Broken Angel

Broken Angel
Episode 290 [SEASON 3]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...



...~Cinta Nur pada Alan itu bagaikan kisah kita di dunia nyata, berbeda kasta dan sangat sulit untuk kita bisa bersama atau menyatu~...


...×××...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 34


...•...


...HAPPY READING....🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️...


Sahira, Nur serta Lucas datang ke markas wild blood menemui teman-teman mereka yang lainnya dan juga para guru-guru yang masih mengungsi disana karena badai angin serta serangan Willy itu.


Semua guru serta murid di depan markas itu langsung menyambut mereka bertiga dan tampak senang melihat Lucas dan yang lainnya baik-baik saja tanpa terluka sedikitpun, termasuk tentunya Bu Meli yang merupakan sepupu Lucas.


Sahira juga senang lantaran seluruh teman-temannya selamat dari serangan maut itu.


"Sahira, Nur, Lucas. Syukurlah, kalian baik-baik aja dan gak kenapa-napa! Kami sangat mencemaskan kondisi kalian, soalnya badai angin tadi itu benar-benar dahsyat!" ucap Bu Meli.


"Iya, untung banget kita semua masih bisa selamat dan gak terluka sedikitpun. Walau kita harus mengalami kerugian cukup banyak, karena bangunan sekolah pada hancur gara-gara badai angin itu!" sahut Bu Tantri.


Sahira pun melirik ke arah Lucas lalu menunduk merasa bersalah atas kerusakan itu.


"Eee kalau soal kerusakan di sekolah, kan nanti kita bisa gotong royong buat memperbaikinya secara bersama-sama. Saya yakin kok, pasti kita bisa bikin sekolah jadi seperti semula!" ucap Lucas.


"Benar Bu, semoga aja semua temen-temen juga pada setuju dengan saran dari Lucas! Kalau kita gotong royong kan, pasti semua masalah bisa teratasi walau seberat apapun!" ucap Sahira setuju dengan perkataan kekasihnya.


"Itu dia masalahnya, belum tentu mereka semua mau. Lagipun, untuk memperbaiki kerusakan itu tidaklah cukup hanya dengan bergotong royong! Pasti semuanya butuh biaya yang lumayan besar, kami harus mengumpulkan dana darimana?" ucap Bu Tantri menjelaskan pada Sahira serta Lucas kalau semua itu tidak semudah yang diucapkan.


Sahira kembali menatap ke arah Lucas, ia bingung harus bagaimana saat ini.


"Eee untuk masalah dana, kita bisa patungan atau minta sumbangan pada warga-warga sekitar sekolah dan siapa tau juga nantinya ada relawan yang bersedia membantu kita untuk memperbaiki sekolah!" ucap Lucas.


"Iya kamu benar, yasudah nanti biar ibu sama yang lain pikirin soal itu. Sekarang sepertinya angin sudah reda, kita bisa kembali ke sekolah dan mengambil barang-barang yang tertinggal disana! Tapi, tentu saja harus dengan berhati-hati!" ucap Bu Tantri.


"Iya Bu, kalau begitu biar saya yang kasih tau orang-orang di dalam. Ibu sama yang lain, lanjut jalan ke sekolah lebih dulu aja!" ucap Lucas.


"Oke, mari Bu Meli!" ucap Bu Tantri mengajak Bu Meli untuk segera pergi dari sana menuju ke sekolahan.


Bu Meli pun mengangguk setuju, lalu mereka berdua jalan beriringan diikuti juga oleh pak Johan dan beberapa guru serta staf sekolah lainnya.


Sementara Lucas kini masuk ke markas untuk memberitahu para murid disana, ia juga pergi bersama Sahira serta Nur.


Lucas menghampiri Valen lebih dulu yang tengah duduk di dekat pintu masuk.


"Bang, semuanya aman kan?" tanya Lucas singkat.


"Santai aja! Mereka semua aman kok, lagian Willy sama gengnya itu gak mungkin berani nyerang kesini karena mereka pasti ketar-ketir!" jawab Valen.


