
Allena dan Rey, memutuskan untuk kembali ke Jakarta.Rasanya mereka tak perlu berlama-lama berada di wilayah dengan berbagai panorama alam yang begitu indah,cuaca dingin dan memberikan kenangan tak terlupakan.
Usaha Rey,kembali tidak membutuhkan hasil.Tatkala kejadian tak terduga, menumbangkan pohon kebahagiaan mereka dengan secepat kilat seperti pohon rindang yang tersambar petir.Tumbang begitu saja, tanpa tersisa kekokohan nya.
Rey,harus kembali menelan pil pahit.Gadis kecilnya alih-alih mendapatkan sebuah kebahagiaan seperti rencananya, seperti janjinya dan seperti apa yang menjadi tujuan nya.
Marga,sosok marga tak di libatkan dalam rencananya.Dia refleks mengajak allena ke luar kota tanpa bantuan marga yang bisa saja diandalkan dan meminimalisir kejadian tak terduga.Tapi,marga yang bisa diandalkan tak terlihat batang hidungnya.
Terakhir dia bertemu dengan marga saat dia memerintahkan untuk mengawasi Andre dan keluarganya.Sempat berbincang sebentar lewat via telpon tapi dengan sombongnya marga,menyuruh dia untuk berusaha sendiri.Alhasil,dia mendapatkan sebuah kekecewaan.
Tadi,sebelum mereka memutuskan untuk kembali lagi ke Jakarta.Allena sempat bercerita tentang hidupnya, begitu pun dengan rey yang selalu tanpa rasa malu dia mulai menceritakan hidupnya,tabir masa lalunya telah terbuka.
Meyakinkan Allena tentang Rey,yang sama-sama terluka dan mendapatkan sebuah pengabaian dari orangtuanya masing-masing.
"Al".Sentak rey.
Allena,yang sejak tadi melamun.Terperanjat kaget dengan ucapan rey."Yah".Sahut Allena.
"Jangan banyak melamun,tak baik untuk anak gadis".Peringat rey, tanpa menoleh.
__ADS_1
"Iya". Lagi-lagi Allena menjawab dengan singkat.Irit bicara,tak seperti biasanya yang suka berceloteh ria sampai-sampai membuat rey emosi di buatnya.
"Gadis kecil ku yang malang".Gumam rey.
Kali ini,dia berkendara dengan kecepatan sedang.Pikirannya sudah kembali tenang dan hatinya tak lagi seemosi tadi.
Dia membiarkan Allena menikmati perjalanan panjangnya tanpa terganggu atau tanpa dengan aksi berkendaranya yang ugal-ugalan.
Tanpa Rey,sadari Allena sudah terlelap tidur karena kelelahan menangis.Hati,jiwa dan raganya terluka.Fisiknya telah mendapatkan kekerasan, sayap-sayap nya kembali terpatahkan dan semangat hidupnya kembali redup.
.....
Suara bising knalpot dan juga suara-suara mesin pabrik terdengar begitu nyaring nya.Menandakan penduduk bumi telah memulai aktivitas mereka dengan semangat baru dan energi yang cukup.
Tapi,tidak dengan Allena.Dia masih terlelap tidur,di buai bunga mimpi yang memabukkan.Berharap dia bisa bangkit kembali,memulai aktivitas seperti sedia kala.
Sedang Rey,dia sudah siap dengan pakaian santai nya.Dimana dia sekarang memakai kaos oblong berwarna putih di padukan dengan celana pendeknya.Dia yang terbiasa membuat sarapan sendiri,tentu tak keberatan harus berkutat di dapur dengan segala macam aktivitas yang seharusnya di lakukan oleh seorang wanita.
Kali ini,dia sedang memasak nasi goreng kesukaan nya dan menjadi makanan handalnya setelah mie rebus.
__ADS_1
"Makan nasi goreng sama mie rebus terus,untung gue gak gemuk".Ucap Rey,di sela-sela kegiatan masaknya.
Dua piring nasi goreng dengan telur ceplok telah sedia terhidang di meja makan,tak lupa Rey menuangkan dua gelas air.Siap tersaji di meja makan , tinggal membangun gadis kecilnya yang terlelap tidur bak putri tidur yang habis makan buah apel yang sudah di beri racun oleh si penyihir.
Tok..Tok..Tok
"Bangun,putri tidur".Teriak Rey, membangunkan Allena di balik pintu kamar.
Allena,yang tertidur dengan damai tanpa mimpi karena kelelahan.Terpaksa harus membuka matanya,demi mendengar suara gedoran pintu di sertai dengan suara teriakan yang begitu merusak gendang telinganya.
"CK,menganggu saja".Gertak Allena,sembari berjalan menuju pintu kamar.
Klek
Pintu di buka oleh Allena, dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka lebar.
"Selamat pagi putri tidur ku".Suara sapaan rey, begitu lembut terdengar.Berbeda dengan suara teriakan Rey yang memaksa dirinya bangun dari bunga mimpi.
__ADS_1