
Tubuh Allena ambruk tak kuat menahan efek dari obat pil ekstasi,belum lagi allena mengonsumsinya dalam keadaan perut kosong.Sontak saja,itu membuat kerumunan orang-orang mendekat kearah tubuhnya.Mencari tau tentang kebenaran sebelum pada akhirnya Allena kembali di larikan ke rumah sakit oleh seorang pria yang kebetulan mengenalinya.
"Cepat bawa ke mobil ku,aku kenal dengan orang nya". Perintah pria itu pada kerumunan orang-orang.
Dengan sigap tubuh Allena di gotong ke dalam mobil seorang pria yang mengaku mengenal dirinya.
Pria itu tak kalah panik dan cemas, mengetahui Allena jatuh pingsan di keramaian.
"Mar,cepat loe susul gue ke rumah sakit sehat Medika". Perintah pria itu lagi pada pria di sebrang sana.
Tanpa menunggu Jawaban dari pihak lawan bicaranya,pria itu langsung tancap gas menuju ke rumah sakit dengan membawa seorang wanita yang tak sadarkan diri.
Di dalam mobil pun,pria itu tak henti-hentinya menoleh kearah belakang melalui kaca spion tempat Allena di baringkan.
Harap-harap cemas dia bertanya-tanya dalam dirinya sendiri, tentang keadaan wanita yang selama ini dia cari tapi begitu di temukan kondisinya amat memilukan.
"Kenapa jadi seperti ini sih?". Tanya pria itu,sembari menoleh kearah belakang.
__ADS_1
Tak membutuhkan waktu lama bagi dia untuk sampai ke rumah sakit tujuan karena dia berkendara dengan kecepatan tinggi, kebetulan jalan pun sepi sehingga dia bisa bebas berlenggang,membelah jalanan seperti alam pun tau dia sedang dalam keadaan darurat.
Begitu sampai di rumah sakit,dia langsung mengendong tubuh Allena, membawanya ke dalam sebelum pada akhirnya tubuh Allena di baringkan diatas ranjang.
"Cepat tangani pasien ini dan berikan perawatan yang terbaik". Perintah pria ini lagi, seakan tidak mempermasalahkan biaya nya.
Petugas medis yang berjaga, mengangguk setuju dengan langkah lebar cepat juga mereka mendorong brankar itu ke ruangan yang di tuju.
Lagi,pria itu tak henti-hentinya mencemaskan wanita yang terbaring lemah diatas brankar tersebut.Hatinya bertanya-tanya,cemas tak menentu.
Pikirannya menerawang kemana-mana tak menentu,juga tak menyangka akan kejadian yang menimpa wanita yang di carinya.Gadis kecilnya harus di larikan lagi ke rumah sakit dengan keadaan dan kondisi yang berbeda.
"Tapi_".Belum sempat pria itu melayangkan protes,pintu telah di tutup paksa.
"Padahal kan gue mencemaskan dia".Gerutu pria itu.
Mau tak mau dia harus menunggu di luar tanpa di perkenankan untuk masuk ke dalam, dengan perasaan cemas bercampur khawatir.Dia pada akhirnya harus menunggu di luar.
__ADS_1
Sembari menunggu dia, menelpon beberapa kolega bisnis nya,bilang minta maaf karena dia tidak bisa mengikuti meeting dadakan di karena kan suatu alasan.
"Rey".Teriak pria di belakang nya.
Yah,pria yang membawa Allena ke rumah sakit tak lain dan tak bukan adalah rey.Dia secara kebetulan ada di tempat dimana Allena di temukan dalam keadaan pingsan.Seakan takdir mempertemukan mereka kembali.Namun,dalam keadaan yang berbeda.
"Pelototan tajam dia berikan untuk sahabat nya sekaligus bawahnya."Pelankan suara mu,bodoh.Ini bukan hutan yang bisa kau teriak seenaknya seperti Tarzan memanggil antek-anteknya ".Gertak Rey.
Pria yang mendapatkan pelototan tajam adalah marga.Dia hanya menyengir kuda saja."Hehe sorry,gue kira sama.".Sahur marga dengan santainya.
Rey, mendekat kearah marga."Maksud loe,gue antek-antek loe?".Tanya Rey.
"Heem".
Rey, menoyor kepala marga."Seenaknya loe,ngatain gue antek-antek loe ".Ucap marga tak terima.
Keributan dari dua pria ini ternyata membuat kegaduhan dan orang-orang di sekitarnya merasa terganggu.
__ADS_1
"Kalau mau ribut,gak usah disini".Ucap seorang ibu yang merasa terganggu akibat keributan yang di ciptakan oleh Rey dan marga.
"Maaf ". Hanya satu kata itu saja yang terucap dari bibir Rey, itu pun dengan terpaksa karena dia tak biasa meminta maaf, biasanya dia yang menerima sebuah peminta maafan dari orang lain.