Broken Angel

Broken Angel
Episode 285 [SEASON 3]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...



...~Jika aku tak ditakdirkan bersamamu, maka izinkanlah aku hadir dalam setiap kebahagiaan yang engkau rasakan denganku~...


...×××...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 29


...•...


...HAPPY READING....🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️❤️...


"Hey, berhenti...!!!" teriak Zaenal sangat emosi.


"Apa? Kamu pikir aku akan mudah menuruti kemauan mu begitu saja? Hahaha, itu tak akan pernah terjadi!" ucap Sahira.


Zaenal menganga dengan nafas memburu.


"Apa kau tidak sayang dengan kekasihmu ini ha? Aku bisa saja menghabisi nyawanya sekarang jika kau masih tidak mau menyerah dan mengaku kalah!" ucap Zaenal mengancam Sahira.


Bukannya menyerah sesuai kemauan Zaenal, Sahira justru tersenyum licik seperti tak ada rasa kecemasan dalam dirinya.


Zaenal pun heran mengapa Sahira bisa setenang itu, padahal saat ini kekasihnya sedang berada dalam ancaman dan akan kehilangan nyawa bila Sahira tidak ingin menyerah kepadanya.


"Aku tidak akan pernah menyerah kepada orang jahat sepertimu!" ucap Sahira berteriak tegas.


"Baiklah kalau itu memang maumu, aku akan menghabisi nyawa kekasihmu ini dengan sangat tragis dan menyakitkan!" ucap Zaenal.


"Oh ya? Coba saja kalau kau bisa!" ucap Sahira.


Zaenal yang merasa tertantang langsung mencoba untuk menghabisi nyawa Lucas yang berada di tangannya agar Sahira menyesal tidak mau menuruti permintaannya untuk menyerah.


Zaenal pun mulai menghajar dan memukuli tubuh Lucas yang sudah tidak berdaya di hadapan Sahira dengan membabi buta, Zaenal nampaknya sangat emosi saat ini dengan kelakuan Sahira yang sudah membuat adiknya yakni Kirana tersakiti.


Sahira justru senyum-senyum sembari melipat kedua tangan di depan melihat kejadian itu.


Nur yang sudah dapat sadar kembali, tampak syok melihat Lucas tengah dihabisi dan Sahira yang justru hanya terdiam tanpa melakukan pertolongan apapun, Nur pun berdiri mendekati Sahira.


"Sahira, kenapa kamu diam aja?" tanya Nur heran.


"Lalu aku harus apa?" Sahira malah balik bertanya pada sahabatnya itu.


"Ya kamu tolong dong si Lucas!" ujar Nur.


"Gak perlu!" ucap Sahira singkat.


"Hah? Apa maksud kamu sih? Kamu udah gak perduli lagi sama kekasih kamu itu? Dia bisa mati loh kalau terus begitu!" ucap Nur.


"Udah, tenang aja! Lucas gak akan kenapa-napa, justru Kirana yang sebentar lagi akan mati!" ucap Sahira menoleh ke arah Kirana.


Nur terperangah melihat kondisi Kirana yang sudah sangat memprihatinkan itu.


Sahira kembali melancarkan aksinya untuk menghabisi nyawa Kirana, ia mengangkat tubuh gadis itu dengan kekuatannya memutar-mutar tubuh Kirana di atas seperti baling-baling.


Zaenal yang melihatnya semakin emosi dan tidak mengerti apa yang sebenarnya dilakukan oleh Sahira, ia pun semakin menghajar Lucas dengan kasar hingga pria itu sudah tergeletak lemas.


"Lihatlah, Zaenal! Aku akan mengirim adikmu ke neraka!" teriak Sahira.


Nur tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, belum pernah ia menyaksikan Sahira sampai semarah ini dan sesadis ini pada musuh-musuhnya bahkan hendak membunuh Kirana.


Sahira semakin menjadi-jadi, ia mempercepat putaran tubuh Kirana di atas dan membuat bercak darah gadis itu berhamburan kemana-mana.


"Berhenti...!! Apa yang kamu lakukan?" teriak Zaenal.


Nur benar-benar tak mengerti apa sebenarnya yang terjadi dengan sahabatnya itu, ia juga tak menyangka Sahira akan membunuh Kirana dengan sangat sadis hingga membuat tubuh gadis itu terpotong kecil seperti daging di pasaran.


