
...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...
..."BROKEN ANGEL"...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
...~Lebih baik merasa dicintai dan sakit hati, daripada tidak dicintai sama sekali~...
...×××...
...~Tak ada satupun di dunia ini yang bisa mengalahkan tulusnya kasih sayang seorang ibu~...
...×××...
...~Aku anak tangguh, suka minum susu~...
...×××...
#BROKEN ANGEL S3 EPS. 40
...•...
...HAPPY READING...🎉🎉🎉...
...❤️❤️❤️❤️...
Sahira dan Lucas kini menghampiri April yang ada disana, keduanya tampak cemas serta penasaran apa yang menjadi penyebab mengapa April sampai bersedih seperti itu. Sahira yang merupakan seorang wanita juga dan tentunya teman sebangku April, duduk di sampingnya sembari menatap gadis itu.
Sementara Lucas tetap berdiri dengan wajah tertunduk menyaksikan kedua gadis itu saling pandang.
April sedikit terkejut ketika ada Sahira serta Lucas di dekatnya, gadis itu membuka wajahnya dan menatap kedua orang yang ada di hadapannya itu. April pun menghapus air mata yang membasahi pipinya itu, ia tak ingin ketahuan oleh Sahira maupun Lucas kalau ia sedang menangis karena habis di-bully oleh teman sekelas serta yang lainnya.
"Kalian mau apa?" tanya April cemas mengira jika Sahira serta Lucas akan mengejeknya seperti teman-temannya yang lain.
"Kamu tenang dulu! Kita disini bukan mau katain atau ngejek kamu kok, justru kita mau coba hibur kamu supaya enggak menangis. Aku juga tau kalau apa yang dilakukan Willy kemarin, itu gak ada hubungannya dengan kamu!" ucap Sahira.
"Tapi, mereka semua pada kucilin aku. Mereka gak mau lagi berteman sama aku, karena aku ini adik bang Willy." ucap April.
"Tenang aja! Aku dan Lucas gak begitu kok, aku tau kalau kamu beda sama Willy. Kamu emang adiknya dia, tapi sikap kamu dan dia itu berbeda seratus delapan puluh derajat!" ucap Sahira.
"Iya April, lu gausah takut! Ada kita disini yang backing lu kok, biar kita hadapi bersama mereka yang kucilin lu itu!" sahut Lucas yang kini juga ikut membela April seperti kekasihnya.
"Makasih, Sahira Lucas!" ucap April.
"Sama-sama, yaudah yuk kita bangkit! Kita pergi ke kelas bareng-bareng! Sebentar lagi juga bel, udah yuk jangan sedih!" ucap Sahira.
"Iya, makasih Sahira! Kamu emang baik! Harusnya aku berusaha bantu kamu kemarin, maaf banget karena aku justru gak berdaya ngelawan abang aku!" ucap April menyesal.
"Santai! Aku juga gak salahin kamu kok, kita kan teman!" ucap Sahira tersenyum.
April pun membalas senyuman Sahira kemudian bangkit dengan bantuan tangan gadis itu, kini keduanya telah berdiri dan bersiap untuk pergi.
"Yuk jalan!" ucap Sahira memegang punggung April.
April mengangguk pelan lalu mulai melangkahkan kakinya sejajar dengan Sahira, Lucas yang ada disana juga ikut pergi mengikuti kedua gadis itu dari belakang sambil senyum-senyum.
Sahira masih tampak menenangkan April agar tidak malu lagi untuk pergi ke kelasnya.
"Kamu tenang ya! Kalau misal ada yang ngatain kamu atau ngejek kamu karena kamu adiknya Willy lagi, pasti aku bakal bela kamu kok! Sekarang kamu gausah takut lagi, ada aku disini sama Lucas juga!" ucap Sahira coba meyakinkan temannya itu.
"Iya, makasih ya!" ucap April.
Disaat mereka mulai memasuki lorong sekolah, cibiran serta gunjingan dari orang-orang disana mulai terdengar di telinga ketiganya. April ditenangkan oleh Sahira agar tidak mendengarkan itu semua.
