Broken Angel

Broken Angel
Episode 291 [SEASON 3]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...



...~Jangan tanyakan soal sabar pada orang yang internetnya pake kartu Telkomsel, tapi coba deh tanya sama yang pake IM3 pasti mereka tau~...


...×××...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 35


...•...


...HAPPY READING....🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️...


Beberapa hari telah berlalu sejak penyerangan yang dilakukan oleh Kirana dan juga anggota the darks ke SMA panca sakti.


Kini semua murid juga sudah dapat bersekolah kembali karena sekolah tercinta mereka telah berhasil direnovasi berkat bantuan para warga sekitar serta upaya gotong royong yang dilakukan seluruh murid-murid disana.


Lucas, Alan, Aldi dan Jack baru sampai di parkiran SMA panca sakti itu. Mereka kompak melepas helm lalu berjalan menuju lorong sekolah secara bersamaan dengan gaya ala mereka.


Gadis-gadis disana tampak kagum saat melihat mereka berempat berjalan melewatinya.


"Wah ganteng banget si Lucas!"


"Iya ih, Alan juga tau!"


"Aldi gak kalah ganteng juga!"


"Udah semuanya aja deh buat gue!"


"Yeh ngarep lu!"


Lucas pun hanya geleng-geleng kepala saja mendengar perkataan para gadis tersebut.


"Bro, kita kayaknya kalo jalan sama Lucas auto jadi model terkenal nih di sekolah ini. Beda banget rasanya sama jalan sendiri!" ujar Aldi.


"Valdi sih!" ucap Alan nyengir.


"Valdi Valdi, bapak lu Valdi! Yang bener tuh valid! Ah elah belajar bahasa Inggris dimana sih lu?" ujar Aldi emosi pada Alan yang asal-asalan dalam berbicara.


"Ahaha, emang valid itu bahasa Inggris ya? Gue pikir bahasa Indonesia loh..." tanya Alan bingung.


"Eh iya juga ya, valid bahasa apaan sih? Eh Kas, lu kan pinter nih. Ya seenggaknya lebih pinter lah dari kita-kita yang goblok ini, lu tau gak valid itu termasuk bahasa Inggris atau Indonesia?" ucap Aldi.


"Lah mana gua tau? Lagian ngapain sih lu ngurusin gituan? Emang lu dibayar berapa sama si Valdi pake segala mau tau dia bahasa Indonesia apa Inggris, mendingan lu pada tuh mikirin nasib kita buat ujian akhir nanti!" ucap Lucas.


"Ah elah ngerusak suasana aja lu, Kas! Kita lagi santai begini, eh malah lu bahas ujian!" ujar Aldi.


"Tau nih, ujian mah gausah dipikirin! Pasti bakal terlaksana tepat waktu dan gak mungkin juga kita harus ujian di warung babeh!" sahut Jack.


Lucas pun tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Nah begini nih pemikiran orang yang gak berpendidikan, malah mentingin becanda dibanding ujian. Emang nanti kalo udah lulus sekolah kalian pada mau jadi pelawak atau komikus, ha?" ujar Lucas menengok ke arah tiga temannya itu.


"Eh boleh juga tuh! Pelawak kan gajinya lumayan gede tau, sekali ngelawak bisa naikin haji enyak sama babeh gue!" ujar Jack.


"Bener lu! Bahkan sekali bersinnya aja tuh udah bisa beliin Kania lima ratus ribu mangkuk seblak!" sahut Aldi sambil nyengir.


"Buseh lima ratus ribu mangkok, itu mau dimakan apa buat dijual lagi?" ujar Jack.


"Ya dimakan lah! Kan gue mau Kania itu makin gemuk berisi supaya badannya lebih montok dan enak dipandang, jadi kalo makan seblak sebanyak itu kan dia bisa auto gemuk!" ujar Aldi.


"Yeh bukan cuma gemuk kalo itu mah, langsung bisa seukuran kebo iwa!" ucap Alan.


"Hah? Siapa tuh kebo iwa?" tanya Aldi tak mengerti.


"Yah dia gak tau, lu cari aja di google dah!" jawab Alan dengan tidak niat.


