
...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...
..."BROKEN ANGEL"...
...π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·...
...~Jatuh cinta tak selamanya indah, ya namanya aja jatuh pasti ada sakitnya juga masa indah terus apalagi bahagia terus~...
...ΓΓΓ...
#BROKEN ANGEL S3 EPS. 37
...β’...
...Welcome Maretπ₯³...
...β’...
...HAPPY READING...πππ...
...β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ...
Saat istirahat telah tiba, Saka tanpa sengaja melihat Grey alias mantannya itu masuk ke perpustakaan seorang diri tanpa ditemani oleh Kia maupun Zefora yang biasanya bersamanya.
Saka pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti Grey ke dalam perpustakaan tersebut karena ia ingin memanfaatkan momen untuk lebih dekat kembali dengan Grey setelah hubungan mereka memang menjadi lebih baik sekarang ini.
Saka terpaksa meninggalkan teman-temannya dan tidak jadi pergi ke kantin, hanya untuk menjalani pendekatan dengan Grey di perpustakaan.
"Gue harus bisa deketin Grey lagi! Kayaknya emang buat deketin Sahira itu susah, karena dia gak suka sama gue. Tapi, gue yakin kalau Grey itu masih suka dan sayang sama gue! Buktinya kemarin aja dia masih mau nurut sama gue, padahal dia udah bilang kalau gak mau deket-deket lagi sama gue!" gumamnya di dalam hati.
Saat masuk ke perpustakaan, Saka ditahan oleh si penjaga dan diminta untuk menyerahkan kartu keanggotaan perpustakaan sebelum bisa masuk ke dalam sana.
"Mana kartu kamu? Sini serahin dulu, terus kamu tanda tangan di buku ini!" ucap ibu penjaga.
"Oh iya, maaf Bu saya lupa!" ucap Saka nyengir lalu menyerahkan kartu miliknya, beruntung ia selalu menaruh kartu itu di dalam dompetnya sehingga saat dibutuhkan seperti ini ia tidak perlu kelimpungan mencari dimana kartu tersebut.
Setelah urusannya dengan ibu penjaga selesai, Saka pun bergegas mencari Grey dengan mengelilingi seluruh penjuru perpustakaan itu.
Sampai pada akhirnya, Saka berhasil menemukan keberadaan Grey yang tengah mencari buku di kumpulan buku-buku pengetahuan.
"Itu dia..." ucapnya sambil tersenyum.
Saka pun melangkah mendekati Grey dan berhenti tepat di belakang wanita itu, tampak Grey tengah berusaha mengambil buku di bagian atas yang ingin ia baca, namun karena tinggi Grey kurang sesuai ia pun tampak kesulitan mengambil buku tersebut.
Saka berinisiatif untuk membantu Grey mengambil buku tersebut lalu menyerahkannya pada gadis itu.
"Ini buku yang kamu pengen baca," ucap Saka singkat sembari menyodorkan buku di tangannya kepada Grey dan tersenyum manis.
Grey menoleh terkejut saat melihat Saka ada disana dan memberikan buku itu kepadanya.
"Saka? Lu ngapain disini? Mau baca buku juga?" tanya Grey yang terkejut dan terheran-heran sampai tak bisa berpaling dari wajah Saka, wanita itu tampaknya masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini oleh kedua matanya.
"Aku... iya sih mau baca buku juga, ya namanya di perpustakaan kan pasti niatnya mau baca buku. Tapi, karena aku ketemu kamu disini ya aku bakal ubah deh tujuan aku. Aku gak mau baca buku lagi, tapi berduaan sama kamu di dalam sini sambil temenin kamu baca buku!" ucap Saka mendekat lalu tersenyum ke arah Grey.
Grey terdiam dan hanya memandangi Saka dengan tatapan curiga.
"Oh ya, ini buku yang kamu mau tadi! Lain kali minum susu biar tingginya nambah, jadi kamu gak kesusahan deh kalo mau ambil buku di rak yang paling atas!" ucap Saka.
