Broken Angel

Broken Angel
Episode 307 [SEASON 3]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


...~Jangan mudah percaya dengan orang, karena yang terlihat baik bisa saja memiliki rencana jahat di dalam hatinya, begitupun sebaliknya. Jangan juga terlalu percaya dengan orang yang sudah lumayan dekat kita, karena mereka bisa saja mengkhianati kita dan itu lebih berbahaya~...


...×××...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 52


...•...


...HAPPY READING....🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Jedeerrr...


Satu serangan dahsyat dari ratu Keira berhasil membuat bebatuan yang ada di atas Wilona runtuh dan jatuh ke bawah, hampir saja Wilona tertimpa batu-batu tersebut jika tak cepat menghindar. Serangan tidak hanya berhenti disitu, Keira yang sudah tersulut emosi pada adiknya itu terus saja memborbardir Wilona dengan serangan-serangan dahsyatnya tanpa pandang bulu.


Ratu Keira tak memberikan kesempatan pada Wilona untuk berbalik menyerangnya, sehingga Wilona tampak kesulitan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Bahkan sang ratu kini berhasil menumbangkan Wilona untuk yang kesekian kalinya dengan serangan tunggal miliknya, baru kali ini memang ratu Keira bertarung dengan emosi.


"Awwhhh..." rintih Wilona saat terjatuh ke bawah sembari memegangi bagian perutnya.


Ratu Keira pun kembali melayangkan serangan dan mengurung tubuh Wilona dengan kekuatan miliknya, ia bergerak mendekati adiknya itu sambil tersenyum dan memandangnya. Sedangkan Wilona tak mampu berbuat banyak, ia hanya bisa merintih kesakitan sembari memegangi perutnya yang terkena serangan dari ratu Keira bertubi-tubi tadi.


"Wilona, sekarang apa yang bisa kamu lakukan lagi ha? Masih ingin kamu berniat membunuh aku, saudara kamu sendiri?" tanya Keira dengan nada tegas dan mata melotot.


"Uhuk uhuk... Kei, a-aku..." Wilona tampak kesulitan untuk berbicara lantaran perut dan dadanya terasa sangat sakit akibat serangan dari Keira.


"Kamu apa? Sebaiknya sekarang kamu menyerah dan mengaku kalah, karena kurungan itu sangat kuat dan hanya aku yang bisa melepaskan kamu dari dalam sana! Jika kamu menyerah sekarang, aku berjanji akan memberi ampunan padamu. Tetapi, jika kamu masih ingin melawan maka aku tidak akan segan-segan untuk menghabisi kamu!" ucap Keira.


Slaaasshh...


Tiba-tiba saja satu serangan muncul dan hampir mengenai bagian wajah sang ratu, tampaknya itu adalah serangan dadakan dari Sofia yang masih sempat menyerang Keira dikala ia juga tengah kewalahan menghadapi Nuril disana.


"Jangan pernah menyerah, Wilona! Kita harus bertarung sampai titik darah penghabisan! Aku yakin kita pasti menang!" teriak Sofia.


"Hey! Kamu tidak usah pedulikan Wilona! Sebaiknya kamu pikirkan saja nasibmu sekarang, karena aku akan segera menghabisi mu dengan kekuatanku!" ucap Nuril menantang Sofia.


"Kurang ajar! Kamu pikir aku takut dengan ancaman omong kosong mu itu, ha?" ujar Sofia.


"Hahaha, kita lihat saja siapa yang akan mati nanti! Karena aku tidak akan berhenti bertarung, sampai salah satu diantara kita mati!" ucap Nuril.


"Baik, aku setuju denganmu!" ucap Sofia.


Ratu Sofia kembali bersiap-siap menyerang Nuril, ia mengambil nafas dalam-dalam dan melakukan gerakan untuk mengeluarkan tenaga dalamnya. Sedangkan Nuril juga mulai mengambil ancang-ancang untuk menyerang Sofia, memang ia masih belum bisa menaklukkan Sofia saat ini.


Pertarungan antara Nuril dan Sofia pun kembali berlangsung dengan dahsyat, mereka memang sama-sama memiliki kekuatan yang hebat dan tentunya menakutkan. Namun, terlihat kali ini Sofia cukup kesulitan menahan serangan-serangan dari Nuril yang terus saja menghujam nya bertubi-tubi.


