
...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...
..."BROKEN ANGEL"...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
...~Jangan merasa menjadi manusia yang paling pintar dan menganggap yang lainnya itu lemah/bodoh, karena di atas langit masih ada luar angkasa. Jadi, merendah lah selagi ilmu yang kau kuasai masih cetek! Mending dugem daripada sombong~...
...×××...
#BROKEN ANGEL S3 EPS. 51
...•...
...HAPPY READING....🎉🎉🎉...
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Sahira, Nur, Lucas serta Rara sampai di depan rumah sakit tempat dokter Septian dan suster Sita berada. Mereka berempat tentunya melakukan penyamaran sebagai manusia biasa agar tidak ada siapapun yang curiga disana, bahkan Rara juga sudah memakai seragam perawatnya yang biasa ia lakukan sebelum ini untuk mengelabui suster Sita dan yang lain.
Awal-awal datang disana, mereka tidak sama sekali merasakan sesuatu yang aneh dan semua masih berjalan lancar-lancar saja. Akibatnya, mereka pun terus berkeliling masuk ke dalam rumah sakit itu demi menemukan keberadaan suster Sita dan menangkap si penjahat tersebut untuk dibawa menuju kerajaan langit.
Begitu berada di dalam lorong rumah sakit, Sahira langsung merasakan hawa yang tidak beres disana dan terasa cukup kuat dalam tubuhnya sehingga ia sampai harus memegangi tubuhnya. Lucas pun merasa penasaran dan langsung membantu gadisnya dengan memberikan pelukan hangat, sedangkan Nur serta Rara tetap fokus mencari keberadaan suster Sita dan juga dokter Septian.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Lucas cemas sembari memeluk gadisnya itu dengan erat.
"Gak kok, gapapa. Aku cuma ngerasa ada hawa aneh di dalam lorong ini, mungkin ini adalah kekuatan hitam dari suster Sita yang sudah mulai menyebar ke seluruh ruangan di rumah sakit ini." jawab Sahira.
"Ya, kamu benar. Memang ada aura yang tidak beres di dalam sini, kita harus bisa secepatnya menemukan suster Sita dan menangkapnya sebelum semua ini terlambat! Kamu masih bisa lanjut jalan kan, sayang?" ucap Lucas.
"Bisa kok. Kamu gausah khawatir ya!" ucap Sahira.
"Oke deh, sini biar aku bantu jalan! Gimanapun juga, kekuatan kamu dibutuhkan disini dan kamu gak boleh sampai kehilangan kekuatan kamu walau sedikit!" ucap Lucas.
Sahira tersenyum sembari menatap wajah Lucas.
"Makasih ya! Kamu perhatian banget sama aku, jadi makin sayang deh aku sama kamu!" ucap Sahira dengan nada manja dan menaruh wajahnya pada bahu sang kekasih.
Lucas pun mengusap puncak kepala Sahira yang terletak di bahunya, lalu mengecupnya lembut.
"Iya sayang, aku ini kan pacar kamu. Jadi, gak mungkin aku tega lihat kamu kesakitan atau kenapa-kenapa karena misi penangkapan suster jahat itu!" ucap Lucas.
"Yaudah, kita lanjut yuk! Kasihan tuh Nur sama Rara, mereka kayaknya iri ngeliat kemesraan kita! Buktinya daritadi mereka ngeliatin kita terus, sinis banget lagi tatapannya, bikin takut!" ujar Sahira sembari menunjuk dua rekannya disana dan tersenyum.
"Yeh malah ngeledek! Lagian kamu ngapain malah mesra-mesraan disaat genting kayak gini?" ujar Nur tampak kesal dan mengerucutkan bibirnya.
"Tau tuh! Kita kan disini buat ngelakuin misi dari ratu, bukannya pacaran!" sahut Rara.
Sahira justru tersenyum dan menjulurkan lidahnya meledek Nur serta Rara, ia juga semakin menjadi-jadi dan membenamkan wajahnya di bahu Lucas sang kekasih. Lucas yang melihat tindakan manja dari kekasihnya, tentu merasa senang dan tak mau melewatkan momen ini.
