
Allena duduk berjongkok sambil memegangi perutnya,terasa begitu lapar yang dia rasakan akibat perutnya yang belum terisi oleh sebuah asupan gizi,belum lagi rasa haus yang mulai menyerang kerongkongannya begitu amat menyiksa dirinya.
Panas terik matahari membuat kaos oblong nya basah oleh keringat Allena yang mengucur deras di seluruh tubuhnya.
Allena memaksakan diri untuk bangkit berdiri barang menemukan tempat untuk dia minum.Membersihkan kerongkongannya agar tidak terlalu haus.
Allena berjalan sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah,mencari kran air yang mungkin bisa di minum nya.
"Nah itu dia".Ucap Allena, setelah ekor matanya menangkap kran air tempat berwudhu.
Yah,di tengah-tengah pasar ada sebuah mushola untuk umat muslim melaksanakan kewajiban mereka.Sangat cocok sekali mushola itu berada di tengah-tengah pasar, dengan tujuan memudahkan umat muslim untuk beribadah.
Allena, berjalan gontai.Rasa lapar,haus dan keringat yang membasahi bajunya begitu menganggu tubuh Allena yang terbiasa di manjakan oleh sebuah kenikmatan dan kemewahan.
Begitu Allena sampai di kran air itu.Dia begitu kalap membasahi kerongkongannya di tengah guyuran air kran yang sengaja Allena kucurkan dengan deras.
__ADS_1
Rasa haus dan laparnya sekarang sudah terbit.Rasa lapar itu telah kenyang oleh air yang mengalir dan tubuh Allena seketika menjadi sehat dan bugar kembali.
Allena duduk sebentar di teras musholla, mengistirahatkan diri sembari memikirkan jalan hidupnya.Tak mungkin dia terus-menerus hidup seperti ini.Terlunta-lunta kesana-kemari seperti lagu milik pak haji Rhoma irama.
*Langit sebagai atap nya
Dan tanah sebagai alasnya
Hidup ku,menyusuri jalanan*
Yah, bahkan mamahnya saja selama ini tidak mencari keberadaan nya.Allena mau tinggal dimana?,makan apa dan lain sebagainya juga mamah Axel sepertinya tidak memperdulikan itu semua pada anak semata wayangnya.Anak yang dia harapkan,tapi juga tak pernah dia cari barang sebentar pun.
Sambil beristirahat,Allena mengedarkan pandangannya ke penjuru arah lagi.Sekarang bukan untuk mencari tempat penjual makanan atau minuman, melainkan mencari cara agar dia bisa mengumpulkan uang demi sesuap nasi untuknya bisa bertahan hidup.
"Gini amat yah hidup gue".Keluh allena,dia bahkan tak pernah menyangka jalan hidupnya akan seperti ini dan jauh dari segala kemewahan.
__ADS_1
Menyesal?. Rasanya Allen tidak pernah menyesali keputusan itu.Baginya dia harus bertanggung jawab terhadap keputusan yang sudah dia ambil.Dia sendiri yang memutuskan untuk pergi,maka dia sendiri pula yang harus siap menerima segala bentuk konsekuensinya.Apapun dan bagaimana pun yang terjadi.
"Jika,memang nyokap gue peduli ama gue.Dia pasti akan mencari gue kan?,tak perlu menurunkan sebuah harga diri demi sebuah pengakuan".ucap Allena yang tengah duduk bersandarkan tembok yang nampak pudar.
Allena memang terkenal dengan sikap keras kepala nya.Tak ayal jika dia berpikiran seperti itu.Toh,harga diri dan kehormatan nya adalah sebuah harga yang mahal untuk anak gadis blasteran yang terluka.Di patahkan oleh orang tuanya sendiri.
Ego dan keserakahan nya begitu kuat dalam diri Allena.Wajar bukan?,dia meminta sedikit perhatian saja dari orang tuanya.Wajar bukan?,jika dia meminta waktu dari orangtuanya agar dia bisa menceritakan semua keluh kesahnya.
Sakit sendiri, menyembuhkan pun sendiri.Itu sudah biasa Allena lakukan,tapi untuk cinta dan kasih sayang?, darimana Allena bisa mendapatkan nya.Selain dari orang tuanya sendiri.
"Ahah".Ucap Allena,sembari mengangkat jari telunjuknya."Gue ngamen aja, seperti yang biasa gue lakukan ".Kata Allena, bangkit berdiri dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Ide itu muncul tatkala dia melihat anak kecil yang bernyanyi dengan suara cempreng nya dengan botol Aqua yang sudah di isi oleh kelereng sebagai melodi lagunya.
Yah,allena terinspirasi dari pengamen kecil itu yang dengan pede nya dia bernyanyi padahal suaranya sangat luar biasa jelek menurut Allena.
__ADS_1