"Ah elah lu bikin orang penasaran aja!" ujar Aldi.


"Udah udah! Al, kebo iwa tuh saudara tirinya nyokap lu! Mending nanti pulang sekolah lu tanya aja gih sama nyokap lu, pasti tau kok!" ucap Lucas.


"Oh gitu, ya? Oke deh, siap!" ucap Aldi.


Mereka pun lanjut jalan berdempetan memasuki lorong sekolah.



__ADS_1


Sama seperti saat di luar tadi, gadis-gadis yang tengah duduk atau berjalan di sekitaran lorong sekolah itu juga tampak terpukau ketika berhadapan atau melihat keempat pria tampan itu.


Hampir semua mata tertuju pada Lucas, Alan, Aldi serta Jack yang baru datang dan tengah berjalan melewati lorong tersebut. Tampaknya mereka berempat memang sangat mencuri perhatian bagi para gadis-gadis yang ada disana.


Sepanjang perjalanan, bahkan Aldi serta Jack memanfaatkan momen itu untuk tebar pesona pada cewek-cewek yang meliriknya.


"Hey, cantik! Jangan dilirik aja, pacarin juga dong!" goda Jack pada gadis yang ia lewati.


"Betul tuh, kasian dia masih jomblo. Jadi mending jangan dilihatin aja, kalo cuma dilihatin mah ikan asin di pasar juga bisa!" sahut Aldi.


Sontak gadis-gadis langsung terkekeh sembari menutupi mulut mereka.


Dengan cepat Lucas menarik paksa kedua pria tersebut agar tidak terlalu lama menggoda para gadis disana.


"Eh eh, Kas. Lu apa-apaan sih?" ujar Aldi heran.


"Kalian yang apa-apaan? Malah godain cewek! Kita itu mau ke kantin dan ngobrolin soal Willy sama anak the darks! Lagian lu kan lagi pdkt sama Kania, kalo dia tau nanti gimana ha?" ujar Lucas.


"Ahaha, tau lu! Kalo gue mah gapapa masih single, jadi bebas godain cewek." ucap Jack.


"Halah! Iya, lu single karena lu gak laku! Gak ada cewek yang mau sama lu kan? Jangankan pacaran, orang dideketin aja langsung pada lari tuh cewek terbirit-birit kayak dikejar anjing!" ujar Aldi meledek Jack sambil tertawa.


"Udah udah, jangan pada saling ejek!" ujar Lucas.


"Lah gimana sih? Gue belum juga bales ngejek si Aldi, kok udah dipisahin aja sih?" protes Jack.


"Iya, biar lu gak bales si Aldi." ucap Lucas.


"Ah gak asik nih! Masa lu lebih pro ke Aldi dibanding gua? Harusnya lu sebagai ketua yang adil dong, jangan kayak gini!" ucap Jack.


"Ya ya ya, serah lu pada dah! Capek gue!" ujar Lucas ngambek lalu pergi begitu saja.


Niat Lucas untuk pergi meninggalkan teman-temannya terpaksa tertunda, lantaran ia melihat Sahira dan teman-temannya disana yang membuatnya harus berdiam diri sejenak.


Alan, Aldi serta Jack terperangah melihat kecantikan Sahira dan teman-temannya di depan mata mereka.


"Kas, seksi banget ya cewek-cewek kita!" ujar Aldi sambil menelan saliva nya.


"Iya bener, terutama yang tengah." ucap Jack asal.


"Heh ceker ayam! Sembarangan lu main tunjuk-tunjuk cewek gue! Inget, dari semua cewek yang ada di depan itu gak ada satupun yang lu punya atau minimal mau sama lu!" ucap Lucas.


"Hehehe, becanda bro!" ujar Jack nyengir.


Akhirnya mereka pun berpapasan dengan para gadis-gadis cantik yang seksi itu.


"Ah gak ada kok, itu biasa si Jack sama Aldi adu mulut mulu saling ejek. Tapi gapapa kok, mereka emang suka begitu!" jawab Lucas.


"Ohh, kamu baru dateng?" tanya Sahira.


