Broken Angel

Broken Angel
Episode 287 [SEASON 3]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


...Γ—Γ—Γ—...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 31


...ΒΆ...


...HAPPY READING....πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...❀️❀️❀️❀️...


Kedatangan Valen disana membuat para anggota the darks panik, apalagi Valen memang dikenal memiliki kekuatan yang mumpuni serta banyak temannya juga yang pandai berkelahi, bahkan mungkin Valen juga lebih kuat dibanding Dans dan Putra.


Willy pun hanya bisa menatap pasrah ke arah Valen, terlebih saat ini Lucas dan anak-anak wild blood juga sudah bangkit kembali untuk bersiap melawan seluruh anggota the darks.


"Lu semua berani cari masalah di wilayah gua?" ujar Valen tampak emosi.


"Gausah ikut campur lu! Ini bukan urusan lu, mending lu pergi sebelum gue bakal habisin lu!" ucap Dans.


"Hahaha, gimana gua gak ikut campur? Sedangkan lu aja cari gara-gara di wilayah gua, asal lu tau aja ya gue ini alumni SMA panca sakti dan gua gak akan pernah biarin siapapun ngusik kedamaian sekolah ini termasuk kalian, para manusia-manusia rendahan yang beraninya keroyokan!" ucap Valen.


"Kurang ajar! Beraninya lu ngerendahin kita, lu mau cari mati ha?" ujar Dans.


Valen melepas jaketnya dan membuangnya begitu saja di jalan.


"Ayo maju!" tantang Valen.


Dans memasang wajah meremehkan sembari geleng-geleng kepala.


"Oke, siap-siap aja buat mati!" ucap Dans.


Dans pun maju menyerang Valen dengan kaki panjangnya, ia mengincar kepala Valen.


Dengan cekatan Valen berhasil menghindari serangan tersebut, bahkan kini ia menyerang balas dan membuat Dans kesulitan untuk meladeninya karena kecepatan dari Valen.


Bughh... Gubrakkk....


Satu tendangan keras dari Valen berhasil membuat Dans tergeletak jatuh di bawah.


Sontak seluruh orang disana melongok melihat Dans yang berhasil dikalahkan oleh Valen hanya dalam beberapa detik saja, bahkan Dans tak mampu membalas serangan-serangan Valen tersebut.


Putra juga ikut terkejut melihat Dans tidak berdaya disana dengan nafas tersengal-sengal.


"Segitu doang?" ujar Valen.


Lucas dan anak-anak wild blood kompak tersenyum melihat kekuatan Valen yang memang sangat luar biasa sehingga mampu menumbangkan Dans.


"Uhuk uhuk..." Dans terbatuk-batuk disana.


"Bang, lu gapapa?" tanya Putra cemas.


"Aaakkhhhh, sakit banget!" pekik Dans sembari memegangi bagian dada serta tenggorokannya.


"Apa yang terjadi sama lu, bang?" tanya Putra.


"Gak tau, tendangan dia bener-bener bikin tubuh gua mati rasa! Gue udah kalah sekarang, sebaiknya kita segera mundur!" ucap Dans.


"Enggak, bang! Masih ada gue dan yang lain, gue yakin kita bisa kalahin dia!" ucap Putra.


Putra langsung berdiri kembali sembari membenarkan jaketnya, ia menatap tajam ke arah Valen dan berteriak menantang pria yang sudah membuat abangnya terluka itu.


"Hey, lu lawan gua sekarang!!" ujar Putra.


"SERAANGG...!!" teriak Willy memerintahkan seluruh anggota the darks untuk maju menyerang Valen serta teman-temannya.


Pertarungan pun kembali terjadi, kali ini the darks kalah jumlah karena dikepung oleh dua geng sekaligus yang cukup kuat.


Satu persatu dari anggota the darks terjatuh dan terluka karena serangan itu, hingga hanya tersisa Putra serta Willy dan beberapa pentolan the darks.


"Aaakkhhhh..." pekik Putra kesakitan saat tangannya dipelintir oleh Valen ke belakang.


"Lu nyerah atau gue patahin tangan lu!" ancam Valen sembari mencekik leher Putra juga.


"Aaakkhhhh, jangan! Iya iya, gu-gue bakal nyerah dan mundur!" ucap Putra.