"Haish, ngeselin lu!" ujar Grey bete. "Yaudah makasih, lu udah mau bantu gue ambil buku ini! Kalo gitu sekarang lu pergi deh, gue mau baca buku dengan tenang tanpa gangguan apapun termasuk dari lu!" sambungnya lalu pergi begitu saja.
Saka tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, ia pun mengambil buku secara asal lalu menyusul Grey menuju tempat baca.
β’
β’
__ADS_1
Saka duduk di samping Grey sembari menaruh buku yang ia bawa itu ke atas meja, Saka memang tidak berniat membaca dan hanya ingin berduaan dengan Grey di dalam sana.
"Hai!" ucap Saka menyapa mantannya itu sambil tersenyum lalu berpura-pura membuka bukunya.
Grey yang malas tampak mengabaikan keberadaan Saka disana dan tetap fokus membaca bukunya, ia memang tidak ingin diganggu saat sedang membaca buku apalagi oleh Saka, biarpun sebenarnya Grey memang masih menyukai pria di sampingnya itu.
Melihat Grey hanya diam dan membuang muka, Saka pun tampak tersenyum dan terus berusaha untuk membuat Grey mau menoleh ke arahnya.
"Jika atom ketemu atom, maka akan menjadi atomatom. Jika gaya gravitasi bergesekan dengan gaya lenggak-lenggok, maka akan jadi gaya granggok granggok." ucap Saka.
Tentu Grey merasa terganggu dengan suara Saka itu. Ia pun menoleh walau dengan wajah kesal.
"Heh! Lu bisa gak sih baca bukunya dalam hati aja? Gue tuh pengen fokus baca buku, bukannya dengerin ocehan lu yang gak bermutu itu! Lagian aneh banget sih lu, itu kan buku matematika bukan IPA!" ucap Grey menegur Saka dan memarahi pria itu.
Saka reflek mengangkat bukunya untuk melihat buku apa yang sebenarnya ia baca, ya Saka memang hanya asal ambil tanpa melihat-lihat lebih dulu.
"Eh iya bener, tapi isinya fisika semua loh. Aku aja kaget tadi pas pertama buka, mungkin yang bikin bukunya salah kasih judul kali. Harusnya matemasika atau matematika fisika, baru deh bener!" ucap Saka sambil nyengir dan menutup bukunya, Saka juga terus memandang wajah Grey sembari menopang wajahnya dengan satu tangan.
"Haish, lu mending keluar deh! Daripada disini cuma bikin keributan gak jelas!" ujar Grey kesal.
"Loh kamu kok usir aku sih? Kan aku kesini mau baca buku, supaya ilmu aku nambah. Kamu gak boleh dong usir orang yang pengen cari ilmu, emang mau kalau ilmu kamu hilang nanti?" ucap Saka.
"Cari ilmu darimana? Yang lu baca aja gak jelas, gue yakin lu bukan mau baca buku disini! Pasti lu cuma mau gangguin gue, iya kan? Hadeh Saka, perpus tuh tempat baca buku bukan gangguin orang lain! Kalo lu mau begitu, mending di kantin aja!" ujar Grey.
"Oh gitu ya Grey?" ujar Saka.
"Iya!" jawab Grey dengan jengkel.
Saka justru tertawa dan membuat Grey semakin jengkel pada pria di sampingnya tersebut, ingin sekali rasanya Grey memukul wajah Saka dengan bukunya.
"Lu bener-bener ya, cepetan deh keluar sebelum gue panggil Bu penjaga perpus buat marahin lu dan usir lu dari sini! Ke perpus kok cuma mau gangguin orang bukannya baca buku!" ucap Grey emosi.
"Hahaha, untuk apa aku baca buku? Yang aku cari itu ilmu untuk meluluhkan hati kamu dan membuat kamu kembali ke dalam pelukan aku, memangnya ada buku model begitu? Gak ada kan? Makanya aku pilih buat deketin kamu aja sekarang, dibanding baca buku pelajaran yang bosenin ini!" ucap Saka.
"Ya terserah lu aja deh!" ujar Grey.
