Broken Angel

Broken Angel
Episode 311 [SEASON 3]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


...~Aku kerja lembur bagai kuda untuk melamar mu, bahkan aku rela melakukan apapun demi bisa mendapatkan kamu! Namun, kamu disana justru memilih bersama yang lain dan membuatku kecewa serta terluka, dasar pengkhianat!~...


...×××...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 56


...•...


...HAPPY READING....🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️...


Wilona melihat kakaknya tengah berdiri disana mengamati para bidadari bekerja membangun sebuah pesta pelantikan untuknya, ia pun tersenyum sumringah dan langsung berniat menghampiri Keira disana untuk menemaninya. Wilona juga ingin sekali berterima kasih kepada Keira karena sudah rela membagi singgasana bersamanya, walau Wilona merasa tidak enak kepada kakak kembarnya itu.


Sementara Keira sendiri sedang tampak serius mengamati bidadari nya yang sedang bertugas disana, sehingga ia tak menyadari kehadiran Wilona di belakangnya. Ya Keira memang gak ingin membuat adiknya kecewa, maka dari itu ia meminta pada seluruh bidadari untuk melakukan tugas dengan benar sesuai perintah darinya dan Nuril agar tidak ada salah-salah dalam bekerja nantinya.


"Kei..." ucap Wilona memanggil kakaknya dari belakang sembari menepuk pundaknya.


Ratu Keira pun terkejut dan dua bahunya terangkat sedikit efek dari kejutan itu, ia menoleh ke samping dan tersenyum lega saat melihat adiknya lah yang tadi mengejutkannya bukan orang lain apalagi makhluk jahat. Ia menggeser posisi ia berdiri saat ini untuk lebih dekat ke arah Wilona sang adik, ia ingin mengajak Wilona untuk melihat kinerja dari para bidadari yang ada disana.


"Kamu kenapa kesini?" tanya Keira.


"Aku bosen, Kei. Masa aku cuma boleh duduk-duduk doang di kamar sambil sesekali rebahan? Aku kan juga mau bantu kamu disini, pasti kamu kerepotan buat urus persiapan pesta." ucap Wilona.


"Gapapa, Lona. Ini kan pesta untuk kamu, jadi kamu ya emang harus santai-santai aja!" ujar Keira.


"Tapi, aku paling gak bisa kalau harus disuruh diem aja begitu. Apalagi aku lihat sendiri, di luar semuanya lagi pada sibuk termasuk kamu!" ucap Wilona.


Keira pun tersenyum sembari mengusap rambut terurai milik Wilona dan sesekali mengelus wajah adiknya itu, sudah sekian lama ia menginginkan hal ini terjadi dan baru sekarang ia berhasil melakukannya. Ya ia pun sangat senang, walau harus sempat berkelahi lebih dulu dengan adiknya sebelum dapat melakukan ini semua.


"Yaudah, kamu bantu aku aja disini ya! Kita pantau kerja para bidadari dari sini, supaya mereka kerjanya bener dan sesuai harapan!" ucap Keira.


"Iya Kei, kayaknya juga enak berdiri disini. Apalagi ada angin sepoi-sepoi yang sejuk di badan, ya yang paling penting sih aku disini sama kamu." ucap Wilona sambil tersenyum.


"Hahaha, iya Lona." ucap Keira.


"Kei, aku minta maaf lagi ya sama kamu! Selama ini aku kan udah banyak nyusahin kamu, aku juga salah karena dendam sama kamu hanya karena aku iri sama kamu!" ucap Wilona merasa bersalah.


"Ini udah yang kesekian kalinya loh kamu minta maaf sama aku. Emang kamu gak bosen? Aku aja bosen yang dengernya! Udah lah, kamu gak perlu minta maaf terus kayak gitu! Aku kan udah bilang, aku udah maafin kamu Wilona!" ucap Keira.


"Iya Kei, makasih ya! Aku cuma masih ngerasa bersalah aja sama kamu, kan kejahatan aku ke kamu itu banyak banget!" ucap Wilona.


