Broken Angel

Broken Angel
Episode 323 [SEASON 3]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


...~Jika aku harus mati besok karena kesalahan seorang teman atau sahabat ku, aku akan rela dan menerimanya dengan ikhlas, ya karena kematian bukanlah salah siapa-siapa melainkan takdir yang harus bisa kita terima dengan lapang dada~...


...×××...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 68


...•...


...HAPPY READING....🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Aldi menghampiri Kania yang tengah duduk di taman sekolah dengan ekspresi cemberutnya, Aldi pun tersenyum karena wajah gadis itu terlihat lebih menggemaskan saat sedang cemberut. Ia mulai bergerak untuk mendekati Kania disana dan mencoba menghibur gadis itu, biar bagaimanapun ia tak mau terus-terusan melihat Kania seperti itu.


Sementara Kania sendiri merasa kesal akibat ledekan dari teman-temannya tadi, ditambah Kania memang juga belum tahu bagaimana perasaan ia kepada Aldi saat ini. Bahkan ketika ia melihat Aldi muncul disana, ia semakin merasa jengkel dan tak ingin kehadiran Aldi disana menjadi bumerang baginya yang pasti akan kembali menjadi bahan gosip para teman-temannya tersebut.


"Kania...." ucap Aldi pelan sembari duduk di samping Kania dan menatap wajah gadis itu dengan senyum tipis yang melekat di bibirnya.


Kania hanya menoleh sekilas dan kembali menatap lurus ke depan, dari ekspresinya terlihat sekali kalau Kania sangat malas dengan kehadiran Aldi disana dan ingin pria tersebut segera pergi. Kania memang tak mengerti mengapa perasaannya berubah-ubah seperti ini tiap kali bersama Aldi, ya sebelumnya ia merasa nyaman dan senang tetapi sekarang justru ia merasa jengkel dan tidak suka dengan Aldi.


"Kania, kamu jangan ngambek begitu dong! Yang dibilang sama teman-teman kamu kan benar, kamu udah mulai suka kan sama aku?" ucap Aldi.


"Hah? Gila lu ya? Jangan kepedean deh jadi orang! Gue tuh cuma anggap lu temen!" ucap Kania.


Aldi tersenyum tipis kemudian meraih dua tangan Kania dan menggenggamnya erat, ia berhasil membuat gadis itu menoleh ke arahnya walau dengan tatapan tak suka. Ya itu saja sudah membuat Aldi merasa senang karena ditatap oleh gadis yang disuka adalah sebuah anugrah tersendiri baginya, ia pun mengeratkan genggaman tangannya itu.


"Gapapa walau cuma temen, kan lama-lama juga bisa jadi demen. Tinggal tunggu waktu aja, aku yakin suatu saat nanti kamu akan jadi milik aku seutuhnya sebagai seorang kekasih!" ucap Aldi.


"Iya, dalam mimpi lu!" ucap Kania.


"Gapapa, aku tetap senang kok. Mimpi itu kan terkadang juga sebuah pertanda, jadi bisa aja kita pacaran lewat mimpi dulu terus gak lama kemudian kita pacaran beneran di dunia nyata." ucap Aldi.


"Haish, banyak omong lu! Udah lepasin tangan gue, sekarang gue lagi gak mau diganggu!" bentak Kania.


Aldi kembali tersenyum tipis lalu melepaskan tangan gadis itu dari genggamannya, ia tak mau membuat Kania semakin marah dan ngambek padanya walau wajah Kania terlihat menggemaskan. Tentu yang Aldi mau adalah dapat melihat senyuman di wajah Kania yang bersinar itu, namun hingga kini belum ada tanda-tanda akan hal tersebut terjadi.


"Kamu udah dong ngambeknya! Aku disini kan jadi makin gak enak sama kamu, yuk senyum yuk cantik!" bujuk Aldi berusaha menghibur Kania.


"Buat apa gue senyum?" tanya Kania.


"Ya buat amal. Senyum itu kan ibadah, kamu sekarang senyum dong cantik!" ucap Aldi.


