
Allena menangis tersedu-sedu di bawah pohon rindang dan dalam pelukan seorang pria yang merupakan gurunya.Pelukannya mampu memberikan ketenangan bagi jiwanya yang lemah dan tak berdaya.
Jiwa Allena sudah terguncang saat perceraian orang tuanya terjadi.Pertengkaran demi pertengkaran sering dia saksikan,bentakan itu seakan menghujam jantungnya dan kekerasan fisik seakan merobek-robek mentalnya.
Diantara rasa nyaman karena di peluk oleh seorang pria ini,Allena merindukan prianya yang dulu pernah menawarkan diri untuk dia berkeluh kesah,untuk dia tumpahkan segala beban pikirannya.
"Kenzo".Gumam allena.
Rey, mengerutkan keningnya sesaat setelah Allena mengumamkan nama Kenzo.Seakan nama itu,orang itu sangat berarti. bagi Allena.
"Kenzo?".Tanya Rey, melepaskan pelukannya di tubuh allena."Siapa Kenzo?". Tanya rey.
Allena masih hanyut dalam kesedihan,mana dia mendengarkan pertanyaan rey.Dia duduk meringkuk seakan merasakan kesakitan.
Melihat Allena yang masih menangis tersedu-sedu itu membuat rey tidak lagi bertanya.Fokusnya adalah menghiburnya bukan memberikan pertanyaan yang mungkin itu akan membuat diri Allena terguncang lagi.
Di pojok sana,tak jauh dari tempat Rey dan Allena bertepi.Mamah Axel juga meneteskan air matanya,tak menyangka kehidupan yang dialami putrinya akan menjadi seperti ini.
__ADS_1
Dia bukan tak sadar atas apa yang dia berikan terhadap allena,lagi keegoisan nya lah yang menguasai dirinya.Sibuk bekerja dengan dalih demi masa depan anak,rela banting tulang setelah berpisah dengan suaminya.
"Allena".Gumam mamah Axel,memegang dadanya yang terasa sesak baginya."Maafkan mamah nak". Sesalnya.
Dia tak berani untuk menemui sang putri, rasanya tak kuat melihat putrinya merasakan kesakitan akibat ulahnya tapi kehidupan memang hanya memberikan dua pilihan yang sama-sama beresiko dan sulit untuk memilih.
"Allena".Teriak ayah Allan.
Yah,ayah Allan juga menyusul mantan istrinya untuk mencari Allena, putri kandungnya setelah tadi raib entah kemana.Saat perdebatan dirinya dengan mantan istrinya.
Allena,menoleh pada sumber suara.Menghapus jejak air matanya,dia bangkit berdiri.Ingin rasanya dia berlari sejauh mungkin,jauh dari orang-orang yang dengan sengaja menghancurkan hidupnya.
Ayahnya terus meneriakkan namanya sembari berlari kearahnya membuat Allena ketakutan.Dia berbalik arah dan berlari sejauh mungkin,berlari dari dari sosok yang memberikan cinta tapi kemudian memberikan luka di hatinya.
"Allena".Rey,juga ikut berlari mengejar allena.Tak akan dia biarkan Allena bersedih hati terus-menerus yang berakhir ke bar lagi seperti kejadian yang kemarin.
"Jangan ikuti gue, bego".Gertak Allena.
__ADS_1
Rey,mana mau mengubris gertakan allena.Sekuat tenaga,dia berlari mengejar allena.Muridnya yang entah sejak kapan dia mulai merasakan khawatir atas hidup Allena.
"Kau boleh membenci tapi bukan berlari.Lari tidak akan menyelesaikan masalah".Teriak Rey,masih berusaha mengejar allena.
"Tau apa loe tentang hidup gue?, jangan jadi pahlawan kesiangan loe'.Sentai Allena.
Pada langkah kaki yang entah keberapa,allena merasakan dadanya nyeri.Tak kuat lagi menahan sesak di dadanya.
"Sakit".Pekik allena sembari memegangi dadanya.
"Are you oke?".Tanya Rey, setelah bisa mengejar allena.
Allena menatap Rey sinis."Kelihatan nya?".
"Kau sakit?,kita ke dokter".Bujuk rey,merangkul tubuh Allena.
"Singkirkan tangan loe dari gue". Gertak allena."Gue gak butuh pertolongan dari loe dan yah,gue terbiasa mengobati luka sendiri jadi loe gak usah perduli in gue".Allena menyentak tangan rey hingga pelukannya terlepas.
__ADS_1
"Al,apapun masalah mu.Bagi lah dengan orang lain agar diri mu tidak merasa sendiri ".
"Kenyataan gue selalu sendiri.Hanya sebatang rokok dan minuman beralkohol yang bisa menyembuhkan luka di hati gue".Sembur Allena,sembari berlari.