Akhirnya Valen melepaskan Putra, ia mendorong tubuh Putra dengan kasar hingga terhuyung ke depan.


Begitupun dengan Lucas yang juga melepas Willy setelah diperintahkan oleh Valen.


Putra langsung kabur dari sana bersama dengan para anggota the darks lainnya, termasuk Dans yang dibopong oleh Willy.


Sementara anak-anak wild blood kini menghampiri Valen serta gengnya untuk mengucap terimakasih.


β€’


β€’


Setelah dirasa aman, para guru serta seluruh murid yang bersembunyi itu kembali ke luar menemui Lucas dan yang lainnya.

__ADS_1


Kania langsung tersenyum saat melihat abangnya ternyata berhasil datang kesana dan menyelamatkan mereka semua, ia pun menghampiri Valen.


"Kak, lu hebat! Makasih ya!" ucap Kania.


Valen hanya tersenyum sembari memegang wajah Kania, ia lalu mendekap tubuh adiknya sangat erat dan menangis.


"Lu kenapa sih?" tanya Kania heran.


"Gue takut aja lu kenapa-kenapa tadi, syukurlah ternyata lu baik-baik aja!" ucap Valen.


"Yaelah, lebay lu ah!" ujar Kania.


Kania langsung melepaskan diri dari pelukan abangnya karena malu.


Tiba-tiba Aldi muncul menghampiri mereka.


"Lu gak perlu takut bang, kan disini ada gue yang bakal jagain Kania sepenuh hati! Jadi, Kania gak akan kenapa-napa kok!" ucap Aldi.


"Hahaha, tadi aja gue lihat lu tepar begitu dan gak kuat ngelawan si Willy. Gimana gue bisa percaya sama lu buat jagain Kania?" ucap Valen.


Aldi tampak gugup.


Sementara Kania justru tersenyum tipis.


"Yaudah, intinya sekarang kan kamu gapapa. Lagian ini emang ada masalah apa sih? Kenapa kalian bisa sampe kayak begini dan ada geng the darks yang serang kalian?" tanya Valen penasaran.


"Iya kak, tadi tuh tiba-tiba ada angin kencang yang muncul sama gempa. Makanya kita panik dan langsung lari keluar sekolah, tapi saat kita mau kabur disini malah ada Willy sama yang lain cegat kita dan blokir jalan keluar!" jelas Kania.


Valen benar-benar emosi mendengar cerita adiknya, ia langsung mengepalkan kedua tangannya.


"Kurang ajar emang mereka! Gue bakal bales perbuatan mereka itu, dihajar aja mereka emang gak cukup! Gue harus bikin mereka kapok, supaya gak ganggu kamu lagi!" ucap Valen.


"Kak, jangan! Gue gak mau lu jadi orang jahat kayak mereka, cukup ya begitunya!" ucap Kania.


Valen pun menurut dengan adiknya.


"Iya iya, gue mah paling gak bisa nolak permintaan lu itu! Apalagi kalo lu tatap gue kayak barusan, gimana bisa nolaknya coba?" ucap Valen tersenyum.


"Ahaha, oh ya daritadi Tiara juga nanyain lu terus loh! Samperin gih, orangnya di belakang tuh!" ucap Kania.


"Bener juga, yaudah gue temuin Tiara dulu ya? Aldi, lu temenin dulu adik gue! Tapi inget, jangan lu sentuh dia apalagi berani macam-macam sama Kania!" ucap Valen meminta pada Aldi untuk menjaga Kania.


"Siap, bang!" ucap Aldi tersenyum.


Setelahnya, Valen pun pergi ke barisan belakang untuk menghampiri Tiara.


Sementara Aldi kini bergeser mendekati Kania.


"Ngapa sih lu?" tanya Kania heran.


"Hahaha, gapapa. Aku cuma seneng aja karena sekarang Willy sama yang lain udah pada pergi, terus angin kencang juga udah berhenti! Jadi, aku bisa puas-puasin deh berdua sama kamu!" ucap Aldi.


Aldi menatap wajah Kania sambil tersenyum.


"Heh!" tiba-tiba saja Lucas menegur mereka dan membuat momen romantis itu buyar dalam seketika dibuatnya.