"Gausah ngerasa bersalah, Lona! Yang lalu biarlah berlalu, sekarang kita pikirkan masa depan kita sebagai dua ratu nirwana!" ucap Keira.


Wilona tersenyum menatap wajah kakaknya, Keira pun mendekat dan merangkul adiknya itu dengan lembut sembari mengusap pundaknya. Ya adik kakak itu pun berpelukan kembali disana, mereka tampak erat dan dekat seperti saudara kembar pada umumnya yang selalu berdekatan.


...•••...


Glomprang...


Baru saja Lucas mengatakan itu, namun justru kali ini ia sendiri lah yang membuat keributan dengan tak sengaja menyenggol alat-alat yang ada di dalam ruangan tersebut. Sahira pun tampak melongok karena dokter Septian menoleh setelah mendengar suara bising tersebut.


"Kamu sih, ish!" bentak Sahira.

__ADS_1


Lucas hanya nyengir dan mengangkat dua jarinya.


"Hehe, peace sayang!" ucap Lucas.


"Haish, tadi kamu yang ingetin aku! Eh malah sekarang kamu sendiri yang bikin kebisingan, lihat tuh dokter Septian jadi nengok dan natap kita ganas banget!" ujar Sahira.


Lucas terkejut saat melihat ke depan dan siluman dokter Septian itu sudah menatap ke arahnya dengan mata hijau yang menyala dan tajam, hal itu membuat Lucas maupun Sahira merasa ketakutan akan dimakan oleh makhluk tersebut, apalagi mereka menyaksikan sendiri banyak mayat yang dimakan olehnya untuk membuatnya makin besar.


"Kalian lagi...!!" bentak dokter Septian.


Lucas masih melongok dan menoleh ke arah Sahira gadisnya yang ada di sampingnya, Lucas bingung harus dengan cara apa untuk bisa mengalahkan siluman tersebut. Lucas juga tidak mau kalau ia dan Sahira sampai menjadi korban dari ganasnya siluman tersebut, terlebih mereka hanya berdua tanpa adanya bantuan dari bidadari lainnya.


Sementara Sahira juga sama bingungnya dengan sang kekasih, Lucas. Bahkan Sahira sulit menggerakkan tangan dan kakinya, lantaran rasa takut yang ia rasakan itu membuat bagian tubuhnya kaku alias beku. Sahira kini hanya bisa berharap pada Lucas untuk bisa mengalahkan dokter Septian, karena keberaniannya sudah hilang saat ini.


"Ya iyalah, kalo gak kita lagi terus siapa yang bakal habisin lu siluman jelek?" ujar Lucas.


"Kurang ajar! Beraninya kau menyebutku dengan sebutan itu, apa kau ingin mati ha?" ujar Septian.


"Semua makhluk juga pasti mati, walaupun gue gak pengen juga nantinya gue mati sendiri. Tapi, bukan sekarang! Karena kali ini yang mati itu engkau wahai siluman jelek yang bodoh!" ucap Lucas.


"Hahaha, ternyata kau pandai bercakap besar ya! Baiklah, bersiaplah untuk menerima serangan yang belum pernah kau rasakan!!" ujar Septian.


Siluman ular itu langsung mengambil gerakan untuk mulai melakukan serangan khasnya kepada Lucas dan Sahira yang masih terbengong, tentu dengan memakan mayat-mayat disana membuatnya semakin kuat dan besar yang pastinya ia bisa lebih mudah untuk mengalahkan Sahira maupun Lucas dengan kekuatannya yang bertambah besar itu.


"Sayang, gimana ini?" tanya Lucas panik.


"Yo ndak tau kok tanya saya? Kan kamu tadi yang mancing-mancing siluman itu, udah sana lawan! Aku mah gak berani deh, kecuali kamu udah kalah!" jawab Sahira juga sama cemasnya.


"Haish, kita lawan bareng-bareng lah ayo! Kamu emang tega lihat aku terkapar?" ucap Lucas.


Tiba-tiba saja, siluman dokter Septian itu menyemburkan bisa atau racun miliknya ke arah Sahira dan Lucas. Sontak saja hal tersebut membuat keduanya panik dan hampir saja terkena serangan dari siluman itu, untungnya Lucas bisa cepat tanggap dan menghindari racun tersebut juga berhasil mendorong Sahira menjauh dari serangan itu.


