Broken Angel

Broken Angel
Episode 300 [SEASON 3]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


...~Kejarlah mimpi setinggi langit, sampai engkau tak bisa lagi melihat daratan! Jangan menyerah seberat apapun masalahmu, tetaplah berusaha untuk bisa menggapai cita-cita mu!~...


...×××...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 44


...•...


...HAPPY READING....🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Keesokan harinya, kabar mengenai meninggalnya Saka sudah sampai ke telinga seluruh warga sekolah SMA panca sakti. Karena itu, para guru serta murid semuanya berkumpul di lapangan untuk mendoakan Saka yang telah berpulang ke Rahmatullah.


Tampak seluruh murid bersedih, mulai dari teman satu angkatan Saka sampai tim Mading serta teman satu kelas pria tersebut. Mereka semua yang berkumpul disana turut mendoakan Saka, mereka juga tak bisa bohong kalau saat ini mereka sangat bersedih setelah kehilangan sosok Saka.


Bahkan Grey yang belakangan ini sangat membenci Saka tampak sangat bersedih, mungkin bisa jadi ia merupakan orang yang paling bersedih diantara murid-murid lainnya disana. Ya Grey sangat menyesal atas apa yang telah ia perbuat pada Saka kemarin semasa hidupnya.


"Grey, lu yang sabar ya! Kita berdua tau pasti lu sedih banget kehilangan Saka, sama kita juga begitu kok!" ucap Kia menenangkan Grey sembari mengusap punggung temannya itu dengan lembut.


"Iya Grey, ikhlasin kepergian Saka! Gue yakin Saka udah bahagia disana!" sahut Zefora.


Grey hanya bisa menangis sesenggukan tanpa mampu berbicara apapun, air matanya terus saja tumpah membasahi wajah hingga seluruh telapak tangannya. Grey ingat betul saat kemarin Saka terus saja mengikutinya kemanapun ia pergi, ia merasa kalau mungkin saja itu adalah firasat Saka.


"Gue nyesel banget udah ngusir lu kemarin! Kalau tau itu adalah saat terakhir gue ngeliat lu, pasti gue gak akan ngelakuin itu dan gue bakal seneng diikutin sama lu kemanapun gue pergi. Saka, lu jangan pergi tinggalin gue dong! Lu harus kembali temuin gue, ayo kejar gue lagi kayak kemarin!" batin Grey.


Sahira dan Lucas yang berada tak jauh dari barisan ketiga gadis itu, merasa kasihan melihat Grey yang amat sangat bersedih. Mereka pun coba menghampiri Grey untuk menghibur gadis tersebut agar tidak terus-terusan menangis.


"Grey..." ucap Sahira pelan sembari menyentuh punggung Grey dari belakang.


Sontak Grey serta kedua temannya menoleh ke arah Sahira, mereka terkejut melihat kehadiran Sahira dan juga Lucas disana.


"Kamu yang sabar ya, Grey! Aku tau ini berat buat kamu, karena Saka pernah menjadi bagian dalam hati kamu dan kalian saling mencintai. Tapi, yang namanya takdir tidak ada yang bisa melawan apalagi menghindarinya. Kamu harus ikhlas, kamu boleh menangis dan luapkan semua kesedihan kamu itu! Tapi ingat, untuk bisa mengikhlaskan dan setelahnya kamu gak boleh lagi menangisi dia!" ucap Sahira.


"Sahira, makasih banyak ya atas supportnya buat sahabat kita ini! Tapi, sekarang Grey masih belum bisa bicara karena dia lagi sedih banget." ucap Kia.


"Gapapa, kalian hibur terus ya sahabat kalian ini! Aku yakin kok, Grey pasti bisa kuat dan gak sedih lagi nanti!" ucap Sahira tersenyum.


"Iya Sahira, pasti kok kalo itu mah!" ucap Kia.


Sahira dan Lucas pun kembali ke barisan mereka, ya saat ini seluruh murid memang berbaris asal tidak sesuai kelas mereka karena pagi ini mereka hanya ingin mendoakan Saka supaya tenang di alam sana bukan melakukan upacara bendera seperti biasa.


