
Rey,perlahan mengangkat kepalanya.Memberanikan diri menatap wajah cantik Allena dengan senyum terus terukir di bibir manisnya, menampakkan lesung pipi sebagai penambah senyuman menawannya.Tak tega,jika dia harus merenggut kebahagiaan dalam diri Allena dengan berita tak mengenakkan.
Sudah lama dia tidak melihat senyuman manis Allena,seiring dengan merasa sakit yang begitu kentara terlihat di wajah cantik nya yang tertutup awan hitam pekat.
Saat rasa tak tega dan kasihan itulah,ide cemerlang datang seakan memberikan jalan terbaik untuk kedua belah pihak.
Rey,kembali mengambil handphone nya.Memencet tombol di aplikasi hijau.Sebuah notifikasi rey kirimkan kepada marga.
Marga yang fokus menyetir,berbelok haluan menuju kantor Allan yang baru di dapatkan nya dari seorang mata-mata kini fokusnya terbagi menjadi dua.
Ting
Notifikasi yang di kirimkan oleh rey lah yang menjadi alasan fokus berkendaranya terbagi menjadi dua.Dia yang tadinya berkendara dengan kecepatan tinggi,di kejar waktu dan target.Kini memelankan laju kendaraannya.
[Ga,loe gak usah pergi ke kantor Allan.Pulang saja,ada hal yang lebih penting dari itu semua.Gue pastikan ini akan berhasil].
"CK".Marga, berdecih.Dia dan aida hampir sampai ke tempat tujuan.Tiba-tiba rey menyuruh dia untuk membatalkan rencananya,tentu itu membuat marga kesal terhadap rey.
__ADS_1
"Ada apa?".Tanya aida,heran dengan sikap marga yang tiba-tiba kembali kesal.
"Si Rey,nyuruh kita balik lagi".Jawab marga."Katanya dia punya ide".Kata marga lagi, tanpa menoleh kearah aida.
Aida,tidak menanggapi lagi ucapan marga.Diam lebih baik daripada harus memancing emosinya.
Dengan m mawar rasa kesal.Marga,berbelok haluan,kembali ke rumah padahal mereka sudah mau sampai ke tempat tujuan.
Marga, bukannya tidak bisa melawan rey.Tapi, setelah di pikir, mereka memang harus lebih matang dalam menjalankan aksi mereka agar tidak mendapatkan sebuah penolakan.Berkaca pada pertemuan nya dengan Axel Maureen.
"Semoga,kali ini dia punya ide cemerlang.Tak hanya duduk diam diatas singasana dengan segala titahnya tanpa memikirkan nasib orang lain ".Kata aida, menimpali ucapan marga.
Kedua sejoli itu mau tak mau harus mengurungkan niat mereka menemui Allan di kantornya.Berharap rencana rey tak gagal seperti rencana mereka.
Sedang Rey,yang masih betah memandangi senyuman Allena yang tak pernah pudar seiring waktu terus berjalan,terbawa oleh rasa senang dan bahagianya.Kendati demikian di raut wajahnya masih ada keraguan atas keberhasilan usaha marga dan aida.
Lamat-lamat rey, mendengar suara deru mesin mobil marga.Dia segera berlari ke halaman depan,mencegah marga masuk dengan membawa hasil nihil.
__ADS_1
"Gue harus menemui marga dan aida, jangan sampai ke dahuluan allena".Gumam Rey,berjalan dengan langkah lebar.
"Stop".Teriak Rey, begitu melihat marga dan aida hendak turun dari mobil.
Marga, mengerutkan keningnya,tak mengerti dengan keinginan rey.Tadi,dia menyuruhnya pulang,saat pulang malah tak di bukain pintu.
"Kenapa?".
"Tunggu, jangan keluar!".Seru Rey, mendekat kearah marga.
Dia tanpa permisi duduk di kursi belakang.Menyisakan beribu tanya dengan sikap rey yang mendadak aneh.
"Katanya di suruh pulang,tapi kenapa loe masuk?".
"Kita jalan lagi,gak usah masuk biarkan Allena berada di rumah dengan harapan nya".Kata Rey."Ayo jalan". Perintah rey.
Mau tak mau marga harus menuruti perintah rey yang terkenal suka memaksa.Toh,dia juga merupakan atasannya.
__ADS_1