kepala gadisnya dengan lembut, ia tersenyum sembari menaikkan dagu Sahira dengan jarinya.
"Makanya untuk sementara hilangin dulu wajah aku dari pikiran kamu, biar kamu bisa fokus ke latihan ini!" ucap Dimas menggoda gadisnya.
"Apa sih? Udah ah kita lanjut aja!" ujar Sahira.
"Hahaha, ya ya oke! Tapi, fokus ya jangan gak fokus!" ucap Dimas mengingatkan.
"Iya, siap!"
Mereka pun kembali maju bersiap menguji mantra yang diberikan Dimas, Sahira dengan penuh semangat menghela nafasnya sembari menghafal mantra tersebut di dalam otaknya.
Slaasshhh.. Duaaarrr...
Dengan satu tangannya Sahira berhasil mengeluarkan kekuatan dahsyat yang menyebabkan pohon besar di depannya terbakar.
"Wah aku berhasil!" ucap Sahira senang.
"Iya, itu baru pacar aku!" puji Dimas.
Sahira sama sekali tidak tahu kalau mantra yang diberikan Dimas adalah ilmu kekuatan jahat, siapapun yang menguasai mantra itu pasti akan berubah sikapnya menjadi seorang yang jahat.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...