Jedeerrr...
Tiba-tiba saja terdengar suara ledakan dari arah ruang pribadi dokter Septian, sontak mereka berempat langsung kompak menoleh ke arah ruangan tersebut dan terkejut secara bersamaan.
"Tuh kan, ini gara-gara kalian malah pada pacaran! Pasti suster Sita itu udah ngelakuin kejahatannya lagi disana sama dokter Septian, kita harus bisa selamatin dia!" ujar Nur panik.
"Iya, kamu benar." ucap Sahira ikut cemas.
Mereka pun bergegas pergi menuju ke dekat ruang kerja dokter Septian yang tak jauh disana.
•
__ADS_1
•
Sesampainya di depan ruangan dokter Septian itu, mereka berempat langsung tampak berusaha mencari tau apa yang sebenarnya terjadi disana. Sahira dan Nur menempelkan telinga mereka ke dekat pintu tersebut karena rasa penasarannya, sedangkan Lucas juga sudah menjentikkan jari untuk menghentikan waktu disana.
"Gimana?" tanya Rara penasaran.
"Gak ada apa-apa." jawab Sahira.
Lucas pun bergerak maju, ia menyingkirkan Sahira serta Nur dari sana dan berdiri sendirian di depan pintu ruangan tersebut. Tampaknya Lucas ingin mencari tau sendiri, karena ia merasa kalau Sahira dan Nur tidak bisa diandalkan untuk melakukan itu.
Braakkk...
Tanpa basa-basi, Lucas dengan cepat berhasil mendobrak pintu dengan kekuatan bahunya karena rasa penasaran yang membuatnya gelisah. Tentu saja hal itu membuat Sahira serta yang lainnya terkejut, karena tindakan Lucas dianggap terlalu berani tanpa memikirkan resikonya nanti.
Rasa terkejut dari Sahira dan yang lainnya kini berganti, setelah mereka melihat secara langsung wujud asli dari sang suster Sita di dalam sana. Terlebih lagi, kondisi dokter Septian juga sedang pingsan dan rupa wajahnya sudah tak berbentuk seperti manusia pada umumnya.
Suster Sita itu langsung terkejut dan seketika lidahnya menjulur keluar, kini mereka semua tau jika Sita adalah siluman ular hitam yang sedang menyamar dan hendak menjadikan dokter Septian sebagai anak buahnya seperti saat Elargano melakukan hal yang sama pada Kirana.
"Hey! Apa yang kamu lakukan pada dokter Septian, ha?" bentak Lucas emosi.
"Kurang ajar! Beraninya kalian menghentikan proses pengangkatan yang sedang aku lakukan, kalian ini memang mencari mati!" ucap Sita.
"Ya, ini sudah saatnya kamu ditangkap!" ucap Sahira.
"Hahaha, mimpi apa kalian ingin menangkap ku ha? Yang ada aku lah yang akan menghabisi kalian semua satu persatu, karena aku adalah sang ratu ular yang hebat!" ucap Sita menyombongkan diri.
"Jangan sombong dulu, Sita! Kekuatanmu itu tak sebanding dengan kami. Apalagi kamu hanya seorang diri, sedangkan kami ada empat orang. Sudah pasti kamu tidak akan bisa menandingi kekuatan kami, sebaiknya kamu menyerah saja sekarang dan tidak perlu susah-susah menghadapi kami disini!" ucap Nur membalas kesombongan Sita.
"Kurang ajar! Akan ku bungkam mulut sombong mu itu dasar bidadari bodoh!" bentak Sita.
"Coba saja, itu juga jika kau bisa melakukannya. Tapi, aku tidak yakin kamu bisa." ucap Sahira.
"Hahaha, kalian tidak akan semudah itu untuk bisa menangkap ku! Coba saja kalau bisa, dan jangan salahkan aku jika kalian semua mati!" ujar Sita.
Lucas yang sudah terlanjur emosi, langsung dengan cepat melakukan serangan dahsyat ke arah jantung dari Sita. Tampaknya Lucas memang sudah mengetahui bagian kelemahan dari siluman ular tersebut, itulah sebabnya ia memberikan serangan pada bagian itu berulang kali. Namun, semua serangannya berhasil ditangkis dengan Sita tanpa ada kesulitan sama sekali darinya.