Sementara Keira tampak emosi lantaran Wilona masih belum mau menyerah dan masih saja ingin bertekad membunuhnya, Keira pun bersiap melakukan serangannya kembali untuk menghabisi Wilona itu dengan sekejap mata. Belum pernah Keira menggunakan ilmu kematiannya sebelum ini, ia sepertinya sudah sangat marah kali ini.


"Aku tidak main-main lagi, Wilona! Terimalah kematian mu dan tenanglah di tempat barumu! Orang jahat sepertimu, tidak pantas tinggal di nirwana!" ujar Keira bersiap menyerang Wilona.


"Ja-jangan..." Wilona masih sempat meminta pada Keira untuk menghentikan serangannya, namun semua itu terlambat karena Keira sudah terlanjur marah padanya.


"Kenapa Wilona? Kamu takut mati?" tanya Keira.

__ADS_1


"Kei, kita ini saudara kan? Kamu jangan begitu dong sama aku! Baiklah, aku akan menuruti kemauan mu dan menyerahkan diri!" ucap Wilona memohon.


"Cih! Kamu pikir aku bakal semudah itu percaya denganmu? Jangan harap, Wilona!" ujar Keira.


"Kei, aku serius! Tolong kamu jangan bunuh aku! Bukankah kamu seorang ratu yang suci? Lantas mengapa kamu ingin membunuhku yang merupakan saudaramu sendiri? Apa kamu tidak takut dicap sebagai seorang pendosa?" ujar Wilona.


"Aku tidak perduli, Wilona! Yang terpenting kamu bisa mati dan tak ada lagi kejahatan di dunia ini! Sekarang, terimalah kematian mu dengan baik! Aku yakin tidak akan terlalu sakit!" ucap Keira.


"Ja-jangan! Kumohon..." ucap Wilona memelas.


Wilona semakin ketakutan saat melihat sinar kegelapan dari tangan Keira yang artinya sang ratu itu benar-benar ingin menghabisinya, Wilona pun menoleh ke arah ratu Sofia yang juga tengah kewalahan menghadapi Nuril. Saat ini Wilona tak memiliki bantuan lain, mungkin ia akan segera mati di tangan Keira dan menyusul suaminya.


"Bersiaplah menerima kematian mu, Wilona...!!!" Keira berteriak keras sembari bersiap untuk melancarkan serangan ke arah Wilona.


"Hiyaaa...!!!"


"Berhenti...!!!"


Tiba-tiba saja, sebuah teriakan kencang dari belakang membuat Keira menghentikan serangannya. Keira pun cukup kesal, ia menoleh untuk memastikan siapakah yang berani-beraninya ikut campur dan membuatnya gagal untuk membunuh sang adik alias Wilona.


Sementara Wilona tampak sedikit lega karena Keira tidak jadi membunuhnya, walau tadi ia sudah sempat pasrah dan menutup matanya untuk menerima kematiannya. Syukurlah ada seseorang yang dapat menghentikan Keira, namun kini ia penasaran dan ingin tahu siapakah orang tersebut.


Mata keduanya terbelalak lebar, mereka sama-sama tak dapat berkata-kata saat ini setelah menyaksikan apa yang mereka lihat di depan sana. Seorang pria tua dengan penampilan khasnya muncul dan berjalan mendekat ke arah mereka, membuat Keira serta Wilona tak bisa berhenti menganga.


"Ayah...??" ucap Keira dengan tubuh bergetar tak menyangka semua ini akan terjadi.


Begitupun dengan Wilona yang langsung menangis sejadi-jadinya di dalam kurungan itu, ia tak menyangka dapat bertemu kembali dengan pria yang sempat ia benci yakni ayahnya. Wilona pun tampak bersedih dan berharap kalau ini semua memang nyata bukan hanya khayalan semata.


Pria yang tak lain ialah ayah dari Keira serta Wilona itu berjalan maju mendekati kedua putrinya tersebut. Ia menatap keduanya dengan tatapan tajam, ia marah pada mereka dan mungkin bersiap untuk menghukum keduanya karena sudah banyak membuat masalah di dunia ini.