"Iya dong, pantang bagi seorang Lucas dateng ke sekolah lebih awal. Makanya aku selalu datang mepet waktu masuk kayak gini, supaya prestasi aku bisa terjaga!" jawab Lucas sambil tersenyum.


"Ada-ada aja..." ujar Sahira menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


...•••...


Nur dan Alan kini berada di taman sekolah untuk berbincang-bincang sejenak. Nur memang sangat penasaran dan ingin tau apakah benar Alan sudah mengetahui identitas dirinya, Nur juga penasaran darimana kekasihnya itu tau identitas asli dirinya yang bahkan selama ini tak pernah ia ceritakan kepadanya atau siapapun itu.


Nur melepas tangan Alan dari genggamannya, lalu meminta pria tersebut untuk duduk disana.


"Duduk yuk!" ucap Nur sambil tersenyum.


"Oke sayang!" ucap Alan membalas senyuman gadisnya lalu perlahan duduk di kursi yang tersedia.


Nur pun menyusul duduk di samping Alan.


"Kamu mau bicara apa sih sama aku, sayang? Kok kayaknya serius banget gitu sampe langsung tarik tarik tangan aku kayak tadi?" tanya Alan penasaran.


Nur terdiam menunduk.


"Aku mau tanya sesuatu sama kamu, tapi kamu harus jawab dengan jujur ya!" ucap Nur.


"Oh oke, aku pasti jujur kok!" ucap Alan.


Nur mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan cepat untuk mengumpulkan keberanian sebelum bertanya langsung pada Alan.


"Kamu tau siapa aku sebenarnya?" tanya Nur.


Alan pun dibuat terkejut seketika saat Nur melontarkan pertanyaan itu.


"Maksud kamu gimana?" Alan pura-pura tak mengerti dan malah balik bertanya pada kekasihnya itu.


"Apa kamu udah tau identitas aku?" tanya Nur lagi.


Alan semakin kebingungan saat ini harus menjawab apa tentang pertanyaan Nur padanya, ia tak mungkin mengatakan jika ia telah mengetahui bahwa Nur adalah bidadari.

__ADS_1


"Gimana ini? Kok tiba-tiba Nur tanya begitu ya ke gue?" gumam Alan di dalam hatinya.


Ya tentu saja Nur juga dapat mendengar itu, Nur menyingkirkan rambutnya yang menutupi telinga agar ia bisa mendengarnya lebih jelas.


"Lan, kamu kok malah diem sih? Tadi katanya kamu mau jawab jujur!" tegur Nur kecewa.


"Eh eh eh, iya iya... aku jawab jujur kok, cantik! Tapi, aku gak ngerti sama pertanyaan kamu barusan! Maksud kamu tuh apa? Identitas apa gitu? Nama atau tempat tinggal kamu, iya?" ucap Alan.


"Ish, bukan!" ujar Nur yang malah kesal sendiri.


"Ya terus apa dong, sayang?" tanya Alan masih berpura-pura tak mengerti agar Nur tidak semakin curiga kepadanya.


"Haish, kamu ngeselin ya! Masa soal itu aja gak tau sih? Identitas aku loh, kamu udah tau apa belum tentang identitas asli aku ini? Jangan bikin aku marah deh sama kamu!" ucap Nur.


"Ohh, ya udah lah sayang! Aku kan pacar kamu, masa aku gak tau identitas kamu?" ucap Alan.


"Berarti bener kalo kamu emang udah tau siapa aku sebenarnya? Kenapa kamu rahasiain dari aku? Terus satu lagi pertanyaan aku, darimana kamu tau tentang itu?" tanya Nur makin penasaran.


"Dari Sahira, aku emang banyak tanya sih sama dia soal identitas kamu. Siapa keluarga kamu, terus hari ulang tahun kamu dan apa hobi kamu sama yang lain-lainnya deh!" jawab Alan sambil nyengir.


Nur pun jadi semakin emosi karena jawaban dari Alan barusan.


"Haish, kamu emang nyebelin ya! Aku kesel ah sama kamu! Dasar cowok nyebelin!" bentak Nur kesal dengan wajah cemberutnya yang menggemaskan.