Sementara Grey masih terus menangis dan air matanya bertambah deras disana, Kia dan Zefora kesulitan untuk dapat menghibur sahabatnya itu.


"Grey, udah dulu ya nangisnya! Kita kan harus fokus buat doain Saka!" ucap Kia sembari mengusap-usap punggung sahabatnya.


"Iya Grey, kita doakan supaya Saka tenang disana!" sahut Zefora sambil tersenyum.


Akhirnya Grey kembali mengangkat kepalanya dan menatap kedua sohibnya itu secara bergantian, ada raut emosi yang terpampang pada pancaran matanya itu.

__ADS_1


"Gak! Saka itu masih hidup, dia belum meninggal! Saka gak mungkin tinggalin gue, ini semua gak ada gunanya karena dia masih hidup!" ujar Grey.


Grey berontak dari pegangan tangan Kia dan Zefora, lalu berlari keluar dari lapangan tersebut dengan sangat cepat sambil berteriak-teriak memanggil nama Saka.


Kia dan Zefora serta para murid disana pun langsung bergerak mengejar Grey, untungnya mereka semua berhasil menangkap dan menenangkan Grey.


Grey pun dibawa ke UKS oleh mereka.


"Kasihan ya Grey! Dia pasti sedih banget, kan selama ini dia selalu menghindar dari Saka. Walaupun Saka juga terus aja berusaha buat deketin dia, aku jadi gak tega ngeliatnya!" ucap Sahira.


"Sama, aku juga. Jujur, aku sekarang sedih banget karena harus kehilangan sahabat aku itu. Ya biarpun dia udah lama keluar dari wild blood, tapi tetep aja jiwa seorang sahabat gak akan bisa terpisahkan! Saka itu tetap sahabat sejati aku!" ucap Lucas.


Sahira pun menepuk pundak kekasihnya.


"Sabar ya! Nanti pulang sekolah, kita sama-sama datang ke makam Saka dan doain dia disana! Oh ya, pemakamannya jam berapa sih?" ucap Sahira.


"Nanti siang, setelah Dzuhur. Aku dapat info dari anak-anak wild blood yang ikut bantu-bantu di rumah Saka, kita bisa susul mereka nanti!" ucap Lucas sembari menahan kesedihannya.


"Yaudah, sekarang kita lanjut doa yuk!" ucap Sahira tersenyum sembari memegang lengan Lucas.


Lucas hanya mengangguk kemudian tersenyum tipis, mereka pun kembali mengikuti kelangsungan acara tersebut dan mendoakan ketenangan Saka.




Setelah selesai berdoa massal di lapangan, kini seluruh murid telah dibubarkan oleh para guru untuk kembali ke kelas masing-masing dan bersiap memulai pelajaran di jam pertama. Ya walau pastinya akan ada banyak pelajaran kosong hari ini karena suasana tengah dirundung duka, apalagi banyak guru-guru yang pergi ke tempat tinggal Saka.


Lucas dan Sahira pun juga berjalan pergi dari lapangan untuk kembali ke kelas mereka sembari saling merangkul, Sahira terus berusaha menenangkan kekasihnya karena ia tau kalau Lucas pastinya sangat sedih saat ini.


Lucas hanya mengangguk setuju. Lalu, mereka pun melangkah dan duduk disana berdampingan.


Sahira pun meraih kedua tangan Lucas dan menggenggamnya erat, Sahira juga menatap wajah pria tersebut sambil tersenyum manis.


"Aku tau kamu sedih. Karena aku juga pernah kehilangan sahabat seperti kamu," ucap Sahira.


"Hahaha, iya gitu lah. Aku masih gak nyangka aja kalau Saka akan pergi secepat ini, padahal dia masih muda loh. Bahkan dia juga belum lulus sekolah, aku kira masa depannya masih panjang. Eh ternyata Tuhan mengambil nyawanya sekarang, dengan cara yang mengenaskan begitu." ucap Lucas.


