Broken Angel

Broken Angel
Part 30


__ADS_3

Allena melajukan mobil Alphard nya dengan kecepatan sedang.Tubuhnya belum lah fit untuk mengendarai mobil dengan laju tinggi.


Allena menyetel radio di mobilnya sebagai teman perjalanannya yang dia rasa amat membosankan dan jengah karena terasa lama sampai ke rumah.


"Lah ngapain juga gue pulang ke rumah.Toh,di rumah juga ada mbak Surti beserta antek-anteknya.Tak ada yang lain".Keluh Allena.


Yah,Allena kesepian di rumah megah nan luas.Tak,ada canda tawa dan komunikasi antar keluarga.Hidupnya hanya di kelilingi oleh beberapa asisten rumah tangga yang di pekerjaan oleh sang mamah untuk mengurus rumah megahnya.


Diantara alunan musik yang memekakkan telinga karena Allena, mengeraskan volume suara radionya.Allena sesekali mengikuti alunan musik yang menggambarkan perasaan hatinya.


'Broken angel'.Lagu itu di pilih Allena karena sesuai dengan keadaannya.Dia yang menjadi korban dari broken home, ternyata tidak sesakit saat dia merasakan kehilangan orang yang telah memberikan kebahagiaan walaupun hanya sementara.


Allena masih memikirkan pria yang tanpa sengaja telah memberikan earphone padanya.Dia yang memberikan senyum semangat,di balik kerasnya hidup.

__ADS_1


Selama itu Allena terus mencari keberadaan pria tak di kenalnya.Tapi, selama itu pula dia tak kunjung menemukan.Kehilangan orang yang memberikan kenyamanan walau hanya sebentar mampu membuat dia menjadi broken Angel.Frustasi akan ketidakberdayaan dia dalam menemukan sang pria,belum lagi perceraian orang tuanya yang menambah daftar penderitaan baginya.


Di tengah hentakan alunan musik,Allena merasakan kerongkongannya terasa kering kerontang,sejak tadi dia belum minum dan sekarang dia tengah merasakan efeknya.


"Aish,haus juga lama-lama yah?".Gumam Allena.


Dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan,mencari minimarket atau warung yang masih buka di malam hari.


"Nah itu dia".Tunjuk Allena,pada salah satu angkringan.


Beruntung,di dashboard mobil ada uang pecahan lima puluh ribu an yang mungkin itu adalah milik supir pribadi Allena."Gue ambil uang loe,pak tarno yang dekil".Ucap Allena, sebelum turun dari mobilnya.


Disinilah dia,dia sedang berada di angkringan untuk membeli sebotol Aqua dan juga sebungkus rokok yang iklannya sering muncul di tengah malam.

__ADS_1


Rokok yang di beli Allena memang bukan seperti rokok yang di belinya di supermarket,tapi itu cukup baginya untuk mengeluarkan sedikit beban melalui kepulan asap rokok.


Allena,duduk di pinggiran jalan dengan menegak habis isi botol Aqua, seperti orang yang tengah kehausan.Bak orang yang berada di Padang pasir.


Allena mengeluarkan batang rokok dari bungkusnya, menempelkannya diantara bibir munggil dan menyalakan rokok itu dengan korek api yang lagi dia temukan di dashboard mobil nya.


Setiap kepulan asap yang keluar dari bibir munggil Allena, seakan mewakili satu beban masalah.Semakin di hirup,semakin lega.Seakan tak ada lagi beban masalah dalam hidupnya.


Tak ada kamus kapok dalam diri Allena setelah dia di temukan pingsan dengan beberapa kondisi kesehatannya yang bermasalah.Tak memperdulikan keadaan paru-paru nya yang mungkin sudah menghitam bila di telisik menggunakan sinar X-Trail.


Tak pula memperdulikan usianya yang masih muda,dia tak peduli soal kesehatan nya.Toh,orang tuanya aja juga tak pernah bertanya tentang masalah yang di hadapi olehnya.


"Jangan salahkan aku jika aku menjadi seperti ini".Gumam Allena,diantara kepulan-kepulan asap rokok.

__ADS_1


Saat itu pula,ekor matanya tak sengaja menangkap sosok yang di rindukannya.Kekadih hati yang hampir seharian penuh tak ada kabar dan bahkan tak mengetahui kondisi kesehatannya.


"Itu-".


__ADS_2