
...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...
..."BROKEN ANGEL"...
...π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·...
...~Lebih baik sakit hati, daripada sakit gigi~...
...ΓΓΓ...
#BROKEN ANGEL S3 EPS 10
...β’...
...HAPPY READING....πππ...
...β€οΈ...
Rumah Lucas
Lucas tampak sudah rapih mengenakan jaketnya menuruni tangga dengan cepat, ia bosan jika harus berdiam diri di rumah sembari menikmati hukuman dari sekolah yang menskors dirinya selama beberapa hari akibat bertengkar dengan Saputra.
Kebetulan juga di rumahnya saat ini sedang tidak ada kedua orangtuanya, karena mereka tengah pergi keluar kota untuk mengurus pekerjaan sehingga tak tahu menahu mengenai hukuman yang diterima Lucas dari pihak sekolah kemarin.
Akan tetapi, ada seorang gadis cantik yang tak lain adalah adik sepupunya disana dan memang ditugaskan oleh orangtuanya untuk menemani Lucas selama mereka pergi, mereka tak mau Lucas bertindak seenaknya selama mereka pergi.
"Kak, mau kemana?" tanya gadis itu.
Lucas tersenyum karena ia merasa tadi tak melihat gadis itu disana, namun ketika ia sampai di bawah ternyata dia malah muncul secara mendadak dan mengejutkannya, ia pun mengusap puncak kepala gadis itu dan mengacak-acak rambutnya.
"Keluar sebentar, kamu jaga rumah ya!" ucap Lucas.
"Keluar kemana?" tanyanya lagi.
"Main, udah gausah banyak tanya ya!" ucap Lucas.
"Kak, Gina tuh ditugasin sama om Roni dan tante Milka buat jagain kak Lucas supaya gak main sembarangan, makanya Gina harus tau kak Lucas tuh mau kemana!" ucap wanita bernama Gina.
"Hahaha, udah tenang aja! Gina gausah khawatir, aku gak main sembarangan kok!" ucap Lucas.
"Ya tetep aja, Gina harus tau kak Lucas itu main kemana supaya kalo tante atau om tanya, Gina bisa jawab!" ucap Gina.
"Umm... gak mau ah! Jangan maksa, bye!" ucap Lucas tersenyum mencubit pipi Gina.
Lucas pun bergegas pergi keluar melewati Gina karena ia sudah bosan berada disana sedari tadi, ya Lucas memang tak pernah bisa berdiam diri di rumah walau sudah berulang kali mama papanya meminta ia untuk diam di rumah.
Gina yang cemas terus mengikuti kakak sepupunya itu sampai keluar rumah sembari berteriak memanggil nama Lucas, namun Lucas seakan tak mendengar panggilan dari Gina karena ia tetap ingin pergi keluar menemui teman-temannya.
*Ilustrasi halaman rumah Lucas.
Sesampainya diluar, Lucas langsung menuju garasi untuk mengambil motornya dari dalam sana, tentu Gina masih mengikutinya juga bahkan sampai ke garasi karena ia belum mendapat jawaban dari Lucas mengenai kemana pria itu pergi.
"Hadeh, kamu ngapain sih ngikutin kesini?" tanya Lucas kesal saat melihat Gina disana.
"Ya kan kak Lucas belum jawab pertanyaan Gina, makanya kak Lucas jawab dulu dong biar Gina gak ngikutin kak Lucas lagi!" jawab Gina.
"Gue mau ke markas, udah kan?" ucap Lucas.
"Hehe iya udah, tapi emang gapapa kalo kak Lucas pergi-pergi begitu? Bukannya kak Lucas lagi diskors ya sama sekolah?" ucap Gina.
"Apa hubungannya diskors sama pergi ke markas?" tanya Lucas terheran-heran.
"Ya mana Gina tau, makanya Gina tanya sama kak Lucas tadi! Coba dong dicermati lagi kata-kata Gina barusan, gimana sih kak Lucas?" ujar Gina.
Lucas hanya nyengir sembari geleng-geleng lalu menepuk jidatnya karena Gina benar-benar membuatnya pusing, ingin pergi dari rumah saja ia harus menghadapi kepolosan Gina yang selalu membuat kepalanya hampir meledak.
"Yaudah, kamu mau ikut sama aku atau disini aja?" tanya Lucas.
