Broken Angel

Broken Angel
Episode 283 [SEASON 3] Nur vs Kirana


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...



...~Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. Sebelum balon hijau meletus, hatiku juga sudah kacau~...


...Γ—Γ—Γ—...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 27


...β€’...


...HAPPY READING....πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰...


...❀️❀️❀️❀️...


Lucas mengantarkan Edrea serta Imeh ke lapangan sekolah untuk berkumpul bersama para murid yang lainnya disana, ia terpaksa melakukan itu agar bisa terlepas dari kedua gadis itu serta dapat melawan Kirana dengan kekuatan langit yang dimilikinya


Lucas pun meninggalkan Edrea dan Imeh begitu saja disana saat mereka sedang tidak fokus padanya, untungnya ia bisa kabur tepat waktu tanpa ketahuan oleh kedua gadis yang riweh itu, ya Lucas langsung bergegas menemui Sahira kekasihnya di tempat itu.


Mereka akhirnya bertemu di lorong sekolah bersamaan dengan orang-orang yang berlarian kabur menyelamatkan diri, hingga saat ini goyangan akibat kekuatan Kirana itu masih saja mengguncang mereka tak henti-hentinya.


"Lucas!" teriak Sahira memanggil kekasihnya itu.


"Hey, kalian aman kan?" tanya Lucas cemas.


"Kita aman kok, cuma kayaknya bangunan ini gak kuat lagi deh buat nahan guncangan! Aku takut sebentar lagi bangunan ini bakal rubuh dan banyak korban yang tertimpa!" ucap Sahira.


"Iya kamu benar, kita harus bawa mereka semua untuk keluar dari sini!" ujar Lucas.


"Tapi, gimana caranya? Sedangkan mereka aja banyak banget dan gak pernah mau dengerin kita," tanya Nur bingung sendiri.


Duaaarrr...


"Aaaaa...."


Disaat mereka bertiga tengah asyik berbincang, tiba-tiba beberapa pohon serta tembok bangunan sekolah mereka rubuh dan terdengar suara teriakan seseorang dari arah yang tak jauh dengan mereka.


"Kas, gimana ini? Semuanya makin kacau dan tak terkendali, mereka bisa terluka!" ujar Nur panik.


"Sabar dulu! Kayaknya Kirana emang sengaja mau bikin bangunan sekolah ini rubuh, makanya dia belum mau muncul sekarang!" ucap Lucas.


"Benar, kamu dan Nur cari cara untuk bawa semua murid dan para guru keluar dari sini! Biar aku yang akan coba cari Kirana dan hentikan dia!" ucap Sahira.


"Hey, kamu yakin?" tanya Lucas cemas.


"Tenang aja, aku yakin kok! Aku bisa lawan Kirana kalau gak dilihat mereka semua, kamu percayakan aja sama aku!" jawab Sahira tegas.


"Oke, aku percaya!" ucap Lucas.


Sahira mengangguk tersenyum, ia memeluk Lucas serta Nur sohibnya sembari menepuk punggung mereka masing-masing.


"Kalian harus bisa selamatkan mereka!" ucap Sahira.


"Oke!" jawab Lucas dan Nur kompak.


Setelahnya, Sahira pun pergi berlari ke arah yang berlawanan dengan Lucas serta Nur.


"Nur, ayo kita mulai!" ucap Lucas.


"Iya..."


Lucas dan Nur pun mulai berteriak meminta para murid serta guru yang ada disana untuk segera keluar dari dalam sekolah, mereka coba meminta bantuan juga pada satpam serta guru yang mereka temui untuk mengarahkan murid-murid keluar.


Untungnya, satpam dan guru-guru yang mereka mintai bantuan itu mau menolong mereka untuk membawa para murid ke luar sekolah.


Akhirnya semua murid yang sudah berkumpul di lapangan berlarian menuju arah luar dengan dipandu oleh satpam yang membuka pintu pagar lebar-lebar agar mereka semua bisa kabur.


Alan, Aldi serta Jack melihat Lucas dan memilih menghampiri teman mereka itu yang tengah berusaha mengarahkan murid-murid lainnya keluar.


"Lucas!" ucap Alan.


Sontak Lucas dan Nur menoleh ke arah Alan secara bersamaan, mereka pun risau jika Alan dan yang lainnya banyak bertanya.


