
"Dimana dia?".Tanya Rey dengan napas yang memburu, tersengal karena berlari memburu waktu.
"Tuh".Tunjuk marga, menggunakan bibirnya.
Rey,terkekeh saat marga memanyunkan bibirnya sebagai simbol menunjukkan tempat.
"Apa ketawa-ketawa?".Tanya marga,memberenggut sebal.
"Bibir mu mirip kayak ikan cucut".Ledek rey,sembari tertawa terbahak-bahak.
"Ikan cucut,apa itu ikan cucut?".Tanya marga,menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Bukannya menjawab,Rey malah melesat pergi.Meninggalkan marga dalam keadaan bingung.Seingatnya tidak ada yang namanya ikan cucut.
"Curut kali".Teriak marga.
Rey, mengibaskan tangannya.Masa bodoh dengan tebakan marga yang asal nebak saja.Padahal memang Rey juga asal berucap,dia juga sama tak tau dengan ucapan nya sendiri.
"Aish,di tinggal lagi".Keluh marga.
__ADS_1
Rey,sudah ada di dalam ruangan rawat Allena.Menatap tubuh Allena dengan tatapan sendu,dia memang bukan siapa-siapa rey.Tapi,entah kenapa dalam diri Allena seperti ada magnet penarik jiwa raga dan bahkan berhasil mengoyak hatinya.
Dia menarik kursi untuk dia duduki.Menggenggam tangan allena lembut seakan memberikan kekuatan dan energi positif pada jiwa yang lemah,tak berdaya.
"Allena".Bisik lembut Rey.Masih terpaku di tempatnya,tak tega rasanya membangunkan Allena dari tidur panjangnya.
Rey,masih betah menatap wajah cantik nan bersih Allena, tapi kecantikan nya seakan tertutup oleh awan hitam nan pekat.Tanpa sadar Rey,mengusap pipi allena.
"Ais,ada apa dengan diriku?".Tanya rey pada diri sendiri.
Di saat kebingungan nya atas tingkah laku sendiri yang berada di luar kendali dan tanpa di sadari nya.Ada seorang pria yang tengah mengamati tingkah laku rey.Orang itu menatap penuh takjub sekaligus ada gurat kesedihan yang menggantung.
Pria itu berjalan kearah Rey,menepuk pundaknya."Selamat pagi pak".Ucap pria itu.
"Pagi juga, dok".Sahut Rey,menjabat tangan dokter.
Yah,pria yang tadi mengamati tingkah laku Rey itu adalah dokter yang memeriksa kesehatan Allena.Dia jelas, merasakan kesedihan.Takut,kabar yang akan di sampaikan nya akan melukai hati keluarga nya.
Rey, mempersilakan dokter untuk duduk di sofa.Mencari tempat aman untuk sekedar berbincang.
__ADS_1
"Apa Akan ada pemeriksaan terhadap pasien?". Tanya Rey, membuka percakapan.
Dokter membenarkan tata letak kacamatanya."Tidak"..Jawab nya datar.
Rey,duduk mendekat dengan dokter.Ingin rasanya rey mengetahui kesehatan Allena dengan berbisik saja, tanpa mengeluarkan suara keras yang mungkin bisa menganggu istirahat Allena.
"Jadi,apa yang sekiranya ingin dokter sampai kepada saya karena menurut hemat saya,dokter tak mungkin menemui keluarga pasien secara langsung kalau bukan ada hal yang mendesak?".Tanya rey.
Kembali,dokter itu merapihkan tata letak kaca matanya sembari mencari posisi duduk yang nyaman."Jadi,begini".Dokter,menjeda ucapannya.
Semakin di buat penasaran saja,Rey terhadap penjelasan dokter yang mungkin mengenai kondisi kesehatan Allena yang menurut detektif nya dia di temukan tergeletak di kamar nya dengan obat-obatan berada di sekitarnya.
"Jadi, bagaimana?".Tanya Rey, penasaran.
"Pasien yang bernama Allena Aidira.Dia terkena hipotermia selain itu dia juga terancam terkena penyakit ginjal akibat sering mengonsumsi minuman beralkohol dalam dosis tinggi dan dengan jumlah yang banyak".Jelas dokter tanpa jeda.
Bak di sambar petir di siang bolong,Rey tak mampu berkata-kata.Dia amat terkejut dengan penjelasan dokter.Bukan,karena Allena yang terancam terkena penyakit ginjal.Tapi,tentang Allena yang sering mengonsumsi minuman beralkohol.
Tanpa di sadari oleh Rey,Allena mendengar penjelasan dokter.Dia memang sudah sadar sejak tadi,belum lama setelah Rey masuk ke ruangan nya.Bahkan,dia merasakan sentuhan tangan Rey di pipinya.
__ADS_1
Butiran kristal bening membasahi pipi allena yang tadi di usap rey.Dia tak menyesal karena sudah mengonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah banyak dan dalam kadar yang tinggi.Yang dia sesalkan adalah keberadaan mamahnya.
Di saat di sakit pun sang mamah tidak ada dan mungkin tidak mengetahui perihal kondisi kesehatannya.