Zaenal sangat histeris melihat kondisi adiknya yang harus tewas dengan sangat mengenaskan.


"Kau lihat? Aku bisa lebih sadis darimu, Zaenal! Sekarang aku sudah menghabisi Kirana dengan sangat kejam, kali ini giliranmu!" ucap Sahira.


"Kau ini... kau benar-benar keterlaluan! Aku akan buat kau menyesal dan mati secara mengenaskan!" teriak Zaenal sangat emosi.


Zaenal langsung maju mendekati Sahira dengan sangat marah dan menyerang bidadari itu.


...•••...


Willy dan seluruh anggota the darks yang ikut bersamanya telah bergerak maju untuk menghajar seluruh murid disana.


Alan, Aldi serta Jack terpaksa menghadapi mereka demi melindungi teman-temannya disana.


Untunglah ada sang satpam serta beberapa murid lainnya yang juga bisa berkelahi, termasuk para anggota tim ekskul silat atau bela diri yang lainnya. Mereka secara bersamaan melawan the darks.


Perkelahian itu memang tidak seimbang, dengan begitu mudah Willy serta teman-temannya berhasil mengalahkan beberapa murid itu.


Alan, Aldi dan Jack pun tampak kewalahan menghadapi para anggota the darks yang jumlahnya sangat banyak itu, apalagi mereka hanya bertiga dan yang lain sudah pada tergeletak di tanah.

__ADS_1


Bruuukkk...


Akhirnya Jack pun terjatuh ke tanah setelah harus melawan empat orang anggota the darks sekaligus.


Keempat anggota the darks itu langsung mendekati Jack dan menginjak dada pria tersebut dengan kaki mereka sehingga Jack sulit bernafas.


"Hahaha, udah siap buat mati?" ujar mereka.


Bughh...


Tiba-tiba Lucas muncul dan langsung menendang tubuh orang-orang itu.


Jack tampak senang bisa selamat walau dadanya masih terasa sesak akibat injakan mereka tadi, Jack langsung bangkit dan mendekati Lucas untuk membantu pria itu menghadapi yang lainnya.


"Kas, thank you!" ucap Jack.


"Sama-sama, lu gapapa kan?" ucap Lucas.


"Iya, gue sehat kok!" ucap Jack.


"Oke, apa yang lain udah pada aman?" tanya Lucas.


"Udah bro, semua murid dan guru-guru udah kita suruh buat kabur dan cari tempat aman tadi! Sekarang kita tinggal hadapi mereka, supaya semuanya bisa lebih terkendali!" jawab Jack.


"Iya, ayo kita lawan mereka!" ucap Lucas.


Lucas mengambil ancang-ancang, begitupun dengan Jack untuk melawan kembali anggota the darks.


Disaat Lucas hendak maju menghadapi para anggota the darks itu, tiba-tiba saja Wily muncul menghadangnya dari depan.


"Lu lawan gua aja! Kita buktiin siapa yang lebih hebat diantara kita berdua!" ucap Willy.


Lucas pun menerima tantangan Willy tersebut, ia beralih menghadapi Willy dan membiarkan Jack melawan para anggota the darks yang lain dibantu oleh Alan juga Aldi.


Mereka berdua kini bertarung dengan sangat panas dan menegangkan, keduanya saling pukul dan menendang seperti setiap pertarungan pada umumnya di tempat-tempat lain.


Disaat mereka semua tengah asyik bertarung, justru kali ini Dans bersama Putra dan para anggota the darks yang tersisa di markas sebelumnya, datang juga untuk membantu Willy menghabisi Lucas serta para murid-murid disana.


Alan dan Aldi tampak terkejut melihat ada pasukan tambahan yang datang kesana, tentunya kehadiran mereka membuat kedua pria tersebut makin kewalahan untuk bisa menghadapinya.


"Al, gimana nih?" tanya Alan bingung.


"Gue juga gak tau, tapi kayaknya kita bisa mati deh!" jawab Aldi yang gemetar melihat kemunculan Dans serta beberapa pasukannya.


Lucas juga syok saat melihat pasukan itu, terlebih lagi ada Putra disana.


Kelengahan Lucas akibat bengong membuat Willy berhasil memanfaatkan itu, dengan cepat Willy menendang tubuh Lucas hingga terhuyung ke belakang lalu menguncinya.