"Lan, lu ngapain malah kesini sih? Sana keluar kayak yang lainnya, selamatkan diri lu!" ujar Lucas.


"Kita gak bisa keluar gitu aja, Kas! Lu sama Nur juga harus ikut kita keluar! Kita gak mau lu kenapa-napa kalau tetap disini!" ucap Alan.


"Udah, gapapa. Gue bakal nyusul keluar nanti sama Nur, sekarang gue harus pastiin semuanya aman dulu!" ucap Lucas.


"Iya sayang, kamu keluar aja dulu ya! Jagain semua murid di depan sana!" ucap Nur.


Alan terdiam menunduk seperti berpikir apakah ia akan meninggalkan sahabat serta kekasihnya itu disana, atau memilih tetap bersama mereka dan membantu mereka.

__ADS_1


"Gue biarin aja kali ya mereka disini? Nur itu kan bidadari khayangan, pasti dia bisa jaga diri!" batin Alan.


Nur terkejut saat mendengar suara hati kekasihnya itu, ia tak menyangka jika selama ini Alan sudah mengetahui identitas dirinya sebagai bidadari.


"Oke, gue pergi!" ucap Alan.


"Bagus, kalian hati-hati!" ucap Lucas.


"Iya, lu juga! Gue titip Nur sama lu!" ucap Alan.


"Pasti!" Lucas tersenyum.


Alan pun mengajak Aldi serta Jack untuk berlari keluar menyusul yang lainnya meninggalkan Lucas dan Nur disana, mereka juga menahan para satpam yang ingin kembali meminta Lucas ikut keluar.


Setelah semuanya dipastikan aman dan tidak ada satupun murid yang tersisa di dalam sana, kini Lucas bersama Nur coba untuk mencari keberadaan Sahira dan juga Kirana di sekitar sana.


Akan tetapi, tiba-tiba suara teriakan seorang wanita muncul dari arah atas bangunan.


"Tolooongg...!!"


Sontak Lucas dan Nur langsung menoleh ke atas untuk mengecek suara siapakah itu, mereka terkejut lantaran suara itu berasal dari Kania yang tengah bergelayut di bangunan lantai tiga sekolah.


"Ya ampun, Kania...!!" Lucas panik.


"Kas, biar gue yang urus Kaniaβ€”"


"Enggak! Gue aja yang ke atas bantu Kania, lu cari Sahira dan bantu dia!" potong Lucas.


"Oke, siap!" ucap Nur menurut.


Lucas langsung berlari ke atas menghampiri Kania untuk menyelamatkan gadis itu, sedangkan Nur berusaha menerawang keberadaan Sahira saat ini.


Sesampainya di atas, Lucas berusaha untuk menyelamatkan Kania dengan meraih tangan gadis itu dari arah atas.


"Kania, pegang tangan aku!" ucap Lucas panik.


"Kas, gue gak bisa! Kalo gue lepas pegangan ini, gue bakal jatuh dan gak bakal bisa raih tangan lu! Gue udah lemes banget!" ucap Kania.


"Tenang aja, kamu gak bakal jatuh kok! Ayo, aku yakin kamu bisa Kania!" ucap Lucas meyakinkan gadis itu.


"Gue takut...!!" ucap Kania menggeleng.


"Ayo Kania, lu harus berani! Gue bakal tangkap lu kok, jadi lu gak akan jatuh!" ucap Lucas.


Kania bingung sekaligus ketakutan hingga tak tau lagi harus bagaimana saat ini, akhirnya Kania memilih untuk mengikuti perkataan Lucas dan melepaskan pegangannya pada tembok lalu coba meraih tangan Lucas di atasnya.


"Aaaaa..." Kania berteriak panik.


"Kaniaaa...!!"


Lucas yang tak memiliki pilihan lain terpaksa menjentikkan jari untuk menghentikan waktu di sekitarnya agar Kania tidak terjatuh, ia pun langsung meloncat dari sana dan meraih tubuh Kania ke dalam dekapannya.


Barulah setelah mereka berdua aman, Lucas kembali menjentikkan jari dan membuat semuanya kembali seperti semula.


Kania tersadar kembali lalu membuka matanya, jantungnya masih belum aman karena berdetak cukup kencang, ia syok dan terkejut karena saat ini sudah berada dalam pelukan Lucas.


