
Allena terbangun oleh suara pria yang menyapanya amat lembut dan tak asing baginya,suara pria itu berasal dari suara rey.
"Selamat pagi,gadis manis".Sapa Rey,sembari membawa nampan sarapan pagi nya.
Allena mengeliat, sekali lagi dia mengucek matanya.Takut,apa yang di lihatnya salah.Tapi, kenyataannya dia tak salah melihat.
'Tumben dia bersikap manis,kesambet apa tuh?'.Batin Allena bertanya tentang sikap manis rey.
"Hai,kau melamun aja sih".Sentak rey,menyentuh bahu Allena.
"G-gak".Allena jadi gelagapan sendiri, ketahui melamun.Lebih tepat nya sedang ngedumel.
"Kamu sarapan dulu yah"?Ucap Rey,sembari duduk di pinggiran ranjang.
"Gak usah repot-repot,toh gue gak terbiasa sarapan pagi".Sahut Allena.
Rey,tersenyum ramah."Sarapan itu penting sebelum kita memulai aktivitas.Tanpa sarapan, rutinitas kita tak akan berjalan dengan lancar_".
"Cuih,sok peduli amat".Ucap Allena, menyambar ucapan rey.
"Tapi,itu benar loh".
"Yah,bodoh amat emang gue peduli".Sentak Allena.
"Sesuap aja yah?".Mohon Rey,sembari mengatupkan kedua tangannya.
__ADS_1
"No, sekali tidak yah tidak.Gak usah memaksa,gue bukan kekasih loe yang haus perhatian dari kekasihnya.Bukan pula adik cewek loe".Gertak Allena, memalingkan muka seakan tengah merajuk.
Rey, melipat wajahnya,dia amat kecewa dengan penolakan allena.Susah payah dia mencari tukang bubur agar Allena bisa sarapan yang layak, nyatanya usaha nya tak di hargai.
'Susah memang menaklukkan wanita yang sudah dasarnya keras'.Ucap Rey membatin.
Allena mengerutkan keningnya, **** dia yang di buat heran oleh tingkah laku rey."Wey, ngelamun aja".Sentak Allena, membuyarkan lamunan rey.
"Gak ".Kilah rey.
"Alah alesan aja loe,mending loe pergi deh dari sini".Usir Allena.
Rey,yang mendapatkan sebuah pengusiran.Dia masih diam di tempatnya,tak berniat untuk pergi selangkah pun sebelum dia memastikan Allena menyantap menu sarapannya.Menu sarapan yang hanya nasi bubur,beserta dengan telur rebus dan sate usus saja.
"Gue,bilang pergi yah pergi.Gue,hari ini gak masuk sekolah,loe tolong buat surat sakit gue ". Seenaknya sekali Allena memerintah gurunya sendiri.
"Gue,bisa menjaga diri gue sendiri, tanpa loe suruh".Sambar Allena.
"Yah yah yah".Sahut Rey, sembari berlalu pergi, meninggalkan Allena yang masih aja ngedumel tentang sikap aneh rey.
"Huh, benar-benar kesambet tuh orang".Umpat Allena."Apa jangan-jangan".Allena menatap ke penjuru ruangan."Disini memang ada hantunya,huh ngeri".Ucap Allena bergidik ngeri.
Rey,yang sedari tadi diam di ambang pintu setelah mendapatkan sebuah pengusiran dari Allena dan penolakan makan sarapan nya.Memang tidak benar-benar pergi, melainkan dia berdiri di ambang pintu,melihat Allena dari balik pintu.
"Ada-ada saja,bocah satu ini".Gumamnya, tersenyum kala Allena ketakutan."Perilaku boleh nakal,tapi sama hantu aja takut". Ucapnya lagi bergeleng kepala, sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Allena sendirian.
__ADS_1
Rey, benar-benar pergi dari rumah sakit itu sebab dia masih punya banyak urusan selain mengurus Allena yang ternyata dia selalu mendapatkan sebuah penolakan dari Allena.
Rey,berjalan menyusuri lorong rumah sakit, pandangannya tak pernah lepas dari layar iPhone nya.Hingga tubuhnya menabrak tubuh pria yang kebetulan lewat di lorong yang sama.
"AW".
"Maaf pak,saya tidak sengaja".Ucap Rey,memohon.
Tapi di detik berikutnya,dia tersadar dengan tubuh pria yang tak sengaja di tabraknya.
"Marga".
"Rey".
Marga dan Rey saling tertawa cekikikan.Merasa lucu dengan kejadian yang barusan terjadi.
"Kalau jalan pake mata".
"Jalan pake kaki,bukan pake mata".Sanggah rey.
Marga,memutar bola matanya, jengah."Maksud gue,mata untuk melihat jalan.Kalau jalan yah,iya pake kaki".Jelas marga.
"Nah itu tau,by the way loe mau kemana?".
"Ke ruangan gadis sok keras.Jangan panggil aku anak kecil paman,caelah belagu bener tuh orang yah.Baru terkena hujan aja udah tumbang".Umpat rey,melengos pergi begitu aja.
__ADS_1
Tapi, dengan sigap tangan Rey menghalau langkah kaki marga."Ikut gue, urusan loe sama gue ".Gertak rey.
Mau tak mau marga harus mengurungkan niatnya dan mendesah kecewa dalam diamnya.