
Dengan langkah lebar,detektif yang bernama marga itu membawa Allena menuju ke dalam rumah sakit."Tolong pak,adik saya kena hipotermia".Teriak marga.
Perawat lelaki yang mendengar teriakan itu dengan sigap membawa brankar untuk menopang tubuh Allena.Brankar itu di dorong dengan cepat menuju ruangan perawatan.
Marga tidak ikut serta mengantar Allena menuju ke ruang rawat.Fokusnya adalah melaporkan hasil penyelidikannya,tanpa pikir panjang marga langsung menghubungi rey.
Tut..Tut..Tut..
"Cepat kemari".Teriak marga,begitu sambungan telepon terhubung.
"Kemana bego, kalau ngomong yang jelas dan jangan tergesa-gesa seperti itu".Sentak rey.
Marga menepuk jidatnya."Iya sorry,Allena tadi di temukan tergeletak di lantai seperti dia mengalami hipotermia dan gue ada di rumah sakit ".
"What?"Pekik Rey menyambar ucapan marga."Loe ada dimana?,gue mau nyusul kesana?".Tanya Rey dengan paniknya.
Marga berkacak pinggang, selalu sama kelakuan rey.Suka menyambar ucapan orang lain tanpa mau mendengarkan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ini juga gue dah mau bilang,kampret".Gertak marga."Main nyelonong aja kayak ayam yang gak punya sopan santun".Marga masih ngedumel.
"Cepat bilang, bego".Sambar Rey,tak sabaran.
"Di rumah sakit sehat Medika".Gertak marga,memberenggut sebal.
"Gu-".
Belum sempat marga melayangkan protes nya Rey sudah mengakhiri panggilan nya secara sepihak.
"Mentang-mentang punya duit loe.Belagunya minta ampun".Umpat marga.
Rey dan marga lulus di universitas mereka masing-masing secara bersamaan.Rey,yang mengambil jurusan management dan bisnis, melanjutkan bisnis yang di kelola oleh ayahnya.Sedangkan marga,dia juga mengabdikan diri sebagai bawahan Rey.Yaitu sebagai detektif yang jasanya sering di gunakan oleh rey.
Seperti sekarang ini,dia menerima perintah rey untuk menyelidiki rumah megah nan mewah,Axel Maureen.Lebih tepatnya menyelidiki anaknya,Allena Aidira.
"Gue berasa jadi detektif merangkap bodyguard".Umpat marga lagi.
__ADS_1
Tak butuh lama bagi Rey untuk sampai di rumah sakit sehat Medika.Hanya 20 menit saja waktu tempuh nya, kebetulan dia sudah tidak ada lagi jam ngajar.
"Dimana ruangan atas nama Allena Aidira".Ucap Rey,saat sampai di meja resepsionis.
Perawat penjaga dengan sigap mengecek layar laptopnya.Mencari identitas yang di sebutkan oleh laki-laki yang ada di hadapannya.Meski dalam keadaan kacau dan berantakan tapi tak mengurangi ketampanan laki-laki blasteran indo-australia ini.
"Kamar 101,lantai 2 yah".Ucap resepsionis dengan lembut.
Rey melangkah pergi tanpa mengucapkan terimakasih kepada resepsionis yang memberikan informasi kepadanya.
"Meski tak sopan, tapi dia ganteng".Ucap resepsionis.Menatap kepergian Rey dengan pandangan memuja.
Rey terus melangkah menuju ruang rawat Allena dengan perasaan berdebar.Rasa penasaran lebih mendominasi dalam diri rey.Pikirannya kembali melanglang buana,pada kejadian kemarin malam.
Entah apa yang sudah dilakukan oleh mamah nya Allena terhadap putri kandungnya sendiri.Tapi, pikiran negatif menyerang pikiran jernihnya.
"Axel Maureen".Gertak Rey,diantara langkah kakinya.Tangannya mengepal,seakan menahan emosi yang memuncak.
__ADS_1
"Rey". Teriak marga, melambaikan tangan pada rey.
Dengan segera Rey menghampiri marga."Apa yang terjadi?".Tanyanya setelah sampai di depan marga.