Broken Angel

Broken Angel
Episode 251 [SEASON 2]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...~~~...


...•...


#BROKEN ANGEL S2 EPS. 151


...•...


Para bidadari pun bersatu untuk bisa mengalahkan Dimas dibantu juga oleh sang ratu dan Nuril, sedangkan Lucas hanya menonton karena ia tak memiliki kekuatan apapun sehingga tidak bisa membantu Sahira disana walau ia sangat ingin melakukan itu untuk menolong kekasihnya.


Dimas & Wilona bersiap menghadapi serangan dari mereka yang jumlahnya lebih banyak, namun tak sedikitpun ada rasa takut bagi Dimas karena ia cukup pede untuk bisa menghabisi mereka semua dengan mustika miliknya dan gabungan kekuatan Sahira serta Wilona yang ada di tubuhnya.


Berbeda dengan Dimas, Wilona justru amat sangat ketakutan karena ia tak memiliki kekuatan apapun saat ini dan tentunya ia bisa berada dalam bahaya bila terkena serangan dari mereka yang memang tampak ingin sekali menghabisi dirinya serta Dimas disana saat ini juga.


"Dimas, gimana cara aku ngelawan mereka?" tanya Wilona berbisik di telinga suaminya.


"Jangan takut, sayang! Biar aku saja yang melawan mereka dan habisi mereka semua, aku juga akan melindungi mu supaya gak kena serangan dari mereka!" jawab Dimas sambil tersenyum.


Cupp...


Sempat-sempatnya Dimas mengecup bibir Wilona sekilas di hadapan Sahira serta yang lainnya, ia juga membelai rambut istrinya sambil tersenyum ke arahnya dan lagi-lagi mengecup kening serta kedua pipi Wilona secara bergantian bermaksud membuat Sahira terbakar cemburu walau bidadari itu sama sekali tak terpengaruh pada perlakuan tersebut.


"Dimas, bersiaplah menghadapi serangan dari kami para bidadari... aku yakin kamu pasti belum pernah melihat dan menyaksikan bagaimana jadinya jika kesembilan bidadari menyatukan kekuatannya, sekarang saatnya kamu melihat itu!" ucap Nur.


"Hahaha, jangan sesumbar dulu Nur! Belum tentu kekuatan kalian semua bisa mengalahkan kekuatanku, apalagi salah satu dari kalian sudah tidak memiliki kekuatan! Jadi, aku yakin kalian tak akan semudah itu mengalahkan ku!" ucap Dimas.


Nur menoleh ke arah Sahira juga teman-temannya disana, entah kenapa ia mendadak pesimis setelah mendengar perkataan Dimas yang memang ada benarnya itu. Namun, senyum serta anggukan sang ratu meyakinkan Nur kembali bahwa pasukan bidadari pasti bisa mengalahkan Dimas dan merebut kembali mustika merah serta kekuatan Sahira.


"Ayo majulah, aku beri kalian kesempatan untuk menyerang ku lebih dulu dan aku hanya akan menahan serangan kalian!" ucap Dimas merentangkan tangan seraya menantang mereka.


"Cih, kau akan termakan omongan mu sendiri Dimas! Ayo semuanya, kita satukan kekuatan kita dan hadapi si pengkhianat Dimas itu...!!" teriak Nur.


Semua bidadari pun mulai melakukan gerakan dengan tongkat mereka masing-masing untuk menyerang Dimas, sang ratu dan juga Nuril ikut membantu mereka mengumpulkan kekuatan agar bisa mengalahkan Dimas yang cukup kuat itu.


"Rasakan ini....!!"


Slaasshhh....


Tiiinnggg...


Duaaarrr....


Serangan pertama dari para bidadari berhasil dengan mudah ditangkis dan diarahkan ke ruangan tersebut hingga tercipta ledakan dahsyat, Dimas pun tertawa puas sedangkan mereka semua tampak panik karena serangannya tak berhasil menembus dinding pertahanan yang dirakit Dimas.


Bahkan kali ini Dimas memasang kurungan pelindung atau disebut dinding tembus pandang untuk melindungi dirinya dan juga Wilona dari serangan mereka, tentunya hal ini makin membuat sulit para bidadari untuk bisa menyentuh apalagi melukai Dimas dan Wilona.


