Broken Angel

Broken Angel
Episode 288 [SEASON 3]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...



...~Jika kamu tidak dapat menemukan orang baik di sekitar mu, maka jadilah orang baik itu~...


...×××...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 32


...•...


...HAPPY READING....🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


"Hahaha... hahaha...." raja El terus saja tertawa saat Sahira serta kedua bidadari lainnya terpental ke belakang dan tampak kesakitan.


Elargano melangkah maju mendekati para bidadari itu dengan angin yang masih melingkar di tubuhnya.


"Hahaha, apa kalian masih mau sombong lagi bidadari bodoh? Sekarang kalian lihat sendiri bukan, betapa hebat kekuatan angin yang aku miliki? Kalian tidak akan sanggup untuk menandingi kekuatanku, karena kalian hanyalah bidadari lemah yang tidak bisa apa-apa! Kalian hanya mampu bersembunyi di ketika ratu kalian itu, tanpa sang ratu kalian tidak mungkin hidup hingga saat ini!" ucap Elargano.


Sahira terus memegangi perutnya yang terasa sakit akibat terkena serangannya sendiri, ingin sekali rasanya ia bangkit dan menghajar kembali Elargano.


Sementara Nur dan juga Rara sama-sama terkapar lemas dengan posisi terlentang di samping Sahira, mereka menjadi yang paling parah saat ini bahkan sudah sangat sulit untuk bangkit.


Elargano terus maju mendekati Sahira.


"Hey, bidadari lemah! Cepat serahkan mustika merah itu kepadaku, sekarang juga! Atau aku akan menghabisi kau dan kedua temanmu ini!" ucap Elargano meminta mustika milik Sahira dengan paksa dan mengancam Sahira.


Tentu saja Sahira menggeleng.


"Tidak mau! Aku tidak akan memberikan mustika milikku kepada orang jahat sepertimu!" ucap Sahira menolak permintaan Elargano.


"Oh begitu, jadi kamu tidak ingin menyerahkan mustika itu padaku secara baik-baik? Baiklah, kalau itu memang mau mu. Jangan salahkan aku karena aku akan memakai cara kasar untuk bisa merebut mustika merah itu dari tanganmu, dan menguasainya di dalam tubuhku!" ucap Elargano.


"Coba saja kalau bisa!" ujar Sahira.


"Hahaha, dasar bidadari sombong! Berani sekali kau menantang ku seperti itu, apa kamu ingin mati dan ku kirim ke neraka ha?" ujar Elargano emosi.


"Aku tidak akan pernah mati, justru kau lah yang harus mati dan berada di tempatmu yaitu neraka! Aku akan membuatmu menyesal karena sudah berani mendatangi bumi ini dan mengganggu ketentraman pada manusia!" ucap Sahira.


"Kamu bisa apa memangnya? Sekarang saja kamu sudah kesakitan!" ucap Elargano.


"Aku masih bisa menghabisi mu, walau tubuhku terluka sekalipun! Jangan pernah kamu berani menyentuh ku atau berharap untuk bisa mendapatkan mustika milikku!" ucap Sahira.


"Banyak bicara, lebih baik sekarang kau pikirkan saja nasibmu itu! Dan serahkan mustika itu padaku, karena kamu pasti tak akan bisa lagi menguasai mustika itu jika kau sudah mati nantinya! Hahaha, dan akulah yang akan menjadi penguasa di bumi ini!" ucap Elargano tertawa jahat.


"Cih! Itu hanya akan terjadi dalam mimpimu saja, raja El yang bodoh dan rakus!" ujar Sahira.


"Kurang ajar!" Elargano emosi dan langsung menggunakan kekuatan anginnya untuk mencekik leher Sahira dengan kasar hingga bidadari itu kesulitan bernafas.


"Hahaha, matilah kamu Sahira!" ujar Elargano.


Slaaasshh....


Satu serangan cahaya berhasil membuat Elargano terdorong dan cekikan pada leher Sahira pun berhasil terlepas.


Sahira tergeletak lemas sembari memegangi lehernya yang masih terasa sakit.


Samar-samar Sahira melihat sosok ratu bersama raja Nuril muncul disana, ia pun tersenyum bahagia karena bantuan segera datang.


