
Di saat Rey,hendak menunaikan janjinya.Janji yang dia ingat dalam hati namun tak pernah terucapkan oleh lisannya.Di saat itu pula,Allena tengah menatap bintang-bintang malam yang bersinar begitu terang.Tapi,tidak dengan hati dan jalan hidupnya.
Bagaimana lah tidak,jika sejak kecil Allena harus menderita karena sebuah perceraian orang tuanya.Memaksanya tumbuh dewasa sebelum waktunya,kuat dalam menghadapi segala macam tekanan dan ujian hidup.
Malam ini,allena tengah menatap bintang di langit-langit malam,dia berada di antara pepohonan rindang, tempat nya menumpahkan segala keluh kesah, tempat nya dia bertemu dengan seorang remaja pria yang telah memberikan sebuah benda yang amat berguna baginya.
Benda itu kini telah hancur.Di hancurkan oleh seorang pria baru di kenalnya sebagai gurunya,pria yang tanpa ampun menyiksa batinnya dan dia pula yang menyebabkan kehancuran bagi masa depannya.
Allena, menatap cahaya bintang, seperti merindukan seseorang di masa lalunya,pria pemilik senyuman termanis nya dan pria yang telah mendengar keluh kesahnya.
"Dimanakah kau berada?".Tanya allena,pada udara kosong.Entah mengapa dia merindukan pria di masa lalunya.
Allena mengangkat tangannya ke udara seperti hendak meraih bintang-bintang yang amat cantik dan indah.Bersinar memberikan penerangan di gelapnya malam.
"Andai aku punya sayap,ingin rasanya ku terbang ke bumi".Allena menyenandungkan lagu-lagu lawas, seakan dia ingin terbang dengan membawa luka di hatinya.
__ADS_1
Hidup Allena seperti tak di inginkan oleh orangtuanya,hidup nya seperti menggantung diantara sebuah harapan.
Lama Allena, mengangkat tangannya ke udara, seperti memberi kode pada bintang-bintang malam untuk membawanya ikut serta ke langit, meninggalkan kehidupan nya di bumi, meninggalkan segala luka hati dan kesedihan.
Perlahan Allena menurunkan tangannya ke bawah,pegal rasanya dia terus mengangkat tangannya ke langit-langit malam.
Dia kembali duduk selonjoran bersandarkan pohon rindang.Dia tutup mata nya secara perlahan, membayangkan pria di masa lalunya datang menghampiri.Memberikan sebuah hiburan dan kata-kata manisnya, seperti yang dulu pernah dia lakukan.
Dalam keadaan mata tertutup, dapat Allena membayangkan pria di masa lalunya, senyuman,tutur katanya dan perawakannya.Perlahan tapi pasti bayangan itu berubah menjadi wujud rupa Rey,guru yang di bencinya.
"Tidak mungkin dia kan?".Tanya allena, terengah-engah mengatur napasnya.
Dia bangkit berdiri,bermaksud untuk meninggalkan taman kota, tempat pepohonan rindang tumbuh sekaligus tempat pertemuan nya dengan seorang remaja pria.
Allena berjalan dengan gontai, pikiran nya terus menerka-nerka tentang kemungkinan-kemungkinan tentang remaja pria itu adalah memang benar adalah seorang Reynaldi Kenzo Pratama.
__ADS_1
"Tidak..tidak..tidak".Berulang kali juga Allena menepis tentang pikiran nya yang entah kenapa harus mengarah pada sosok Rey.
"Kalau pun iya juga,gak mungkin kan dia sampai gak mengenali ku?".Sepanjang perjalanan Allena terus membantah,tapi terkadang logikanya berkhianat dengan membenarkan praduga nya.
Tak jauh dari posisi Allena,marga dengan setia mengikuti langkah kaki allena.Memsng bukan menjadi tugasnya untuk mengawasi Allena tapi instingnya mengatakan jika rey,tidak mungkin bisa menepati janjinya mengingat kesibukan demi kesibukan yang membuat nya terlupa akan sebuah janji pada gadis kecilnya.
"Sudah ku duga,bocah tengil itu pasti sibuk dengan urusan bisnisnya".Gumam marga, diantara langkah kakinya.
Yah,marga sudah sejak dari tadi menguntit Allena bak seekor singa tengah mengintai kijang buruannya,bak seperti agen yang menguntit target nya.Marga dengan setia mengikuti langkah kaki allena,termasuk dia mengamati raut wajah Allena.
"Lihat Rey,gadis kecil mu tengah berjalan dengan gontai nya akibat memikirkan mu".Gumam marga lagi, rasanya dia tak tega melihat keadaan allena yang tanpa sengaja memikirkan rey.
Dapat dia dengar suara teriakan Allena yang membantah bahwa remaja pria itu adalah Rey.Dapat dia dengar juga senandung rindu Allena terhadap pria di masa lalunya yang tak lain dan tak bukan adalah Reynaldi Kenzo Pratama.
Tapi,yang membuat marga bingung adalah saat Allena mengucapkan sebuah penolakan akan pemikiran nya sendiri yang seperti membenci Rey nya.Rey nya yang telah memberikan senyum termanisnya dan juga orang yang pertama mendengar cerita nya.
__ADS_1