"Hahaha, ayo coba lagi sayang...!!" ledek Dimas sembari tertawa terbahak-bahak.


Para bidadari itu saling pandang memikirkan bagaimana cara untuk bisa menembus dinding yang dibuat Dimas saat ini, mereka tampak kebingungan karena berkali-kali mencoba tetapi gagal.


"Ratu, bagaimana ini?" tanya Nur panik.


"Iya ratu, kita sudah berkali-kali coba tapi tetap saja gagal dan tidak berhasil merobohkan dinding itu! Apa yang harus kita lakukan sekarang, ratu?" sahut Nawal.


Ratu Keira justru semakin dibuat bingung karena tak mengerti apa yang saat ini harus ia lakukan, sedangkan Dimas serta Wilona malah duduk-duduk santai sambil tersenyum puas.


...•••...


Disisi lain, seluruh anggota wild blood sampai di markas the darks dengan penuh emosi serta keonaran karena mereka mengira kalau Lucas ada disana dan tengah disandera oleh mereka.

__ADS_1


Satu persatu dari mereka turun kemudian masuk ke markas geng motor tersebut, mereka terus berteriak memanggil nama Willy selaku ketua the darks untuk keluar menemui mereka sembari menendang dan memukul barang apa saja yang ada disana bahkan motor-motor anak the darks yang tengah terparkir.


"Woi Willy, keluar lu...!!" teriak Geri emosional.


Alan memang tak bisa mencegah kelakuan para anggota wild blood itu, ya mereka semua datang kesana juga karena idenya yang berpikir kalau kemungkinan Lucas memang ada disana karena sudah hampir satu kota Jakarta mereka kelilingi tetapi tak kunjung berhasil menemukan Lucas.


"Woi, keluar pengecut...!!" teriak Daffa.


Braakkk...


Praaanggg...


Tendangan-tendangan dari mereka sungguh amat keras sampai membuat telinga pengang, mereka semua tampak emosional dan anarkis seperti orang-orang kalo lagi demo tapi bedanya mereka gak sampe bakar-bakar ban atau yang lainnya.


Tak lama kemudian, rombongan geng the darks akhirnya muncul dari dalam dengan Willy yang memimpin mereka berjalan paling depan sembari bergaya bak model yang sangat dan mematikan.


"Heh, mau apa kalian datang kesini teriak-teriak begitu?" tanya Willy masih santai.


"Nah akhirnya keluar juga nih si pengecut, cepet ngaku pasti lu kan yang udah culik Lucas!!" ujar Geri berteriak sembari mengacungkan telunjuknya ke arah wajah Willy yang berada di depannya.


"Apaan sih? Kalo ngomong itu disortir dulu, jangan asal ucap aja! Buktinya mana kalo gue udah culik Lucas, ha? Lagian buat apa juga gue culik dia, gak bermanfaat banget!" ujar Willy.


"Halah pake ngeles lagi, udah ngaku aja dasar pengecut!!" ujar Daffa sudah tampak emosi.


"Heh, jangan nuduh sembarangan lu...!!" bentak Alves membela ketuanya.


"Kita gak nuduh, tapi emang kenyataan kalau kalian pasti yang udah culik Lucas! Cepet kasih tau ke kita, dimana Lucas...!!" teriak Geri sembari menendang kaleng cat kosong di bawah.


"Wah wah... berani banget ya kalian bertindak anarkis di markas kita, emang sukanya nyari ribut aja!" ucap Willy mulai terpancing emosi.


"Gausah banyak bacot lu, pengecut!!!" teriak Jack.


"Jaga omongan lu, siapa yang pengecut ha? Justru kalian semua ini pada gak jelas gak punya tata krama, dateng ke tempat orang buat onar!" ucap Rio.


"Cih, buat apa kita sopan sama kalian? Udah cepet kasih tau dimana Lucas, atau kita bakal obrak-abrik satu markas kalian ini...!!" ancam Geri.


"Udah salah masih aja ngeles, emang minta dibantai kayaknya orang-orang ini...!!" ujar Geri.