"Kurang ajar!" umpat Elargano kesal.


"Sekarang kau lawanlah kami, raja El yang bodoh!" ucap Nuril menantang Elargano.


"Hahaha, Nuril Nuril... kau salah sudah berpihak pada ratu Keira, karena seharusnya kau mendukungku untuk menguasai bumi! Kita bisa sama-sama memimpin disini, Nuril!" ucap Elargano.


"Cih! Aku tidak sudi bekerjasama denganmu!" ucap Nuril sambil meludah.


"Hahaha, baiklah kalau itu mau mu. Kali ini aku akan menghabisi kalian berdua, dan akan ku kirim kalian ke tempat asal kalian!" ucap Elargano.


"Hiyaaa..."


Pertarungan tak dapat terhindari lagi.


...•••...


Saka kini bersama Grey, Kia dan juga Zefora tengah melarikan diri ke tempat yang lebih aman karena badai angin belum usai.


Mereka bersembunyi di dalam gudang sekolah dan berpisah dengan para murid lainnya yang sudah berlari keluar dari sekolah.


Rupanya mereka memang tidak mengetahui jika Willy dan yang lainnya sudah berhasil dikalahkan, oleh karena itu mereka justru berlari ke arah dalam sekolah bukannya luar sekolah.


Grey pun tampak ketakutan disana.


"Hey, jangan takut! Ada aku disini yang akan melindungi dan menjaga kamu!" ucap Saka langsung mendekati Grey lalu merangkulnya.


Kia dan Zefora hanya bisa saling pandang.


"Saka, kenapa lu gak bantu Alan dan yang lain buat lawan Willy? Kenapa lu justru ajak kita lari dan bawa kita kesini?" tanya Grey heran pada kelakuan mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Hey, itu semua aku lakuin demi keselamatan kamu dan juga temen-temen kamu itu!" jawab Saka.


"Tapi, kasihan Alan kalau cuma bertiga ngelawan Willy. Mereka pasti kalah, harusnya lu bantu dong mereka buat lawan si Willy!" ucap Grey.


"Iya Saka, seenggaknya lu bisa bikin mereka tambah percaya diri gitu!" sahut Kia.


"Gak perlu, mereka itu gak perlu dibantu! Orang-orang sok jagoan kayak mereka, ya biarin aja suruh ngelawan si Willy sendirian gausah dibantu segala lah!" ucap Saka.


"Saka, lu kenapa sih sebenarnya?" tanya Grey.


"Aku gapapa, kan bener yang aku bilang tadi. Mereka itu sok jago, gayanya mau ngelindungin satu sekolah! Padahal ngelawan Willy aja belum tentu menang, paling mereka sekarang juga lagi tepat!" ucap Saka.


"Haish, bilang aja lu takut kan?" ucap Grey.


"Hah? Buat apa gue takut sama Willy? Kalo gue mau, gue bisa aja hadapin dia sendirian! Tapi, masalahnya gue males kalo harus bersatu sama si Alan dan yang lainnya itu!" ujar Saka tampak kesal.


Grey terdiam, ia membenamkan wajahnya pada bahu Saka sambil tersenyum tipis.


"Kamu bikin aku seneng, Grey!" batin Saka.


Saka menggerakkan tangannya untuk mengusap lembut kepala Grey yang ada di bahunya.


"Saka, kita kembali kesana yuk!" ucap Grey pelan.


"Hah? Kamu ini kenapa sih? Kita udah aman loh disini, gak mungkin Willy atau siapapun itu temuin kita disini! Udah kamu gausah ngada-ngada deh, kita disini aja sampe badai angin reda!" ucap Saka.


"Tapi Saka, kalo misal kita terus disini dan anginnya semakin kencang gimana?" tanya Grey panik.


"Tenang aja! Aku kan ada disini buat jagain kamu, udah ya kamu gausah panik! Kamu cukup berlindung di bahu aku aja kayak gini, pasti kamu bakal aman kok dari angin-angin kencang itu!" ucap Saka merapatkan tubuhnya dengan kepala Grey.


Grey tampak menikmati momen itu.


"Entah kenapa, rasanya nyaman banget kalo lagi ada di pelukan Saka. Gue sampe gak mau lepasin ini, dan pengen terus ada di pelukan Saka!" batin Grey.


