Broken Angel

Broken Angel
Part 66


__ADS_3

Kesedihan jelas terpampang nyata di raut wajah Allena,dia tak pernah membayangkan hidupnya akan menjadi seperti ini.Rumah yang dia harapkan memberikan cinta dan kasih sayang, nyatanya hanya memberikan trauma bagi dirinya.Rumah tempat dia pulang,tapi ternyata tidak semua rumah bisa di jadikan tempat pulang.


Sama halnya dengan kediaman Axel Maureen,rumah itu bukanlah tempat dia pulang,bukan pula rumah yang memberikan kehangatan keluarga.Tapi,rumah itu seakan menjelma bak neraka baginya,penjara hidup nan nyata dalam yang tersembunyi dalam kedok rumah mewah nan megah.


Allena,berjalan melangkah setapak demi setapak.Tatapannya kosong,dia tidak tau harus pergi kemana?,dia tidak tau haru melangkah kemana?,hanya mengikuti langkah kaki yang menapak tanpa arah dan tujuan.


Nasib sialnya tak cukup disitu saja, karena ternyata langit mulai gelap.Segerombolan awan pekat nan hitam saling berkumpul bak biri-biri yang tengah bergerombol.


Awan pekat itu, menjatuhkan setetes air karena tidak mampu menahan beban masa air.Awalnya hanya setetes, lama-lama menjadi deras.Allena yang pikirannya kusut,tak memperdulikan tetes-tetes air hujan yang menerpa wajahnya,seluruh tubuhnya telah basah kuyup, seragamnya tak lagi memberikan kehangatan tapi kedinginan.Sedingin sikapnya,yang abai terhadap air hujan.


Baginya itu tak seberapa sakit,bila di bandingkan luka fisik dan hatinya.Ity tidak sebanding bila dengan kisah hidupnya yang amat rumit dan di penuhi oleh luka hati.


Allena berjalan gontai,tetes air hujan itu belum lagi angin yang berhembus dengan kencangnya.Membuat Allena menggigil kedinginan.


"Huh,dingin".Gumam Allena,bahkan bibirnya menjadi pucat akibat suhu tubuhnya yang dingin.


Pandangan Allena menjadi kabur,tapi dia berusaha kuat demi berteduh pada bangunan yang mungkin bisa memberikan sedikit kehangatan.

__ADS_1


Beruntung,di depan nya ada sebuah ruko.Sehingga Allena,bisa berteduh dari tetesan air hujan.


Allena berteduh di ruko,tapi dia tidak sendirian.Ternyata ada dua anak kecil dan seorang ibu yang tengah tidur beralaskan kain koran,tengah saling memeluk, memberikan kehangatan satu sama lain.


Mereka adalah pemulung, gelandang yang tidak punya rumah untuk berteduh.Hanya langit sebagai atap nya dan tanah sebagai alasnya.


Mau tak mau Allena juga harus tidur di ruko itu karena tubuhnya sudah payah.Tak kuat lagi berjalan, selangkah pun,meski merasa jijik tapi itu harus dia lakukan karena tak ada pilihan lain.


Saat Allena terpaksa harus tidur di ruko bersama dengan pemulung dalam keadaan tubuh yang menggigil kedinginan.Berbeda dengan Rey,dia tidak kedinginan sedikitpun karena dia berada di rumah dengan perapian yang canggih dan segelas kopi latte panas.


Yah,pada saat hendak mengantarkan Allena pulang.Marga,telah memberikan kabar akan hasil investigasi nya.


"Yah".Sahut marga."Orang tuanya bercerai saat usianya 10 tahun.Ayahnya berselingkuh dengan adik iparnya dan Axel tentu dia tidak terima pengkhianatan suaminya".


"Berpisah jalan yang mereka ambil?".Tanya Rey,menyambar ucapan marga.


"Yah".

__ADS_1


Rey, mengepalkan tangannya.Bercerai itu adalah solusi bagi mereka,tapi meninggalkan trauma bagi anak kecil seusia Allena.


Dia yang tengah duduk berhadapan dengan marga pun,kini bangkit berdiri.


Marga yang menyadari itu semua,dia juga bangkit berdiri."Mau kemana kau?".Tanya marga, menginterupsi langkah kaki rey.


"Pergi ke rumah Allena". Sentak rey.


"Besok lagi aja,hujan sedang lebat-lebatnya dan angin berhembus kencang".Peringat marga,menyusul langkah kaki rey.


"Gak bisa".Sahut rey.


Dengan sigap marga yang memiliki tubuh kekar nan atletis, bahkan jauh lebih kekar dari rey.Dengan terpaksa harus melumpuhkan Rey,agar dia tidak nekat.


"Sialan kau ".Gertak Rey,tak terima dengan perlakuan marga.


"Sorry".Ucap marga,menyeret paksa rey kembali ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2