Broken Angel

Broken Angel
Episode 282 [SEASON 3] Serangan angin


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...



...~Penampilan itu menguntungkan, selalu hanya gadis cantik saja, yang kan dipilih menjadi nomor satu!~...


...×××...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 26


...•...


...HAPPY READING....🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️...


KRIIIINNGGGG... KRIIIINNGGGG...


Akhirnya bel masuk berbunyi, Sahira menghela nafas lega karena ia memiliki alasan untuk menghindar dari pertanyaan yang dilontarkan Kania mengenai identitas dirinya, untungnya juga Lucas berhasil membuat Kania tidak terlalu curiga seperti tadi.


Ya walaupun tentunya Kania pasti tidak akan mudah percaya begitu saja dengan perkataan dari Lucas dan juga Kania, karena ia yakin sekali ada sesuatu yang disembunyikan oleh kedua orang itu tentang identitas siapa sebenarnya mereka.


"Udah bel tuh, kita masuk yuk!" ucap Sahira.


"Nah iya, kalau bel bunyi itu kita harus buru-buru masuk ke kelas biar gak dimarahin! Apalagi kamu kan murid teladan, Kania." sahut Lucas.


"Hilih, biasanya lu juga sering telat masuk ke kelas. Udah gapapa kali, kasih tau aja ke gue kalian itu sebenarnya sembunyiin apa?" ucap Kania.


"Hah? Kita gak ada sembunyiin apa-apa kok, ya kan Lucas?" ucap Sahira pura-pura kaget.


"Bener tuh, buat apa juga kita sembunyiin sesuatu dari kamu atau yang lainnya? Tadi tuh kamu cuma salah denger aja, bukan identitas kita yang bakal ketahuan." sahut Lucas.


"Loh terus identitas siapa?" tanya Kania.


"Identitas penyanyi luar negeri yang suka make topeng itu, kita berdua tuh nge-fans banget sama dia. Makanya kita tadi lagi bicarain tentang dia, gitu loh!" jawab Lucas sambil tersenyum.


"Hah? Masa sih?" Kania masih tidak percaya dengan jawaban dari Lucas barusan.


"Iya Kania, itu bener kok. Kamu cuma salah paham dan salah denger aja, kita gak ada bicarain identitas kita kok." ucap Sahira membantu kekasihnya.


"Yaudah, gue percaya. Kalo gitu gue ke kelas dulu ya? Bye Sahira!" ucap Kania tersenyum.


Kania berbalik badan lalu pergi begitu saja dari sana meninggalkan Sahira serta Lucas, Kania memang masih belum percaya sepenuhnya dengan jawaban dari Lucas karena menurutnya pria tersebut sedang berbohong padanya.


Sementara Lucas kini memandang Sahira seakan bertanya bagaimana caranya untuk bisa meyakinkan Kania kalau yang dia dengar adalah salah, karena Lucas juga tau jika Kania masih penasaran dan belum percaya dengan jawabannya tadi.


"Sayang, gimana ini?" tanya Lucas bingung.


"Aku gak tau, lagian kok bisa sih Kania ada disini? Perasaan tadi aku udah pastiin kalo disini gak ada siapapun selain kita, aneh deh!" ujar Sahira.


"Ya mungkin aja dia ada keperluan tadi, kan ini juga tempat buat seluruh warga sekolah." ucap Lucas.


"Huft, yaudah kita ke kelas aja yuk! Aku udah pusing gak tau mau gimana lagi, paling nanti juga Kania bakal tanya lagi ke aku soal ucapan kita tadi!" ucap Sahira dengan wajah cemberut.


"Oh ya, terus gimana soal penyerangan itu? Kapan kiranya mereka datang kesini?" tanya Lucas.


"Aku juga kurang tau, tapi yang pasti mereka akan datang disaat kita lagi fokus belajar! Kamu jaga-jaga aja pas nanti di kelas, siapa tau mereka datang secara tiba-tiba." jawab Sahira.


"Oke, kamu juga hati-hati ya!" ucap Lucas sembari memegang wajah kekasihnya.