Lucas dengan keseriusannya mulai bergerak maju mendekati dokter Septian dan bersiap untuk menyerang siluman tersebut.


...•••...


Braakkk...


Willy menggebrak meja dengan keras sembari beranjak dari tempat duduknya.


"Maksudnya apa? Lu nuduh gue yang bunuh Saka, ha??!!" bentak Willy emosi.


April pun tampak ketakutan melihat ekspresi abangnya yang terlihat sangat marah, ia berusaha menenangkan hati Willy agar tidak semakin emosi dan mengatakan kalau ia hanya bertanya.


"Sabar bang! Gue kan cuma nanya, kalaupun lu gak terlibat ya yaudah santai aja!" ucap April.


"Pertanyaan lu itu seakan menyudutkan gue! Emang lu pikir gue sejahat itu apa? Biarpun gue begini, sampe sekarang gue belum pernah bunuh orang! Emang gue dendam sama Lucas, tapi bukan berarti gue bakal bunuh si Saka!" ucap Willy lantang.


"Iya, maaf! Gue kan cuma penasaran aja, soalnya kematian Saka itu diluar kemanusiaan. Lu gak mau bantu geng wild blood gitu buat cari tau siapa pembunuhnya?" ucap April.


"Hah? Buat apaan? Ngapain gue ikut campur masalah geng wild blood?" ujar Willy.


"Ya gapapa kali, bang. Itung-itung lu cari pahala, kan membantu yang lagi kesusahan itu dapat pahala gede loh bang! Emang lu gak mau?" ujar April.


"Ah berisik! Ngapain sih lu jadi bahas pahala begitu? Gak penting banget!" ujar Willy.


"Yaudah, terserah lu aja! Gue kan cuma kasih saran, tapi kalo lu gak mau ya biar gue aja yang bantu mereka. Gue punya hutang budi sama Sahira dan Lucas, mereka udah bikin gue percaya diri lagi setelah dihujat satu sekolahan gara-gara gue ini adik penjahat yang kejam, yaitu lu bang!" ucap April.


Willy pun terkejut mendengar pernyataan April, ia menatap tajam ke arah gadis itu dan sedikit maju mendekatinya. Tampaknya Willy tak suka jika adiknya itu dekat-dekat dengan Sahira ataupun Lucas, yang merupakan musuh abadinya.

__ADS_1


"Heh! Sekarang lu jadi belain mereka dibanding gue? Bisa-bisanya lu malah mau bantu musuh abang lu sendiri, dimana otak lu??" ujar Willy emosi.


"Kenapa sih, bang? Apa salah kalo gue pengen balas budi sama mereka? Lagian gara-gara lu loh bang gue jadi dihujat satu sekolah, kalo bukan karena Lucas dan Sahira mungkin sekarang gue udah depresi atau bahkan mati bunuh diri karena hujatan dari mereka semua!" ucap April.


"Ohh, jadi lu nyalahin gue? Lu dibully itu ya karena kebodohan lu sendiri, bukan gue!" bentak Willy.


"Bang, gue gak—"


"Halah udah! Gue gak akan kasih izin lu buat bantu musuh-musuh gue itu, kalo lu tetep nekat ya lihat aja apa yang bakal gue lakuin ke elu!" potong Willy memberi ancaman pada April.


"Haish, lu gak bisa atur-atur gue! Musuh lu ya itu urusan lu, bagi gue mereka bukan musuh kok!" ucap April menentang abangnya.


Plaaakk...


Willy melayangkan tamparan keras kepada adiknya, hingga April hampir terjatuh dari tempat duduknya akibat tamparan tersebut. Willy terlihat sangat marah dengan perkataan adiknya barusan, ia mendekat dan mencengkeram rahang April dengan keras lalu menatap wajah April yang tengah menangis itu dengan tajam dan mata menyala.


"Heh! Lu denger gue ya, kalo lu masih tetep nekat gue bakal kasih hukuman yang lebih parah dan kejam buat lu!" ucap Willy penuh emosi.