Sangking emosinya, Geri sampai hendak maju ke depan memukul wajah Willy yang ada di hadapannya dan berhasil. Seketika pria itu emosi lalu membalas pukulan dari Geri, ya akhirnya yang lain pun terpancing dan keributan hebat terjadi disana.


...•••...


Kania kembali ke kelasnya dengan perasaan gegana alias gelisah galau merana, ia masih memikirkan perkataan Aldi yang tadi diucapkan ketika mereka tengah bersama di taman sekolah dan tampaknya Aldi memang serius mengatakan itu bahkan sampai meminta maaf karena dia harus mengucapkannya dengan cara yang tidak romantis.


Tentu Kania sangat bingung harus menjawab apa karena selama ini ia menganggap bahwa Aldi hanyalah sahabatnya saja dan belum ada tanda-tanda kalau ia mencintai pria itu, walau sebenarnya Kania memang merasakan hal berbeda saat tengah berdua dengan Aldi baik di dalam maupun di luar sekolah.


Teman-teman kelompoknya yang masih ada disana tampak terheran-heran melihat Kania yang datang dengan keadaan kusut begitu, mereka berpikir kalau telah terjadi sesuatu pada Kania dan pelakunya adalah Aldi karena tadi memang Kania ditarik paksa oleh pria itu keluar dari kelas.


"Heh Kania, lu ngapa? Kok kusut sama acak-acakan gitu sih?" tanya Roy teman sekelasnya.


"Iya nih, biasanya kan lu paling bersih dan rapih! Eh sekarang malah kayak gini, hayo abis diapain sama Aldi tadi di luar??" sahut Galang.


"Dasar gila! Pikiran kalian itu kotor banget sih! Udah Kania, mereka mah gausah didengerin!" bentak Diandra kesal karena perkataan dua pria tersebut memang asal dan menyakitkan tentunya bagi Kania, ya walau Kania tak menggubrisnya.


Diandra langsung meminta Kania duduk di tempatnya lalu bertanya ada apa, ya karena tak biasanya memang Kania tampak kusut seperti sekarang padahal sebelumnya baik-baik saja dan tidak sampai sebegini kusutnya.


"Kania, ada apa sih? Lu cerita sama gue, mungkin itu bisa redain rasa sedih lu!" ucap Diandra.


Kania masih diam, namun kali ini ia mau menoleh ke arah sahabatnya dan bahkan melukis senyum di bibirnya walau tak semanis biasanya karena sekarang senyum itu seperti terpaksa.


"Makasih ya, Diandra sahabat gue! Tapi, gue gapapa kok gak ada apa-apa juga!" ucap Kania.


"Serius nih?" tanya Diandra memastikan.

__ADS_1


"Iya serius, gak bohong kok!" jawab Kania.


"Yaudah syukur deh kalo gitu mah..." ujar Diandra.


"Hooh, terus sekarang gimana kerjaannya? Udah selesai atau masih ada yang perlu ditambahin lagi?" tanya Kania penasaran.


"Alhamdulillah udah selesai kok, Kania! Tadi gue sama yang lain bareng-bareng cari materinya, terus sekarang udah lengkap deh!" jawab Diandra.


"Ohh bagus deh, yaudah kalo gitu gue mau balik ya!" ucap Kania.


"Iya, nih laptop lu jangan lupa dibawa...!!" ucap Diandra menyodorkan laptop di meja ke arah Kania.


"Gak bakal dong, kalo lupa nanti ilang disini atau diambil sama si Roy!" cibir Kania sambil nyengir.


"Yeh kalo laptop doang mah gue juga punya di rumah ada sebelas malah..." ujar Roy.


"Widih banyak amat! Iya dah yang anak sultan mah beda, kita mah malah jauh deh..." ujar Diandra.


"Ya iyalah, secara bapak gue aja pengusaha minyak di Dubai terus nyokap gue punya bisnis tambang emas di Singapore!" ujar Roy menyombongkan diri.


"Nah mulai dah mulai halu nya..." sindir Galang.


"Hahaha..."