"Iya, aku juga gak nyangka. Yaudah ya, kamu jangan sedih lagi sekarang! Ikhlaskan kepergian Saka, jadikan ini pelajaran buat kamu untuk saling memaafkan selagi orang itu masih hidup!" ucap Sahira sembari mengelus tangan kekasihnya.


Tak lama kemudian, Aldi dan Jack muncul disana lalu menghampiri keduanya yang tengah duduk di depan mereka. Aldi dan Jack pun berdiri tepat di hadapan Lucas untuk membicarakan sesuatu.


"Kas, kita nanti juga datang kan ke pemakaman Saka? Gue ngerasa bersalah banget, kalau sampe gak datang kesana dan nemenin Saka ke tempat peristirahatan terakhirnya!" ucap Jack.


"Iya, kalian tenang aja! Gue udah bilang kok sama Bu Meli buat bantu omongin soal ini ke Bu Tantri, gue yakin banget Bu Tantri gak mungkin gak kasih izin buat kita ikut hadir di pemakaman Saka. Tapi, sekarang kalian fokus belajar dulu di kelas!" ucap Lucas.


"Oke deh, kalo gitu ke kelas ya? Kabarin aja nanti kalau udah waktunya kita ke makam Saka!" ucap Jack.


"Santai!"


Setelahnya, Aldi dan Jack pun pergi dari sana menaiki tangga yang ada di dekatnya. Sedangkan Lucas masih tetap disana bersama gadisnya dan kembali menatap wajah cantik Sahira sambil tersenyum manis.


"Sahira, apa kamu gak nyesel udah pernah tolak Saka cuma demi jadian sama aku?" tanya Lucas.


"Hah? Kamu tuh apaan sih? Ngapain coba ajuin pertanyaan yang kayak gitu? Gak bermutu banget tau! Sekarang suasananya tuh lagi berkabung, kamu malah bahas yang udah lewat! Dengar ya, aku gak suka kamu nanya begitu ke aku!" ucap Sahira.

__ADS_1


"Iya iya... aku minta maaf!" ucap Lucas.


"Yaudah, kita sekarang ke kelas yuk! Kalau kelamaan disini bisa-bisa kita kena omel sama guru, kan gak seru dimarahin pas lagi sedih kayak gini!" ucap Sahira.


"Iya, kamu bener." ucap Lucas singkat.


Mereka pun berdiri dengan tangan saling menggenggam, lalu segera menuju ke kelas mereka yang ada di lantai atas.


"Hari ini Saka pergi untuk selamanya, semua orang terdekat bahkan mungkin yang enggak terlalu dekat juga merasakan sedih atas kepergian Saka ini. Semoga kamu tenang disana dan mendapat terbaik, aku disini akan selalu mendoakan kamu!" batin Sahira.


...•••...


Nur masih mencoba menenangkan kekasihnya yakni Alan di taman sekolah, pria tersebut belum dapat berhenti menangis karena kehilangan sosok Saka yang merupakan sahabat terdekatnya dulu.


Nur pun terus memegangi lengan kekasihnya sembari menenangkan Alan yang terus saja menangis tak henti-henti disana. Nur juga terus mengusap punggung Alan dengan lembut sambil tersenyum mencoba untuk menghibur Alan.


"Lan, tenang ya! Kamu jangan sedih terus begini! Aku yakin kamu pasti kuat dan bisa mengikhlaskan kepergian Saka!" ucap Nur.


Alan menoleh ke arah gadisnya itu dengan air mata yang sudah membasahi hampir seluruh wajahnya, bibirnya bergetar saat ia hendak berbicara dan menahan diri agar tidak kembali menangis.


"Sayang, aku gak bisa! Aku bener-bener kehilangan Saka, aku nyesel banget belum sempat baikan sama dia dan temenan lagi sama dia!" ucap Alan.


^^^"Iya aku tau, tapi sekarang kan semua itu udah terlambat. Saka udah terlanjur pergi dan gak mungkin bisa kembali lagi kesini, ikhlaskan aja ya kepergian Saka! Emang penyesalan itu datangnya terlambat, tapi ini bisa kamu jadikan sebagi pelajaran supaya lain kali kamu gak ngelakuin ini lagi semisal kejadian ini terjadi lagi!" ucap Nur.^^^


"Kamu benar. Andai waktu bisa diputar kembali, pasti aku bakal sempatkan diri untuk meminta maaf sama Saka sebelum dia pergi begini. Aku pengen banget bisa sahabatan lagi sama dia, seperti dulu saat kita masih sama-sama gabung wild blood." ucap Alan.