"Iya ibadah, tapi kalo senyumnya buat lu mah bukan ibadah kali! Udah ah jangan ganggu gue mulu! Sekarang gue lagi pengen sendirian dulu, please lu ngertiin dong perasaan gue!" bentak Kania.


Kania langsung bangkit dan pergi meninggalkan Aldi begitu saja dengan perasaan kesal, ia tak mau jika nantinya akan kembali ada gosip miring tentang hubungannya dengan Aldi. Tampaknya Kania memang masih belum siap untuk menjadi bahan omongan orang-orang di sekolahnya, entah apa penyebab Kania seperti itu.


"Huft..." Aldi mendengus pasrah.


...•••...


Sementara itu, Sahira dan Lucas tengah berada di rooftop sekolah dan duduk berduaan pada kursi yang memang tersedia disana bagi para murid atau siapapun yang ingin menikmati indahnya alam. Keduanya tampak sangat mesra dengan tangan saling menggenggam satu sama lain, bahkan Sahira juga terus saja tersenyum menatap ke arah Lucas.


Lucas pun menoleh ke arah Sahira kemudian menaruh kepala gadisnya di bahunya, ia juga mengusap lembut puncak kepala sampai bagian kening gadis itu sambil tersenyum. Hembusan angin yang dingin membuat suasana keduanya makin terasa romantis, terlebih Lucas berusaha terus menjaga Sahira agar tidak merasa kedinginan.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu gak kedinginan? Kalau emang kamu mau kita pindah tempat, yaudah kita turun aja!" ucap Lucas bertanya pada gadisnya, ia khawatir kalau Sahira akan kedinginan disana.


"Gapapa, aku gak kedinginan kok. Justru udaranya sejuk banget kalo disini, jadi pikiran aku bisa tenang dan enggak cemas lagi sama Nur." jawab Sahira.


"Ohh, ya baguslah! Aku juga gak mau kamu cemas terus begitu sama Nur, lagian kan ada Alan yang pastinya bakal jagain sahabat kamu itu dan bikin Nur terhibur selama mereka ada di luar dan gak bisa masuk ke sekolah!" ucap Lucas.


"Iya aku tau," ucap Sahira tersenyum manis.


Cupp...


Lucas memberi kecupan lembut pada kening Sahira sembari terus mengusap rambutnya, ia semakin mengeratkan pelukannya membawa Sahira ke dalam kehangatan tubuhnya itu. Momen seperti inilah yang dinanti-nantikan oleh Lucas sejak lama dan diinginkan olehnya, apalagi Sahira jarang sekali ingin diperlakukan seperti itu oleh kekasihnya.


"Kalau lagi kayak gini rasanya dunia ini milik kita berdua, ya?" ucap Lucas.


"Hah? Kamu ngaco aja ih! Dunia ini kan punyanya manusia, kita tuh tempatnya di atas sana! Sekarang kamu udah bukan manusia lagi Lucas, kamu udah jadi pangeran langit pacarku!" ucap Sahira.


"Hahaha, iya kamu benar." ucap Lucas tertawa.


"Ya pasti benar dong! Mana pernah aku salah? Selama ini yang salah mulu itu kan kamu, makanya kamu nyadar dong!" ucap Sahira.


"Hahaha, iyain aja deh suka-suka kamu mau bilang apa juga!" ucap Lucas.


Obrolan keduanya semakin tidak jelas dan ngalor ngidul entah kemana-mana lagi arahnya, namun itu justru yang menjadi daya tarik dari kedua orang tersebut selama berpasangan. Sahira yang absurd berhasil membuat Lucas juga menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya, kini keduanya telah sama-sama absurd dan menjadi pasangan serasi.


"Sayang, kamu kalo malam suka nonton mbak Andin gak?" tanya Lucas sembari menatap wajah Sahira.


"Enggak! Aku mah nontonnya Boboiboy dong, buat apa aku nontonin sinteron begituan?" jawab Sahira.


