Broken Angel

Broken Angel
Part 119


__ADS_3

Melinda,selaku asisten Axel Maureen tentu tau kehidupan pribadi majikannya ini,termasuk alasan di balik sikap Allena yang nakal dan urakan.Gadis yang sedari kecil tak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya,jauh sebelum perceraian itu terjadi,jauh sebelum peristiwa kelam yang menghancurkan masa depan Allena secara perlahan.


Hidup Allena dan keberlangsungan hidupnya memang di jamin dengan segala fasilitas mewah dan lengkap dari orang tuanya.Tapi,dia haus akan kasih sayang.Kasih sayang Allena hanya di dapatkan oleh baby sitter nya,bukan dari ibu kandungnya.


"Sampai hati ibu menyalahkan anak ibu sendiri, padahal dia begitu Karena ulah ibu sendiri".Gumam Melinda,saat telinga nya terus mendengar majikannya menceracau tak jelas,terus menyalahkan anaknya bahkan menyumpahinya.


"Dasar anak sialan,dari dalam kandungan gue rawat dan jaga.Eh pas lahir,gak ngejamin rumah tangga gue dah gede malah semakin menghancurkan kehidupan gue".Gertak Axel,merutuki anaknya sendiri yang tanpa sadar mengutuk anaknya sebagai anak pembawa sial.


Melinda,di luar toilet terus mengucapkan istighfar sembari mengelus dadanya.Anak kandungnya menjadi korban keegoisan orang tuanya,belum lagi dia di jadikan kambing hitam atas kehancuran rumah tangga orang tuanya.


Tak berkaca sekali, seorang Axel Maureen pada kehidupan nya dan segala pengabaian nya terhadap kasih sayang dan cinta yang di harapkan oleh seorang anak.Tak berkaca pada dirinya yang terus sibuk dengan bisnisnya, tanpa melihat kehidupan putri kandungnya.


Napas Axel sampai naik-turun saking dia tak bisa menahan rasa kesalnya terhadap kelakuan anaknya yang menghancurkan reputasinya di hadapan jajaran direksi dan juga ga pemegang saham.


Cap ibu yang buruk begitu melekat sekarang pada diri Axel setelah media sosial mengunggah video Allena yang tengah mengamen.Jelas itu cap yang buruk bagi ibu manapun.

__ADS_1


"Gue harus mencari dia".Ucap Axel, mencengkram pinggiran wastafel dengan erat."Gue harus mencari dia". Sentaknya lagi.


Buru-buru dia membilas mukanya yang tadi sempat merah padam akibat emosi nya yang tiba-tiba naik akibat ulah anaknya.


Setelah di rasa pikirannya kembali tenang,Axel berjalan dengan angkuhnya.Siap mencari anaknya untuk di interogasi dengan membawa seribu pertanyaan.


Klek


Begitu pintu toilet terbuka, alangkah terkejutnya Axel saat mengetahui Melinda tengah berdiri di balik pintu dengan senyum yang di paksakan.


"Selamat siang Bu".Ucap Melinda,yang sama terkejutnya seperti Axel.


"Apa yang loe lakuin disini?".Tanya Axel,penuh selidik.


"Mau ke toilet Bu".Jawab Melinda, memberi alasan.

__ADS_1


"Yakin?".


"Yah".


"Tapi,aku gak yakin".Ucap Axel, melayangkan tatapan tajamnya lagi pada asistennya ini."Kau, mengikuti ku?".


"Hmmm".Melinda, berpikir sejenak.Apa dia harus berkata jujur,atau tidak."Yah".Jawab Melinda, memilih untuk berkata jujur.


Axel bertepuk tangan atas kelakuan asistennya yang mengikutinya bahkan sampai ke toilet pun di ikuti.


"Gak sekalian aja,loe masuk ke dalam?".Ucap Axel, memberikan sindiran halusnya.


Melinda, tersenyum".itu jelas tidak mungkin Bu".Ucap melinda, manis.


"Yah,kirain loe mau sekalian lihat gue b***"".Celetuk Axel.

__ADS_1


"Astaghfirullah".Sahut Melinda,sembari mengelus dada.


Entah mengapa,Melinda merasa bahwa kelakuan Axel semakin kesini malah semakin semena-mena.Setau nya Axel tak pernah berkata hal yang jorok jika sedang emosi.Sepanjang dia menjadi asistennya pun,dia hanya menerima sebuah gertakan saja, bukan di sertai dengan ucapan kotor.


__ADS_2