
...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...
..."BROKEN ANGEL"...
...π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·...
...~Kehidupan di dunia itu hanya sementara, yang kekal hanyalah akhirat. Jangan sampai kita lalai dan lebih fokus pada dunia yang sementara, dibanding akhirat yang selamanya~...
...ΓΓΓ...
#BROKEN ANGEL S3 EPS. 48
...β’...
...HAPPY READING....πππ...
...β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ...
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Lucas dan Sahira muncul juga di parkiran dan menemui para teman-temannya disana. Sontak mereka semua yang sudah ada disana lebih dulu, tampak sumringah ketika melihat Lucas serta Sahira sudah muncul dan langsung bersiap untuk meluncur pergi menuju tempat tinggal Saka dan akan mengantarkan Saka ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Bahkan Diandra bersama ketiga temannya, sudah pergi menuju parkiran mobil untuk menumpang di mobil Tiara. Kania sebenarnya ingin ikut dengan teman-temannya itu naik mobil, namun Aldi justru menahannya dan mencekal lengannya ketika ia baru hendak berjalan mengikuti Diandra serta yang lain. Aldi mengatakan pada Kania kalau gadis itu harus bareng dengannya dan tidak boleh menolak, akhirnya Kania pun pasrah saja tak berani melawan.
"Oke guys! Sorry ya, gue lama! Soalnya tadi ada kendala sedikit di jalan menuju kesini. Eee yaudah, kita langsung gas aja kali ya berangkat kesana sebelum terlambat!" ucap Lucas.
"Iya bener, ayo sayang kamu naik ke motor aku dan kita langsung berangkat sekarang!" ujar Alan.
"Iya..." Nur mengangguk kemudian naik ke atas jok motor Alan dan melingkarkan tangannya pada pinggang kekasihnya tersebut.
Sementara Sahira juga langsung ditarik oleh Lucas menuju ke motornya, Lucas pun memberikan helm dan memakaikan itu pada kepala gadisnya. Sahira tampak tersenyum saja sembari memandangi wajah kekasihnya yang terlihat lebih tampan saat ini.
Aldi pun menatap wajah Kania sekilas, dengan cepat ia mencengkram kuat tangan gadis itu dan membawanya ke dekat motornya agar Kania tidak bisa kabur darinya karena ia ingin sekali Kania dibonceng olehnya bukan bareng dengan Tiara.
Jack yang jomblo itu, hanya bisa mendengus pasrah melihat teman-temannya tampak membonceng pasangan mereka masing-masing, sedangkan ia hanya bisa membonceng angin.
"Jack..."
Tiba-tiba saja, Grey justru menghampiri Jack dan memanggil nama pria tersebut setelah ia berhenti tepat di samping motor Jack.
"Eh iya, kenapa Grey?" tanya Jack heran.
"Gue bareng lu, ya? Motornya Zefora tiba-tiba mati, jadi dia terpaksa bareng Kia dan gue ya mau gak mau harus bareng sama lu." jawab Grey.
Senyum terukir di bibir Jack mendengar perkataan Grey barusan padanya, ia tak menyangka ternyata ada juga yang mau dibonceng olehnya, ya walau hanya karena terpaksa.
"Oke, boleh! Nih pake helmnya!" ujar Jack sangat gembira sembari memberikan helm pada Grey.
"Thanks!" ucap Grey menampani helm tersebut.
Lucas dan yang lainnya senyum-senyum saja menyaksikan Jack tengah bersama Grey, mereka tau betul bagaimana perasaan Jack saat ini.
"Hahaha, yang bener lu bawa motornya! Nanti tremor lagi gara-gara baru pertama kali bonceng cewek, inget lu jangan sampe kenapa-napa tuh si Grey!" ucap Lucas pada Jack.
"Yaelah, santai aja kali bro! Kalo misal jatuh, kan ada kalian yang nolongin!" ujar Jack nyengir.
"Yeh kagak lah! Kalo lu jatuh, ya kita mah cuma nolongin si Grey. Ngapain nolongin elu coba?" ujar Aldi sambil tertawa kecil.