"Kenapa? Lu pasti kaget kan lihat pasukan the darks yang sangat banyak?" ucap Willy.




Kania, Diandra, Tasya, Tiara serta Andini tengah bersembunyi bersama para murid yang lain dan juga tentunya guru-guru mereka.


Kelima sahabat itu tampak ketakutan mencari tempat persembunyian yang aman agar tak dapat diketahui oleh Willy atau anggota the darks yang lainnya disana.


Angin serta guncangan yang sudah berhenti membuat mereka berani memasuki kembali bagian dalam sekolah, walau masih tampak was-was.


"Kania, gimana ini?" tanya Diandra panik.


"Iya, gue masih mau hidup!" sahut Andini.


"Tenang aja! Kita kan udah aman disini, lagian di depan kan ada anak-anak cowok yang lagi tarung lawan si Willy buat lindungin kita!" ucap Tasya.


"Eh guys, kayaknya gue ada ide deh!" ucap Diandra.


"Ide apa?" tanya Kania penasaran.


"Nah gue kan ada nomer hp si Daffa, gue bakal telpon dia buat minta bantuan sama anak-anak wild blood juga!" jawab Diandra.


"Oh iya bener tuh, cepet deh telpon!" ucap Andini.


"Oke!"


Diandra pun menghubungi Daffa untuk meminta bantuan.


"Gimana? Udah?" tanya Kania penasaran.


"Udah kok, mereka katanya mau langsung otw kesini buat bantu Alan dan yang lainnya!" jawab Diandra.


"Syukur deh, semoga aja mereka bisa datang tepat waktu ya! Dan bisa bantu Alan sama yang lain buat hadapi Willy sama anggota the darks itu, terus kita juga bisa selamat deh!" ucap Tasya.


"Aamiin!" ucap mereka bersamaan.


"Eh guys, tapi kayaknya bantuan dari geng wild blood aja kurang deh! Gue tadi lihatnya anak-anak the darks banyak banget tau!" ucap Andini.


"Iya juga sih, tapi kita minta bantuan sama siapa lagi? Secara pintu keluar udah dijaga sama geng the darks, kita gak bisa kemana-mana!" ucap Kania.


"Gini aja, kenapa lu gak minta bantuan abang lu Kania? Kan dia anak motor juga!" usul Diandra.


"Nah iya bener tuh, apalagi dulu kak Valen kan pemimpin di sekolah kita! Mending cepet deh lu telpon abang lu itu suruh kesini bantu kita!" ucap Tasya setuju dengan usul Diandra.

__ADS_1


"Eh jangan! Gue gak mau Valen kenapa-napa!" ucap Tiara cemas.


"Sama, gue juga gak mau abang gue sampe koma lagi nantinya!" sahut Kania.


"Yah elah Tiara, Kania! Gue yakin kak Valen gak bakal kenapa-napa kok! Dia pasti baik-baik aja, secara dia kan jago berantem sama temennya tuh banyak!" ucap Tasya.


"Iya tuh, udah telpon aja abang lu!" sahut Andini.


"Eee gimana ya...??" Kania kebingungan.


"Udah sih telpon aja buruan! Kita tuh butuh bantuan abang lu, Kania! Emang lu mau terus-terusan terjebak di sekolah kayak gini?" ucap Diandra.


"Tiara, gimana menurut lu?" tanya Kania.


"Umm.... yaudah, gapapa Kania kalo lu mau telpon Valen." jawab Tiara.


"Beneran?" tanya Kania lagi.


"Iya, kita doain aja semoga Valen gak bakal kenapa-napa nantinya! Bener juga yang dibilang Diandra, kita butuh bantuan Valen dan teman-temannya!" ucap Tiara.


"Nah iya tuh, ayo Kania!" ucap Tasya.


"Huft, iya deh!" ucap Kania pasrah.


Akhirnya Kania terpaksa menghubungi abangnya dan meminta bantuan, karena memang menurutnya tak ada pilihan lain selain melakukan itu.


📞"Halo kak, gue butuh bantuan lu!" ucap Kania di telpon setelah Valen mengangkatnya.


...•••...


"Aaakkhhhh...." Zaenal terus meringis kesakitan saat tubuhnya terasa terbakar akibat serangan dari Sahira yang benar-benar menyakitkan.