Sahira mengangguk kemudian mengelus telapak tangan Lucas yang ada di wajahnya, ia bersama kekasihnya itu jalan menuju kelas mereka masing-masing untuk melanjutkan pelajaran karena jam istirahat sudah selesai untuk saat ini.


Mereka berpisah setelah Lucas mengantar gadisnya itu sampai ke depan kelas, tak lupa Lucas mengecup kening Sahira lalu mengusap wajahnya sambil tersenyum, barulah ia pergi dari sana dan menuju kelasnya sendiri yang tak jauh di depan sana.


...•••...


Sama seperti Lucas, Alan juga mengantarkan Nur kekasihnya itu sampai ke depan kelasnya sekaligus membuat gadisnya tersenyum kembali sembari mengelus wajahnya yang cantik, Alan senang saat melihat senyum itu kembali terpancar.


Walau sebenarnya Nur sendiri masih belum bisa tenang sepenuhnya, karena ia sedang dilanda kepanikan yang amat sangat tentang penyerangan dari Willy ke sekolahnya nanti, Nur tidak ingin jika kekasihnya akan kenapa-napa.


"Sayang, kamu masuk gih! Jangan sedih-sedih terus ya, cantik!" ucap Alan tersenyum.


"Iya, aku gak akan sedih lagi kok." ucap Nur.


"Bagus, itu baru pacarku yang cantik. Kalo gitu aku mau ke kelas ku, ya? Kamu belajar yang rajin, jangan kebanyakan sedih!" ucap Alan.


"Oke sayang, bye!" ucap Nur tersenyum.

__ADS_1


Alan pun berbalik pergi meninggalkan Nur yang sudah memasuki kelasnya, ia akan menuju ke kelas tempatnya belajar nanti dengan perasaan cemas terhadap gadisnya yang terlihat masih saja bersedih dan seperti kebingungan.


Sementara Nur duduk di kursinya dengan wajah gusar melamun memikirkan kondisi Alan serta para teman-teman sekolahnya yang lain, ia akan merasa sangat sedih dan menyesal bila melihat mereka semua terluka karena serangan dari Willy.


"Aku harus apa sekarang? Gak mungkin kan aku keluarkan kekuatanku di hadapan mereka semua, pastinya identitas ku bakal ketahuan." batin Nur.


Vera yang merupakan teman sebangku Nur merasa aneh dengan sikap Nur belakangan ini, ya sedari tadi ia melihat Nur hanya diam saja melamun tak karuan sembari menopang dagunya dengan kedua telapak tangan di atas meja.


Akhirnya Vera coba untuk menegur Nur dan berbicara dengannya, ia khawatir terjadi sesuatu pada temannya tersebut karena tak biasanya Nur yang ceria tiba-tiba menjadi pendiam seperti itu.


"Hey, Nur!" ucap Vera menyapa Nur sambil menepuk pundak gadis itu.


"Ah iya, kenapa?" tanya Nur yang terkejut sembari mengangkat kepalanya lalu menoleh ke arah Vera.


"Lu lagi mikirin apa sih? Tenang aja, hari ini kita gak ada ulangan harian kok!" ucap Vera.


"Gue gak mikirin apa-apa, gue cuma agak pusing sedikit aja." ucap Nur tersenyum.


"Ohh, kalo gitu mau gue anter ke UKS? Disana biar gue bantu lu minum obat pereda rasa pusing, manjur loh obatnya!" ucap Vera.


"Eh gausah, gue baik kok." ucap Nur menolak.


"Loh gimana sih? Tadi katanya lu ngerasa pusing, kok gue ajak ke UKS gak mau? Malah enak tau istirahat di UKS, adem lagi ruangannya!" ujar Vera.


"Iya gausah, gue bukan pusing sakit kok. Tapi, pusing pikiran!" ucap Nur.


"Oalah, emang kenapa sih? Apa gara-gara pacar lu itu ya, si Alan? Yaelah dia sok banget pake bikin lu pusing segala, padahal udah bagus lu mau terima dia jadi pacar kan!" ucap Vera.


"Gak gitu, gue bukan mikirin Alan. Ini masalah keluarga yang bikin gue pusing," ucap Nur.