"Sabar ya! Aku yakin kamu bisa tutup kuping, jangan dengerin kata-kata mereka!" ucap Sahira.
__ADS_1
"Iya, aku lagi coba untuk itu." ucap April.
Lucas yang ada di belakang kedua gadis itu coba untuk menghentikan gunjingan yang ditujukan kepada April itu dengan melotot ke arah mereka semua dan tentu saja orang-orang disana langsung memalingkan wajah mereka lalu berhenti berucap.
...•••...
Sementara itu, Alan tampak kebingungan karena ia berada di rooftop sekolah bersama kekasihnya. Alan pun coba bertanya kepada Nur tentang apa yang tengah mereka lakukan disana, ya Alan tak bisa mengingat apa yang sebenarnya ia tengah lakukan disana bersama Nur.
"Sayang, kita lagi ngapain disini?" tanya Alan dengan ekspresi linglung nya.
Nur pun terkekeh kecil sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan, Nur memang merasa gemas saat melihat ekspresi Alan setelah ia selesai mengambil ingatan pria tersebut tentang identitas aslinya.
"Kok ketawa? Apanya yang lucu?" tanya Alan lagi.
"Ahaha, gak ada kok. Kita kan kesini tadi karena kamu yang ajak aku, masa kamu lupa sih?" ucap Nur menjawab sembari menahan tawanya.
"Oh, emang ya? Terus aku ngapain ajak kamu? Aku serius nih gak inget apa-apa, aku juga bingung kenapa aku ajak kamu disini?" ucap Alan kebingungan sembari menggaruk kepalanya.
"Haduh, kamu gimana sih? Kan tadi katanya kamu mau ajak aku menikmati keindahan di sekolah ini, terus mau ngobrol-ngobrol kecil sama aku! Apa sekarang kamu udah inget, sayang?" ucap Nur.
"Yang benar? Waw kalo gitu ayo lah kita ngobrol!" ucap Alan langsung tersenyum.
"Gak bisa dong," ucap Nur tersenyum.
"Loh kenapa? Kamu gak mau ngobrol sama aku?" tanya Alan terheran-heran.
"Bukan gitu, kan sekarang ini udah mau bel. Kita harus balik ke kelas! Lagian, kan tadi kita udah ngobrol lumayan lama loh. Sampai kamu tiba-tiba diem terus gak jelas gitu, eh tau-tau malah nanya ke aku kita lagi ngapain." jawab Nur menjelaskan.
"Yaudah, tapi serius loh aku gak ingat apa-apa. Aku juga gak tau kita ngobrolin apa aja tadi, tapi gapapa deh yuk kita ke kelas!" ucap Alan.
"Iya, udah kamu gausah mikirin itu lagi! Kita juga tadi cuma ngobrol biasa aja kok, gak ada yang penting! Ya cuman bagi aku itu menarik kok, karena aku ngobrolnya sama kamu!" ucap Nur tersenyum.
"Aduh, aku digombalin sama pacarku nih." ucap Alan senyum-senyum.
"Ahaha, ya iya dong. Kan kamu udah sering gombalin aku, sekarang gantian aku yang gombalin kamu! Jadi biar pas aja gitu, iya kan?" ucap Nur.
"Kamu juga ganteng kok. Udah yuk, aku takut keburu bel terus kita malah telat masuk kelas! Kan gak lucu yang tadinya momen romantis, eh malah jadi dihukum sama Bu Tantri." ucap Nur.
"Haha, iya juga. Yaudah yuk!" ujar Alan.
Alan pun menggandeng tangan gadisnya sembari mengusap rambut depan Nur dengan jarinya, barulah mereka berdua jalan menuruni tangga dan pergi dari tempat yang banyak angin itu, Nur tampak gembira serta merasa aman karena sudah berhasil menghapus ingatan kekasihnya sehingga ia kini tidak perlu khawatir lagi akan hukuman sang ratu padanya.