"Ah jahat lu, Al!" ujar Jack.
"Hahaha..."
Semuanya tampak tertawa begitupun dengan Jack, sedangkan Grey hanya senyum-senyum saja karena ia masih sedikit bersedih setelah ditinggal pergi oleh Saka untuk selamanya.
Setelah puas tertawa, mereka pun pergi dari sekolah dengan kendaraan masing-masing. Jack agak kagok karena baru kali ini membonceng seorang wanita, apalagi wanitanya adalah Grey si cantik milik almarhum Saka alias temannya.
...β’β’β’...
__ADS_1
Disisi lain, Rara yang tengah menyamar sebagai seorang perawat di sebuah rumah sakit. Kini baru selesai memberi obat pada seorang pasien di ruangan VIP, Rara pun pamit keluar dan membiarkan pasien tersebut istirahat setelah meminum obat darinya. Ya kali ini ia akan lanjut melakukan penyelidikan tentang dokter Septian serta suster yang membantunya itu, yakni Sita.
Rara sangat penasaran siapa sebenarnya Sita dan apa yang hendak dilakukan olehnya kepada dokter Septian, entah mengapa firasatnya mengatakan jika Sita bukanlah sosok manusia seperti biasanya, karena ia merasakan hawa aneh ketika bersentuhan secara langsung dengan Sita beberapa waktu lalu.
Tanpa disengaja, Rara melihat Sita dan juga dokter Septian masuk ke dalam ruangan dokter itu sambil berpegangan tangan. Tentu saja Rara merasa heran mengapa mereka terlihat sedekat itu, ia pun coba mengikuti mereka dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi disana dan mengapa juga sang ratu sampai memintanya menyamar disana.
Rara menggunakan kekuatannya untuk dapat menguping pembicaraan mereka dari balik pintu, ia tentu tak mungkin ikut masuk ke dalam, karena khawatir jika mereka akan curiga padanya dan tidak jadi melakukan apa yang mereka inginkan.
"Dok, kita istirahat dulu ya disini! Dokter kan pasti capek abis ngerawat pasien sana-sini, biar saya pijat kepala sama pundaknya ya, dok." ucap Sita.
"Ah iya, kebetulan kepala saya terasa pusing sekali. Hari ini banyak banget pasien yang rewel minta ini itu, udah gitu mereka sakitnya berat-berat semua lagi!" ucap dokter Septian.
"Nah kan, saya mah selalu tau apa yang dokter rasakan dan inginkan." ucap Sita.
"Hahaha, memang kamu pantas menjadi suster pribadi saya. Yasudah, sekarang tolong kamu pijat saya dengan agak keras ya!" ucap dokter Septian.
"Baik, dok!" ucap Sita.
Setelah itu, tak terdengar apapun lagi dari dalam sana yang membuat Rara tak mampu mengetahui apa yang tengah mereka lakukan sekarang.
"Mereka lagi ngapain, ya?" gumam Rara dalam hati.
Tak lama kemudian, justru terdengar suara aneh dari dalam ruangan tersebut. Ia mendengar seperti ada suara cahaya atau apalah itu dari dalam sana, karena penasaran ia pun coba kembali menempelkan telinganya ke dekat pintu untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam sana.
Ceklek...
Rara pun terpaksa membuka pintu, karena ia semakin penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh mereka di dalam sana. Ya benar saja, firasatnya memang tidak pernah salah dan kali ini ia berhasil memergoki Sita tengah melakukan sesuatu terhadap kepala dokter Septian.
"Hey! Apa yang kamu lakukan?" tegur Rara.
Sita yang tengah serius menggunakan kekuatannya kepada dokter Septian pun terkejut, ia menoleh ke arah depan lalu melihat Rara berdiri disana tengah menatap ke arahnya.
"Kurang ajar! Berani sekali kamu masuk ke ruangan dokter tanpa izin, dasar anak baru tidak tau diri!" bentak Sita emosi.
