Broken Angel

Broken Angel
Part 158


__ADS_3

Rey,tak bosan-bosannya memandang,kornea mata milik Allena yang berwarna coklat,senada dengan warna rambutnya.Sangat cantik dan cocok di tubuh allena.Kulit putih,tubuh ramping dan bola mata yang bulat.Bak Barbie saja dia.Selama ini dia tidak menyadari akan mata indah Allena yang memancarkan aura kesedihan.Berbanding terbalik dengan tubuh sempurna nya.


Pandangan penuh memuja Rey harus terputus kala Allena bangkit berdiri."Kalau berhenti, bilang-bilang dong".Keluh Allena.


Rey,tak berniat sekali dia bangkit berdiri.Masih betah dengan posisi tidur telentang.Masih terasa tubuh Allena, menimpa tubuh nya.


"Sampai kapan loe,mau tiduran kayak gitu?".


"Sampai maut memisahkan kita".Celetuk rey,bangkit berdiri sambil menepuk-nepuk baju dan celananya.


"Cih".Allena berdecih."Siapa juga yang mau sama loe.Mr.perfec".Ledek Allena.


Rey,tak menanggapi ucapan allena.Dia fokus pada handphone nya yang tadi berbunyi.


[Rey,loe malam ini bisa gak bertemu gue di cafe kenangan?, ajak sekalian Allena.INI PENTING].


Begitu isi pesan yang di kirimkan oleh marga kepadanya.Rey, mengerutkan keningnya,tak mengerti apalagi dia memberikan pesan seakan memaksa.


"Kenapa?".Allena,sedari tadi memperhatikan Rey yang berubah serius tentu menjadi bertanya-tanya tentang perubahan emosi nya, seperti landak saja dia.


Rey,tetap fokus dengan handphone nya,tak berniat menjawab pertanyaan allena, bahkan terkesan menyembunyikan pesan yang di kirim oleh marga.

__ADS_1


"Allena?,penting?".


Kedua kata itu seolah-olah menganggu pikiran rey,ada apa dengan Allena dan kenapa marga menulis kata penting dengan huruf besar.Dia menjadi khawatir terhadap allena dan juga hubungan marga dan aida.


Dia tatap allena,kemudian menatap layar handphone.Menatap Allena lagi, menatap layar handphone lagi.Terus aja begitu,tapi belum ada titik terang nya.


"Kenapa?".Sentak Allena.Dia jadi emisi sendiri, melihat tingkah laku rey.


Rey, lagi-lagi dia tak menjawab pertanyaan allena.Terkesan menutupi hal penting kepada Allena.


"Gak papa".Sahut Rey, menyembunyikan handphone nya di balik saku celana.


"Gak papa,tapi kayak menyembunyikan sesuatu".Selidik Allena.Dia bukan anak kecil lagi yang bisa di bohongi,hapal betul dengan sikap rey.


Allena, menyingkirkan tangan rey dari pundaknya."Berat tau,di kira masih bocah kali".


"Emang masih bocah".


"Iya,bocah tengil".Ledek Allena.


Begitu lah Rey,jika Allena tak bisa lagi diajak bercanda,yah dengan di alihkan perhatiannya dengan saling melempar ledekan.

__ADS_1


"Pulang yuk".Ajak rey.


"Ayo,tapi gue minta rokok". Tawar Allena.


Permintaan allena,tentu tidak akan di anggap apalagi di turuti oleh Rey yang notabene nya melarang.Dia juga hapal betul dengan tabiat Allena, tanpa basa-basi dia mengendong tubuh Allena itu lebih baik daripada harus berdebat apalagi menuruti permintaan allena.


"Lepasin gue,bocah tengil".Rengek Allena, memukul-mukul dada bidang rey.


"Gak akan bocah ingusan".Celetuk rey.Semakin melebarkan langkah kakinya.


Meski Rey,mampu melemparkan ledekan dan candaan pada Allena.Tapi,dalam hatinya dia menjadi was-was.Masih jelas teringat pesan marga.


'Apa gue harus memberitahu Allena saja yah?'.Rey membatin.Bimbang rasanya dia memutuskan perkara.'Ah mending kasih tau saja lah'.Rey,membatin lagi.


Allena terus meronta-ronta dalam gendongan rey,sedang pikiran rey tak fokus ke satu tujuan.Alhasil,Allena terlepas dari gendongan rey dan terjatuh ke bawah.


Bugh


Persis saat Rey hendak membicarakan keputusan finalnya pada Allena.Allena terjatuh ke bawah akibat ulahnya sendiri.


"AW".Pekik Allena.Mengarahkan pandangan tajamnya pada rey.

__ADS_1


Sedang yang mendapatkan tatapan tajam,melongo dengan kejadian yang begitu cepat dan tak terkendali.


"Udah gue bilang,loe itu bocah tengil".Gertak Allena.


__ADS_2