Nur bangkit dari duduknya lalu pergi dari tempat itu.


Alan hanya bisa diam memandangi tubuh Nur yang perlahan menghilang dari pandangannya.


"Maaf, Nur!" batin Alan.




Nur pergi menjauh dari Alan, lalu ia pun berhenti saat sudah agak jauh dari tempat sebelumnya dan berpikir sejenak disana.


"Jadi bener, ternyata Alan emang udah tau siapa gue dan pantas aja dia sering banget gombalin gue pake kata-kata bidadari. Pasti karena dia tau kalo gue ini bukan manusia, tapi bidadari!" ucapnya.


Tak disangka tak diduga, rupanya ada Imeh disana yang mendengar perkataan Nur barusan.


"Apa? Bidadari??" ujar Imeh sambil berjalan ke dekat Nur dan terlihat terkekeh memandangi wajah Nur dari atas sampai bawah.


"Hahaha, eh kalo mau halu jangan ketinggian deh! Mana ada bidadari modelan kayak lu?" ledek Imeh.


Nur yang tadinya panik karena ada Imeh disana dan mendengar perkataannya, kini justru tampak lebih tenang karena ia tau tak mungkin Imeh percaya begitu saja kalau ia ternyata bidadari.


"Dih, lu ngapain sih disini? Ngerusak pemandangan aja! Mending lu pergi sana, jauh-jauh deh dari gue!" ucap Nur.


"Ahaha, si cewek halu ternyata emang makin gila ya kelakuannya? Pake segala ngaku jadi bidadari, nih ya gue yakin bidadari asli kalo denger kata-kata lu tadi pasti bakal ketawa terbahak-bahak! Bisa-bisanya cewek kayak lu ngaku-ngaku jadi bidadari?" Imeh tampak puas meledek Nur disana.


Bukannya kesal, Nur justru senang karena Imeh tidak dengan mudahnya percaya pada perkataan yang dia dengar tadi.


"Syukur deh, untung yang denger si Imeh bukan Kania atau yang lainnya!" batin Nur.


Imeh merasa heran melihat Nur yang tiba-tiba tersenyum tanpa alasan itu.


"Heh, lu ngapa senyum-senyum begitu? Mulai stress ya? Hadeh, makanya obat tuh dibawa setiap kali mau ke sekolah biar kalo kumat bisa diminum tuh obatnya!" ujar Imeh.


"Iyain aja deh, terserah lu!" ujar Nur.


Akhirnya Nur yang malas berdebat dengan Imeh memilih pergi dari sana karena merasa tak kuat lagi.


Nur berjalan dan berjalan hingga pada akhirnya ia bertemu kembali dengan sohibnya disana.


"Eh Nur, ketemu lagi kita!" ucap Tiara.


"Hehehe, iya nih. Kalian kok masih disini? Gue pikir udah pada ke kelas gitu, bentar lagi kan mau bel tau!" ucap Nur terheran-heran.


"Iya, kita lagi ngaso dulu sebentar." ucap Diandra.


"Yaelah gaya lu pake ngaso segala! Tar giliran ada pak Johan atau Bu Tantri lewat aja pada kabur lu semua, hahaha..." ujar Nur sambil tertawa kecil.


"Hehe, ya iyalah. Itu mah semua murid disini juga pasti bakal begitu, Nur!" ucap Diandra nyengir.


"Eh iya Nur, lu tadi ngobrol apa aja sama si Alan? Kok kelihatannya sekarang lu lagi kayak bingung gitu? Apa kalian ada masalah lagi hubungannya?" tanya Andini penasaran.


"Bener juga tuh, beda ya muka Nur yang tadi pertama kali kita temuin sama sekarang." sahut Diandra.


"Gak ada kok, gue cuma masih ngantuk aja." jawab Nur berbohong sambil berpura-pura menguap di hadapan ketiga temannya itu agar mereka percaya.


"Ohh, kirain kenapa." ucap Andini percaya.


Nur merasa lega karena teman-temannya itu percaya dengan apa yang ia katakan, jadi ia tak perlu susah-susah mencari kebohongan lainnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2