April hanya bisa diam menurut pada abangnya, bagaimanapun juga tak mungkin ia dapat melawan Willy yang ganas dan kejam itu.


...•••...


Disisi lain, Sahira dan Lucas telah berhasil menaklukkan siluman dokter Septian yang ganas itu dengan kekuatan sang pangeran langit tersebut. Mereka pun mengikat siluman itu dengan ikatan ghaib, tak lupa juga Lucas akan bersiap untuk mengambil semua racun yang bersarang di dalam tubuh dokter Septian itu agar dia bisa kembali menjadi sosok manusia biasa.


Setelah selesai diikat, tentu Lucas kembali maju mendekati siluman tersebut yang terlihat masih berusaha keras untuk bisa lepas dari ikatannya. Namun, ikatan tersebut sangat kuat dan lebih daripada ikatan cinta emak-emak kampung yang suka nonton Aldebaran sama Andin.


"Kurang ajar! Lepasin gue! Beraninya kalian pada ngikat tubuh gue, emang mau cari mati!" ujarnya.


Lucas hanya tersenyum tipis sembari menatap wajah gadisnya dan mencolek pipi Sahira itu dengan jarinya karena tak tahan dengan kelakuan sang siluman yang sudah terikat disana itu, barulah ia kembali serius dan mulai mengeluarkan kekuatannya untuk dapat mengambil seluruh racun ular yang diberikan Sita kepada dokter Septian tersebut.


"Sayang, aku pinjam mustika merah milikmu itu! Sepertinya kekuatanku kurang kuat untuk bisa menyedot semua racun itu!" ucap Lucas.


"Baiklah, ini Lucas!" ucap Sahira langsung memberikan mustika itu pada kekasihnya sambil tersenyum manis.


"Waw cepat sekali! Makasih!" ucap Lucas.


"Hoi! Apa yang mau kalian lakukan ke gue? Jangan berani macam-macam sama gue! Atau kalian akan menyesal seumur hidup!" ujar siluman itu.


"Hahaha, matilah kamu siluman bodoh!" ucap Lucas sembari menempelkan mustika itu di atas kepala dokter Septian dan membaca sedikit mantra penghapus racun siluman ular.


Sahira hanya bisa terperangah menyaksikan kekasihnya melakukan itu, ia tak menyangka Lucas memang sudah semakin terampil dalam menggunakan kekuatan pangeran langitnya. Sahira pun sangat senang dengan kejadian itu, ia jadi teringat pada sosok Dimas yang kini tinggal kenangan dan tak pernah bisa ia temui kembali.


Tak lama kemudian, Lucas telah berhasil mengambil dan mengeluarkan seluruh racun ular yang ada di dalam tubuh dokter Septian. Ia pun tersenyum puas sembari menatap Sahira, ia tampak senang karena berhasil melakukan itu dengan lancar dan membuat dokter Septian sadar dari pengaruh Sita si siluman ular yang jahat dan ganas itu.


"Sayang, aku telah berhasil!" ucap Lucas menghampiri Sahira sambil tersenyum.


"Iya sayang, kamu hebat deh! Tapi, dokter Septian masih belum sadar." ucap Sahira.


"Iya, dia masih harus pingsan selama beberapa saat karena energinya banyak terkuras. Tapi, kamu tenang aja! Karena aku akan bantu menyalurkan energi yang aku punya ke dalam tubuhnya!" ucap Lucas


"Iya sayang, lakukan apapun itu yang kamu ingin lakukan! Karena sekarang kamu sudah lebih pintar daripada aku, kamu kan pangeran langit!" ucap Sahira tersenyum manis.


Cupp...


Lucas menarik tengkuk Sahira dan mengecup keningnya sambil tersenyum.


"Ah bisa aja kamu! Padahal masih lebih jagoan kamu daripada aku, aku mah apa atuh? Cuma selingkuhan kamu, aku mah apa atuh? Cuma pacar gelap mu uuu..." ucap Lucas sembari mengusap rambut Sahira dan tertawa kecil.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2