
Hari ini Allena menggenakan kaos putih di padu padankan dengan kemeja kotak-kotak,celana jeans dan sepatu sport.Semua style baju nya di pilihkan langsung oleh Rey sendiri tanpa sadar bajunya sama dengan yang di kenakan oleh Rey.
Pandai betul seorang Reynaldi Kenzo Pratama yang memilihkan baju couple layaknya sepasang kekasih atau sepasang suami-istri di tempat wisata pula.
Tentu,Allena tidak menyadari style yang dia gunakan sama persis seperti Rey hanya versi wanita nya saja yang membuat dia berbeda dengan Rey.
Dia dengan percaya dirinya bercermin dengan terus-menerus melihat penampilan dirinya dari atas sampai bawah seperti menunjukkan dia wanita tomboi.Agak berbeda dengan penampilan dia yang sebelum-sebelumnya meski dia juga sempat menggunakan baju dan celana bak wanita tomboi saat dia hidup di jalanan tapi kali ini rasanya berbeda.
"Wih ternyata gue ini cantik yah?".Ucap Allena,memuji diri sendiri.
"Mau sampai kapan bercermin terus?,mau sampai kiamat".
Suara pria yang tak asing dan selalu ada di setiap pergerakannya.Lagi-lagi mengganggu kesenangannya,di mulai dari waktu tidurnya,berjemur,mandi bahkan sekarang dia ingin memuji diri sendiri pun mendapatkan sebuah gangguan dari manusia berhati iblis.
Allena melipat mukanya, mengeluhkan sikap protektif Rey yang begitu menganggu hidupnya."Bisa gak sih loe gak ganggu hidup gue terus?".Keluh Allena.
"Tidak bisa".Sahut Rey,sembari merangkul pundak Allena."Anggap saja ini balasan dari gue karena dulu loe udah membuat gue jatuh dari motor sampai dua kali ".
__ADS_1
Deg
Allena seakan tersadar kembali dari peristiwa yang tak lama dia alami, tentang pertemuan nya dengan sang guru baru dan muda yang dia kira suhu dan culun seperti guru-guru lainnya.Tapi, ternyata guru satu ini berbeda bahkan sekarang tetap masih bersamanya.
"Kau masih mengajar?" .Tanya allena,menoleh pada Rey,yang berdiri amat dekat dengan nya.
Rey, menggelengkan kepala."No".
"Why?".
"Because of you".Sahut Rey,tersenyum manis, menampakkan lesung pipi di sebuah kiri nya.
Sebenarnya dia juga memiliki lesung pipi hampir sama seperti rey.Itu pula yang menjadi alasan Allena terpesona dengan senyum manis rey, pikiran nya entah mengapa bahwa dialah jodoh nya.
'Kita berjodoh dengan orang yang mirip dengan kita '.Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di dalam benak Allena.
"Tidak".Teriak Allena,sembari menutup kedua telinganya dengan kedua tangan nya.
__ADS_1
Begitupun dengan Rey,dia juga menutup telinganya dengan kedua tangan nya tatkala Allena tiba-tiba berteriak tepat di dekat telinga nya.
"Bisa gak pagi-pagi gak usah berteriak?".
"Loe,yang mulai bego".Sahut Allena,sembari berusaha menjauh dari rey.
Dengan sigap Rey, menangkap tubuh munggil Allena.Mensedekap nya dalam pelukan hangatnya."Loe,jangan coba-coba lari dari gue".Ucap Rey,berbisik di telinga allena.
'Di pikir gue malu lari gitu?'.Gumam Allena,membatin.
Rey,memeluk tubuh Allena,mencari kehangatan tubuh pada diri Allena di tengah cuaca dingin dan tak bersahabat baginya.Tentu,bukan Allena saja yang merasa kedinginan.Dia pun juga sama,merasa kedinginan.
"Biarkan aku memeluk mu, sebentar saja".Ucap rey,sembari menutup matanya.Merasakan kehangatan tubuh pada Allena.
Ingin rasanya allena,mendorong tubuh Rey.Menyingkir dari pelukannya,tapi urung dia lakukan.Rasanya tak tega harus mengakhiri sebuah pelukan yang dia tahu Rey sengaja memeluknya karena merasa kedinginan,sama seperti dirinya.
Ibaratnya simbiosis mutualisme.Saling menguntungkan satu sama lain,mencari kehangatan diantara keduanya di tengah cuaca dingin.
__ADS_1
Allena dan Rey, keduanya tanpa sadar hanyut dalam kehangatan tubuh yang berusaha di salurkan diantara keduanya.Memang benar lah,wilayah ini amat lah dingin untuk orang yang terbiasa hidup di tengah kebisingan dan panasnya udara serta padatnya populasi manusia.