"Iya tuh, mereka semua nyalinya pada kecil dan cemen! Gak mungkin mereka berani datang kesini, apalagi sekarang jumlah kita makin banyak!" sahut Bryan sambil menenggak minumannya.


"Bagus deh, kalo gitu gue mau masuk ke dalam dulu. Ada perintah dari Bu Tantri buat suruh semua murid balik ke sekolah dan ambil barang-barang mereka," ucap Lucas meminta izin pada Valen.


"Oh, silahkan!" ucap Valen.


Lucas pun masuk ke dalam bersama Sahira dan juga Nur.


__ADS_1



Saat di dalam, Lucas pun mulai memberitahu pada seluruh murid yang ada disana untuk segera kembali ke sekolah dan mengambil barang-barang mereka.


Sementara Sahira serta Nur kini tengah bersama sahabat mereka yakni Kania dan yang lainnya, mereka tampak senang dapat bertemu kembali setelah badai angin hampir saja memisahkan mereka dan membuat mereka sangat ketakutan.


"Sahira, Nur. Gue pikir kalian kenapa-napa loh! Soalnya kalian gak kelihatan daritadi disini, tapi syukur deh kalian ternyata baik-baik aja!" ucap Diandra cemas sekaligus panik.


Sahira dan Nur pun tersenyum.


"Iya, kita juga khawatir banget sama kalian! Badai angin tadi bener-bener bikin kita kalap dan hampir aja kehilangan nyawa," ucap Sahira.


"Emang kalian kemana aja sih daritadi? Kenapa kalian gak ngikutin kita buat kabur keluar? Kan kalau terjadi sesuatu sama kalian, bisa bahaya banget! Apalagi angin tadi itu kencengnya bukan main loh, bangunan aja pada runtuh sama pohon juga gara-gara angin itu!" ucap Tasya.


"Hooh, harusnya kalian tuh ikut sama kita! Kan kalo disini aman tadi, ada my future love yayang Daffa sama temen-temennya yang bisa jagain kita!" sahut Diandra sambil menatap pria yang disukainya itu.


"Ish, lu mah yayang Daffa mulu yang dipikirin!" cibir Andini.


"Ahaha, kalian gausah cemas guys! Intinya kan sekarang kita udah pada gak kenapa-napa nih, dan kondisi juga udah aman. Jadi, mending sekarang kita balik aja ke sekolah ikut sama yang lain sesuai perintah dari Bu Tantri!" ucap Sahira.


"Iya tuh, sebelum kita dimarahin sama Bu Tantri." sahut Nur menyetujui perkataan Sahira.


"Yaudah iya, tapi bentar gue mau perpisahan dulu sama yayang Daffa dan bilang makasih juga sama dia karena udah mau bantu kita." ucap Diandra.


"Sama, gue juga mau bilang makasih ke Geri." sahut Tasya sambil tersenyum.


"Terserah kalian aja! Nanti kita tunggu di depan, ya? Yuk guys yang gak ada ayang, kita duluan ke sekolahnya supaya gak terlambat!" ucap Sahira.


"Loh Sahi kan lu ada Lucas?" tanya Andini.


"Ya iya sih, tapi biarin lah dia sama temen-temennya. Lagian gue juga pengen bareng sama kalian kok, udah yuk kita jalan bareng-bareng!" jawab Sahira sambil tersenyum.


"Gas!" ucap Tiara dan Andini bersamaan.


Mereka berempat pun jalan lebih dulu menuju sekolah mengikuti yang lainnya, sedangkan Diandra serta Tasya hendak berpamitan lebih dulu pada dua cowok yang mereka sukai sekaligus mengucapkan terimakasih atas bantuan kedua cowok itu.


"Guys, Alhamdulillah banget ya kita masih diberi kesempatan untuk bisa bersama-sama lagi kayak gini! Tadinya gue pikir kita gak akan mungkin begini lagi, tapi ternyata Tuhan berkata lain!" ucap Sahira.


"Iya benar, gue bersyukur banget masih bisa bernafas sampai detik ini!" sahut Tiara.