Bruuukkk...


Mereka semua kaget saat pohon di depan mereka tumbang dan hampir mengenai Kia.


"Huh, untung gue gak kena!" ucap Kia.


"Kia, lu gapapa kan?" tanya Grey cemas.


"Iya gue aman kok, tapi kayaknya kita harus cepet pergi dari sini deh! Bangunan ini bisa rubuh gara-gara diterpa angin!" ucap Kia panik.


"Iya bener, kita harus pergi!" sahut Zefora.


Grey melirik ke arah Saka seperti meminta saran dari pria tersebut.


"Oke, kita pergi!" ucap Saka.


Lalu, tanpa basa-basi lagi mereka langsung pergi meninggalkan gudang tersebut.


...•••...


Sementara itu, Lucas mengantarkan seluruh murid serta para guru SMA panca sakti menuju markas wild blood yang tak jauh dari sekolah.


Lucas pun menyarankan agar mereka semua beristirahat dulu disana selama beberapa waktu sampai angin kencang benar-benar reda dan semuanya aman terkendali.


Setelahnya, Lucas langsung pergi keluar karena ia ingin mencari Sahira kekasihnya.


Valen pun menggantikan tugas Lucas untuk membantu para guru menenangkan murid-murid yang tampak histeris disana.


"Tiara, kamu duduk ya!" pinta Valen.


Tiara mengangguk lalu melepas pelukannya. Gadis itu pun duduk sesuai perintah Valen.


Kini Valen beralih menatap Kania adiknya.


"Kania!" sapa Valen.


Sontak Kania dan Aldi menoleh bersamaan.


"Kenapa kak?" tanya Kania heran.


"Lu sama gue aja, biar Aldi bantu yang lain di luar. Karena ini kan tempat gengnya dia, jadi harusnya dia yang jaga-jaga di luar sana!" ucap Valen langsung mendekap tubuh adiknya menjauh dari Aldi.


"Eee tapi kak, di luar kan udah ada kak Bryan sama guru-guru cowok." ucap Kania.


"Iya Kania, tetep aja mereka butuh bantuan!" ucap Valen tersenyum.


"Yaudah bang, kalo gitu gue mau keluar dulu. Titip Kania ya bang!" ucap Aldi.


"Gak perlu lu bilang kayak gitu, gue juga pasti bakal jagain adik gue kok! Udah sana cepetan pergi, bantu orang-orang yang perlu dibantu!" ucap Valen.


"Iya bang..."


Aldi pun pergi dengan berat hati, ia terus menatap wajah Kania sembari berjalan keluar.


"Nah sekarang lu duduk samping Tiara!" ucap Valen.


"Haish, banyak perintah lu!" ujar Kania kesal.


"Heh! Berani lu ngomong kayak gitu sama gua? Gue ini abang lu, dan gue berhak nyuruh-nyuruh lu termasuk ngelarang lu juga buat deket sama Aldi!" ucap Valen tegas.


Akhirnya Kania terpaksa menurut dan duduk di samping Tiara dengan wajah jengkel.

__ADS_1


Sementara Valen membantu para anggota wild blood untuk menyediakan air minum bagi murid-murid dan guru-guru disana yang masih trauma.


"Kania, Valen sayang banget ya sama lu?" ucap Tiara.


"Huft, dia tuh bukan sayang! Tapi, dia takut aja sama bokap nyokap gue. Kan dia dititipin sama ortu gue suruh jagain gue, makanya dia sampe kayak gitu sama gue! Oh ya, lu jangan cemburu ya! Gue yakin bang Valen lebih sayang sama lu kok, dibanding gue!" ucap Kania.


"Yaelah, siapa juga yang cemburu? Justru gue seneng lihatnya kalo ada abang yang sayang banget ke adiknya, kayak Valen ke lu!" ucap Tiara.


"Ohh, gue pikir lu cemburu gitu." ujar Kania terkekeh.


Tak lama kemudian, Jack datang membawakan minuman untuk kedua gadis cantik itu.


"Kania, Tiara. Nih diminum dulu ya, supaya lebih enakan!" ucap Jack sembari menaruh dua gelas minuman di atas meja depan kedua gadis itu.


"Makasih Jack," ucap Kania tersenyum.