"Hahaha, bagus! Aku gedek banget tau sama si Gina sepupu aku itu, dia tiap malam nontonin mbak Andin terus! Bahkan dia sampe ter-mas Al mas Al katanya, hampir tiap malem dia teriak-teriak sendiri gak jelas di depan tv kayak begitu." ucap Lucas.


"Ohh, emang itu lagi viral banget sih! Di sosmed aja banyak yang ngomongin," ucap Sahira.


"Apa sih serunya coba? Mending nonton lapor pak," ucap Lucas.


...•••...


Nur kini masih berada di rumah kekasihnya yakni Alan dan tengah menikmati coklat panas buatan Alan sembari menonton film bersama pria tersebut dalam kegelapan berduaan di kamarnya. Ya Alan sengaja mengajak Nur menonton film horor agar ketika Nur takut nantinya, pasti Nur akan memeluk tubuhnya dan itu membuatnya merasa gembira.


Tampak tidak ada ketakutan sedikitpun dari raut wajah Nur saat Alan mengajaknya nonton horor, justru Nur malah terlihat senyum-senyum saja mengiyakan keinginan pacarnya tersebut. Nur mengambil gelas berisi coklat panas itu lalu meminumnya dengan santai disana, ya suasana dingin memang membuat mereka ingin menghangatkan tubuh, bahkan Nur juga menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal milik Alan.


"Lan, judul film horornya apa?" tanya Nur penasaran.


"Ohh, misteri tuyul berambut merah." jawab Alan sambil nyengir.


"Hah? Emang tuyul ada rambut?" Nur keheranan.


"Ya ada dong. Jangankan tuyul, bagian bawah kita aja juga ada rambutnya kan?" jawab Alan.


"Ish, malah disama-samain begituan!" ucap Nur.


"Hahaha, bercanda sayang! Jangan ngambek begitu dong, nanti cakep nya ilang loh diganti sama imut!" ucap Alan menggoda gadisnya.


"Ya serius makanya!" bentak Nur.


"Iya aku serius kok, judulnya itu kuntilanak penunggu pohon toge. Dah puas kan?" ucap Alan.


"Ohh, yaudah setel!" ucap Nur.


"Kamu gak takut gitu? Ini serem loh? Tuh lihat aja, masa pohon toge segede ini ditangkringin sama kuntilanak?" ucap Alan.

__ADS_1


"Ngapain takut? Udah buruan setel ih! Aku penasaran tahu sama filmnya!" ucap Nur.


"Hadeh, iya iya aku setel ini. Tapi, kalo kamu nanti misalnya takut atau apa gitu peluk aku aja ya! Jangan sungkan jangan ragu, tubuhku ini tersedia free untuk kamu tanpa ongkir hehe!" ujar Alan.


"Iya, aku ngerti kok!" ucap Nur tersenyum.


Alan pun segera memulai film horor berjudul misteri ****** genderuwo itu, tampak Alan langsung duduk di samping gadisnya dan menarik selimut ke atas kakinya sambil memakan popcorn yang ia buat. Ya Alan sengaja membuat suasana di kamarnya itu seperti bioskop, karena Nur tidak mau diajak ke bioskop sungguhan saat ini.


Tak lama kemudian, film dimulai dan langsung ada sebuah jumpscare yang membuat Alan terkejut lalu berteriak ketakutan sembari memeluk Nur dari samping dengan sangat erat.


"Aaaaa..." suara teriakan Alan yang lakik banget.


"Ish! Kamu apaan sih sayang?" tanya Nur sembari menyikut wajah kekasihnya.


"Kamu tega banget sih! Masa muka aku yang ganteng ini disikut?" ujar Alan.


"Ya abisnya kamu ngapain?!" ujar Nur.


"Aku takut loh sayang, itu ****** nya tiba-tiba nongol depan muka kayak gitu! Mana gede banget lagi, itu ****** genderuwo apa punyanya manusia purba sih?" ucap Alan.


"Lebay ih kamu! Lagian ngapain coba kamu setel film horor yang begini? Tadi katanya mau nonton kuntilanak pohon toge?" ucap Nur.