Sementara Sahira serta kedua bidadari yang lain, hanya menonton saja pertarungan antara Sita dengan Lucas yang cukup dahsyat.
...•••...
Disisi lain, Aldi sedang ngapelin Kania di rumahnya dan tampak gembira sekali dapat mengobrol berdua dengan gadis yang ia sukai itu. Walau tentunya Kania masih tetap saja bersikap cuek pada pria tersebut, namun hal itu tak membuat Aldi menyerah untuk terus berusaha mendekati Kania dan dapat mengambil hati gadis tersebut.
Minuman dingin serta sepiring cemilan menemani keduanya selama mengobrol di teras depan rumah yang cukup besar itu, sesekali Aldi mengambil gelas tersebut dan meminum minuman di dalamnya untuk menyegarkan tubuhnya. Namun, tentunya ia lebih sering berbincang dengan Kania dan memandangi wajah cantik gadis yang menjadi idamannya.
"Kania, kamu tuh makin cantik aja deh! Wajah kamu enggak bosenin deh, aku tiap kali ngeliat kamu pasti selalu suka banget!" ucap Aldi memuji kecantikan wajah gadis di hadapannya itu.
"Makasih!" ucap Kania jutek dan cuek. Ia mengambil cemilan di meja lalu memakannya tanpa memperdulikan Aldi.
"Duh, walaupun jutek kamu tetep cantik tau! Malahan muka kamu tambah manis dan makin enak dilihat, gak nyesel aku pagi-pagi udah datang kesini! Kalau bisa sih, setiap hari aku bakal datang kesini buat temuin kamu supaya aku bisa lihat muka kamu yang bikin nagih itu!" ucap Aldi terus melontarkan gombalan pada gadisnya.
Kania hanya diam sembari memutar bola matanya, ia malas sekali meladeni gombalan dari Aldi.
"Kania, aku mau tanya deh sama kamu. Kalau misal katanya di bumi ini gak ada yang sempurna, lantas darimana kah asal kamu, cantikku?" ucap Aldi sambil senyum-senyum tidak jelas.
"Uhuk uhuk...."
Tiba-tiba saja, Valen justru muncul keluar dan terbatuk-batuk di hadapan Kania serta Aldi. Sontak Aldi dan Kania pun menoleh secara bersamaan ke arah Valen karena terkejut, mereka menatap heran tak mengerti mengapa Valen bisa batuk-batuk begitu padahal tidak sedang minum atau apa.
"Kak, lu kenapa sih?" tanya Kania terheran-heran.
"Hah? Eee enggak kok. Ini tadi tenggorokan gue kerasa gatel banget, makanya gue batuk. Udah lanjut aja ngobrolnya! Eh bro, gombalan lu mantap! Gue kasih bintang lima deh!" ucap Valen.
__ADS_1
"Ahaha, itu gue nyontek dari tiktok bang." ucap Aldi sambil tertawa kecil.
"Yeh gausah lu kasih tau juga! Tuh si Kania jadi hilang bapernya, harusnya lu sembunyiin aja!" ucap Valen menyayangkan perkataan Aldi.
"Apaan sih lu? Siapa yang baper?" ujar Kania.
"Hahaha.... udah ah, gue mau jalan sama Tiara. Lu kalo misal mau pergi keluar juga atau masih mau ngobrol disini, yaudah gapapa terserah sih! Gue cabut dulu, ya? Assalamualaikum," ucap Valen.
"Waalaikumsallam, dasar gak jelas!" ucap Kania menjawab salam abangnya dengan wajah cemberut.
"Waalaikumsallam, hati-hati lu, bang!" ucap Aldi juga menjawab salam Valen.
Setelahnya, Valen pun pergi dari sana untuk segera menjemput Tiara di rumahnya. Ya memang weekend seperti ini pasti selalu dijadikan setiap orang untuk jalan-jalan bersama pasangannya, termasuk Valen yang akan mengajak Tiara pergi keluar.
