
Rendi, melangkah mendekati anaknya.Tanpa ampun dia langsung menjewer telinga anaknya di khayalak umum tanpa rasa malu.
"Jadi,kau malah enak-enakan pergi berlibur disini,anak pembangkang".Gertak Rendi,menjewer lebih keras telinga rey.
Sedang,Axel menatap nyalang pada putri nya.Selams ini dia telah bersusah payah mencari putrinya yang sudah membuat dia malu.
Plak
Tanpa basa-basi Axel, menampar pipi kiri Allena.Rasa kesal dan kecewa dia lampiaskan begitu dia sudah bersitatap dengan putrinya.Merasa tidak keberatan dia menampar putrinya sendiri di depan koleganya.
"Dasar anak tak tau di untung.Gue susah payah membesarkan loe.Loe malah membuat gue malu".Gertak Axel,menatap nyalang pada putrinya.
Allena,memegangi pipi kiri nya yang mendapatkan sebuah salam dari tangan lembut namun kasar bagi Allena.
Perih,itu yang dia rasakan pada pipi yang mendapatkan sebuah tamparan dari wanita yang sudah berjuang melahirkan nya.Namun,tak memberikan cinta dan kasih sayang untuk pada dirinya.
Allena,balik menatap nyalang pada mamahnya sendiri.Rey,yang mendapatkan jeweran keras melongo.Tak percaya dengan apa yang sudah di lakukan oleh Axel, begitu pun dengan rendi tak menyangka Axel begitu keras mendidik putrinya.
"Aku membuat mu malu?".
__ADS_1
"Yah".Sahut Axel,sembari mengeluarkan tablet keluaran terbaru nya.
Dia menunjukkan unggahan video yang tersebar di seluruh media sosial,dimana Allena tengah menjadi perbincangan hangat di dunia Maya dengan beragam netizen nya yang maha benar dan sok berkuasa.
"Bukti apalagi yang ingin kau lihat?,sedang videonya sudah tersebar dan kau."Tunjuk Axel pada diri Allena dengan menggunakan jari telunjuknya."Kau anak pembawa sial,Allena Aidira".Teriak Axel.
Teriakan Axel yang membahana dan melengking tinggi.Berhasil membuat pengunjung disana berkerumun,mencari tau sumber keributan yang telah memancing rasa penasaran mereka.
Dengan sekejap mata saja, mereka sudah dikerumuni oleh pengunjung yang merasa penasaran dengan teriakan amarah seorang wanita.Seperti istri sah yang meneriaki pelakor,seperti tuan rumah yang meneriaki perampok dan seperti seorang wanita yang meminta pertolongan.
Tatapan tajam,bentakan dan sebuah bentakan membuat hati Allena terluka.Rasa bahagia yang baru saja dia rasakan beberapa menit lalu seakan sirna begitu saja.Belum lagi kerumunan pengunjung yang mengelilingi diri nya.
Lelehan air mata yang selama ini dia berusaha tahan.Kini,jatuh tak tertahankan lagi membasahi pipi yang mendapatkan sebuah tamparan keras.
"Kau menyalahkan ku atas sikap ku yang membuat mu malu?,tak berkaca sekali anda pada diri sendiri.Aku tidak mungkin seperti ini kalau bukan karena anda.Nyonya Axel Maureen yang terhormat".Sentak Allena,di sela Isak tangisnya.
"Hentikan omong kosong mu,Allena.Jelas kau adalah anak pembangkang,sama seperti dia".Sentak mamah Axel,menunjuk rey dengan tatapan matanya yang tajam.
Rey,tak terima dia di salahkan dan di fitnah sebagai anak pembangkang.Dia melangkah mendekat kearah Axel.
__ADS_1
"Anak mu, begitu pun dengan aku tidak akan menjadi pembangkang,jika kalian tidak mendidik kami secara kasar dan menelantarkan kami seperti anak jalanan".Jelas Rey, dengan tatapan tak kalah tajamnya.
Plak
Bukan Axel yang menampar pipi ret.Melainkan Rendi,yang tak lain dan tak bukan adalah ayah kandung rey.
"Kau dan anak Axel memang anak pembangkang".Gertak Rendi.
Rey,melongo dengan sikap ayahnya yang sama dengan sikap Axel pada Allena.Dua orang tua yang sama-sama egois,hanya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan perasaan anak kandungnya yang mendapatkan sebuah pengabaian.
"Orang tua otoriter".Gertak Allena dan Rey bersamaan.
Tanpa basa-basi, rey menyeret paksa tangan allena.Menjauh dari orang tua mereka yang otoriter dan egois,hingga keranjang yang belum sempat di isi oleh buah strawberry itu terjatuh.
"Allena".
"Mau kemana anak sialan".
Rendi dan Axel tak henti-hentinya meneriakkan nama anak masing-masing dengan di saksikan oleh pengunjung yang berkerumun dan pemilik kebun strawberry yang tak menyangka dengan kejadian tak terduga, tepat di depan mata.
__ADS_1
Selepas kepergian Allena dan rey, kerumunan orang-orang berangsur membubarkan diri di bawah tekanan dan paksaan rendi.