
Axel mungkin bisa merasakan firasat buruk tentang putrinya yang jauh berada dalam pantauan nya dan sudah lama pergi dari rumah.Tapi,hati nurani nya belum juga tergerak untuk mencari anaknya atau menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan anaknya.
Axel,masih berada di dalam ruangan kerjanya seperti enggan untuk beranjak keluar seperti keinginannya beberapa jam lalu, tatkala dia mengingat betul tentang mantan suaminya, tentang malam pengkhianatan itu dan tentang rumah yang dia tempati sekarang.
Rumah yang penuh sejarah,saksi bisu perjalanan rumah tangganya dan tentu menjadi saksi dimana pengkhianatan dan pertengkaran demi pertengkaran itu terjadi.
Sejak perceraian itu,Axel memang masih bersikukuh untuk tetap tinggal di rumah hasil jerih payah mereka.Susah senang mereka lewati hingga sang suami,tak bisa menahan hasratnya dari godaan sang pelakor.
Pemikirannya kembali terpecah,kala dia mengingat moment-moment kelahiran Allena,Allena yang masih bayi merah amat menggemaskan, tingkah lucunya, keceriaannya,dan kepolosan nya menambah suasana ramai bagi keluarga kecil itu.
"Apa mungkin gue harus menjual rumah penuh kenangan itu?,tapi rasanya gue gak sanggup bila harus hidup terus-menerus di rumah yang sudah ternoda".Gumam Axel,sembari menggoyangkan kursi.
Sedari tadi dia terus saja melamun, mengingat-ingat masa lalunya tapi tak mau sedikit pun beranjak dari kursi kebesarannya seperti enggan untuk pulang.
Di saat Axel masih tenggelam dalam lamunannya, pikiran nya bercabang mengingat moment demi moment dalam hidupnya, tiba-tiba pintu di ketuk dari luar.
Tuk..Tuk..Tuk
Axel, terperanjat dari duduknya.Suara ketukan pintu itu telah membuyarkan lamunan Axel.
__ADS_1
"Masuk".Teriak Axel.
Tak butuh waktu lama bagi orang itu untuk masuk ke ruangan kerja Axel begitu sudah mendapatkan izin dari si pemilik ruangan.
Orang itu berjalan dengan anggunnya dengan membawa berkas-berkas perusahaan.Yah,dia adalah sekretaris Axel,Linda Hamidah.
"Ibu belum pulang?". Pertanyaan basa-basi yang terlihat basi itu terucap di bibir seksi sang sekretaris.
"Kelihatannya?".
"Belum".
Sekretaris hanya menyengir kuda."Hehe.Bye The Way, bagaimana dengan keadaan anak ibu?".
Deg
Pertanyaan macam apa itu?,tidak taukah dia bahwa Allena, anaknya sudah sebulan ini pergi meninggalkan rumah.
Pertanyaan dari sekretaris nya itu membuat Axel, menatap tajam pada sekretaris nya."Ada urusan apa anda dengan anak ku?".Gertak Axel.
__ADS_1
Kaget bukan main si sekretaris atas jawaban dari atasannya itu."M-maaf".Saking kagetnya dia sampai gelagapan meminta maaf.
Tapi,bukan Axel namanya jika dia tidak angkuh dan tidak peduli.Tentu,dia mana peduli dengan ketakutan dari sekretaris nya atas jawaban nya itu.
"Tidak ada kata maaf untuk mu,dan yah malam itu kamu lembur tanpa di gajih".Ucap tegas Axel.
Sekretaris menghampiri meja Axel, bermaksud untuk bersimpuh di kaki bos nya yang terkenal tak memiliki belas kasihan.
"Maaf Bu,apa ada yang salah dengan pertanyaan saya?".Ucap Linda, bersimpuh di kaki Axel.
Axel, mengibaskan kakinya,tak Sudi kakinya di sentuh.Dia menjauh sambil membawa tas jinjing nya."Tak ada yang salah dari pertanyaan mu, hanya kamu bertanya tanpa tau situasi dan kondisinya".Teriak Axel,di ambang pintu.
"Maksud?".Tanya Linda, membeo.
Axel mengibaskan tangan.Masa bodoh dengan pertanyaan Linda yang basi.
"Pikir saja sendiri".Ucap Axel, sebelum melenggang pergi.
Linda, menatap kepergian Axel dengan tatapan tak percaya."Salah gue apa?,dan apa katanya gue harus lembur tanpa di bayar?,oh my good".Teriak Linda, histeris.
__ADS_1