"Haish, apaan sih lu?" ujar Aldi kesal.


"Lu yang apaan? Kan tadi udah diwanti-wanti sama bang Valen, jangan sentuh Kania apalagi macam-macam sama dia! Emang lu mau kena bogem dari bang Valen kayak si Putra tadi?" ucap Lucas mengingatkan Aldi.


"Hehe iya ya.... abisnya gue selalu gak tahan bro kalo di deket Kania, makanya gue begitu!" ucap Aldi.


"Hadeh, kamu mah emang selalu begitu pikirannya, Aldi!" kali ini giliran Bu Meli yang muncul dan menegur Aldi sambil geleng-geleng kepala.


"Eh Bu Meli..." ujar Aldi nyengir.


"Jaga jarak loh! Jangan deket-deket!" ucap Bu Meli.


"Iya iya, Bu!" ucap Aldi.


Aldi langsung menjauh dari Kania.


Kania hanya terkekeh sedikit melihat Aldi yang tidak bisa mendekatinya untuk saat ini.


"Eh iya, Lucas. Itu wajah kamu luka, mau aku obatin dulu?" ucap Bu Meli.


"Eee gausah, Bu! Ini mah cuma luka kecil aja kok, saya udah biasa kalo luka beginian!" ucap Lucas.


"Iya tuh Bu, si Lucas kalo belum berdarah-darah mah gak bakal mau diobatin!" ujar Aldi.


"Ah berisik lu!" ujar Lucas sewot.


Bu Meli tertawa sembari menutupi mulutnya.


Sssyyyuuuuuu....


Tiba-tiba angin kencang kembali datang berhembus, membuat semua orang disana panik dan langsung berhamburan pergi.


...β€’β€’β€’...


Sahira, Nur dan Rara terkejut saat muncul sebuah angin ****** beliung disertai suara tawa yang menggelegar dari depan mereka.


Angin tersebut berubah menjadi wujud seorang pria yang tak lain adalah Elargano si raja angin.

__ADS_1


Sontak Sahira langsung bersiap-siap untuk menghadapi Elargano jika nantinya sang raja itu akan menyerang mereka bertiga disana tanpa aba-aba atau peringatan terlebih dahulu.


Elargano terdiam menatap tajam ke arah mereka.


"Hey, apa maumu sebenarnya? Kenapa kau mengganggu makhluk bumi dan menjadikan Kirana sebagai salah satu anak buahmu?" ujar Sahira bertanya pada si raja angin tersebut.


"Hahaha... hahaha...." bukannya menjawab, Elargano justru tertawa keras.


Tentu saja Sahira merasa bingung.


"Apanya yang lucu? Dasar kau tidak waras! Sebaiknya sekarang kau pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi ke bumi!" ucap Sahira.


"Benar itu, kami masih memberimu kesempatan untuk hidup dan terus menjadi raja angin. Tapi, jika kau tidak menginginkan kesempatan itu maka kami akan dengan senang hati menghabisi mu!" sahut Nur.


"Hahaha.... dasar para bidadari sombong! Bagaimana cara kalian untuk menghabisi ku ha?" ujar Elargano.


"Tentu saja dengan kekuatan yang kami miliki saat ini, kamu pasti belum tau kan bagaimana jadinya jika kami bertiga menyatukan kekuatan?" ucap Nur.


Tak ada sama sekali rasa takut dalam diri raja El.


"Kami bisa menghajar mu hanya dengan satu kali serangan saja, oleh karena itu sebaiknya kamu pikir-pikir lagi jika ingin bertarung dengan kami dan bermacam-macam di bumi!" ucap Nur.


"Iya, raja bodoh sepertimu tak akan mungkin dapat menandingi kekuatan kami!" sahut Rara.


Raja El terlihat sangat emosi.


"Kenapa? Kamu pasti marah ya? Ahaha, hanya dengan kekuatan angin yang kamu miliki itu tidak cukup untuk bisa melawan kami!" ucap Sahira.


"Cukup bicaranya! Sekarang akan ku buktikan pada kalian bertiga, kalau aku bisa menghajar kalian dengan kekuatan anginku ini! Dan akan ku buat kalian semua menyesal telah mengejekku!" ucap Elargano sangat marah.