"Biar saja! Karena aku akan melindungi dokter Septian dari wanita jahat sepertimu! Sekarang kamu hentikan apapun itu yang kamu lakukan pada dokter Septian, atauβ"
Sita langsung mengarahkan kekuatannya pada Rara dan mencekik leher bidadari tersebut dengan sangat kuat sambil tertawa.
"Aaakkhhhh..." pekik Rara memegangi lehernya.
...β’β’β’...
Lucas dan yang lainnya telah sampai di tempat tinggal Saka, mereka pun sama-sama masuk bertemu dengan para anggota wild blood lainnya yang sudah lebih dulu sampai serta guru-guru panca sakti yang datang kesana menemani sampai ke acara pemakaman nanti.
Grey turun dari motor Jack, lalu menyerahkan helm yang ia pakai tadi kepada pria tersebut dan pergi begitu saja menghampiri kedua orang tua Saka. Grey amat sangat bersedih melihat ibu dari Saka yang tengah menangis di pelukan saudara-saudaranya, termasuk para guru di SMA panca sakti.
"Assalamualaikum..." mereka semua mengucap salam sembari bersalaman kepada seluruh orang yang ada di depan sana.
"Waalaikumsallam, eh kalian udah pada sampai." ucap Bu Tantri mewakili semua yang ada disana.
"Tante..." Grey langsung menghampiri sang ibu dari Saka lalu duduk di sampingnya sembari memegang tubuh wanita tua tersebut, ia berusaha untuk menghiburnya agar tidak terus bersedih.
"Kamu pasti Grey?" ucapnya sambil terisak.
"Iya tante, kok tante bisa tau?" tanya Grey terheran-heran.
"Iya, Saka selalu cerita tentang kamu ke tante. Dia juga tunjukin foto-foto kamu hampir setiap hari, Saka memang sangat cinta sama kamu dan dia bangga bisa punya kekasih seperti kamu!" jawab sang ibu bernama Damini.
Grey langsung terdiam begitu mendengarnya, ada rasa sedih sekaligus bersalah yang ia rasakan saat ini saat mendengar cerita dari Damini.
"Terimakasih ya, kamu sudah mau datang! Saka pasti senang sekali melihat kamu hadir disini menemani dia, karena dia sangat mencintai kamu!" ucap Damini sembari mengusap matanya.
"Iya tante, aku juga emang pengen temenin Saka untuk yang terakhir kalinya." ucap Grey.
Setelahnya, Damini merangkul pundak gadis di sampingnya itu lalu mengusap-usapnya sembari mengingat tentang Saka yang selalu ceria setiap kali menceritakan Grey kepadanya, Damini tak menyangka ia akhirnya bisa bertemu dengan gadis yang sering diceritakan putranya itu.
__ADS_1
Para saudaranya yang ada disana, ikut merasa terharu dan bersedih ketika melihat Damini dan Grey tengah berpelukan. Begitupun juga dengan Lucas serta teman-temannya yang lain, mereka semua tak bisa menahan air mata yang menetes begitu saja membasahi wajah mereka.
"Kamu nangis lagi?" tanya Sahira yang berada di samping kekasihnya, ia mendongak lalu menatap wajah Lucas sambil tersenyum.
"Eee aku terharu aja. Grey sama ibunya Saka kelihatan sedih banget, aku kan jadi ikutan nangis gara-gara ngeliat mereka." ucap Lucas.
"Iya, aku tau. Sama kok, aku juga begitu." ucap Sahira sembari mengusap punggung kekasihnya dan menatap wajah Lucas sambil tersenyum.
Lucas pun merengkuh pinggang gadisnya, lalu mengusap puncak kepala Sahira dengan lembut sembari mengecupnya sekali. Mereka berdua tampak saling menenangkan dan berharap tidak ada lagi air mata yang tumpah disana, walaupun perasaan mereka saat ini sangat sedih.
Alan yang berada tak jauh dari Lucas, menghampiri pria tersebut untuk coba bertanya padanya.
"Kas, mana para geng motor yang udah lu hubungin? Kok mereka belum dateng juga kesini sih?" tanya Alan penasaran sembari celingak-celinguk.