"Ohh, yaudah sabar aja! Eh itu pak Mansur udah masuk, nanti kita sambung lagi ya ngobrolnya pas istirahat kedua!" ucap Vera.


"Iya..." Nur mengangguk tersenyum.


"Itu juga kalau kita masih bisa ngobrol lagi, Vera." batin Nur dengan wajah sedih.


Guru yang mengajar di kelasnya pun sudah masuk, pembelajaran kini telah dimulai dan semua murid tampak serius menatap ke papan tulis saat pak Mansur memberikan materi tentang fisika.


...•••...


Sementara itu, Sahira kebingungan lantaran April teman sebangkunya sudah tidak ada di kelas. Namun, semua barang-barang milik gadis itu masih tertinggal disana utuh tak berkurang sama sekali.


Sahira pun berpikir kalau mungkin saja April sudah melarikan diri dari sekolah karena dia tau tentang penyerangan yang akan dilakukan Willy, Sahira juga semakin yakin kalau serangan itu akan dilakukan sebentar lagi dan bisa saja saat ini.


"Sahira, apa kamu tau dimana April?" tanya pak Choirul kepada Sahira.


"Eee saya juga gak tau, pak. Tadi saya juga gak ketemu sama dia pas istirahat," jawab Sahira.


"Ya ampun, kemana sih anak itu? Waktunya belajar dia malah kelayapan, benar-benar menguji kesabaran saya ini namanya!" ujar pak Choirul emosi.


"Sabar pak, mungkin aja April masih di bawah. Mau saya bantu cari, pak?" ucap Sahira menawarkan diri.


"Eh eh, gausah! Udah biarin aja dia gak masuk jam pelajaran saya mah, nanti kamu malah ikut-ikutan ngilang gak ada kabar lagi." ucap pak Choirul.


"Baik, pak!"


Sahira pun duduk kembali di kursinya lalu menoleh ke samping melihat barang-barang milik April, ia coba menyentuhnya untuk mengetahui dimana keberadaan April saat ini, ya Sahira lagi-lagi menggunakan kekuatannya kali ini.


Cliingg...


"Bang, pikirin lagi dong! Gue gak mau banyak orang bakal jadi korban nantinya, please bang!"


"Halah bacot! Lu diem aja dan jangan ikut campur!"


"Bang, tapi gue—"


Plaaakk...


"Sekali lagi lu ngomong begitu, gue gak akan segan-segan buat habisin lu!"


"Lu bener-bener jahat, bang!"


Sahira berhasil menemukan keberadaan April dengan kekuatannya itu, ia pun tampak syok karena Willy sangat kasar pada adiknya sendiri.


Sahira juga terkejut karena ternyata April masih memiliki sisi baik dan memperdulikan keselamatan orang lain termasuk teman-temannya, untuk itu ia berusaha agar bisa membebaskan April dari belenggu Willy yang jahatnya sudah melampaui batas.


Tak lama kemudian, angin kencang berhembus datang dari arah barat membuat seisi kelas heboh menahan barang-barang mereka yang berterbangan akibat diterpa angin kencang itu.


Sahira semakin yakin kalau serangan itu akan segera tiba dengan datangnya angin kencang ini, bahkan meja-meja serta kursi di kelasnya bergoyang cukup keras membuat seluruh orang disana berteriak heboh menyangka kalau ini gempa.


"GEMPA.. GEMPA...!!" teriak mereka.

__ADS_1


Pak Choirul pun memerintahkan semua murid di dalam kelasnya untuk berlari keluar menyelamatkan diri karena tak ingin ada sesuatu menimpa mereka.


Sementara Sahira masih terduduk di kursinya memandang ke asal angin berhembus, ia berhasil menemukan sosok gadis yang sedang tertawa berdiri jauh disana.


"Kirana..." gumamnya.


Tiba-tiba saja Saka datang ke meja Sahira lalu menyadarkan gadis itu dari lamunan dan segera membantunya untuk keluar kelas.


"Sahira, ayo kita keluar!" ujar Saka.


"Ah iya iya..." ucap Sahira pelan.


Mereka semua pun keluar kelas dengan panik sembari berteriak heboh.