"Yaudah, kalo gitu sekarang kita harus sama-sama berjanji buat selalu bersama apapun yang terjadi nantinya! Oke?" ucap Sahira.


"Iya dong, harus!" ucap Nur.


"Setuju!" sahut Tiara dan Andini.


...•••...


Disaat yang lain sudah berbondong-bondong keluar lalu kembali menuju sekolah, Kania justru masih tertahan di markas wild blood bersama Aldi yang memang ingin berbicara lebih dulu disana dengan Kania selagi ada waktu.


Aldi sampai rela mengendap-endap melewati Valen yang berjaga di depan, demi bisa menemui Kania lalu mengobrol dengan gadis yang ia cintai itu.


"Aldi, ada apa sih? Lu mau ngomong apa sama gue? Emangnya gak bisa ditunda dulu apa? Sampe lu harus ajak gue ke belakang tempat ini," tanya Kania penasaran.


"Ssshhh! Jangan berisik! Nanti abang kamu sama yang lain bisa denger, terus kita gagal deh berduaan disini." ucap Aldi sembari menempelkan jari telunjuk pada bibirnya.


"Haish, yaudah lu mau ngobrol apa?" tanya Kania.


"Eee sebenarnya gak ada apa-apa sih, aku cuma pengen berduaan aja sama kamu selagi masih ada waktu. Soalnya daritadi aku pengen begitu gabisa terus, kehalang sama abang kamu yang posesif itu!" jawab Aldi sambil tersenyum.


"Ya ampun, jadi lu tarik-tarik dan paksa gue kesini cuma buat pengen berduaan sama gue?" ujar Kania.


"Iya, maaf banget ya cantik! Habisnya aku agak kesel sama abang kamu, masa kita cuma berduaan kayak gini aja dilarang sih? Gimana kita bisa tambah deket coba kalo dilarang terus begini?" ujar Aldi.


"Haish, ada-ada aja lu ah! Kalo gitu udah sekarang kita keluar lagi ya? Gue gak mau kak Valen tau dan lu bakal dimarahin nanti, mending kita langsung keluar sekarang sebelum kak Valen duluan yang temuin kita! Gue yakin banget dia pasti sadar kalau gue belum keluar dan bakal nyari kita!" ucap Kania.


"Hah? Masa iya aku harus keluar lagi setelah bersusah payah untuk berduaan sama kamu disini? Gak, aku gak mau!" ujar Aldi.

__ADS_1


"Aldi, lu dengerin gue dong! Sekarang kan kita udah nih berduaan nya, jadi mendingan kita tuh langsung keluar ke depan susul yang lain! Lagian juga gue takut Bu Tantri nanti marah kalo tau kita berdua belum ada disana, kan lu tau sendiri Bu Tantri kalo udah marah tuh kayak gimana! Bisa-bisa lebih bahaya dari badai angin tadi!" ucap Kania.


Aldi terdiam sembari menggaruk keningnya.


"Ayolah, kali ini aja lu nurut sama gue gitu! Bukan apa-apa, gue cuma gak mau kak Valen malah marahin lu nantinya kalau tau kita masih disini! Nanti kan kita masih bisa berduaan lagi, untuk sekarang kita kembali dulu ke sekolah ya?" bujuk Kania.


Akhirnya Aldi pun luluh dengan rayuan Kania, ia mau pergi dari sana menyusul teman-teman yang lain.


"Yaudah iya, aku mau ngikutin ucapan kamu deh. Kita keluar sekarang, tapi kamu harus janji kalau nanti kita bakal berduaan lagi dan kamu gak boleh nolak pas aku tagih janji kamu!" ucap Aldi.


"Iya iya, terserah lu aja!" ujar Kania pasrah.


Aldi pun tersenyum lalu merangkul pundak Kania dan mengajak gadis itu keluar dari sana.


Akan tetapi, mereka justru berpapasan dengan Valen yang juga tengah mencari keberadaan adiknya.


"Kania, jadi lu disini!" ujar Valen tampak emosi.