"Sabar aja! Info terakhir katanya mereka udah di jalan menuju kesini, mungkin sebentar lagi sampe." jawab Lucas sambil tersenyum.
Alan manggut-manggut terdiam.
β€οΈ
Tak lama kemudian, rombongan pemotor muncul di halaman rumah Saka. Ya mereka adalah para anggota geng motor yang siap mengawal pemakaman Saka hari ini sesuai dengan yang diminta oleh Lucas, tentu saja segerombolan geng motor tersebut langsung turun dan bersiap untuk menghampiri Lucas serta yang lainnya disana.
Melihat kedatangan mereka, Lucas langsung tersenyum senang. Begitupun dengan Alan juga yang lainnya disana, kebetulan Lucas juga sudah meminta izin pada pihak keluarga sehingga tidak ada salah paham diantara mereka kali ini dan proses pemakaman Saka bisa segera berlangsung.
"Kas, gue turut berdukacita ya!" ucap ketua geng Roger.
"Sama bro, gue mewakili anak-anak Andraks ikut berduka atas meninggalnya salah satu anggota geng wild blood." sahut ketua geng Andraks.
"Iya bro, anak-anak Rangers juga sangat berduka karena gimanapun juga kita kan udah kayak saudara sendiri." ucap ketua geng Rangers.
Ya total geng motor yang hadir memang ada lima, namun cukup ditampilkan tiga itu saja karena kalau semuanya bicara nanti kelamaan dan bisa makan waktu. Tapi, anggap saja dua geng motor yang lain juga ikut bicara walau gak ditampilkan author.
"Terimakasih guys! Kalian sudah mau datang kesini buat temenin Saka, dalam pemakamannya." ucap Lucas.
"Sama-sama, kita sesama geng motor kan udah seperti saudara. Jadi, disaat ada yang butuh bantuan pasti kita bakal bantu!" ucap ketua geng Rangers.
"Yaudah, duduk dulu!" ucap Lucas.
Disaat mereka baru duduk disana, tiba-tiba mobil jenazah yang akan digunakan untuk mengantar Saka menuju peristirahatan terakhirnya datang. Ya tentu saja mereka langsung berdiri kembali untuk bersiap mengawal perjalanan Saka hari ini, semuanya tampak bersedih menitikkan air mata begitu mendengar suara ambulance yang tiba disana.
Rombongan orang-orang membawa jenazah Saka masuk ke dalam ambulance tersebut, diiringi isak tangis dari Damini serta para saudara Saka dan teman-teman yang hadir disana.
"Tante, yang sabar ya!" ucap Grey.
"Iya nak, kamu ikut sama tante ya ke mobil! Kita antar Saka untuk yang terakhir kalinya, supaya Saka bisa tenang disana." ucap Damini.
"Pasti tante!" ucap Grey.
Setelahnya, mereka pun masuk ke dalam kendaraan masing-masing. Tentunya geng-geng motor yang hadir disana akan mengiringi ambulance tersebut sembari membawa bendera kuning tanda berduka, Lucas amat sangat sedih mengingat semua momen yang dulu pernah ia lakukan bersama Saka.
Perjalanan pun dimulai, Lucas serta anak-anak wild blood memimpin ambulance itu paling depan menuju pemakaman tempat Saka akan dikebumikan. Sedangkan dari pihak keluarga, mengikuti di belakang ambulance dengan mobil mereka.
Geng-geng motor yang lainnya, berada paling akhir dalam barisan mengiringi perjalanan itu sembari membawa bendera kuning di tangan mereka.
Seluruh pengguna jalan kompak memberi jalan saat sirine ambulance terdengar, tak jarang dari mereka juga memvideokan momen tersebut karena sangat langka terjadi.
"Hari ini gue sama yang lain antar lu menuju pemakaman, Saka. Tapi, siapa yang tau kalau selanjutnya gue yang akan diantar seperti ini. Selamat jalan Saka! Jasa lu buat wild blood akan selalu gue kenang!" gumam Lucas dalam hati.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...|||...
...Selamat Jalan Saka...
__ADS_1
...π₯π₯π₯...