Satu sekolah mulai panik, para guru meminta seluruh murid untuk turun ke bawah menuju lapangan agar mereka semua bisa terhindar dari bahaya akibat gempa yang terjadi, mereka semua pun menuruni tangga dengan cepat dan saling dorong-mendorong.


Sahira melepaskan diri dari genggaman Saka, ia berpikir kalau tak elok jika dirinya justru ikut bersama murid-murid yang lain kabur ke bawah.


"Kenapa?" tanya Saka heran.


"Lu duluan aja sama yang lain, selamatkan diri lu!" jawab Sahira.


"Tapi, lu mau kemana?" tanya Saka.


"Gue aman kok, udah lu turun aja!" ucap Sahira.


Sahira pun berlari ke arah yang berlawanan hendak menghampiri Lucas di kelasnya, sedangkan Saka masih tak mengerti apa yang ada di dalam pikiran Sahira, namun Saka akhirnya memilih kabur ke bawah bersama murid yang lainnya.


Sahira melihat Lucas tengah bersama Edrea serta Imeh yang memeluk tubuh pria itu dengan erat, tentu saja Sahira merasa cemburu karena kekasihnya dipeluk seperti itu oleh dua gadis sekaligus, namun ia berusaha tetap tenang karena kondisi sedang gawat.


"Lucas!" teriak Sahira.


"Sayang?" ucap Lucas.


Edrea dan Imeh yang melihat kehadiran Sahira justru semakin mengeratkan pelukan mereka pada tubuh Lucas, mereka bermaksud membuat Sahira cemburu padahal situasinya sedang tidak memungkinkan.


"Edrea, Imeh. Kalian turun ke bawah ya! Ini gempanya kencang banget loh, bangunan sekolah kita bisa tubuh!" ucap Sahira.


"Ah gak mau! Kecuali Lucas mau temenin kita sampe ke bawah, baru deh kita juga mau turun selamatkan diri!" ucap Edrea.


"Haish, yaudah cepet turun!" ujar Sahira.


"Sayang, aku ke bawah dulu ya? Aku harus bawa mereka ke tempat selamat dulu, kamu hati-hati disini dan jangan berbuat nekat!" ucap Lucas.


Sahira manggut-manggut setuju, terbesit kecemburuan sebenarnya di dalam hatinya saat melihat dua gadis itu makin kelewatan pada kekasihnya yakni Lucas.


Setelah Lucas pergi, Nur datang menghampiri Sahira dan menepuk pundak gadis itu dari belakang.


"Nur?" ucap Sahira terkejut.


"Apa ini bagian dari serangan mereka?" tanya Nur.


"Iya, aku lihat Kirana tadi disana!" jawab Sahira.


"Sial, berarti kita kecolongan!" ujar Nur.


"Kamu benar, tapi bukan berarti kita akan menyerah gitu aja sama mereka! Kita pasti bisa kalahin Kirana dan yang lainnya!" ucap Sahira.


"Yaudah, sekarang rencana kamu apa?" tanya Nur.


"Kita harus pastikan gak ada murid yang tertinggal di atas sini! Mereka semua harus turun ke bawah supaya lebih aman, ayo kita cek!" ucap Sahira.


"Iya..."


Saat mereka hendak pergi mengecek satu persatu kelas yang ada disana untuk memastikan semuanya sudah turun ke bawah, mereka malah bertemu dengan pak Johan yang sedang panik.


"Heh, kalian ini mau kemana? Sana cepat turun! Ini itu sedang gempa, kalian mau mati ha?" ujar pak Johan.


"Enggak lah, pak. Kita mau cari teman-teman kita, mereka masih ada disini atau enggak itu aja kok pak!" ucap Nur.


"Udah jangan! Ini bahaya, sebaiknya kalian berdua langsung turun aja ke bawah kumpul sama yang lain! Biar bapak dan yang lainnya yang urus semua orang, paham?" ucap pak Johan.


"Eee iya pak, siap!" ucap Sahira.


Akhirnya Sahira dan Nur terpaksa pergi menjauh menuruni tangga, mereka juga terpaksa menggunakan kekuatan masing-masing untuk memastikan bahwa sudah tidak ada lagi murid yang terjebak di atas sana.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2