"Maaf ya, Alan! Aku gak mau kamu tau soal itu sekarang, karena waktu aku di bumi masih panjang." gumam Nur dalam hatinya sambil tersenyum.
Nur yang tengah gembira sampai menaruh wajahnya di bahu sang kekasih, tentu Alan tampak heran namun senang dan tentunya tak menyia-nyiakan momen itu untuk mengecup kening gadisnya.
...•••...
Aldi yang baru selesai makan di kantin, tak sengaja berpapasan dengan Kania yang tengah berjalan seorang diri dari arah depannya. Tentu saja Aldi langsung tersenyum lalu menghampiri Kania dengan raut wajah senang, ia tak menyangka akhirnya bisa bertemu dengan Kania disana.
"Hey, Kania!" ucap Aldi memanggil gadis itu.
Sontak Kania yang tengah melamun dan menunduk itu langsung mendongak mengangkat kepalanya ketika ada suara yang memanggil namanya, ia terkejut karena ada Aldi di depannya yang tengah memandangnya sambil tersenyum renyah.
Kania pun melirik ke kanan dan kiri secara bergantian dengan wajah cemberut, ia ingin pergi dari sana melewati Aldi. Namun, tentu saja Aldi tak membiarkan itu begitu saja dan langsung mencegah Kania dengan cara mencekal lengan gadis itu agar tetap berada disana bersamanya.
"Mau kemana sih kamu?" tanya Aldi kesal.
"Ish, kasar banget sih! Gue tuh mau ke kelas, udah deh jangan halangin jalan gue begitu!" ujar Kania coba berontak dan membentak Aldi.
"Hey! Kamu gimana sih? Kesana itu jalan ke kantin, kalo kelas kamu kan lewat sana!" ucap Aldi sembari menunjukkan jalan yang benar pada Kania.
"Hah? Masa sih?" ujar Kania.
"Haish, padahal kelas kamu sendiri loh, masa kamu lupa? Aku aja yang cuma suka nganterin kamu, masih inget tuh arah kelas kamu kemana!" ucap Aldi.
"Ya maaf! Gue lagi banyak pikiran, makanya kelas sendiri aja lupa! Yaudah, awas ah lepasin tangan gue! Gue mau ke kelas sebelum bel bunyi, jangan halangin gue dong!" ucap Kania kesal.
__ADS_1
"Iya iya, aku anterin ya sampe kelas kamu! Tangan kamu biar aja aku gandeng, gapapa ya?" ucap Aldi.
"Haish, serah dah ah!" ujar Kania mendengus kesal sembari memutar bola matanya.
Aldi tersenyum lalu menarik tubuh gadis itu ke dekatnya dan mendekapnya erat, Kania hanya bisa pasrah karena ia sedang dalam kondisi tidak nyaman dan enak entah apa sebabnya.
"Kamu kok cantik banget sih?" tanya Aldi menggombal sembari berjalan.
"Ish, gausah gombal bisa gak?" bentak Kania kesal.
"Hadeh, iya iya... kamu ini lagi kenapa sih, cantik? Kayaknya daritadi bawaannya sensi mulu, pengen marah-marah mulu. Kamu lagi pms apa gimana sih?" ujar Aldi terheran-heran.
"Kepo banget! Udah gausah ngomong lagi! Fokus aja jalan ke depan, gue lagi gak mood buat dengerin gombalan dari lu!" ujar Kania.
Akhirnya Aldi memilih diam daripada masalahnya semakin panjang dan Kania akan marah padanya, ia juga tampak heran mengapa Kania bisa sampai semarah itu tak seperti biasanya yang selalu kalem dan lemah lembut.
"Kania ini kenapa sih? Masa iya dia pms sampe segitunya sama gue? Tapi, bisa aja sih. Secara cewek kan emang demen banget marah-marah begitu entah apapun kondisinya, susah ditebak lah pokoknya cewek mah!" gumam Alan dalam hatinya.
Sesampainya di depan kelas Kania, gadis itu langsung menoleh ke arah Aldi dan minta untuk dilepaskan tangannya.