"Kas, gue gak mati kan?" ucap Kania.


"Hahaha, ya enggak lah! Kamu aman kok, dan kamu juga masih hidup!" ucap Lucas.


Kania bernafas lega setelah mengetahui bahwa dirinya sudah aman dan tidak dalam bahaya lagi, ia juga langsung berdiri melepaskan pelukan Lucas dan menatap wajah pria tersebut.


"Makasih, kalo gak ada lu mungkin gueβ€”"


"Ssshhh! Udah gausah makasih! Aku ikhlas kok selamatin kamu! Sekarang kamu keluar dan ikut sama yang lain di depan sana!" potong Lucas sembari menempelkan telunjuknya pada bibir Kania.


"Oke, terus lu sendiri?" tanya Kania.


"Aku masih harus cari Sahira!" jawab Lucas.


"Kemana Sahira?" tanya Kania cemas.


"Kamu tenang aja! Sahira aman kok sama Nur, aku cuma mau tau aja mereka dimana." jawab Lucas.


"Ohh, syukurlah!" ucap Kania.


"Yaudah, cepat pergi sebelum bangunan disini rubuh semua!" ujar Lucas.


"Iya, lu juga hati-hati ya!" ucap Kania.


"Pasti!" Lucas mengangguk sembari memegang wajah Kania dan tersenyum.


Kania pun berbalik badan lalu berlari pergi meninggalkan Lucas disana menuju keluar menemui yang lainnya, walau Kania tidak ingin meninggalkan pria yang sudah menyelamatkan nyawanya itu.


Sementara Lucas akhirnya pergi mencari Sahira serta Nur yang belum terlihat batang hidungnya.


β€’

__ADS_1


β€’


Sahira telah berhasil menemukan keberadaan Kirana yang tengah menggunakan kekuatan anginnya untuk membuat seisi sekolah panik dan berhamburan keluar dari bangunan itu.


Tentu saja Sahira sangat emosi pada tindakan yang dilakukan Kirana karena telah membuat banyak orang terluka serta cemas akibat perbuatan yang dia lakukan itu.


"Hentikan itu, Kirana!" teriak Sahira emosi.


Sontak Kirana menoleh ke arah bidadari yang sedang dilanda emosi itu sambil tersenyum licik, ia menghentikan angin kencang tersebut dan beralih mendekati Sahira.


"Hahaha, akhirnya kamu berhasil menemukan aku, Sahira." ucap Kirana.


"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Sahira.


"Karena aku benci denganmu dan seluruh orang yang ada di sekolah itu! Aku tidak akan membiarkan kamu atau mereka bisa hidup dengan tenang!" jawab Kirana dengan mata melotot.


"Kamu sudah kelewatan, Kirana! Aku bisa saja menghabisi mu saat ini juga dan mengirim mu ke neraka, tapi aku akan mencoba untuk menyadarkan kamu lebih dulu!" ucap Sahira.


"Hahaha, jangan sok suci Sahira! Kamu itu tidak lebih dari seorang penjahat! Kamu dan aku tak ada bedanya, karena kamu juga telah membuat hidupku menjadi menderita seperti saat ini!" ucap Kirana.


"Kamu salah! Kita jelas berbeda, aku ini bidadari baik yang bertugas melindungi manusia dari orang sepertimu! Sedangkan kamu adalah manusia yang salah jalan karena membela kejahatan!" ucap Sahira.


"Hahaha, bidadari baik? Apa kamu tidak salah ucap? Apa baiknya seorang pembunuh sepertimu ha?" ujar Kirana.


"Aku tidak pernah membunuh!" ucap Sahira.


"Apa kau bilang? Lalu, bagaimana dengan para preman jalanan yang kau habisi secara membabi buta itu? Anak kecil pemilik boneka yang selalu menghantui mu? Dan juga nyai Revina yang sudah dengan kejamnya kau habisi, Sahira!" ujar Kirana.


Sahira terdiam mengingat semua perbuatan yang sudah ia lakukan, perkataan Kirana membuatnya sadar kalau ia memang tak sebaik yang ia kira.


"Kenapa diam ha? Kamu sadar kan kalau kamu bukan bidadari baik? Kamu bilang kamu akan melindungi manusia, tetapi kamu justru membahayakan para penduduk bumi!" ucap Kirana.