"Hahaha, oh begitu ya? Baiklah, kita buktikan sekarang siapa yang paling hebat diantara kita! Jika kau kalah, maka kau harus pergi dari sini!" ucap Nur.


"Tidak perlu banyak omong! Aku terima semua itu dengan senang hati, tapi jika aku menang maka kalian lah yang harus pergi dari sini dan biarkan aku menjadi penguasa di bumi ini!" ucap Elargano.


"Setuju!" ucap Nur menyetujui taruhan yang diminta oleh Elargano.


Sahira dan Rara kompak melihat ke arah Nur.


"Nur, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu main setuju-setuju aja sama yang dibilang raja El?" tanya Sahira terheran-heran.


"Kenapa? Kita gak mungkin kalah dari si raja bodoh itu! Sudahlah, jangan takut!" ucap Nur.


"Tapi Nur, kalau misalnya kekuatan kita ternyata tidak bisa mengalahkan raja El gimana? Gak mungkin kan kita meninggalkan bumi dan membiarkan raja El menguasai bumi?" ucap Sahira.


"Hahaha, kau ketakutan Sahira?" ucap raja El.


"Lihatlah, dia jadi besar kepala sekarang! Sudahlah Sahira, kamu tidak perlu khawatir! Kita pasti bisa menang dan kalahin dia!" ucap Nur.


"Iya baiklah, ayo kita satukan kekuatan dan lawan si raja bodoh itu!" ucap Sahira percaya diri.


Sontak ketiganya langsung menempelkan tongkat milik mereka dan seketika sebuah sinar cahaya muncul dengan kekuatan dari mereka bertiga.


"Waw luar biasa! Tapi, itu saja tidak akan mampu untuk bisa membuatku bertekuk lutut!" ucap raja El.


"Hahaha, kamu sekarang jadi lebih percaya diri ya? Baiklah, tapi kali ini kami akan mematahkan kepercayaan dirimu itu! Kami juga akan membuatmu menyesal dan pulang dengan malu!" ucap Nur.


"Kurang ajar! Tidak ada siapapun yang bisa mengalahkan kekuatanku!" ucap raja El.


Slaaasshh....


Sahira langsung mengarahkan tongkatnya kepada raja El dan menyerangnya.


Nur serta Rara juga melakukan hal yang sama.


Dengan sigap raja El berhasil membuat perlindungan dari angin yang berputar dan kekuatan dari Sahira serta kedua sahabatnya itu berhasil dengan mudah dikalahkan olehnya.


Sahira, Nur dan Rara justru terpental ke belakang karena terkena serangan mereka sendiri.


"Bagaimana sekarang? Apa kalian masih akan menyombongkan kekuatan kalian itu?" tanya raja El.


"Cih! Kami belum kalah dan kamu juga belum menang, lihat saja kami akan menunjukkan kekuatan kami yang selanjutnya dan membuatmu menyerah secara mengenaskan!" ucap Nur masih dengan kepercayaan diri yang tinggi.


"Oh ya? Ayo, coba serang aku lagi! Keluarkan saja semua kekuatanmu itu!" ucap raja El.


Slaaasshh.... slaaasshh...


Sahira, Nur serta Rara langsung kembali menyerang Elargano dengan kekuatan mereka yang saat ini telah digabungkan.


Dinding angin yang dibuat raja El rupanya cukup kokoh sehingga sulit untuk diruntuhkan oleh ketiga bidadari cantik tersebut.


Justru serangan mereka malah membuat pohon serta beberapa bangunan disana rubuh.


"Sahira, bagaimana ini? Sepertinya sia-sia saja kita menggunakan kekuatan kita, yang ada seisi bumi bisa hancur jika kita terus seperti ini!" ucap Rara panik coba bertanya pada Sahira.


"Kamu tenang saja, aku bisa memulihkan semua kerusakan ini hanya dengan hitungan detik! Sekarang fokuskan kekuatanmu untuk menghabisi raja El disana!" ucap Sahira berteriak.


Rara mengangguk lalu mengikuti perintah Sahira.


"Hahaha... hahaha...." raja El tertawa cukup keras merasa kalau dirinya sudah menang.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2