"Ayah? Bagaimana ayah...??" pertanyaan Keira menggantung, rasanya ia masih sulit percaya dengan semua yang ia lihat saat ini.


Keira dan Wilona tampak menunduk terdiam. Mereka tak berani membantah perkataan ayahnya.


...•••...


Disisi lain, Lucas telah berhasil melumpuhkan Sita si ratu ular yang ganas dan suka mencari gara-gara. Lucas pun mengikat wanita tersebut dengan ikatan tenaganya tanpa membiarkan Sita mampu melepaskan diri, ia juga tampak tersenyum seringai menatap wajah Sita yang sudah tak berdaya kali ini setelah bertarung dengannya cukup lama.


Sementara Sahira, Nur dan Rara datang mendekati Lucas untuk tentunya ikut meledek Sita yang sudah tak mampu lagi melawan mereka. Ketiga bidadari tersebut bahkan belum sempat mengeluarkan kekuatan mereka kali ini, hanya butuh seorang Lucas untuk dapat menaklukkan Sita siluman ular yang tidak terlalu menakutkan itu.


"Hahaha, sungguh kasihan sekali kamu! Baru kali ini aku melihat siluman ular selemah dirimu, apa kamu tidak pernah makan, ha?" ledek Nur.


"Memang dia ini hanya pandai berbicara dan kesombongannya itu telah mengalahkan dirinya sendiri, sehingga sekarang dia tak berdaya menghadapi serangan dari kekasih ku!" ucap Sahira.


"Sudahlah! Sekarang kalian bawa wanita ini ke penjara langit dan jebloskan dia! Aku ingin membantu dokter Septian dan mengeluarkan segala racun yang sudah diberikan siluman ini padanya sebelum terlambat, bagaimanapun juga dokter Septian harus selamat dan tidak boleh menjadi seorang siluman juga!" ucap Lucas.


"Kamu benar, kalau begitu izinkan aku membantu kamu Lucas!" ucap Sahira.


"Baiklah, kamu boleh disini. Tapi yang lain, kalian bawa siluman ular ini dan serahkan dia pada raja Nuril juga sang ratu!" ucap Lucas memberi perintah pada Nur dan Rara.


"Iya Lucas, kami pergi dulu!" ucap Nur.


Setelahnya, Nur dan Rara pun membawa Sita yang sudah tak berdaya itu dengan kekuatan mereka menuju kerajaan langit. Sita tampak pasrah saja dan terus menunduk, bahkan ia tidak sama sekali berbicara setelah berhasil dilumpuhkan oleh Lucas walau Nur terus saja meledeknya.


Sementara Lucas dan Sahira, kini berupaya mengobati dokter Septian sebelum semua racun yang diberikan Sita merambat ke seluruh tubuhnya, karena itu bisa sangat berbahaya. Mereka pun menggunakan kekuatan masing-masing untuk mengambil racun tersebut dari tubuh Septian.


"Sayang, racunnya sudah hampir menyebar! Apa yang harus kita lakukan?" ucap Sahira cemas.


"Tenang saja! Sekarang aku sudah dapat mengendalikan kekuatanku dengan mudah, aku tau apa yang harus ku lakukan untuk dapat mengambil racun siluman ular itu dari tubuhnya!" ucap Lucas.

__ADS_1


Sahira tersenyum memandangi wajah kekasihnya.


"Hey! Kamu jangan senyum begitulah! Aku kan jadi gak fokus nih, malah jadinya fokus ke senyuman kamu yang manis itu!" ucap Lucas.


"Ahaha, iya iya maaf! Aku gak bakal senyum lagi kok, kita harus buru-buru selamatkan dokter Septian! Aku gak mau dia tumbuh jadi siluman ular juga seperti wanita tadi!" ucap Sahira.


"Ya, kamu benar! Sekarang keluarkan mustika milikmu itu, agar kita bisa mengambil racun dari dalam tubuh Septian!" ucap Lucas.


"Baiklah!" ucap Sahira menurut.


