Broken Angel

Broken Angel
Episode 239 [SEASON 2]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...~~~...


...•...


#BROKEN ANGEL S2 EPS. 139


...•...


Tanpa rasa malu dan ragu, Edrea langsung duduk begitu saja di samping Lucas dan merapatkan jarak antara tubuhnya dengan pria tersebut sambil terus tersenyum menatap wajah Lucas. Ia menopang wajahnya dengan tangan sehingga ia bisa lebih leluasa memandangi keindahan wajah Lucas, hal itu tentunya membuat Lucas risih dan tak bisa makan dengan tenang.


Berkali-kali Lucas berusaha menjauhkan diri serta mengabaikan gadis itu, namun Edrea terus saja mendekatinya dan terus menggoda pria tersebut agar mau menatap dirinya. Memang Edrea seperti agak berubah sikapnya setelah kerasukan tempo hari, ia yang sebelumnya sudah mengikhlaskan Lucas justru kini malah kembali mengejarnya.


"Lu tuh mau apa sih? Gue lagi makan, jangan ganggu gue kayak gitu! Emang lu mau kalo gue keselek gara-gara gak konsen makannya?" ujar Lucas mulai kesal karena terus ditatap oleh Edrea.


"Hahaha, pasti kamu gak konsen karena gerogi ya dilihatin sama gadis cantik kayak aku? Ya wajar sih Lucas, selain cantik kan aku juga imut sama gemesin pasti kamu jadi gak bisa fokus makan! Tapi, jujur aku betah banget tatap muka kamu kayak gini!" ucap Edrea pede sembari menopang dagunya dengan dua telapak tangan, ia semakin menjadi untuk berusaha mendekati pria di sampingnya itu.


"Hadeh, lu lahir dimana sih? Pedenya setengah mati, gue justru gak konsen makan karena muka lu bikin gue eneg tau gak? Udah ah jangan tatap tatap gue lagi kayak gitu, atau gue bakal cabut bulu mata lu!" ujar Lucas sangat kesal dan risih pada Edrea, ia sampai mengancam gadis itu dan menatapnya tajam.


Namun, itu justru membuat Edrea senang karena akhirnya Lucas mau menatap dirinya walau dengan tatapan tajam menyala penuh amarah. Ia juga sempat memegangi bulu matanya membayangkan kalau Lucas benar-benar mencabutnya paksa, tentu sebuah hal yang menyakitkan jika benar terjadi.


Edrea pun tak lagi menatap Lucas, ia duduk tegap tersenyum mengalihkan pandangannya ke arah lain dan membiarkan Lucas fokus makan lebih dulu.


"Kas, kamu lagi ngapain di Bogor?" tanya Edrea mencoba akrab pada pria di sampingnya.


"Jalan-jalan aja, lu sendiri ngapain disini? Jangan bilang kalo lu ikutin gue sama anak-anak sampe kesini, kurang kerjaan banget sih lu!" ujar Lucas bertanya tapi ia jawab sendiri.


"Ya bukanlah, aku aja baru tahu kalo kamu ke Bogor gara-gara aku mampir kesini! Aku tuh rencananya mau pergi ke villa aku yang ada di dekat sini, ya hitung-hitung liburan lah selagi weekend! Tapi, tadi pas lagi di jalan tiba-tiba aku lapar makanya kita mampir kesini dulu!" ucap Edrea menjelaskan niatnya datang ke Bogor.


"Ohh, jadi lu punya villa di Bogor? Orang kaya mah tempat tinggalnya ada dimana-mana ya?" ujar Lucas tersenyum, nampaknya ia mulai bisa membiasakan diri berbicara dengan Edrea sang mantan.


"Hehe iya gitulah, kamu mau ikut kesana? Kalau mau sekalian aja kita liburan bareng-bareng, ya supaya kamu juga bisa refreshing!" ucap Edrea menawarkan Lucas untuk mampir ke villanya.


Belum sempat Lucas menjawab, tiba-tiba makanan pesanan Edrea dan teman-temannya sampai sehingga obrolan mereka harus tertahan saat ini.