"Al, udah sampe nih. Lepasin tangan gue!" ucap Kania.
"Iya iya, cantik. Aku lepasin kamu kok, belajar yang bener ya di dalam! Nanti pas pulang sekolah, aku jemput lagi disini!" ucap Aldi.
Kania tak lagi bicara, ia menarik tangannya begitu saja lalu masuk ke dalam kelasnya dengan perasaan jengkel dan bete.
Aldi pun tampak geleng-geleng tak mengerti dengan sikap gadis itu saat ini.
...•••...
KRIIIINNGGGG... KRIIIINNGGGG...
Akhirnya bel masuk berbunyi, Grey serta kedua temannya pun berniat masuk ke kelas mereka masing-masing. Akan tetapi, Saka masih saja ingin mengikuti mereka walau ia mendengar bel sudah berbunyi dan seharusnya ia masuk ke kelasnya.
Sontak Grey pun merasa risih karena terus diikuti oleh pria tersebut, ia heran mengapa Saka sulit sekali dikasih tau dan tidak mau pergi darinya. Padahal sudah berulang kali ia menegur Saka dan meminta pria tersebut untuk berhenti mengikutinya.
"Ish, lu mau ngapain lagi sih? Udah sana masuk kelas! Emang lu gak denger apa bel bunyi barusan?" ujar Grey mengusir Saka dengan emosi.
"Santai aja dong! Aku gak akan pergi, karena aku ingin tunjukin ke kamu betapa tulusnya cintaku padamu! Sekarang aku bakal antar kamu sampai ke depan kelas kamu, baru deh nanti aku pergi dan gak ngikutin kamu lagi. Gimana, boleh kan?" ucap Saka sambil tersenyum.
"Haish, bener-bener lu ya! Harus dengan cara apa sih gue ngusir lu, ha?" ujar Grey heran.
"Cinta. Kamu cukup balas cinta aku lagi kayak dulu dan kita balikan deh, dengan begitu aku gak akan ngikutin kamu lagi!" jawab Saka.
"Hah? Dasar gila! Kita ini udah mantan, masih aja lu ngarepin cinta dari gue! Emang lu gak malu apa, ha? Mending lu cari yang lain sana!" ujar Grey.
"Buat apa aku malu? Aku cuma mau memperjuangkan cinta aku ke kamu kok, gak ada yang salah kan? Toh kamu juga belum punya suami atau tunangan, selagi janur kuning belum melengkung maka kesempatan itu masih ada! Aku juga yakin kamu gak benar-benar cinta sama Alex, karena kamu kan cuma cinta sama aku!" ucap Saka.
Grey makin tampak kesal dengan tingkah Saka.
"Terserah lu deh ah! Gue lama-lama males ngobrol sama orang gila kayak lu! Udah yuk Kia, kita cabut dari sini!" ucap Grey emosi dan langsung menarik tangan Kia serta Zefora untuk pergi dari sana.
Saka pun tampak tersenyum saja disana, ia kembali bergerak mengikuti Grey serta kedua temannya dari belakang masih sambil senyum-senyum.
"Saat ini lu boleh tolak gue, Grey. Tapi, gue yakin lu bakal balik ke pelukan gue suatu saat nanti! Karena gue tau banget lu itu masih cinta sama gue dan cuma gue yang ada di hati lu!" batin Saka.
Mereka seperti anjing dan kucing yang saling kejar-kejaran, dari mulai menaiki tangga sampai akhirnya mereka tiba di depan kelas Grey.
"Haish, lu kok masih ngejar gue aja sih?" tanya Grey yang tampak letih dan keringat mulai membasahi wajahnya, nafasnya juga tersengal akibat berlari menghindari kejaran Saka.
"Kan aku udah bilang, aku mau antar kamu sampai depan kelas. Makanya aku tetep kejar kamu, gimana sih?" ucap Saka tersenyum.
Grey pun geleng-geleng saja lalu berjalan masuk ke dalam kelasnya meninggalkan Saka disana sendirian.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1