"Hah? Gak ah, Gina masih banyak tugas dari sekolah yang harus dikerjain! Tapi, kalo kak Lucas disana mau bantuin Gina ngerjain tugas ya gapapa!" jawab Gina.
"Enak aja, tugas lu ya lu sendiri lah yang ngerjain!" ujar Lucas sembari mengambil helm miliknya.
"Kak, jangan pake helm dulu!" ucap Gina langsung menghalangi Lucas yang hendak memakai helmnya, ia bahkan merebut helm itu dari tangan Lucas.
"Haish.... Gina, jangan gangguin gue ya! Balikin tuh helm ke gue, gue mau pergi sekarang!" ucap Lucas.
"Gak boleh, kak Lucas tuh gak boleh pergi! Mending kak Lucas temenin Gina aja disini, sekalian bantuin Gina buat ngerjain tugas!" ucap Gina.
"Ya ampun, udah gini aja deh... Gina ikut sama aku pergi, nanti disana Gina bakal dibantuin sama temen-temen aku buat ngerjain tugas!" ucap Lucas.
"Yang bener, kak?" tanya Gina.
"Iya, udah sini balikin helmnya!" jawab Lucas.
"Oke kak, kalo gitu Gina ke dalam dulu ya? Gina mau ambil jaket sama tugas-tugas Gina, kak Lucas tunggu disini ya?" ucap Gina.
"Iya, cepetan gih!"
Gina yang polos dan gampang dibohongi itu percaya saja dengan perkataan Lucas, ia memberikan helmnya kepada Lucas lalu pergi dari sana kembali ke dalam rumahnya, sedangkan Lucas tentunya menjadikan ini sebagai kesempatan untuk pergi ke markas menemui teman-temannya.
__ADS_1
"Hahaha, gampang amat dibohongin!" ujar Lucas.
Breemm... breemm...
Lucas langsung menancap gas melajukan motornya dengan cepat keluar dari rumah, Gina yang belum jauh mendengar suara motor Lucas lalu kembali lagi ke bawah untuk memastikan bahwa Lucas masih disana atau sudah pergi.
"Kak Lucas, kak....!!" teriak Gina.
"Ish, kok Gina ditinggal sih?" ucapnya heran.
...β’β’β’...
SMA panca sakti
KRIIIINNGGGG... KRIIIINNGGGG...
Bel pulang telah berbunyi dan seluruh murid seperti biasa langsung berhamburan keluar kelas untuk segera pulang atau main-main dulu disana, begitu juga dengan Sahira yang telah selesai membereskan barang-barangnya dan siap untuk pulang.
"Sahira!"
Akan tetapi, suara teriakan dari Saka membuat langkah Sahira terhenti dan ia tidak jadi untuk pergi keluar kelas karena meladeni Saka lebih dulu, ia pun menoleh lalu tersenyum pada Saka yang juga sudah berada di dekatnya saat ini.
"Kenapa?" tanya Sahira singkat.
"Kita keluarnya bareng yuk!" ucap Saka.
"Eee... tumben, biasanya lu kalo pulang juga keluar sendiri aja gak pake ajak-ajak gue! Ini ada apaan kok lu pake segala ngajak gue keluar bareng?" ujar Sahira menaruh curiga pada Saka.
"Gak ada apa-apa sih, gue cuma mau bareng aja sama lu! Emang kenapa, gak boleh?" ucap Saka.
"Boleh kok, yaudah yuk!" ucap Sahira.
Saka pun tersenyum karena Sahira mengizinkannya untuk keluar kelas bareng, Sahira langsung melangkah ke depan menuju pintu keluar disusul oleh Saka dari belakangnya, namun tiba-tiba Saka malah dicegat oleh April saat hendak pergi.
"Heh, mau kemana lu?" tanya April yang menghalangi jalan Saka menggunakan gagang sapu.
"Apaan sih? Ya mau pulang lah!" jawab Saka ketus.
"Enak aja main pulang-pulang sesuka hati, sekarang itu jadwal lu piket! Udah buruan nih, nyapu sono!" ujar April memberikan sapu itu pada Saka.
"Masa sih gue hari ini piket?" ujar Saka.