"Gak jadi sayang, itu lebih serem. Aku ini kan sebenarnya takut sama film horor, tapi aku ajak kamu nonton ini ya biar supaya kamu peluk aku gitu! Eh malah kebalik, jadi aku yang peluk-peluk kamu begini!" ucap Alan.


"Haish...."


Nur pun mendengus dingin dan menepuk jidatnya mendengar pengakuan dari Alan barusan.


...•••...


Disisi lain, raja Nuril tengah menemani ratu Keira dan membujuk wanita itu agar mau berhenti memikirkan tentang ratu Sofia yang hingga kini belum juga berhasil mereka temukan. Nuril tak mau jika nantinya Keira akan kembali dihukum oleh raja Lingga alias ayah dari Keira tersebut, ya sudah sekali raja Lingga melakukan hukuman itu pada Keira kemarin.


Nuril memang tahu betul bagaimana perasaan Keira saat ini yang begitu marah pada ratu Sofia, ya biar bagaimanapun Sofia telah membunuh adiknya yakni Wilona beberapa waktu lalu. Namun, menurut Nuril dendam bukanlah hal yang baik dan Keira tak seharusnya melakukan itu karena dia adalah sosok ratu di nirwana yang menjadi panutan para bidadari.


"Keira, lebih baik kamu melupakan semua dendam mu itu pada Sofia! Karena dendam bukanlah hal yang bagus untuk dilakukan, apalagi ayahmu juga pernah menghukum mu karena itu kan?" ucap Nuril.


"Iya Nuril, aku tahu itu. Tapi, aku tetap harus membalas perbuatan Sofia yang kejam itu! Aku akan menghabisi dia dengan tanganku sendiri, barulah aku bisa tenang! Kamu harusnya paham dengan kondisi ku, Nuril!" ucap Keira sangat emosi.


"Aku paham sekali, tapi ini semua juga demi kebaikan kamu Keira!" ucap Nuril.


"Nuril, aku—"


"Ssshhh! Keira, kamu harus mengerti kalau semua yang kamu pikirkan itu tidak benar! Sebaiknya sekarang kamu rubah lagi niat tidak benar kamu itu, dan kamu kembali ke jalan yang benar!" potong Nuril.


"Hah? Menurut aku itu benar kok, kamu emang siapa berani larang-larang aku?!" ucap Keira justru emosi kepada Nuril disana.


"Keira, aku hanya ingin memberitahu kamu dan mengingatkan kamu kalau itu semua salah! Kamu gak boleh dendam pada siapapun itu, karena dendam bukanlah hal yang benar! Soal Sofia biarlah Tuhan yang membalasnya, kita tidak bisa menghukum siapapun itu dengan tangan kita! Kamu harus ngerti tentang itu ratu Keira!" bentak Nuril.


"Baik, aku ngerti. Sekarang kamu bisa tinggalin aku sendirian disini, aku lagi gak mau bicara dengan siapapun termasuk kamu!" ucap Keira kesal.


"Oke, aku bakal keluar kok. Asalkan kamu juga benar gak akan dendam lagi sama Sofia, aku gak mau kamu terjerumus ke dalam kejahatan dendam yang berlarut-larut itu!" ucap Nuril.


"Haish, iya aku ngerti! Udah daritadi kan aku bilang begitu, cepat kamu pergi!" bentak Keira.


"Iya...."


Akhirnya Nuril dengan terpaksa berjalan keluar dari tempat Keira berada sekarang, ia sebenarnya tidak ingin keluar dari sana dan masih ingin bersama dengan ratu Keira untuk menghiburnya. Namun, Nuril lebih tidak mau melihat Keira marah kepadanya seperti tadi dan membentaknya begitu, menurutnya itu sangat menyakitkan walau hanya sesekali.


Ratu Keira pun duduk di singgasananya dan bersandar disana, ia mengerutkan keningnya merasa pusing karena bingung harus bagaimana untuk bisa menghajar dan menghabisi ratu Sofia. Menurutnya tak pantas jika ia memaafkan Sofia begitu saja atas perbuatannya yang sudah membunuh Wilona, ia tak akan membiarkan itu semua terjadi begitu saja.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2