...β’β’β’...
Sementara itu, kini Alan juga kembali menemui Nur setelah pagi tadi sempat bersitegang dengan kekasihnya itu karena perkara identitas asli Nur yang ternyata adalah seorang bidadari dan Alan belum mengakui pada Nur kalau ia sudah tau tentang itu.
Alan pun menghampiri Nur yang tengah bersama sahabatnya di kantin dan coba membujuk gadisnya itu untuk mau ikut dengannya.
"Sayang, kita ngobrol berdua yuk! Ada yang mau aku omongin nih sama kamu, please mau ya!" bujuk Alan meminta Nur pergi berdua dengannya dan mengobrol di tempat yang rahasia.
Nur hanya diam tanpa memperdulikan Alan.
"Sayangku, cintaku dan manis ku! Ayolah, kamu mau ya ikut sama aku ke rooftop! Aku cuma mau bicara kok sama kamu, sebentar aja deh! Nanti abis itu baru kamu boleh balik lagi kesini terus lanjut ketemu sama temen-temen kamu, ya sayang ya!" Alan masih belum menyerah untuk membujuk kekasihnya.
Akhirnya Nur pun mau menoleh ke arah Alan setelah pria tersebut terus saja mengganggunya.
"Haish, kamu mau bicara apa lagi sih? Emang kamu gak lihat apa kalo aku lagi makan dan kumpul sama temen-temen aku? Mending lain kali aja deh kita ngobrolnya, udah sana pergi!" ujar Nur kesal.
"Kamu masih marah ya sama aku?" tanya Alan.
"Pikir aja sendiri!" jawab Nur dengan ketus.
Alan mengusap wajahnya kasar lalu coba mendekati Nur dan berbisik di telinga gadisnya itu.
"Aku emang tau kalau kamu bidadari...." bisiknya.
Nur sontak terkejut dan tubuhnya bergetar karena bisikan dari Alan, Nur juga menghentikan aktivitas makannya dan melirik ke arah Alan dengan tatapan tak percaya.
"Gimana, kamu mau kan bicara sama aku sekarang?" tanya Alan sekali lagi sambil tersenyum.
"Oke, aku mau. Guys, gue ikut sama Alan dulu ya sebentar? Kalian tolong jagain makanan gue disini, nanti gue balik lagi!" ucap Nur akhirnya mau ikut dengan Alan dan berpamitan pada temannya disana.
"Santai aja! Selamat bersenang-senang, Nur!" ucap Diandra sambil terkekeh kecil.
Setelahnya, Alan pun menggandeng tangan kekasihnya lalu membawa Nur ke atap sekolah untuk berbicara dengan gadis itu disana.
__ADS_1
Nur sudah tidak sabar ingin mengetahui darimana sebenarnya Alan mengetahui identitas dirinya.
Sesampainya disana, Alan segera melepas gandengan tangannya lalu melangkah ke depan sedikit masih sambil memunggungi gadisnya yang ada di belakangnya itu.
"Alan, darimana kamu tau tentang itu?" tanya Nur.
Suasana sejuk di tempat itu membuat Nur sulit mengendalikan rambutnya sendiri yang terbang terbawa hembusan angin.
"Maksud kamu?" Alan balik bertanya pada kekasihnya sembari menoleh ke hadapan gadisnya itu dan tersenyum manis, Alan juga melangkah ke dekat Nur tanpa berpaling dari wajahnya.
"Iya, darimana kamu tau kalau aku ini bidadari dan bukan manusia biasa seperti kamu?" tanya Nur sekali lagi memperjelas pertanyaannya.
Alan tersenyum tipis, kemudian membantu Nur untuk merapihkan rambutnya. Alan juga masih berpikir apakah ia harus memberitahu yang sebenarnya kepada Nur kalau ia sempat menguping pembicaraan Nur dengan Lucas tempo hari.