"Ya iyalah, tuh lu lihat aja di jadwalnya! Ini kan hari Kamis, jadi udah waktunya lu piket!" ucap April.
"Hadeh, iya deh..."
Saka akhirnya terpaksa melaksanakan piket lebih dulu dan mulai menyapu kelasnya, ia melirik sekilas ke arah Sahira yang terkekeh lalu pergi begitu saja meninggalkannya disana, ia pun mendengus kesal karena gagal memanfaatkan momen untuk mendekati Sahira setelah Lucas diskors.
*Ilustrasi lorong sekolah Sahira
Setelah turun dari tangga, kini Sahira tengah celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Nur sahabatnya yang biasa pulang bersamanya, namun ia tak berhasil menemukan Nur disana dan tampak kebingungan sendiri.
"Hey..."
Tiba-tiba muncul suara seorang pria dari dekatnya yang membuat Sahira sedikit terkejut, ia pun menoleh lalu melihat sosok Saputra berdiri disana tengah menatapnya sambil tersenyum dari jarak dekat.
"Eh lu Putra kan?" ucap Sahira.
"Ya, apa kabar?" ucapnya.
"Baik, mau ngapain lu?" ujar Sahira ketus.
"Kelihatannya kamu lagi cari seseorang, siapa? Aku ya? Gak perlu dicari, aku udah ada disini kok!" ucap Putra dengan sangat pede.
"Hah? Gak, bukan bukan! Gue tuhβ"
"Ikut gue yuk!" potongnya.
Saputra menarik paksa lengan Sahira lalu membawanya pergi dari sana melewati murid-murid di lorong yang cukup ramai, Sahira terus berusaha berontak tapi belum berhasil karena Saputra malah mempererat genggamannya.
"Ish, lepasin gue!" ujar Sahira.
"Gak akan, kamu harus ikut gue!" ucap Putra.
"Lu mau bawa gue kemana, ha?" tanya Sahira.
"Ada deh, pokoknya udah nurut aja!" jawab Putra.
"Gak mau! Lepasin gue cepet!!" bentak Sahira.
Namun, Saputra tak memperdulikan teriakan dari Sahira dan ia tetap fokus menarik Sahira membawanya menuju taman sekolah yang indah, ia ingin membuat Sahira terpesona padanya serta menunjukkan pada Sahira kalau ia yang terbaik.
Untung saja, ketika mereka hendak sampai di taman tersebut tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Aldi yang baru turun dari tangga, tentu saja Aldi sigap menghalangi jalan Saputra karena ia melihat Sahira dipaksa oleh pria itu.
"Heh, mau lu bawa kemana Sahira, ha?" ujar Aldi.
"Lu gausah ikut campur!" bentak Putra.
"Enak aja kalo ngomong, jelas gue harus ikut campur dong! Sahira tuh temen gue dan lu gak bisa sakitin dia kayak gini, lagian lu siapa sih ha?" ujar Aldi.
"Alah sok jagoan lu! Minggir atau gue bakal hajar lu!" ujar Putra.
__ADS_1
"Buset berani bener nih anak, lu kelas berapa sih? Perasaan gue baru kali ini ngeliat muka lu di sekolah ini, oh atau jangan-jangan lu penyusup ya disini? ******* ya lu, mau ngebom lu?" ujar Aldi.
"Gausah banyak bacot! Cepet minggir atau gue terpaksa hajar lu!" ujar Putra.
"Awhh.."
Sahira berhasil melepaskan diri dari cengkeraman Putra setelah ia menggigit lengan pria itu cukup kuat, Sahira pun langsung berlari ke dekat Aldi untuk menghindari Saputra yang masih berusaha mendapatkannya.
"Anak baru gayanya selangit, belum tau lu gue siapa? Sekarang lu pilih, mau dihajar pake tangan kanan atau yang kiri...??" ucap Aldi.
"Banyak omong...!!"
Saputra langsung maju menyerang Aldi dengan pukulannya, akan tetapi Aldi sigap untuk menangkis dan bahkan membalikkan keadaan, Aldi berhasil memelintir tangan Putra lalu memutarnya ke belakang dan mencekik lehernya kuat.
"Rasain lu! Sekarang lu mau apa, ha?" ujar Aldi.