"Silahkan mbak, ini sotonya!" ucap pelayan itu meletakkan 3 mangkuk soto mie di atas meja.


"Makasih," ucap Edrea singkat sambil tersenyum.


Setelah pelayan itu kembali ke tempatnya, Edrea kembali menatap wajah lelaki di sampingnya seperti meminta jawaban dari Lucas tentang tawaran yang ia berikan sebelumnya.


Lucas pun mengerti dengan tatapan Edrea walau gadis itu berbicara apa-apa, ia paham saat mata Edrea menunjukkan bahwa dia membutuhkan jawaban darinya.


"Umm, entahlah gue harus tanya anak-anak dulu! Karena gue kan kesini sama mereka, jadi ya keputusannya harus diambil bersama!" ucap Lucas menjawab pertanyaan Edrea.


"Ohh, yaudah tanya aja sekarang! Kan temen-temen kamu juga pada disini, maksudnya biar setelah makan kita bisa langsung pergi gitu!" ucap Edrea.

__ADS_1


Baru saja Lucas hendak meminta pendapat pada Alan dan beberapa temannya di meja yang sama, namun Alan langsung menyelanya begitu saja.


"Gue setuju Kas!" ujar Alan.


"Hah? Belum juga gue nanya, lu udah main setuju-setuju aja!" ucap Lucas heran.


"Hehehe, kan gue udah denger obrolan kalian! Makanya gue langsung jawab biar mempersingkat waktu, lebih bagus kan?" ujar Alan nyengir, diikuti Edrea yang juga terkekeh.


Lucas hanya geleng-geleng kepala sembari menggaruk dahinya mengenakan jari telunjuk, ia pun meminta pendapat pada anggotanya yang lain dan mayoritas setuju jika mereka menginap sementara di villa milik Edrea.


Akhirnya Lucas pun juga setuju dan mereka semua nantinya akan menginap satu malam di villa Edrea, tampak gadis itu tersenyum senang karena bisa bermalam bersama Lucas pria yang dicintainya.


...•••...


Sementara itu, Saka masih berada di depan rumah Grey alias kekasihnya walau sudah berkali-kali Alice serta satpam disana mengusirnya dan menyuruhnya pulang atau pergi dari sana. Nampaknya Saka benar-benar serius dengan ucapannya dan tidak main-main, ia akan terus menunggu disana selama mungkin sampai Grey mau keluar menemuinya.


Kini Saka duduk tepat di depan gerbang rumah Grey sembari bersandar pada pagar tersebut, pikirannya kosong menatap ke depan dengan kedua kaki ditekuk dan dua tangannya ia taruh di atas kakinya. Saka benar-benar tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya demi mendapat maaf dari Grey dan juga kedua orangtuanya, ia sangat sakit jika terus dijauhi oleh kekasihnya apalagi sampai sekarang Grey juga belum mau keluar.


Tiiinnnn....


Tiba-tiba klakson panjang terdengar membuat Saka terkejut lalu tersadar dari lamunannya, ia kaget karena sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya dengan lampu depan memancar ke arahnya. Ia langsung bangkit dari duduknya dan menatap penasaran ke arah mobil tersebut, ia belum pernah melihat mobil itu sebelumnya disana.


"Mas, tolong minggir dulu! Itu mobil den Alex mau masuk ke dalam, nanti baru deh masnya boleh duduk disitu lagi!" ucap satpam rumah Grey menyuruh Saka melipir sejenak.


Saka hanya mengangguk lalu bergeser ke pinggir, hatinya tersentak ketika mendengar satpam itu menyebut nama Alex. Ya itu artinya mobil tersebut adalah milik Alex yang hendak masuk ke dalam rumah Grey, Saka pun merasakan sakit yang amat sangat ketika melihat wajah Alex sekilas.