Sontak Kania langsung menganga lebar, begitu juga dengan Aldi yang ada di sampingnya.


...•••...


Disisi lain, Willy beserta para anggota the darks tampak mengamuk di markas mereka sendiri dan menghancurkan semua barang yang ada disana tanpa terkecuali.


Dans menjadi yang paling emosi karena gagal mengalahkan anak-anak wild blood maupun Valen yang juga datang membantu, bahkan ia harus menerima kekalahan cukup cepat dari Valen dan tak berdaya dibuatnya.


Tak hanya Dans, Putra sang adik juga tampak kesal karena rencana mereka kali ini gagal.


"Aaarrgghh, sial! Semuanya gagal! Kemenangan yang udah di depan mata sirna gitu aja, cuma karena kedatangan orang sok jagoan itu!" teriak Putra dengan sangat emosi.


Willy menoleh ke arah Putra dengan sorotan tajam.


"Putra, asal lu tau aja ya rencana kita semua gagal itu karena lu! Penyebab utama kegagalan kita ini, ya itu karena kelalaian lu!" ujar Willy.


"Apa? Lu bilang gue penyebab kekalahan kita? Lu gak ngaca apa gimana sih? Mikir dong! Siapa yang terlalu lama nimang-nimang buat enggak hajar Lucas, siapa ha? Elu kan, bukan gua!!" ujar Putra.


"Heh! Kalo lu gak kebanyakan gaya, kita juga gak bakal kalah men!" ucap Willy.


Melihat kedua pria itu ribut, Dans pun turun tangan.


"Woi! Udah udah! Ini kenapa malah jadi pada saling menyalahkan sih? Kalian tuh harusnya introspeksi diri sendiri, sadari apa yang kurang dari kalian! Bukannya malah saling nyalah-nyalahin kayak gitu, gak akan ada gunanya!" bentak Dans.


"Ya dia tuh bang! Bisa-bisanya dia malah nuduh gue penyebab kekalahan kita, padahal dia sendiri yang terlalu lemah!" ujar Putra.


"Heh! Gausah ngada-ngada lu! Udah jelas kalau semua kekalahan ini itu gara-gara lu! Bang, seharusnya lu gak ajak bocah ingusan ini buat gabung ke geng kita dan serang anak wild blood! Karena dia gak bisa apa-apa...!!" ujar Willy.


"Kurang ajar! Gue robek mulut lu, bangsat!" Putra emosi lalu coba untuk menyerang Willy.


Namun, Alves serta para anggota the darks lainnya langsung bergerak cepat menahan Putra agar tidak terjadi keributan disana.


Dans pun menatap ke arah Willy untuk tidak ikut menyerang adiknya juga.


Alves bersama yang lainnya pun membawa Putra untuk menjauh dari Willy, mereka tak ingin ada perkelahian antar sesama anggota karena itu akan membuat mereka menjadi lemah.


Sementara Dans kini menghampiri Willy.


"Wil, gue tau lu emosi karena kita kalah. Tapi, gak seharusnya lu nyalahin orang lain kayak gitu apalagi sampai ribut sama dia! Kita ini satu geng dan kita udah berkomitmen untuk saling menjaga satu sama lain, gimana kita bisa lakuin itu kalau lu aja malah nyalahin temen geng lu sendiri?" ucap Dans.


Willy hanya diam, ia tidak tau harus berbicara apa lagi untuk saat ini.


"Oke gua minta maaf, gue gak nyangka kalau ternyata wild blood punya backingan yang sejago itu dan gue gak berdaya ngelawan dia. Tapi, lu tenang aja karena kita belum sepenuhnya kalah dan kita masih punya banyak kesempatan untuk serang mereka lagi!" ucap Dans sembari menepuk pundak Willy lalu tersenyum.


Setelah berbicara pada Willy, Dans pun pergi begitu saja meninggalkannya untuk menemui Putra.


Sementara Willy masih tetap disana terbengong memikirkan perkataan yang diucapkan Dans kepadanya barusan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2