Saputra terus berusaha melepaskan diri, namun usahanya sia-sia karena tenaga Aldi cukup kuat sehingga membuatnya hampir kehabisan nafas akibat cekikan itu, beruntung Aldi langsung melepaskannya dan mendorong tubuh pria itu.
"Pergi lu! Dan jangan pernah lu berusaha buat sakitin Sahira lagi...!!" bentak Aldi.
Akhirnya Saputra pun pergi terbirit-birit sembari memegangi lehernya yang sakit, sedangkan Aldi kini menatap Sahira yang berada di sampingnya untuk memastikan apakah kondisinya baik-baik saja.
"Sahira, lu gapapa kan?" tanya Aldi.
"Iya, gue gapapa! Makasih ya, kalo gak ada lu gak tahu lagi deh gue bakal gimana!" ucap Sahira.
"Sama-sama, btw dia itu siapa?" ucap Aldi.
"Ohh, itu murid baru namanya Putra! Dia kelas 10, tapi dia tengil begitu malah dia juga yang udah bikin Lucas sampe diskors 3 hari..." jawab Sahira.
"Waduh, parah bener tuh anak!" ujar Aldi.
"Iya makanya, gue juga heran kok ada ya adek kelas model kayak dia..." ucap Sahira.
"Yaudah, sekarang lu gue anterin aja ya keluarnya supaya lebih aman!" ucap Aldi.
Sahira pun mengangguk setuju karena ia juga agak takut kalau Saputra nantinya akan mendekati ia lagi lalu memaksanya untuk ikut dengannya, akhirnya Aldi menemani Sahira keluar dari sekolah untuk menjaganya dari ancaman Saputra.
β’
β’
"Oh ya, lu bisa anterin gue ketemu Lucas gak?" tanya Sahira pada Aldi saat mereka sudah tiba di depan sekolah.
"Umm... sorry nih Ra, bukannya gue gak mau! Tapi, gue udah ada jadwal sparing voli sama anak-anak!" jawab Aldi tersenyum.
"Ohh, yaudah gapapa! Biar gue sendiri aja yang ke rumah Lucas nanti, makasih ya udah temenin gue sampe ke depan sekolah!" ucap Sahira.
"Sama-sama, yaudah kalo gitu gue balik ke dalam dulu ya?" ucap Aldi.
"Iya,"
Aldi pun kembali ke dalam untuk menemui teman-teman ekskul volinya disana, ia sekarang cukup lega meninggalkan Sahira karena disana pastinya ada pak satpam yang bisa mengawasi murid-murid termasuk Sahira.
Saat melintasi lorong sekolah, Aldi berpapasan dengan Kania yang sepertinya hendak pulang, raut gadis itu langsung berubah tak suka saat melihat keberadaan Aldi disana dan bahkan berpura-pura tak melihatnya.
"Hey, Kania!"
Aldi langsung mencengkeram tangan Kania lalu menatapnya dari jarak dekat, Aldi juga melepas earphone yang dikenakan Kania agar ia bisa bicara jelas dengan gadis itu, tentu Kania pun marah dan berontak dari cengkeraman Aldi.
"Ish, lu ngapain sih?" bentak Kania.
"Aku mau bicara sama kamu!" tegas Aldi.
"Gue gak mau!"
"Harus mau!"
Aldi pun membawa paksa Kania ke belakang sekolah yang sepi dan tidak ada orang selain mereka, disana Aldi mengungkung Kania pada tembok dan menatapnya tajam membuat Kania terus saja berteriak sembari memukul dada Aldi.
"Ssshhh! Diem dulu, Kania!" ucap Aldi sambil menempelkan telunjuknya pada bibir Kania.
"Lu tuh mau apa sih, ha?" tanya Kania.
"Aku mau jelasin sama kamu soal Cat, aku dan dia itu udah gak ada hubungan apa-apa!" ucap Aldi.
"Ya terus, kenapa?"
"Kamu jangan marah dong sama aku!"
"Siapa yang marah?"
"Ya kamu lah!"
Kania memutar bola matanya malas lalu menunduk sembari menghembuskan nafas kasar di hadapan Aldi, pria itu langsung menarik dagu Kania agar bisa menatap mata indah gadis itu lagi.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
Bidadari Sahira ketika ngeliat Lucas ada di depannya,
__ADS_1
Sama aja, cuma yang ini mode genitπ