"Soal itu, aku gak sengaja dengar waktu kamu lagi ngobrol sama Lucas di taman. Aku kaget banget pas tau kalau kamu emang bidadari, pantas aja kecantikan kamu sangat berbeda dengan para manusia lainnya di bumi! Awalnya aku gak percaya gitu aja, tapi pas kamu keluarin kekuatan kamu untuk menghilangkan ingatan Lucas tentang jati diri kamu baru deh aku percaya!" jelas Alan.
Nur tersentak mendengar penjelasan kekasihnya.
...β’β’β’...
Disisi lain, Sahira dan Lucas tengah menonton pertandingan basket antar kelas yang diselenggarakan hanya untuk sekedar hiburan. Kebetulan memang Sahira menyukai olahraga termasuk basket, sehingga Lucas dapat mengajak gadisnya untuk menonton pertandingan itu.
Sorak-sorai di sekitar area tribun penonton itu membuat heboh satu gedung lapangan basket, Sahira pun tampak menikmatinya karena jarang sekali ia menonton pertandingan basket.
Lucas yang ada di sampingnya terus saja melirik ke arah kekasihnya, sesekali Lucas juga membelai rambut Sahira lalu tersenyum saat gadis itu menoleh ke arahnya.
"Kamu tuh ngapain sih? Daritadi mainin rambut aku mulu, emang kamu gak mau nonton pertandingannya? Kan tadi kamu yang ajak aku buat nonton loh, kok malah kamu sekarang gak nonton?" tanya Sahira merasa heran pada kekasihnya.
"Ahaha, ya aku nonton juga dong. Cuma aku pengen elus rambut sama wajah kamu aja, soalnya bikin perasaan aku jadi tenang." jawab Lucas santai.
"Hadeh, masih sempat-sempatnya kamu gombal ya? Padahal sekarang kita lagi di lapangan basket, harusnya kamu fokus nonton basket dong bukan malah gombalin aku!" ucap Sahira.
Lucas pun tersenyum lebar.
"Gapapa sayang, aku kan punya dua mata. Yang satu fokus nonton pertandingan, terus satunya lagi ya fokus ngeliatin wajah kamu! Kan aku gak mau anggurin wajah cantik ini lama-lama, nanti kalo dilirik sama orang lain pasti aku bakal marah banget plus nyesel karena udah nganggurin!" ucap Lucas.
"Haish, dasar raja gombal! Emang sih mata kamu ada dua, tapi emang bisa dibagi-bagi gitu buat ngeliat ke lapangan sama muka aku?" tanya Sahira.
"Ya bisa dong, apa yang gak bisa dilakukan seorang Lucas sih? Kamu kan tau aku ini cowok kuat dan bisa melakukan apapun, jangankan cuma berbagi penglihatan. Orang dapetin kamu aja aku berhasil, iya kan?" ucap Lucas sambil tersenyum.
"Ah bisa aja kamu! Yaudah, aku laper nih." ucap Sahira sembari memegangi perutnya.
"Ohh, mau aku beliin makanan di kantin?" tanya Lucas menawarkan diri untuk membelikan makan bagi Sahira di kantin.
"Boleh," jawab Sahira tersenyum.
"Yaudah oke, kamu tunggu disini ya! Biar aku aja yang ke kantin beliin makan buat kamu dan aku, jangan kemana-mana loh! Terus inget juga, kalau ada yang berani gangguin kamu langsung teriak aja panggil nama aku!" ucap Lucas.
"Iya sayang...." ucap Sahira.
"Aduh, meleleh aku dipanggil sayang sama kamu! Emang paling bisa dah cewekku yang satu ini, i love you so much Sahira!" ucap Lucas.
"Ahaha, love you too...." ucap Sahira.
Cupp...
Lucas mengecup pipi Sahira sekilas.
"Yaudah ya, aku ke kantin dulu!" ucap Lucas pamit pada Sahira sambil tersenyum.
"Iya..." jawab Sahira singkat sambil manggut-manggut.
Setelahnya, Lucas pun pergi ke kantin membelikan makanan untuk Sahira dan juga dirinya tentu. Sedangkan Sahira masih tetap berada disana menonton pertandingan basket.
"Eh Sahira!"
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1