Sahira sendiri tak menghiraukan rintihan Zaenal karena yang ada di dalam pikirannya saat ini hanyalah membunuh Zaenal untuk mengirim pria tersebut menyusul adiknya yang sudah lebih dulu ia bunuh secara mengenaskan.


Zaenal tak mampu menggerakkan satupun anggota tubuhnya karena Sahira benar-benar membuatnya tertekan, Zaenal hanya bisa berbicara memohon ampun serta merintih akibat sakit yang dirasakannya saat ini.


"Bagaimana? Sakit?" ujar Sahira.


"Tolong, hentikan!" ucap Zaenal lemas.


"Dasar bodoh! Aku tidak akan pernah menghentikan ini apalagi mengampuni mu!" ucap Sahira.


"Kau ini..."


Sahira semakin menambah kekuatannya dan membuat Zaenal juga semakin merasa kesakitan.


"Hahaha..." Sahira tertawa puas.


"Kau bisa membunuhku sekarang dan tertawa sesuka hatimu, tapi asal kau tau saja aku sudah berhasil menghabisi nyawa kekasihmu itu dan mengirimnya juga ke neraka!" ucap Zaenal.


"Oh ya? Apa kamu yakin dengan perkataan mu itu? Lihatlah sendiri ke belakang!" ucap Sahira.


Sahira memutar tubuh Zaenal dengan kekuatannya untuk menunjukkan sesuatu pada Zaenal.


Zaenal terperangah saat melihat tubuh pria yang tergeletak lemas di tanah tadi akibat pukulan darinya, ternyata hanyalah sebuah pohon pisang.


"Apa? Bagaimana mungkin?" ujar Zaenal.


"Hahaha... itulah kebodohan yang sudah kamu lakukan, Zaenal! Kamu hanya membuang waktu untuk menghabisi pohon pisang itu, sedangkan kamu tidak memperdulikan nyawa adikmu sendiri!" ucap Sahira.


"Kurang ajar!" Zaenal kesal.


Nur yang ada disana juga tak mengira kalau Lucas yang dilihatnya adalah pohon pisang.


Sementara Sahira terlihat sangat puas dan ingin segera mengakhiri ini semua.


"Hahaha, sekaranglah saatnya!" teriak Sahira.


Satu tangannya yang tidak memegang apa-apa digerakkan ke atas untuk mengeluarkan kekuatan yang lainnya, dengan cepat Sahira mengarahkan tangannya itu ke hadapan Zaenal.


Slaaasshh....


Taannggg...


Tiba-tiba saja seseorang muncul dan menangkis serangan dari Sahira, ya yang dimaksud adalah Rara alias teman bidadari mereka.


"Apa yang kamu lakukan, Rara? Kenapa kamu melindungi penjahat itu?" tanya Sahira emosi.


"Cukup, Sahira! Kamu sudah keterlaluan dengan mereka berdua, bahkan kamu juga telah membunuh Kirana karena emosi yang menguasai dirimu! Sebaiknya kamu cepat sadar dan kendalikan dirimu, atau kamu akan mendapat balasannya!" ucap Rara.


"Aku tidak akan seperti ini, jika mereka tidak berbuat lebih dulu! Aku masih bisa sabar sebelumnya, tapi kelakuan Kirana dan pria ini sudah keterlaluan!" teriak Sahira emosi.


"Iya aku tau, Sahira! Tapi, ingatlah pesan ratu untuk tidak membunuh manusia sejahat apapun dia! Karena kita tidak berhak menghukum mereka, kita hanya diberi tugas untuk melindungi seluruh umat manusia dan menjaga bumi ini dari serangan para makhluk jahat! Kalau kamu seperti ini, maka akan semakin banyak makhluk di luaran sana yang bisa datang ke bumi!" ucap Rara.


"Benar yang dikatakan Rara, kamu harus bisa sabar Sahira!" ucap Nur.


Akhirnya Sahira mengalah dan melepaskan Zaenal dari cengkeraman pedangnya, Sahira juga tampak menyesal karena tidak dapat mengendalikan emosi dalam dirinya sendiri.


"Maafkan aku, aku memang bukan bidadari yang baik!" ucap Sahira merasa bersalah.


"Tidak apa, kamu baik kok!" ucap Nur.


Nur dan Rara mendekati Sahira lalu coba menenangkan Sahira yang tengah dirundung kesedihan akibat perbuatannya sendiri.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2