Benar saja pria yang berada di dalam mobil itu memang Alex, karena Alice serta Abdel langsung menghampirinya memberi sambutan hangat sembari tersenyum dan memeluk tubuh pria tersebut. Tentu saja Saka semakin sedih menyaksikan itu, apa yang dilakukan orang tua Grey padanya berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan mereka pada Alex.


"Kayaknya mereka emang lebih senang kalau Grey jadian sama Alex, gue gak bisa maksain diri buat jadi pacar Grey lagi! Karena itu semua cuma bikin gue sakit hati pada ujungnya, sebaiknya gue pergi sekarang sebelum semuanya terlambat! Semoga kamu bahagia dengan Alex, Grey!" batin Saka.


Saka menghapus air mata yang mulai menetes dengan jemarinya, ia membalikkan tubuhnya dan memandang bunga di tangannya yang tadinya hendak ia berikan pada Grey. Entah apa yang ada di pikirannya, sampai-sampai Saka membanting bunga tersebut ke aspal dan menginjaknya.


Pria itu tampak sangat emosi, ia melampiaskan semua kekesalan serta amarah dirinya kepada bunga itu.


"Aaarrgghh! Kenapa gue selalu sial dalam urusan percintaan??" batin Saka depresi, ia menatap langit cerah yang tertutupi awan sembari mengusap wajahnya kasar.


Saka sudah teramat pasrah dengan kondisinya saat ini, apalagi Alex memang terlihat lebih cocok untuk bisa bersama Grey dibanding dirinya. Alex juga telah mendapat restu dari kedua orang tua Grey, dan tentunya hal itu akan berdampak mulus bagi hubungan Alex & Grey.


Walau Saka cukup yakin kalau Grey kekasihnya itu tak mungkin berpaling darinya, ia tahu betul Grey sangat mencintainya karena dulu wanita itu yang lebih dulu menyatakan perasaannya kepada Saka.


Saka menoleh sekilas ke arah belakang, ia menatap rumah besar milik kekasihnya dengan mata berkaca-kaca. Tanpa sadar pandangannya menangkap sosok wanita yang tengah mengintip melalui jendela atas, namun tiba-tiba wanita itu menghindar dan menutup jendelanya dengan gorden.


"Siapa itu? Apa mungkin dia Grey? Kalau memang itu Grey, kenapa dia cuma tatap gue dari kamarnya? Harusnya kan dia turun kesini buat temuin gue, atau selama ini gue aja yang terlalu berharap? Mungkin aja Grey udah gak cinta sama gue..." batinnya.


Bunga yang sudah hancur dan tampak tak berbentuk lagi, ia ambil kembali lalu ditatapnya dengan penuh kesedihan serta emosi yang membara.


"Kenapa? Seharusnya kamu bisa bikin aku dan Grey baikan seperti dulu, bukannya malah jadi seperti ini! Payah kamu, bunga!" ujar Saka yang sudah sangat sedih sampai kehilangan akalnya, ia malah menyalahkan bunga atas kegagalannya menemui Grey hari ini.


Saka langsung membuang bunga yang telah hancur itu ke tempat sampah depan rumah Grey, setelahnya ia pun pergi dari rumah kekasihnya menggunakan motor kesayangannya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1




Grey memandang Saka dari balik jendela kamarnya, gadis itu menyaksikan semua momen yang terjadi termasuk ketika Saka diusir mamanya dan menginjak-injak bunga mawar tersebut. Grey menangis melihat itu semua walau hanya dari balik jendela, ia bisa tahu apa yang dirasakan kekasihnya saat ini.


Setelah kepergian Saka dari rumahnya, Grey langsung menutup kembali gorden jendelanya lalu pergi ke arah ranjang dan duduk disana. Wanita itu menangis melepaskan kesedihan di dalam jiwanya, ia ingin sekali mengejar kekasihnya saat ini tetapi hal itu tak mungkin terjadi lantaran ia harus mendekam terus disana sesuai perintah mama papanya.


TOK TOK TOK...


Pintu kamarnya diketuk dari luar, Grey dengan cepat menghapus air mata di wajahnya agar siapapun yang ada di balik pintu itu tidak dapat melihat dirinya tengah menangis disana.