"Kania, kita jalan-jalan juga yuk! Kan jarang loh kita jalan berdua, pasti tambah asyik deh!" ucap Aldi mengajak Kania pergi keluar juga.
"Enggak ah! Gue mau disini aja, lagi mager kemana-mana gue." ucap Kania menolak ajakan Aldi sembari menaruh dua tangannya di depan.
Aldi pun hanya bisa pasrah sembari menghembuskan nafas kasarnya.
...•••...
Alan memimpin pasukan wild blood, kini mendatangi kembali tempat terjadinya kasus pembunuhan terhadap Saka alas teman mereka di sebuah jalanan dekat pepohonan rindang. Alan memang menjadi orang pertama yang menemukan jasad Saka tergeletak disana dengan kondisi mengenaskan, ia pun sengaja mengajak anggota wild blood datang kesana untuk memeriksa tempat tersebut.
Seluruh anggota wild blood yang ikut bersama Alan, kini turun dari motor mereka masing-masing dan mulai mencari apapun yang mencurigakan dan dapat dijadikan bukti, kebetulan daerah itu memang sepi dan jarang sekali dilewati oleh kendaraan karena tempatnya yang gelap dan menyeramkan.
"Lan, disini tempatnya?" tanya Geri.
"Iya bener, gue pertama kali temuin mayat Saka itu disini. Dia udah tergeletak di jalan situ dan keadaannya parah banget, gue sama Nur aja sampe syok banget lihatnya." jawab Alan.
"Kalo gitu, kita coba susuri dulu daerah sini! Siapa tau ada petunjuk yang bisa kita dapetin." ucap Geri.
"Tapi Lan, polisi kan udah datengin tempat ini kemarin. Mereka gak dapetin apa-apa kecuali gergaji mesin yang dipakai si pelaku buat bunuh Saka, itu juga kan lu sendiri yang temuin disini dan serahin ke mereka." ucap Daffa.
"Ah itu kan polisi! Kita harus cari juga di sekitar sini, siapa tau emang ada sesuatu yang bisa kita dapatkan disini." ucap Geri yakin.
"Iya, gak ada salahnya kalau kita coba buat cari barang bukti disini. Sekarang kita mencar aja dan susuri semua jalan disini, Wildan sama Figo ikut gue! Sisanya bebas, bisa kalian atur!" ucap Alan.
"Oke, Lan!" ucap mereka bersamaan.
Disaat mereka hendak berpencar dan pergi mencari bukti untuk mengungkap pelaku pembunuh Saka, tiba-tiba saja geng the darks muncul dan mencegat jalan mereka dari arah depan. Sontak Alan serta yang lainnya langsung syok begitu melihat para anggota the darks disana, terlebih geng the darks dalam jumlah yang sangat banyak.
"Hahaha, pas banget kita ketemu disini." ucap Willy melepas helm dan tersenyum ke arah Alan serta anak-anak wild blood disana.
"Mau apa kalian? Sebaiknya kalian jangan ganggu kita sekarang ini, karena kita lagi gak ada waktu buat ladenin kalian! Sekarang kita harus cari bukti tentang pelaku pembunuhan Saka, mending kalian pergi aja deh!" ujar Alan emosi.
"Oh iya ya, si Saka yang lemah itu abis mati kemarin. Sorry sorry kita lupa, tapi kita juga gak peduli sih! Hahaha...." ujar Willy tertawa keras lalu diikuti oleh para anggota the darks yang lainnya.
"Kurang ajar! Dasar gak ada adab!" ujar Geri.
Geri hendak maju menyerang Willy dan yang lainnya, namun dengan cepat dicegah oleh Alan.
"Sabar!" ucap Alan menenangkan Geri.
"Iya Ger, kita gak boleh terpancing emosi sama mereka. Sekarang ini kita kalah jumlah, apalagi kita juga harus cari info tentang pembunuh Saka." ujar Wildan dengan suara pelan.
"Iya..." ucap Geri sembari menghembuskan nafasnya kasar dan merasa lebih tenang.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1