
Lagi lagi marga yang membawa Allena ke rumah sakit dengan kasus dan keadaan yang berbeda.Hidup Allena seperti orang yang di kelilingi oleh bodyguard yang siap siaga melindunginya,dewa amor selalu berpihak padanya.Selalu ada orang yang menjaganya,dimana pun dia berada.
Seluruh tubuh marga menjadi basah kuyup akibat tubuhnya terhantam air hujan yang turun bak segerombolan biri-biri,bak preman yang mengeroyok korbannya.
Tadi,di dalam mobil menuju rumah sakit.Marga sudah menghubungi rey untuk dia segera menyusul ke rumah sakit.
"Dimana,dia?".Tanya rey.
Marga yang masih dalam keadaan basah kuyup hanya menunjuk ruang rawat Allena menggunakan jari telunjuknya,tak berniat sekali dia berucap walau sepatah katapun.Bibir nya terasa kelu akibat menahan dinginnya air hujan.
Rey,berjalan kearah ruang rawat Allena.Sedangkan marga, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Klek
Rey,mendorong pintu.Tapi,tidak sampai masuk ke dalam,dia terpaku di tempatnya.Lagi,Allena harus terbaring di rumah sakit padahal belum ada dua hari dia tidak masuk rumah sakit.Seakan rumah sakit adalah rumahnya yang kedua setelah tempat tinggalnya.
Diamati nya tubuh ringkih itu yang lagi lagi tertancap selang infus,entah dia mengalami sakit apa untuk kaki ini.
Selangkah demi selangkah rey berjalan mendekat menuju kasur Allena,dia pandangi wajah ayu nan sayu nya.Bibirnya agak putih tak seperti orang normal.
__ADS_1
Hanya. berdiri mematung,diam di tempatnya.Rey,tak berani mendekat kearah Allena barang sejengkal pun.Tiba-tiba emosi begitu menguasai diri rey.
Geram bukan main, terhadap orang tuanya.Allena,terluka secara psikis dan juga fisiknya.Allena hidup di tengah-tengah orang yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa melihat luka yang mereka tinggalkan untuk anak gadis mereka.
Tak terasa butiran air mata menetes di pipinya.Rasanya dia tak kuat membayangkan kehidupan allena yang di penuhi oleh intrik drama keluarga yang tak berkesudahan.
"Badan gede,kokoh nan kekar tapi menangis.Cengeng amat".Ucap seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah marga.
Yah,marga sudah kembali dari kegiatan membersihkan dirinya dan begitu kembali,dia di suguhi pemandangan yang menurutnya ada kesempatan untuk balas dendam.
Rey, menatap tajam pada marga.""Whatever".Bentaknya.
"Balas dendam ceritanya?".Tanya rey, tanpa menatap marga.
"So, pasti.Tapi, seperti kata ku.It's ok itu wajar kok".Marga terkekeh geli,kala mengingat kata-kata rey.
Rey,menoyor kepala marga."Itu kata-kata ku,bodoh.Jangan jadi plagiat, kreatif sedikit kek". Gertak rey.
Marga memberenggut,kesal terhadap rey yang lagi lagi selalu punya cara untuk membalikkan keadaan."Yeay".
__ADS_1
Baik marga maupun Rey, keduanya saling diam.Berdiri mematung,sambil mengamati tubuh Allena yang terbaring lemah.Amat memilukan untuk gadis seusia Allena,lebih parahnya lagi orang tua nya seakan tak peduli dengan kehidupan nya.
"Di temukan dimana dia?".Tanya Rey,memecah keheningan.
"Di pojok pohon rindang".
"Sedang apa?".
"Merenung".
Pertanyaan singkat di balas dengan jawaban singkat.Begitu lah cara rey dan marga berkomunikasi,tak bertele-tele tapi juga terkadang di selingi oleh gertakan dan hinaan.
"Ada hal yang ingin aku tunjukkan pada mu".Ucap marga,sembari menoleh kearah rey.
"Apa?".
"Boleh kita sambil duduk saja?,kaki ku kram lama-lama terus berdiri".Keluh marga.
"Silahkan tuan putri".Ledek rey.
__ADS_1
"Banci dong gue".Sahut marga,duduk di sofa mendahului rey.