Nur pun tersenyum lalu menempelkan wajahnya pada pundak sang kekasih, Nur terus mengelus lembut punggung Alan bermaksud menenangkan kekasihnya tersebut.


"Udah yuk! Sekarang kita harus balik ke kelas, sebelum ada guru yang lihat kita disini! Nanti kan kamu mau temenin Saka ke tempat peristirahatan terakhir dia, jadi sekarang kamu harus buruan ke kelas buat belajar!" ucap Nur membujuk Alan agar mau pergi ke kelasnya.


"Iya, tapi aku mau ke kamar mandi dulu. Gak enak rasanya kalau aku langsung ke kelas dengan kondisi seperti ini," ucap Alan.


"Iya, aku anterin deh." ucap Nur tersenyum.


Alan mengangguk sambil tersenyum, ia berusaha menghapus air matanya dengan tangan sembari membuka matanya lebar-lebar dan menahan air mata uang masih ingin mengalir.


Nur pun menautkan lengannya pada lengan sang kekasih sembari tersenyum menatap wajah pria di sampingnya itu, barulah mereka melangkah secara bersamaan menuju kamar mandi terdekat untuk sekedar cuci muka membersihkan wajahnya yang dipenuhi air mata.


"Kamu itu lelaki kuat! Aku yakin kamu pasti bisa untuk mengikhlaskan kepergian Saka! Kita ini manusia hanya hidup sementara, mungkin kali ini Saka yang dipanggil. Bisa aja selanjutnya kita, iya kan? Jadi, kamu jangan sedih terus karena Saka pergi tinggalin kita!" ucap Nur.


"Gimana aku gak sedih banget, Nur? Aku ngeliat sendiri kondisi Saka yang meninggal gak wajar, kamu kan juga ngeliat bareng aku kemarin. Aku masih gak terima aja, sahabat aku dibunuh dengan cara seperti itu oleh orang yang aku belum tau siapa! Aku berjanji, aku pasti akan cari orang itu sampai ketemu dan balas semua perbuatannya ke Saka!" ucap Alan.


"Lan, udah dong! Balas dendam bukan cara yang baik! Kamu dengerin aku, mending sekarang kamu fokus doain Saka supaya tenang disana! Jangan dulu pikirin masalah dendam! Lagian kepergian Saka juga udah takdir, mau kamu ngelakuin apa juga Saka sudah meninggal dan gak mungkin kembali! Emang dengan kamu balas dendam, kamu bisa bikin Saka balik kesini? Enggak kan?" ucap Nur.


Alan terdiam memalingkan wajahnya. Ia berpikir apa yang dikatakan Nur ada benarnya, memang ia tak akan mungkin bisa mengembalikan Saka ke bumi dengan membalas dendam.


"Justru kalau kamu balas dendam dan bunuh juga orang yang bunuh Saka, kamu sama jahatnya dengan orang itu! Dengar Alan, kita itu gak berhak memberi hukuman! Serahkan aja semuanya ke pihak berwajib, aku yakin mereka pasti bisa temuin siapa pelaku yang udah lakuin ini ke Saka! Kalau urusan pembalasan, serahkan aja itu ke Tuhan! Karena cuma Tuhan yang berhak memberi pembalasan atas segala perbuatan yang dilakukan manusia selama hidupnya!" ucap Nur.


"Iya, maafin aku sayang!" ucap Alan pelan.


Nur pun mengangguk sembari tersenyum, ia mengelus wajah kekasihnya dan memberi kecupan lembut disana untuk menenangkan hati Alan. Nur sangat mengerti bagaimana perasaan Alan saat ini, apalagi mereka adalah orang pertama yang melihat kondisi tubuh Saka saat tergeletak di jalan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2