"Sayang, Diwi! Ini mama nak..." ucap seseorang yang ternyata Alice, alias sang mama Grey.


"Masuk aja, mah!" ucap Grey mempersilahkan mamanya langsung masuk ke dalam kamarnya, ia masih tetap duduk di pinggir ranjang sembari menghapus air matanya.


Ceklek...


Pintu terbuka dan Alice langsung masuk menengok ke arah putrinya tengah duduk, ia tersenyum manis melihat Grey sudah berpakaian rapih dengan gaun warna krem yang ia berikan sebelumnya.


Alice melangkah mendekati putrinya sembari menyimpulkan senyum di wajahnya, ia pun duduk di samping Grey lalu menaruh satu tangan di pundak putrinya dan mengelus lembut wajah Grey.


"Wah Diwi, kamu cantik sekali! Pasti Alex bakalan terpukau ngeliat kamu pakai gaun dari dia!" ucap Alice tersenyum memandangi tubuh putrinya.


"Hah? Jadi gaun ini bukan dari mama?" tanya Grey terkejut sembari membekap mulutnya sendiri.


"Iya, sebenarnya ini pemberian Alex! Dia sengaja minta mama buat rahasiakan semuanya, karena Alex maunya kamu pakai gaun ini saat kalian pergi ke acara pernikahan keluarganya! Katanya dia juga mau sekalian kenalin kamu ke keluarga mama papanya disana, makanya dia kasih gaun ini spesial buat kamu!" jelas Alice.


Grey tak menyangka kalau ia saat ini memakai gaun pemberian Alex, sungguh ia ingin sekali melepas gaunnya dan segera berganti pakaian. Namun, tak mungkin ia melakukan itu karena pasti mamanya akan merasa sangat marah.


"Yaudah, kebetulan Alex juga udah datang tuh di depan buat jemput kamu! Yuk kita langsung keluar aja temui Alex, kasihan kalau dia harus nunggu terlalu lama!" ucap Alice menggenggam tangan Grey.


"Iya mah," ucap Grey singkat tanpa ekspresi, ia mencoba untuk bersikap tegar walau saat ini ia sangat sedih dan kecewa karena mamanya selalu memaksa ia untuk pergi bersama Alex.


Dengan perlahan, Grey serta mamanya keluar dari kamar lalu turun ke bawah menemui Alex yang sedang berbincang bersama papanya di ruang tamu. Wajah kedua pria itu seketika syok terkagum-kagum saat melihat Grey tengah menuruni tangga mengenakan gaun yang sangat indah, Alex sampai tertegun dan menatap tubuh Grey tanpa berkedip.


"Wah pemberian kamu itu bukan kaleng-kaleng ya, Alex! Diwi jadi terlihat cantik sekali memakai gaun pemberian kamu, jujur saya sampai pangling ngeliatnya karena Diwi berbeda sekali!" ujar Abdel.


"Itu bukan karena gaun dari saya, om! Grey alias Diwi emang udah cantik natural, jadi mau apapun yang ia kenakan pasti bakal terlihat cantik dan manis!" ucap Alex tersenyum.


Akhirnya Grey yang dituntun mamanya berhasil sampai di ruang tamu menemui Alex & Abdel, kedua pria itu langsung berdiri menyambut kedatangan Grey yang cantik bak bidadari.


"Waduh kamu cantik sekali, Diwi! Papa sangat-sangat pangling ngeliat kamu sekarang, jujur penampilan kamu berbeda hari ini dari sebelumnya!" puji Abdel.


"Ya iya dong pah, anak kita ini kan memang sudah cantik dari lahir! Cuma dia masih belum bisa dandan sama milih pakaian yang benar aja, aslinya dia ini memang cantik papa!" ucap Alice.


"Benar kata tante, om! Grey ini wanita cantik yang akan selalu cantik walau tanpa make up!" puji Alex sembari menatap gadisnya sambil tersenyum.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2