Sahira pun mengambil mustika merah dari dalam tubuhnya dan memberikan itu pada Lucas, dengan perlahan Lucas menggunakannya untuk mengobati Septian dan berharap jika cara ini dapat berhasil sehingga Septian bisa sembuh. Sedangkan Sahira tampak melongok saja melihat Lucas kekasihnya itu sudah jauh lebih baik saat ini dalam menggunakan segala kekuatannya yang membuat ia kagum.


...•••...


Aldi masih bersama Kania di rumah gadis itu, ia berulang kali berusaha untuk mengajak Kania jalan keluar dengannya, namun selalu saja ditolak oleh gadis itu dengan alasan ia sedang malas untuk bepergian keluar. Tentu Aldi tampak kesal karena ia ingin sekali pergi keluar bersama gadisnya itu, walau sebenarnya bicara berdua disana saja sudah cukup menyenangkan bagi Aldi.


Sesudah minumannya habis, Kania sempat berniat untuk masuk ke dalam rumahnya dan mengusir Aldi dari sana, karena ia sudah malas meladeni pria itu dan lebih ingin beristirahat di kamar. Namun, entah mengapa ia agak ragu untuk mengatakan itu karena bagaimanapun Aldi adalah temannya dan ia merasa tidak enak jika mengusir Aldi secara terang-terangan begitu, pastinya akan menyakiti hati Aldi.


"Eee Al..." ucap Kania pelan sembari menatap wajah Aldi dengan senyum tipis di wajahnya.


"Iya sayang, kenapa?" tanya Aldi sambil nyengir.


"Gue mau masuk ke dalam dulu, ya? Lu kalo masih mau disini, yaudah gapapa disini aja. Tapi, kalau misal mau pulang karena udah bosen ya juga gapapa sih pulang aja!" ucap Kania.


"Ohh, kamu jadi mau ngusir aku nih? Jahat banget sih! Masa temen sendiri diusir? Kania sayang, aku kan sekarang lagi dalam proses mendekati kamu. Harusnya kamu tuh mendukung dong, jangan malah menghindar begini!" ucap Aldi terlihat kesal.


"Hah? Enggak kok, gue gak ngusir! Orang gue cuma pengen rebahan di kamar, kalo lu mau disini yaudah gapapa gue gak ngelarang!" ucap Kania.


"Itu sama aja ngusir tau! Ngapain coba aku disini, tapi kamunya malah di dalam? Mending gini aja deh, aku ikut ke dalam sama kamu dan kita lanjut ngobrol disana sambil rebahan, gimana?" ucap Aldi.


Jlebb...


Dengan sekuat tenaga, Kania menginjak kaki Aldi itu sembari melotot ke arah pria di hadapannya.


"Awwhhh... kamu kok injak kaki aku sih?" tanya Aldi sembari merong-merong kesakitan.


"Bodo! Suruh siapa punya pikiran gitu?" ujar Kania.


"Yaelah, apa salahnya sih? Kan aku cuma ajak kamu ngobrol di dalam sambil rebahan, katanya kamu pegal pengen tiduran? Harusnya kamu seneng dong kan aku cowok pengertian, kenapa malah nginjek kaki aku coba?" ucap Aldi masih meringis.


"Haish, dasar cowok gak bener! Kayaknya mending lu deketin si Cat lagi aja deh, kalian kan sama-sama gak bener tuh!" ucap Kania.


"Hah? Darimana sisi gak bener, Kania? Perasaan aku salah mulu deh di mata kamu!" ucap Aldi.


"Ah tau lah! Sekarang terserah lu aja, mau ngapain kek disini gue gak peduli! Gue mau ke kamar dan lu diem aja disini, jangan ikut masuk apalagi nyusul gue!" ucap Kania sambil beranjak dari kursinya.


"Iya sayang, aku pulang deh!" ucap Aldi pasrah.


Aldi pun ikut bangkit bersama dengan Kania, ia meraih tangan gadis itu dan bersalaman sembari mengecup kening Kania tanpa rasa ragu.


Cupp...


"Aku pamit ya?" ucap Aldi.


"Eee iya iya..." jawab Kania agak gugup.


Setelahnya, Aldi pun berbalik lalu melangkah pergi dari rumah Kania itu menuju motornya. Sedangkan Kania tampak terdiam mematung disana memperhatikan kepergian Aldi.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2