"Apa maksud kamu?" tanya Sahira.


"Sudah jelas, Sahira. Kelalaian kamu sudah membuat para penjahat di alam semesta yang lain berdatangan ke bumi, mereka berbondong-bondong ingin menguasai bumi karena mereka sadar akan kedahsyatan energi di muka bumi ini! Dan itu semua adalah karena ulahmu, bidadari jahat!" jawab Kirana.


"Kirana memang benar, bumi saat ini terancam karena ulahku sendiri..." batin Sahira.


Melihat Sahira terdiam dan murung membuat Kirana senang karena merasa berhasil membuat Sahira merasa bersalah pada dirinya sendiri, ya itu semua memang sudah direncanakan olehnya.


"Bahkan asal kau tau, Sahira. Aku mendapatkan kekuatan ini juga dari sang raja angin penguasa kerajaan angin di atas sana, bagaimana bisa dia datang ke bumi? Ya tentu saja, semua itu karena ulahmu dan mungkin masih banyak lagi makhluk jahat di luar sana yang mengincar bumi!" ucap Kirana.


Sahira makin dibuat tak berdaya dengan ucapan dari Kirana kepadanya, menurutnya benar juga apa yang dikatakan Kirana barusan.


"Jangan dengarkan dia, Sahira!"


Suara teriakan itu membuat Sahira tersadar dari lamunannya, ia menoleh dan mendapati Nur tengah datang ke arahnya.


"Nur?" ucap Sahira pelan.


"Iya, aku akan bantu kamu untuk menghadapi si penjahat ini! Kamu tidak boleh terpengaruh oleh ucapannya yang sesat itu!" ucap Nur.


"Ohh hahaha.... ternyata ada satu lagi bidadari sok baik yang ingin menyerang ku, kamu itu sungguh bodoh! Dan apa tadi kamu bilang? Ucapanku sesat? Padahal yang aku bilang itu semuanya nyata, jika kamu tidak percaya silahkan saja kamu tanyakan sendiri pada sahabat mu itu!" ucap Kirana.


"Halah! Sahira melakukan itu semua karena terpaksa dengan keadaan, dia tidak mungkin diam saja kalau merasa disakiti oleh seseorang di sekitarnya! Lebih baik kamu diam dan rasakan kekalahan mu!" ucap Nur sudah sangat emosi.


Slaaasshh...


Nur langsung menyerang Kirana dengan kekuatan yang ia miliki, namun dengan mudah berhasil ditangkis oleh kekuatan angin milik Kirana.


"Hanya itu?" ucap Kirana meremehkan.


"Kurang ajar!" Nur makin geram.


Akhirnya Nur merubah wujudnya menjadi sosok bidadari cantik dengan tongkat di tangan dan bersiap menyerang kembali Kirana.


"Hahaha, kamu pikir dengan merubah wujud akan bisa mengalahkan ku ha?" ujar Kirana.


"Tidak usah banyak omong! Aku akan merobek mulutmu itu dan mengirim kamu ke neraka untuk bergabung dengan nyai Revina, junjungan mu itu!" ucap Nur penuh emosi.


"Coba saja kalau kau bisa!" tantang Kirana.


Nur dengan cepat mengarahkan tongkatnya ke tubuh Kirana, sebuah sinar cerah muncul dari sana dan menyerang Kirana.


Akan tetapi, kekuatan angin Kirana berhasil membuat serangan-serangan yang diberikan oleh Nur justru mengarah pada bangunan serta pohon disana dan seketika semuanya rubuh.


"Nur, hentikan!!" teriak Sahira.


Nur yang sudah terbawa emosi tak mau mendengarkan Sahira, ia justru menambah kekuatan miliknya dan menyerang Kirana secara membabi buta hingga menyebabkan banyak kerusakan disana.


"Nurrr... berhenti....!!" lagi-lagi Sahira berusaha menghentikan sahabatnya itu.


Sahira yang tak memiliki pilihan lain, akhirnya terpaksa menghadang Nur dan tidak membiarkan sahabatnya itu untuk menyerang Kirana kembali.


"Hentikan!" ucap Sahira sembari memegang erat tongkat Nur dan menatap tajam ke arahnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2