"Sama-sama, yaudah gue tinggal dulu ya?" ucap Jack.


Kania dan Tiara hanya mengangguk.


Jack pun pergi dari sana meninggalkan dua gadis itu untuk menuju ke luar markas menemui para geng wild blood yang lainnya disana.


Sementara Kania dan Tiara mulai meminum minuman yang diberikan Jack tadi.


"Minum dulu Tiara!" ucap Kania meminta Tiara untuk segera minum minuman di meja itu.


Tiara mengangguk kemudian mulai meminum minuman yang sudah ia pegang itu, rasanya sangat nikmat dan menyegarkan di tenggorokan sehingga Tiara langsung tersenyum.


...•••...


Pertarungan antara Elargano dengan ratu Keira serta raja Nuril masih berlangsung cukup menegangkan, mereka saling silih berganti menyerang hingga salah satu diantara mereka terjatuh dan kalah.


Kekuatan yang seimbang membuat ketiganya sulit jatuh atau kalah.


"Sial, dia sulit sekali dikalahkan. Apa yang harus kita lakukan Nuril untuk bisa merobohkan kekuatan dia?" ucap ratu Keira meminta saran dari Nuril.


"Kita terus saja serang dia!" jawab Nuril singkat.


"Baiklah, ayo!" ucap Keira.


Mereka berdua pun kembali menyatukan kekuatan untuk menyerang raja El dengan sepenuh tenaga, mereka ingin segera menyudahi pertarungan ini dan membuat Elargano tewas.


"Hahaha, kekuatan kalian juga masih belum cukup untuk bisa menandingi kekuatanku! Sebentar lagi kalian akan mati, menyusul ketiga bidadari lemah itu!" ucap Elargano berteriak angkuh.


"Kamu salah raja El, bukan kami yang mati. Melainkan kamu!" ucap Keira.


"Hiyaaa...!!"


Serangan kuat ratu Keira dan raja Nuril berhasil membuat dinding milik raja El runtuh juga.


Akhirnya mereka pun kembali menyerang Elargano dan mengarahkan kekuatan mereka pada tubuh raja El yang sudah tak terlindungi itu.


"Rasakan ini, raja sombong!" teriak Nuril.


Slaaasshh...


"Aaakkhhhh..." pekik Elargano merasakan kesakitan saat serangan kedua raja dan ratu itu mengenai tubuhnya.


"Matilah kamu, raja El!" ujar Keira.


Jedeerrr....


Tubuh Elargano terpental ke belakang akibat serangan mereka berdua.


"Aaakkhhhh..." suara terakhir raja El yang dapat terdengar di telinga keduanya.


Sontak Keira dan Nuril saling memandang lalu tersenyum atas kemenangan mereka.


"Kita berhasil, Keira." ucap Nuril.


"Iya, kau benar. Aku tak menyangka kekuatanku dan kamu bisa mengalahkan keangkuhan raja El, padahal aku sempat pesimis saat Sahira saja bisa dikalahkan olehnya." ucap Keira.


"Lain kali jangan begitu ya! Kamu ini ratu, sudah jelas kalau kekuatanmu itu lebih besar dibanding Sahira." ucap Nuril tersenyum.


"Iya..." ucap Keira singkat.


"Yasudah, mari kita bantu Sahira dan yang lainnya! Baru setelahnya, kita sama-sama membetulkan kerusakan akibat pertarungan tadi." ucap Nuril.


"Iya, ayo!"


Mereka pun mengobati Sahira serta kedua temannya disana, mereka sama-sama mengeluarkan kekuatan untuk bisa menyembuhkan ketiga bidadari cantik yang tengah pingsan itu.


Tak lama kemudian, satu persatu dari mereka sadar mulai dari Sahira yang tak terlalu kesakitan.


"Uhuk uhuk, ratu?" ucap Sahira pelan.


"Syukurlah, kamu sudah sadar. Sekarang mari bantu kami untuk menyalurkan tenaga ke Nur serta Rara!" ucap Nuril.


"Baik, raja!" ucap Sahira mengangguk.


Dengan susah payah Sahira bangkit untuk membantu Keira serta Nuril dalam mengobati kedua temannya yang masih membutuhkan pertolongan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2