Mereka pun saling tertawa sebelum merapihkan barang masing-masing dan pulang ke rumah, ya suasana kelas juga cukup hening karena hanya ada mereka berlima disana yang belum pulang.


...•••...


Setelah berkali-kali mencoba dan berkali-kali juga gagal menembus dinding pertahanan Dimas, akhirnya usaha tak kenal lelah yang dilakukan para bidadari serta ratu Keira dan Nuril berhasil juga menembus benteng kuat yang dibangun Dimas untuk melindungi tubuhnya serta Wilona.


Ya kesembilan bidadari dibantu ratu Keira kini mengeluarkan kekuatan penuh yang disatukan juga bersama Nuril, kekuatan maha dahsyat tersebut berhasil meruntuhkan dinding buatan Dimas yang sedari tadi cukup sulit ditembus karena sangat kokoh.


Kini tak ada lagi pelindung bagi Dimas maupun Wilona yang bisa menyelamatkan mereka dari serangan para bidadari, tentu bidadari-bidadari itu langsung bersiap untuk menyerang Dimas kembali dan tak memberikan napas pada pria itu.


Akan tetapi, sepertinya kali ini Dimas tak akan lagi hanya diam bertahan menangkis serangan mereka melainkan juga mulai menyerang balik karena memang dinding buatannya saat ini sudah hancur berkeping-keping dan kekuatan para bidadari juga semakin dahsyat serta sulit ditahan lagi.


Dimas pun mengeluarkan senjata andalannya yakni trisula emas maut milik sang istri, dengan pembacaan mantra pendek yang akurat dan dahsyat trisula itu mendadak mengeluarkan petir serta suara menggelegar hebat yang menyakiti telinga para bidadari sehingga mereka tak fokus menggabungkan kekuatan mereka.


"Ayo semuanya, kita langsung serang dia sebelum dia berhasil membuat trisula itu bertenaga!" titah Nur.


Slaasshhh...


Mereka coba menyerang lebih dulu untuk menggagalkan mantra yang dibacakan Dimas, namun rupanya itu terlambat dan serangan mereka justru dibalikkan dengan mudahnya oleh Dimas ke arah mereka hingga terpental ke belakang.


"Hahaha, segitu saja kemampuan kalian para bidadari bodoh? Sudah kubilang kalian tidak akan mampu mengalahkan ku, karena akulah sang penguasa alam semesta sekarang!" ujar Dimas.


Dimas semakin sombong dan kuat, petir menggelegar dimana-mana membuat suasana makin mencekam hebat dan menjadi gelap karena awan-awan hitam mulai menutupi pancaran sinar matahari yang terarah ke istana itu.


Wilona tampak kagum dengan kekuatan yang dimiliki suaminya walau sebagian adalah kekuatan miliknya, namun ia cukup senang karena Dimas berhasil membuat ratu Keira tergeletak kesakitan seperti itu.


"Dimas, kamu memang benar-benar hebat!" puji Wilona menghampiri suaminya.


"Pasti dong, kan berkat jatah dari kamu juga semalam makanya aku jadi semangat!" ucap Dimas.


Wilona tampak tersipu saat Dimas mengatakan itu sembari membelai rambutnya yang terurai, ya mereka kini berpelukan sembari menunggu para bidadari bangkit dan melanjutkan perlawanan itu.


Sepertinya cukup sulit bagi bidadari-bidadari tersebut untuk bangkit kembali, karena saat ini sebagian energi mereka mulai terkuras habis akibat kekuatan Dimas yang sangat tinggi dan sulit ditandingi.


"Bagaimana ini, Nur? Kita sudah kerahkan semua kemampuan yang kita miliki, tetapi tetap saja belum mampu untuk mengalahkan Dimas!" ujar Nawal.


"Iya benar, Dimas terlalu kuat dan sangat sulit dikalahkan! Kalau terus begini kita bisa mati sia-sia dan Dimas akan menguasai dunia...!!" sahut Nara.


Mendengar ucapan Nawal & Nara membuat Nur harus berpikir keras memutar otaknya, ia tidak mau bidadari dikalahkan begitu saja oleh Dimas dan tentunya tak akan sudi kalau Dimas diangkat menjadi pemimpin dunia.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2